Indonesia
NovelToon NovelToon
SIAPA YANG MENYIMPAN NAMAKU?

SIAPA YANG MENYIMPAN NAMAKU?

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:152
Nilai: 5
Nama Author: Omni Tales

"Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata." Nio tidak memiliki identitas, gender yang jelas, maupun ingatan masa lalu. Dia hanya hidup bersama pendar layar monitor dan residu informasi yang dibuang orang lain.
Ketika sebuah kasus anomali mendatangi meja kerjanya, Nio menemukan bentuk kejahatan yang tidak biasa: seseorang sedang mencabut sejarah manusia hingga tak bersisa. Di balik berkas-berkas mati yang membusuk dalam sistem, sebuah teror berinisial Zero mulai mengawasi setiap geraknya. Berpacu dalam kesepian dan ketakutan, Nio harus memilih: membongkar rahasia yang terkunci, atau menjadi lembaran kosong berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Omni Tales, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gelombang Psiko-Digital

Di atas meja kayu tua Kedai Kael, cangkir kopi hitam yang baru dituangkan masih mengepulkan uap tipis yang beraroma pahit. Namun, Kael justru berdiri mematung di samping meja sambil memegang teko kosong dengan mata berkedip-kedip bingung.

"Ada yang salah dengan kopinya, Paman Kael?" tanya Nora seraya memiringkan kepala, menghentikan gerakan jemarinya yang sedang menggeser layar ponsel.

Kael mengerutkan dahi dalam-dalam dengan lipatan kulit wajah yang menegang, menatap teko di tangannya seolah benda itu baru saja jatuh dari langit. "Aku... aku mau menuangkan kopi hangat ini untuk siapa tadi, ya?"

"Untuk Nio, Paman. Itu cangkirnya bahkan sudah terisi setengah," jawab Nora pelan seraya tersenyum tipis.

Sensasi aneh dan dingin mendadak menjalar merayap di sepanjang tengkuk Nio. Dari sudut matanya, pendar redup dari lampu gantung kedai tampak berkedip pelan dengan interval jeda yang sangat tidak simetris.

Nio segera meraba saku jaketnya, meremas erat tekstur lembaran kertas kosong di sana untuk menyakinkan presensinya sendiri di tengah kejanggalan ini. Benda polos itu terasa dingin di telapak tangannya, namun cukup kuat untuk menahan pijakan batinnya dari gelombang kebingungan yang tiba-tiba mengambang.

"Bukan cuma Paman Kael yang bertingkah aneh," gumam Nio seraya melirik ke arah jalanan basah di luar kedai.

Di seberang jalan, seorang penjual sayur keliling mendadak berhenti mendorong gerobak kayunya. Pria tua itu menatap deretan bangunan rumah dengan wajah linglung dan matanya sayu, lalu berbalik arah seakan lupa pada tujuan awalnya.

Nio menarik laptop khususnya lebih dekat, membuka pemindai frekuensi lokal yang terhubung langsung ke jaringan nirnirkabel independen milik kedai. Di layar monitor, garis grafik sinyal yang biasanya datar mendadak melonjak tajam membentuk pola anomali berulang pada rentang 18 hingga 20 Hertz.

"Nio, dadaku... terasa sangat sesak sekali," lirih Nora seraya memegang pelipisnya yang mendadak menegang hebat.

'Sinyal frekuensi rendah... ini jelas bukan gangguan jaringan transmisi biasa,' batin Nio membaca grafik data.

Garis spektrum di layarnya tidak bergerak secara acak, melainkan terstruktur sangat rapi bagai denyut nadi mesin yang sedang memandah ke seluruh pemukiman.

Nio menatap layar monitor tanpa berkedip sedikit pun. "Zero tidak lagi cuma menyerang server data digital."

"M-maksudmu apa, Nio? Sinyal itu... apa bisa mempengaruhi otak manusia?!" suara Nora bergetar penuh rasa cemas.

"Frekuensi terkonfigurasi untuk mengganggu gelombang otak manusia pada fase alfa, membuat memori jangka pendek terdistorsi perlahan-lahan," terang Nio dingin.

Di luar ruangan, suara klakson sepeda motor terdengar samar-samar, disusul oleh keheningan malam yang sangat janggal dan tak alami. Senyap pekat yang merayap turun dari langit-langit kota terasa begitu menekan, membawa residu ketakutan yang dingin menyengat kulit.

Kael melangkah mendekati meja dengan kaki yang berat, meletakkan teko kayu itu dengan telapak tangan yang gemetar hebat. "Nio, anak kecil yang sering bersamamu... siapa namanya? Kenapa piring kesukaannya ada di rak, tapi aku mendadak lupa mukanya?"

Nora tersentak kaget sampai-sampai kursi kayu yang didudukinya bergeser kasar membentur lantai. "Paman! Paman bicara tentang Milo, kan?! Paman tentu ingat Milo!!"

"Milo...?" Kael mengecap kata itu dengan lidah yang terasa kaku, lalu menggelengkan kepalanya pelan. "Siapa... siapa itu Milo?"

"Paman! Jangan bercanda seperti ini! Paman sendiri yang selalu memberinya segelas susu hangat setiap sore!" air mata Nora mulai merebak menggenang di sudut matanya.

"AKU TIDAK BERCANDA!!" bentak Kael tiba-tiba dengan nada tinggi, namun matanya memancarkan kepanikan batin yang teramat dalam. "Aku... aku benar-benar tidak ingat..."

'Penyangkalan tidak akan pernah mengubah apa pun, ingatan mereka sedang dikikis secara paksa dari jarak jauh,' pikir Nio kencang.

Sambil terus memegang erat kertas kosong di sakunya, Nio mengetikkan serangkaian perintah baris di terminal laptop untuk melacak lokasi sumber pancaran. Penyaluran sinyal semacam ini tidak memiliki preseden dalam kasus-kasus sebelumnya, ini adalah bentuk pengujian senjata psiko-digital tahap lanjut.

Nio memutar monitor laptopnya ke arah Nora. "Lihat pendar merah yang berkedip di peta mikro ini."

Nora menyapu air matanya dengan punggung tangan, mencoba fokus menatap titik kedip merah di layar. "I-itu... berada di sekitar pemukiman kita?"

"Pemancar frekuensi itu sengaja dipasang di radius tiga ratus meter dari kedai ini untuk memicu penyetelan ulang ingatan kolektif warga."

"Dia mau membuat seluruh orang di lingkungan ini lupa pada Milo... dan mungkin tereliminasi dari ingatan kita?" suara Nora tertahan parau di tenggorokan.

Nio bangkit berdiri tegak, menyambar jaket pelindungnya tanpa sedikit pun melepas dekapan jemarinya dari kertas di saku. "Bukan cuma lupa, Zero ingin memutus seluruh hubungan sosial para korban sampai mereka merasa terasing dari eksistensi mereka sendiri."

"T-tapi bagaimana dengan Paman Kael? Dia... dia kelihatan sangat bingung dan ketakutan!!"

"Tetap berada di sini dan jaga Paman Kael, jangan biarkan dia melangkah keluar kedai selama frekuensi ini aktif."

Tiba-tiba, pengeras suara kecil di sudut meja yang terhubung dengan modul peretas milik Nio mengeluarkan suara dengus statis yang sangat nyaring. Pendar LED pada perangkat radio itu berubah merah pekat, menyiarkan gelombang suara sintetis yang terdistorsi berat dan merindingkan.

"Apakah kau merasakan keindahannya, Pakar Data?" suara dari pengeras suara itu terdengar datar tanpa emosi manusiawi.

Nio mengepalkan tangannya rapat-rapat di balik saku jaket. "Zero."

"Manusia terlalu menderita karena menampung terlalu banyak identitas dan kenangan kotor. Aku hanya membersihkan papan tulis mereka menjadi tabula rasa yang murni."

"Kau tidak sedang membersihkan apa pun! Kau cuma mencabut sejarah dari dada mereka secara paksa!!" tegas Nio dengan nada bersuhu nol derajat.

Tawa kecil yang terdengar mekanis dan dingin merambat keluar dari pengeras suara tersebut. "Rekonstruksi ingatan adalah bentuk belas kasihan terbesarku, Nirnama. Tanpa nama dan kenangan, tidak ada lagi rasa sakit yang tersisa di dunia."

"JANGAN BICARA SEOLAH KAU PENYELAMAT, ZEROOO!!!" teriak Nora histeris menumpahkan amarahnya ke arah pengeras suara.

"Kau adalah karya masa laluku yang belum selesai, Nio. Jika kau tidak menghentikan pemancar ini dalam durasi sepuluh menit, ingatan gadis di sebelahmu tentang adiknya akan tereliminasi total."

BZZZZT!

Sambungan radio itu terputus seketika, menyisakan suara dengung panjang yang menyengat dan menyakitkan telinga.

Nora memegangi kepalanya dengan kedua tangan sambil meringis kesakitan hebat. "Nio... kepalaku... nama adikku... kenapa gambarnya mulai kabur dan hilang di kepalaku...?"

"Nora, tatap mata gue sekarang!!" Nio memegang kedua bahu Nora dengan cengkeraman yang sangat kuat.

"A-aku... aku ingat nama adikku... M-Milo... tapi... tapi bayangan wajahnya..." mata Nora menatap kosong ke arah dinding kayu kedai.

Nio menyadari bahwa waktu mereka sudah hampir habis; gelombang frekuensi psiko-digital itu mulai mengikis lapisan memori terdalam milik Nora.

"Tahan memori itu, Nora! Jangan biarkan fikiranmu menyerah pada rasa sakit yang dibuatnya!"

Nio berbalik menuju pintu keluar kedai, membiarkan angin malam yang dingin menyapu wajahnya saat pintu kaca terdorong terbuka.

Di ujung lorong gang yang gelap dan tampak amorf, sebuah pendar merah redup terlihat berkedip di atas tiang pemancar tua. Namun, sebelum Nio sempat melangkah lebih jauh, dua sosok pria berjaket serba hitam melangkah keluar dari bayang-bayang jalanan dengan pandangan mata yang kosong dan patuh.

Kedua orang itu memegang batang besi panjang, bergerak mengepung Nio bagai boneka yang sepenuhnya dikendalikan oleh sinyal frekuensi yang sama.

Nio meraba kertas kosong di sakunya satu kali lagi, merasakan teksturnya yang rata dan halus sebelum menarik napas panjang.

"Eksistensi kami bukan sesuatu yang bisa kau hapus begitu saja dari dunia ini, Zero," bisik Nio pelan pada kegelapan malam.

Salah satu pria terhipnotis berjaket hitam itu mendadak mengayunkan besi keras-keras ke arah kepala Nio tanpa peringatan sedikit pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!