Indonesia
NovelToon NovelToon
JANJI ULAR PUTIH (IKRAR ABADI)

JANJI ULAR PUTIH (IKRAR ABADI)

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:222
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Lian Yue terbangun tanpa ingatan dan segera menyadari dirinya bukan manusia biasa. Di sisi lain, Shen Rui adalah pemburu siluman yang sejak kecil diajarkan untuk membunuh Ular Putih.

Namun saat mereka bertemu, keduanya justru merasa seolah pernah saling mengenal.

Sedikit demi sedikit, terungkap bahwa selama seribu tahun mereka selalu dipertemukan, jatuh cinta, lalu dipisahkan oleh kematian.

Kini Lian Yue dan Shen Rui harus memilih: tunduk pada kutukan lama, atau melawan takdir demi satu kehidupan bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: PEREMPUAN DI BAWAH POHON PLUM

Dinginnya Gunung Wuyin di pertengahan musim dingin bukanlah dingin biasa. Angin dari puncaknya bertiup membelah celah-celah batu cadas, membawa embun es yang membekukan bahkan aliran sungai terkecil sekalipun. Di lereng gunung yang terisolasi itu, sebuah pohon plum tua berdiri kokoh di tepi tebing curam. Anehnya, meski badai salju menyapu seluruh kawasan pegunungan, ranting-ranting pohon itu tetap memamerkan kelopak-kelopak bunga merah darah yang mekar sempurna, bertolak belakang dengan hamparan putih yang mengelilinginya.

Di bawah naungan pohon plum itulah, sebuah pemandangan ganjil terhampar.

Sesosok tubuh tergeletak di atas tumpukan salju tebal. Ia adalah seorang perempuan, terbalut gaun sutra putih murni bersulam benang perak yang tampak amat asing untuk kawasan liar seperti Wuyin. Rambut hitamnya yang panjang terurai lepas, menyebar di atas tanah yang beku serupa jelaga yang menetes di atas kertas pualam. Kulitnya pucat—begitu pucat hingga nyaris menyatu dengan warna salju di sekitarnya. Napasnya sangat halus, hampir tak terpindai oleh indera manusia biasa.

Namun, yang paling mengerikan bukanlah keberadaan perempuan itu sendirian di tengah badai, melainkan apa yang mengelilingi tubuhnya.

Puluhan—bahkan mungkin ratusan—ular bertumpuk di sekeliling perempuan tersebut. Ular-ular dengan pelbagai ukuran dan corak sisik itu mati membeku. Tubuh reptil-reptil itu melingkar ketakutan, membeku dalam posisi seolah-olah mereka baru saja berdesakan untuk mendekati sang perempuan sebelum menghembuskan napas terakhir. Darah hitam beberapa ekor ular yang membeku membentuk pola-pola aneh di atas salju, melingkari tubuh sang perempuan serupa benteng pelindung yang gagal.

Suara gemertak salju yang terinjak memecah keheningan pegunungan.

Langkah kaki itu mantap dan terukur. Sesosok pria muda muncul dari balik rimbunnya pohon pinus beku. Ia mengenakan jubah tempur abu-abu gelap dengan mantel bulu serigala melingkari bahunya. Di punggungnya terikat sebuah sarung pedang berat berlapis perunggu kuno yang diukir dengan mantra-mantra suci pembasmi iblis.

Ia adalah Shen Rui. Seorang pemburu siluman terkuat generasi muda dari Paviliun Tianjian.

Sejak kecil, Shen Rui telah ditanamkan satu doktrin mutlak oleh para penatua perguruannya: siluman adalah anomali alam yang membawa bencana, dan dari segala jenis makhluk jahat di muka bumi, siluman ular putih adalah malapetaka tertinggi yang suatu hari nanti harus ia musnahkan dengan tangannya sendiri. Seluruh hidupnya ditempa untuk satu tujuan itu—menjadi pedang penentu bagi Paviliun Tianjian.

Hari ini, Shen Rui mendaki Gunung Wuyin setelah melacak lonjakan aura mistis ganjil yang membelah langit malam sebelumnya. Namun, ia tidak menyangka akan menemukan adegan seperti ini.

Shen Rui menghentikan langkahnya lima belas tindak dari pohon plum. Matanya yang tajam berkilat penuh kewaspadaan. Tangannya secara refleks turun, menggenggam erat gagang pedang di punggungnya. Energi qi di dalam tubuhnya mulai bergolak, siap dihempaskan kapan saja jika makhluk di depannya menunjukkan tanda-tanda ancaman.

"Ular-ular ini..." gumam Shen Rui rendah.

Ia bisa merintangi puluhan ular berbisa ini bukanlah mati karena kedinginan biasa. Sisik-sisik mereka pecah dari dalam, seolah-olah dipaksa tunduk oleh sebuah tekanan aura spiritual yang terlalu dahsyat untuk ditanggung oleh tubuh binatang melata tersebut. Dan pusat dari pancaran aura liar itu tak lain adalah perempuan yang terbaring lemah di tengah mereka.

Shen Rui mencabut pedangnya sedikit. Bilah baja dingin itu berkilat memantulkan cahaya suram musim dingin. Dengan kewaspadaan tinggi, ia melangkah maju, menepis tubuh ular-ular mati yang menghalangi jalannya menggunakan ujung sarung pedang.

Ketika ia berdiri tepat di samping tubuh perempuan itu, angin badai mendadak reda sejenak.

Shen Rui berlutut dengan satu kaki. Ia mengamati wajah perempuan itu. Fitur wajahnya sangat halus, dengan alis tipis bagai lukisan tinta dan bulu mata panjang yang tertutup es tipis. Tidak ada tanda-tanda qi iblis pekat yang biasanya menyelimuti siluman tingkat tinggi. Perempuan ini terasa murni—terlalu murni hingga terkesan menakutkan.

Shen Rui mengulurkan tangannya yang terbungkus sarung kulit, menyentuh leher perempuan itu untuk memeriksa denyut nadinya.

Deg.

Satu sentuhan sederhana itu mendadak memicu getaran aneh di dada Shen Rui. Pedang pembasmi siluman di punggungnya memancarkan pendar cahaya emas tipis dan bergetar halus—bukan reaksi membunuh seperti biasanya saat berhadapan dengan makhluk jahat, melainkan sebuah denyutan hangat yang samar, seolah-olah senjata kuno itu mengenali sesuatu yang telah lama hilang.

Shen Rui menahan napas, terkejut oleh reaksi pedangnya sendiri. Namun sebelum ia sempat menarik tangannya kembali, kelopak mata perempuan itu bergerak pelan.

Perempuan itu terbangun.

Saat matanya terbuka, Shen Rui terpana. Iris mata perempuan itu berwarna perak bening, memantulkan pendar remang salju dengan kejernihan yang mystis. Tatapannya linglung, kosong, dan dipenuhi oleh ketakutan yang sangat mendasar.

Perempuan itu terbatuk pelan, menyebarkan aroma harum minyak bunga yang khas—aroma yang entah mengapa terasa begitu familier di relung ingatan terdalam Shen Rui, membuat dadanya mendadak terasa sesak oleh kepedihan yang tidak ia ketahui darimana asalnya.

"Di... di mana..." suara perempuan itu terdengar parau dan serak, hampir tenggelam oleh desis angin dingin.

Shen Rui segera menarik tangannya kembali dan berdiri tegak, menjaga jarak aman seraya menatap perempuan itu tajam dari atas. "Jangan bergerak sembarangan. Gunung Wuyin bukan tempat untuk manusia biasa. Siapa kau? Mengapa kau bisa tergeletak di tengah tumpukan bangkai ular ini?"

Perempuan itu berusaha mendudukkan tubuhnya. Jemarinya yang gemetar mencengkeram kain gaunnya sendiri. Ia mendongak, menatap Shen Rui yang berdiri megah di depannya dengan pedang terhunus setengah. Mata peraknya menatap wajah Shen Rui lama, mencoba mencari sesuatu di dalam ingatannya, tetapi yang ia temukan hanyalah kegelapan yang hampa.

Ia menggelengkan kepala perlahan, air mata bening menetes di pipinya yang dingin.

"Aku... aku tidak tahu," bisik perempuan itu penuh keputusasaan. "Aku tidak tahu siapa aku. Aku tidak ingat..."

"Kau tidak ingat namamu sendiri?" tanya Shen Rui dengan dahi berkerut keras. Ia mencari kebohongan di mata perempuan itu, namun yang ia temukan hanyalah ketakutan murni dari seorang jiwa yang kehilangan arah.

"Namaku..." Perempuan itu memegangi kepalanya yang mendadak dihantam rasa sakit yang membagikan denyutan kejam. "Aku tidak punya nama. Aku tidak ingat apa pun..."

Shen Rui menatap sekeliling pelataran pohon plum. Bangkai ular-ular yang mengelilingi perempuan ini, reaksi aneh dari pedang pembasmi iblis milik Paviliun Tianjian, serta ketiadaan ingatan pada perempuan ini membentuk sebuah teka-teki yang terlalu rumit untuk ditinggalkan begitu saja di tengah badai salju.

Jika perempuan ini adalah siluman ular putih yang selama ini dicari oleh perguruannya, membunuhnya sekarang saat ia tak berdaya adalah hal yang sangat mudah. Namun, pedang di punggung Shen Rui menolak untuk memancarkan niat membunuh. Ada sesuatu yang salah—sesuatu yang membuat Shen Rui tidak sanggup mengayunkan bilah bajanya.

Shen Rui menyarungkan kembali pedangnya hingga terdengar bunyi klik yang tegas. Ia mengulurkan tangannya yang tegap ke arah perempuan yang masih gemetar di atas salju.

"Namaku Shen Rui," ucap pria itu tenang namun dingin. "Ikutlah denganku jika kau tidak ingin membeku mati di tempat ini."

Perempuan itu menatap tangan Shen Rui yang terulur padanya. Meski pria di depannya membawa senjata mematikan dan memancarkan aura yang menakutkan, entah mengapa di balik dada perempuan itu timbul sebuah rasa aman yang tidak rasional. Tanpa ragu, ia menyambut uluran tangan Shen Rui.

Ketika jemari mereka saling bersentuhan, pendar sisik putih yang sangat tipis dan transparan sempat berkilat di balik pergelangan tangan sang perempuan—hanya sekejap mata, sebelum akhirnya lenyap kembali ditelan hawa dingin Gunung Wuyin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!