Pernikahan megapahit antara Raden Mas Arya Sena Soerjoatmodjo dan Lilianne Prameswari Djojodiningrat murni dirancang demi menyatukan kerajaan bisnis dua keluarga old money. Tanpa cinta, Arya yang dingin dan angkuh memandang ikatan ini sebatas transaksi bisnis, sementara Lilianne tumbuh sebagai putri manja yang impulsif dan gemar berfoya-foya. Tinggal di bawah satu atap justru menyulut perang dingin dan benturan ego antara tradisi serta kebebasan. Namun, saat intrik korporasi mulai mengancam dinasti mereka, Arya dan Lilianne terpaksa bersatu, perlahan meruntuhkan tembok gengsi dan membuka hati satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 25
***
Sementara itu, di kediaman utama klan Soerjoatmodjo yang megah dan dipenuhi arsitektur klasik Jawa-Eropa, keheningan pagi belum sepenuhnya mencair. Di beranda belakang yang menghadap ke area kebun air mancur, Raden Ajeng Gayatri Soerjoatmodjo duduk bersandar di kursi ukir jati. Di tangannya, cangkir teh porselen hangat mengepulkan aroma melati. Namun, benak sang Nyonya Besar sama sekali tidak berada di beranda itu.
Suaminya, Raden Mas Bambang Soerjoatmodjo, melangkah mendekat dengan mantel hangat, lalu duduk di samping sang istri seraya mengamati raut wajah Gayatri yang tampak gelisah.
"Ada yang mengganggu pikiranmu sejak kemarin malam, Gayatri?" sapa Bambang Soerjoatmodjo halus, suara bariton tuanya mengalun tenang.
Gayatri menghembuskan napas pelan, meletakkan cangkirnya tanpa membuat detak porselen sedikit pun. "Perasaan seorang ibu tidak pernah bohong, Mas. Saat jamuan malam kemarin... aku melihat binar di mata Lilianne. Anak itu tersenyum manis, sikapnya begitu sempurna dan anggun sebagai Nyonya Soerjoatmodjo di depan para pejabat dan media. Tapi ada kesedihan mendalam yang terpendam di balik tatapan mata hijaunya."
Gayatri menoleh menatap suaminya dengan raut cemas. "Aku takut Arya bertindak terlalu jauh dengan egonya. Arya itu kaku, dominan, dan tidak pernah mau mengalah. Bagaimana kalau Lilianne merasa tertekan berada di mansion itu?"
Suryo meraih jemari istrinya, mengusapnya dengan kehangatan penuh kebijaksanaan. "Pernikahan mereka memang diawali oleh keputusan aliansi dan perjodohan dua klan besar, Gayatri. Tapi percayalah, ini adalah jalan terbaik untuk mereka berdua. Arya membutuhkan wanita sekelas Lilianne—yang cerdas, memiliki harga diri tinggi, dan sanggup menundukkan keangkuhan putra kita. Biarkan mereka menyelesaikan dinamika rumah tangganya sendiri. Arya pasti tahu cara menjaga istrinya."
Gayatri hanya sanggup mengangguk pelan, meski jauh di dalam dadanya, firasat akan gejolak di mansion anak sulungnya kian menguat.
**
Pagi hari menyunggingkan pendar keemasan di balik tirai sutra kamar utama Mansion Soerjoatmodjo.
Raden Mas Arya Sena perlahan membuka matanya. Rasa panas akibat racun obat perangsang kemarin malam telah sepenuhnya sirna, digantikan oleh kesadaran utuh yang mendadak menghantam dadanya bagaikan godam berat. Memori tentang apa yang terjadi semalam meledak seketika di kepalanya.
Arya menoleh cepat ke samping.
Lilianne masih terlelap pasrah di atas sprei sutra seputih susu. Selimut tebal membungkus tubuh moleknya hingga batas dada. Dalam pendar cahaya fajar, Arya bisa melihat dengan sangat jelas Jejak-jejak lebam kemerahan serta ruam kebiruan yang tercetak nyata di ceruk leher mulus, bahu, hingga sepanjang lengan langsing istrinya—bukti betapa liarnya keposesifan dan gairah tak terkendali yang ia tumpahkan semalam.
Sensasi penyesalan yang teramat pekat dan rasa bersalah yang membakar mendadak menguasai dada sang Presdir.
"Lilianne..." bisik Arya parau, suaranya bergetar tipis.
Dengan jemari kekar yang amat gemetaran, Arya terulur hendak menyentuh helai rambut blonde yang menutupi wajah cantiknya. Namun, gerakan Arya terhenti saat netra hijau jernih di hadapannya perlahan terbuka.
Lilianne telah terbangun. Ketika pertama kali membuka matanya, sebuah desahan lirih—"Shhh..."—meluncur dari celah bibirnya yang merona, disusul rintihan halus yang tertahan akibat rasa perih dan sakit yang luar biasa menjalar dari area intimnya. Tubuhnya terasa begitu remuk, setiap jejak penyatuan semalam menyiarkan rasa ngilu yang menusuk sarafnya. Tidak ada tangisan histeris, tidak ada amukan, dan tidak ada jeritan. Namun, cara Lilianne menatap Arya pagi itu jauh lebih menyiksa daripada makian paling tajam. Sepasang mata hijau jernih itu menatap Arya lurus—dingin, redup, diam, dan memancarkan kepasrahan misterius yang membekukan udara di dalam kamar.
Ketika Lilianne berusaha menggerakkan tubuhnya untuk duduk, raut wajah cantiknya mendadak menegang tipis. Kesakitan di area intimnya serta rasa pegal di sekujur tubuh akibat penyatuan paksa semalam membuat napasnya tersengal pelan.
"Jangan bergerak dulu, Sayang... Tolong," pangkas Arya panik. Pria dominan itu serta-merta berlutut di atas kasur, memegang bahu Lilianne dengan kehati-hatian yang teramat tinggi, seolah takut wanita di hadapannya akan pecah jika disentuh terlalu keras.
"Saya ambilkan air hangat dan handuk basah... Saya bantu kamu," sambung Arya dengan suara berat yang dipenuhi permohonan dan rasa takut kehilangan yang mendalam.
Lilianne tidak menolak, namun ia juga tidak membalas sentuhan itu. Saat Arya mengangkat tubuhnya secara perlahan untuk menumpuk bantal di punggungnya, pandangan Lilianne dan Arya sama-sama tertuju pada sprei sutra putih di atas ranjang. Di sana, terhampar nyata bercak darah merah pekat—bukti mutlak keperawanan sang putri bangsawan yang baru saja direbut secara paksa di bawah pengaruh racun semalam. Pemandangan itu seketika makin meremukkan dada Arya oleh rasa bersalah yang tak tertahankan. Tanpa kata, Arya menyelimuti tubuh Lilianne kembali, berusaha menyembunyikan jejak perih tersebut dari pandangan istrinya.
Arya melangkah bergegas ke kamar mandi, mengambil baskom porselen berisi air hangat dan kain lembut. Pria jangkung yang biasanya memerintahkan ratusan staf itu kini berlutut di samping tempat tidur, dengan telaten dan lembut mengusap kening, leher, serta jemari Lilianne yang lebam.
"Lilianne... bicaralah pada saya," mohon Arya serak, matanya yang sepekat malam menatap istrinya dengan pandangan yang hampir bertekuk lutut. "Saya tahu saya sudah melewati batas semalam. Obat itu... racun itu membuat saya kehilangan kontrol. Tapi demi Tuhan, saya ingat setiap detiknya... saya menyesal telah membuatmu kesakitan seperti ini. Hukumlah saya, bicaralah, jangan diam seperti ini..."
Lilianne menarik napas panjang, menghembuskannya amat perlahan. Suaranya meluncur jernih, datar, dan tanpa emosi sedikit pun sebuah keheningan berkelas yang menegaskan benteng jarak yang kian kokoh.
"Untuk apa aku marah, Mas Arya?" tutur Lilianne halus, menatap lurus ke dalam mata suaminya. "Mas Arya adalah suamiku. Hak atas tubuhku memang ada di tanganmu sejak akad nikah itu diucapkan. Semalam... Mas Arya hanya mengambil hak yang memang milikmu. Bukankah begitu?"
Kalimat itu menghantam dada Arya bagaikan sembilu yang diiriskan tanpa ampun. Kata-kata yang terdengar pasrah namun penuh sindiran tajam itu membuktikan bahwa Lilianne kini benar-benar menutup pintu hatinya rapat-rapat, menganggap hubungan intim mereka semalam tak lebih dari sekadar pemenuhan kewajiban dinasti.
"Bukan seperti itu, Lilianne!" potong Arya emosional, jemari kekarnya memegang erat jemari halus Lilianne, membawa telapak tangan hangat istrinya ke pipinya sendiri. "Saya menyentuhmu bukan cuma karena hak atau karena racun itu! Saya menginginkanmu... hanya kamu. Tolong beri saya kesempatan untuk membuktikannya. Jangan tutup dirimu dari saya..."
Lilianne menyunggingkan senyuman miring yang amat tipis dan anggun. Ia tidak menarik tangannya dari pipi Arya, namun binar di mata hijaunya tetap membeku.
"Mas Arya tidak perlu membuktikan apa-apa," bisik Lilianne santai seraya memalingkan pandangannya ke arah jendela kamar yang menampilkan gemerlap matahari pagi. "Tugasmu pagi ini adalah membereskan sampah yang berani menaruh racun di cangkir kopiku. Biarkan aku beristirahat."
Arya membeku di tempatnya. Ia menyadari bahwa memenangkan kembali rasa percaya dan kehangatan tulus dari permaisuri bangsawannya akan menjadi pertempuran paling panjang dan berat dalam hidup seorang Raden Mas Arya Sena Soerjoatmodjo.
Bersambung...
i got you 🔥🔥🔥
ceritanya bagus berkelas 🔥🔥🔥