Indonesia
NovelToon NovelToon
Love In The Crossfire

Love In The Crossfire

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: wabula

Mobil mogok di depan sebuah rumah makan sederhana mempertemukan Dawin, pasukan khusus elite yang tegas namun berhati lembut, dengan Kwila, perawat baik hati dari keluarga Lidar. Pertemuan yang tak terduga itu berubah menjadi cinta yang tumbuh di tengah bahaya, ketika keluarga Kwila justru menjadi incaran organisasi kriminal BlackSystem yang begitu ditakuti. Antara tugas melindungi negara dan menjaga wanita yang dicintainya, Dawin harus menghadapi pengkhianatan, pengejaran, dan pertaruhan nyawa sementara Kwila belajar bahwa cinta sejati kadang datang justru saat dunia terasa paling berbahaya. Namun kisah ini tak berhenti di pelaminan. “Dawin dan Kwila” adalah saga keluarga yang membentang lintas generasi merayakan pernikahan, kelahiran, perjuangan mengejar mimpi, hingga anak-anak mereka tumbuh dewasa dan menemukan cinta serta jalan hidup masing masing. Dari aksi menegangkan hingga kehangatan meja makan keluarga, novel 150 bab ini adalah perjalanan panjang tentang keberanian, penebusan, dan bagaimana kebaikan kecil bisa berbuah kebahagiaan yang tak pernah berhenti bertumbuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bisikan di lorong sekolah

Pagi itu, Zein berjalan menyusuri koridor sekolahnya dengan langkah yang agak lesu, masih menyimpan rasa malu akibat tamparan yang dia terima dari Piku beberapa hari lalu, meski dia berusaha menutupinya dengan bersikap biasa saja di depan teman-temannya. Bel masuk baru saja berbunyi, namun beberapa siswa masih berkerumun di sudut lorong yang agak tersembunyi dari pengawasan guru, sebuah kebiasaan yang belakangan ini semakin sering Zein perhatikan tanpa benar-benar memahami apa yang sedang terjadi di sana.

"Zein, buruan masuk kelas, nanti telat lagi," ujar seorang suara dari belakang, menepuk pundaknya dengan akrab. Suara tersebut berasal dari Baing, sahabat karib Zein sejak masih duduk di bangku SMP, seorang remaja dengan perawakan tinggi dan sikap yang selalu ceria meski belakangan ini sesekali terlihat sedikit murung.

"Iya, ini lagi jalan," jawab Zein sambil tersenyum, melangkah berdampingan dengan Baing menuju kelas mereka yang terletak di ujung koridor tersebut.

"Zein, gimana kabar Bapak lo? Denger-denger kemarin ada kejadian di resto," tanya Baing dengan nada khawatir, mengingat kabar yang sempat beredar di antara teman-teman sekolah mengenai insiden yang menimpa keluarga Lidar tersebut.

"Udah mendingan, untung ada yang nolongin waktu itu," jawab Zein singkat, tidak ingin terlalu banyak membahas kejadian yang masih membuatnya sedikit trauma tersebut, meski dia menghargai perhatian sahabatnya yang begitu tulus.

Baing mengangguk, memahami bahwa Zein mungkin belum sepenuhnya siap membicarakan detail kejadian tersebut. Mereka berdua melangkah masuk kelas, duduk di bangku yang berdampingan seperti kebiasaan mereka sejak dulu, meski suasana hati Zein masih terasa sedikit berbeda dari biasanya.

Selama jam pelajaran berlangsung, perhatian Zein sesekali teralihkan oleh gerak-gerik beberapa siswa senior yang duduk di bangku belakang kelas, yang tampak sering berbisik-bisik dan bertukar sesuatu dengan gerakan yang begitu mencurigakan setiap kali guru sedang membelakangi kelas tersebut. Zein tidak terlalu memikirkan hal tersebut secara mendalam, menganggapnya sekadar kebiasaan siswa nakal yang memang sering menjadi bahan gosip di sekolah tersebut.

Saat jam istirahat tiba, Zein dan Baing duduk di kantin sekolah, menikmati bekal makan siang yang mereka bawa masing-masing. "Baing, lo pernah denger nggak, ada kabar soal barang-barang aneh yang beredar di sekolah kita?" tanya Zein tiba-tiba, teringat pada gerak-gerik mencurigakan yang dia saksikan tadi di kelas.

Baing terdiam sejenak, ekspresi wajahnya berubah sedikit tegang mendengar pertanyaan tersebut, sebuah reaksi yang tidak luput dari perhatian Zein meski dia belum sepenuhnya memahami maknanya. "Nggak tau juga, Zein. Kenapa emangnya?"

"Tadi di kelas, gue liat ada beberapa anak kelas dua belas yang kayaknya lagi tuker-tukeran sesuatu, gerakannya mencurigakan banget," jelas Zein, mengungkapkan kecurigaannya secara lebih detail kepada sahabatnya tersebut.

"Mungkin cuma tuker-tukeran barang biasa aja kali, Zein. Nggak usah dipikirin," jawab Baing dengan nada yang terkesan buru-buru, mencoba mengalihkan topik pembicaraan tersebut, meski Zein bisa merasakan sedikit kejanggalan dari reaksi sahabatnya itu.

Sepanjang sisa waktu istirahat tersebut, Zein memperhatikan bahwa Baing tampak sedikit lebih pendiam dari biasanya, sesekali melirik ke arah jam tangannya dengan gelisah, seolah menunggu sesuatu atau seseorang. "Baing, lo kenapa sih, dari tadi kayak gelisah gitu?" tanya Zein dengan penuh perhatian, khawatir dengan perubahan sikap sahabatnya tersebut.

"Nggak apa-apa kok, cuma capek aja," jawab Baing sekadarnya, mencoba menyembunyikan kegelisahan yang sebenarnya berkaitan dengan kekhawatirannya sendiri mengenai pekerjaan ayahnya yang selama ini selalu dia rahasiakan dari teman-teman sekolahnya, termasuk dari Zein yang telah menjadi sahabat terdekatnya tersebut.

Baing sendiri, meski tidak sepenuhnya mengetahui detail bisnis gelap ayahnya, mulai merasakan kegelisahan yang semakin bertambah belakangan ini, terutama setelah beberapa kali melihat ayahnya pulang larut malam dengan raut wajah yang begitu tegang, serta beberapa kali menerima telepon misterius yang selalu membuat ayahnya buru-buru keluar rumah tanpa penjelasan yang jelas.

Ayah Baing, yang dikenal luas di lingkungan rumahnya sebagai Pak Jecko, seorang pria yang bekerja di bidang yang menurut penjelasannya sendiri adalah "usaha keamanan," selama ini selalu berusaha menjaga jarak antara kehidupan pekerjaannya dengan kehidupan keluarga, terutama demi melindungi putra semata wayangnya tersebut dari bahaya yang mungkin mengintai akibat pekerjaan gelap yang sebenarnya dia jalani sebagai tangan kanan Bos Tiger di organisasi BlackSystem.

Sepulang sekolah hari itu, Zein dan Baing berjalan bersama menuju Good Resto, sebuah kebiasaan yang sudah lama mereka jalani mengingat Baing sering mampir untuk sekadar mengobrol atau membantu sedikit pekerjaan di restoran tersebut, sebuah tempat yang selalu memberikan kehangatan yang jarang dia rasakan di rumahnya sendiri akibat kesibukan dan misteri yang menyelimuti pekerjaan ayahnya tersebut.

"Baing, sering banget lo main ke resto kami. Emang di rumah lo nggak ada temen buat ngobrol?" tanya Zein sambil tertawa kecil, mengomentari kebiasaan sahabatnya yang begitu sering menghabiskan waktu di restoran keluarganya tersebut.

Baing tersenyum tipis, sebuah senyum yang menyimpan kesedihan yang tidak sepenuhnya dia pahami sendiri. "Rumah kalian tuh hangat banget, Zein. Bapak lo, Ibu lo, semuanya baik, beda banget sama suasana di rumah gue yang kadang sepi dan aneh."

Mendengar pengakuan tersebut, Zein merasa sedikit iba, meski dia tidak sepenuhnya memahami maksud dari kata "aneh" yang disebutkan sahabatnya tersebut. "Yaudah, kalau gitu anggep aja resto kami rumah kedua lo. Bapak sama Ibu juga udah nganggep lo kayak anak sendiri kok."

Kata-kata tersebut menyentuh hati Baing begitu dalam, membuat matanya sedikit berkaca-kaca meski dia berusaha menyembunyikannya dari sahabatnya tersebut. Kebaikan keluarga Lidar terhadap dirinya selama ini, meski sederhana, memberikan kehangatan yang begitu berarti bagi remaja yang diam-diam merasa kesepian di tengah kemewahan materi yang disediakan ayahnya dari hasil bisnis gelap yang tidak sepenuhnya dia pahami tersebut.

Sesampainya di Good Resto, Tuan Lidar yang sudah mulai pulih dari memar akibat pukulan Piku, menyambut kedatangan kedua remaja tersebut dengan hangat seperti biasa. "Eh, Baing juga dateng. Ayo, Nak, masuk, ada makanan spesial hari ini buat kalian berdua."

Kehangatan sederhana tersebut, yang begitu kontras dengan kehidupan gelap yang sedang berlangsung di balik layar organisasi BlackSystem, akan segera menjadi salah satu faktor penting yang mempengaruhi jalannya cerita di masa depan, terutama ketika benih-benih kebaikan yang ditanamkan keluarga Lidar terhadap Baing tersebut, tanpa mereka sadari, akan menjadi kunci penting dalam pertarungan besar melawan kejahatan yang akan segera mereka hadapi bersama.

Bu Misa, yang menyaksikan kedua remaja tersebut menyantap makanan dengan lahap, ikut duduk sebentar di meja mereka sambil membawakan segelas es teh tambahan. "Baing, kalau ada apa-apa di rumah, jangan sungkan cerita ke kami ya, Nak. Kami udah anggep kamu kayak keluarga sendiri."

Mendengar kata-kata tersebut, Baing hanya bisa mengangguk dengan mata yang mulai berkaca-kaca, tidak sanggup mengungkapkan betapa besar arti kehangatan tersebut baginya, terutama mengingat betapa berbedanya suasana rumahnya sendiri yang selalu diselimuti misteri dan kekhawatiran yang tidak pernah dia mengerti sepenuhnya. "Terima kasih, Tante. Saya seneng banget bisa sering main ke sini."

Zein, yang menyaksikan interaksi tersebut, tersenyum menyaksikan bagaimana keluarganya begitu tulus menerima sahabatnya tersebut sebagai bagian dari keluarga mereka, tidak menyadari bahwa ketulusan sederhana yang mereka tunjukkan hari itu, kelak akan menjadi salah satu benang merah penting yang akan mengubah nasib banyak orang dalam pertarungan besar yang masih menanti mereka di masa depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!