Lu Chen adalah seorang pemuda berusia dua puluhan yang hidup terasing di pinggiran Desa Qingfu. Di balik penampilannya yang sederhana sebagai peracik obat herbal yang pendiam, ia menyimpan sebuah rahasia besar dan mengerikan: garis keturunan gila yang menggabungkan tiga unsur sekaligus, yaitu darah manusia yang fana, cahaya dewa yang suci, dan kutukan siluman kegelapan.
Secara fisik, Lu Chen memiliki daya tarik yang kuat dengan garis wajah tegas, namun tubuhnya menyimpan ketidakseimbangan yang berbahaya. Matanya memiliki dua warna yang berbeda; mata sebelah kanan memancarkan cahaya keemasan yang hangat dan tenang, melambangkan sisa-sisa kekuatan dewanya, sementara mata sebelah kiri sering kali berubah menjadi ungu legam yang dingin saat emosinya tak terkendali. Di leher hingga sebagian wajahnya juga tersembunyi rajah alami berupa sulur-sulur hitam yang menandakan segel kutukan siluman purba.
Dari segi sifat dan kepribadian, Lu Chen adalah sosok yang sabar, lembut, dan sangat peduli
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 — DAMAI YANG BENARAN
Tujuh hari berlalu sejak kemenangan mutlak diraih di ruang hampa. Suasana Kota Harapan kini dipenuhi oleh kemeriahan festival yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Lampion-lampion bercorak tiga warna menghiasi setiap sudut jalan, diiringi alunan musik riang dan tawa bahagia dari para penduduk.
[Panel: Status Dunia] NAMA WILAYAH: KERAJAAN HARAPAN STATUS SOSIAL: DAMAI SEJAHTERA TINGKAT ANCAMAN KOSMIK: MENURUN HINGGA 90%
Lu Chen, yang kini berusia tujuh belas tahun, duduk di atas singgasana utama tanpa mengenakan mahkota mewah; ia hanya mengenakan jubah putih bercorak hitam sederhana.
"Wahai seluruh warga!" seru Lu Chen mengerahkan kekuatan suaranya ke penjuru kota. "Mulai hari ini, sekat-sekat pemisah seperti Manusia, Iblis, dan Dewa resmi dihapuskan. Yang ada sekarang hanyalah satu: Warga Kerajaan Harapan!"
SORAK! Sepuluh ribu rakyat bersorak gemuruh menyambut deklarasi tersebut.
Shen Yue duduk di sisi singgasana, menggenggam lembut tangan putranya. "Ibu sangat bangga padamu, Nak."
Luka yang Tersisa
Malam harinya di dalam ruang latihan istana.
Lu Chen melayangkan pukulan bertubi-tubi ke arah patung batu. DUK! DUK! DUK!
Xue Ling melangkah masuk tanpa suara. "Ada apa denganmu?" Lu Chen menghentikan pukulannya. "Aku bermimpi buruk tentang Varkos."
Ia membuka sedikit bagian jubahnya, memperlihatkan guratan retakan hitam tipis yang masih tersisa di dekat bekas tato segel. "Potongan jiwanya... ternyata masih ada yang tersisa di dimensi lain."
Xue Ling terdiam sejenak. "Lalu apa rencana yang akan kau ambil?" Lu Chen menatap nanar tangannya sendiri. "Aku merasa takut... bagaimana jika suatu hari nanti aku gagal mempertahankan kedamaian ini?"
Xue Ling menepuk bahu pemuda itu tegas. "Seorang Raja sejati bukanlah seseorang yang tidak pernah merasa takut. Melainkan ia yang tetap melangkah maju, meskipun rasa takut itu hampir meremukkan hatinya."
Ancaman Baru: Pecahan Kekosongan
Jauh di luar batas dimensi Tiga Alam, di antara hamparan debu kosmik yang sunyi, sebutir pecahan tulang milik Varkos mengapung pelan. Di dalam inti pecahan itu, sepasang mata merah menyala terbuka secara perlahan.
Sebuah suara serak membisik ke dalam kehampaan: "Sang Raja memang telah mati... namun dendam kesumat ini... tidak akan pernah padam..."
KRAK!
Dari dalam pecahan tulang tersebut, lahirlah tiga sosok bayangan tanpa wajah yang memancarkan aura kegelapan pekat.
[Panel: Scan] NAMA: TIGA JENDERAL KEKOSONGAN TUJUAN UTAMA: MEMBANGKITKAN SANG TUAN METODE: MENGUMPULKAN SEMBILAN HATI MANUSIA YANG PENUH DENDAM
Bayangan Pertama mendesis tajam. "Target pertama kita adalah mencari dunia yang paling membenci sang Raja Penyelamat."
Sebuah layar proyeksi magis mendadak muncul di hadapan mereka, menampilkan wajah seorang pengkhianat berdarah dingin yang tersenyum sinis.
Janji Baru
Malam di tepi Danau Waktu.
Lu Chen dan Shen Yue kembali melempar batu kecil ke permukaan air. PLUNG! Janji masa kecil mereka kini benar-benar telah terwujud sempurna.
"Ibu, bagaimana jika suatu hari nanti perang itu datang kembali?" tanya Lu Chen lirih. Shen Yue tersenyum hangat. "Maka kita akan menghadapinya... bersama-sama."
Lu Chen menyandarkan kepalanya di bahu sang ibu. "Ibu... terima kasih karena tidak pernah menyerah padaku." Shen Yue mengelus rambut putranya penuh kasih. "Ibu yang harus berterima kasih karena kau telah menjadi anak yang hebat."
Tiba-tiba, tato di dada Lu Chen berdenyut hangat—bukan sebagai alarm peringatan, melainkan sebuah pancaran kehangatan.
Dan di angkasa raya, Bintang Chen bersinar paling terang menyinari dunia.
Penutup Arc 6 + Hook Arc 7
Satu bulan kemudian.
Dalam upacara pelantikan dewan pemerintahan yang baru, Lu Chen berdiri memberikan pidato pembuka: "Era baru telah resmi dimulai. Sebuah era di mana tidak ada lagi pertumpahan darah."
Tepuk tangan meriah bergemuruh.
Namun tepat di detik itu—
KABOOM!
Sembilan kota kecil di wilayah perbatasan meledak secara bersamaan dalam waktu yang sama.
Layar peringatan darurat langsung menyala merah terang di seluruh penjuru istana:
[Panel: Alarm Darurat] LAPORAN KRITIS: SEMBILAN DESA LENYAP SEKETIKA PELAKU: TIDAK DIKENAL CIRI KHAS: DITINGGALKAN TULISAN BERDARAH - "UNTUK KEBANGKITAN"
Lu Chen perlahan bangkit berdiri. Wajahnya tampak datar, namun sorot matanya menajam. "Adakan rapat dewan darurat sekarang juga."
Wolf mendesah gusar. "Siapa yang berani melakukan tindakan gila ini?" Lu Chen mengepalkan tinjunya erat-erat. "Mereka yang memendam kebencian mendalam terhadap kedamaian."
Ia mendongak menatap langit, melirik ke arah celah kecil robekan dimensi yang belum tertutup sempurna di atas sana.
"Arc keenam resmi selesai. Dan Arc ketujuh kini telah dimulai."