Indonesia
NovelToon NovelToon
Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Pelakor jahat / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:494k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Nadira menghabiskan empat tahun menunggu suami yang hanya ia temui saat akad nikah. Saat Arga akhirnya pulang, ia datang bersimbah darah ke IGD, dan Nadira sendiri yang mengoperasinya. Tapi Arga tidak pulang sendirian. Ada nama perempuan lain di bibirnya, dan anak kecil yang memanggilnya Papa. Di tengah luka tembak, gugatan cerai, dan rahasia masa lalu yang mulai terkuak, Nadira memilih pergi. Arga baru sadar bahwa istri yang ia tinggalkan bukan sekadar nama di buku nikah. Tapi mengejar Nadira berarti ia harus rela terbakar oleh penyesalan yang selama ini ia hindari. Dan saat dua keluarga, dua rahasia, dan dua nama Alya bertabrakan, siapa sebenarnya cinta sejati Arga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13 - Malam yang Tidak Bisa Mereka Lupakan

Staf hotel itu bernama Rian.

Usianya belum tiga puluh. Wajahnya pucat saat duduk di ruang keamanan hotel, dikelilingi Bima, Arga, Maya, Kevin, dan manajer hotel. Nadira duduk di kursi paling ujung dengan selimut di bahunya. Dokter Rendra sudah memeriksanya lagi dan mengizinkan ia mendengar, asal tidak terlalu lama.

Arga berdiri di belakang kursinya, tidak menyentuh, tapi cukup dekat untuk menangkapnya kalau ia goyah.

Kevin terlihat marah dengan cara orang yang terbiasa menahan emosi di depan publik.

"Kamu bekerja untuk keluarga saya," katanya pada Rian. "Bicara jujur sebelum saya serahkan kamu ke polisi."

Rian menunduk. "Saya cuma diminta menukar gelas."

"Oleh siapa?" tanya Bima.

"Saya tidak tahu namanya."

Maya tertawa sinis. "Klasik."

Bima meletakkan ponsel di meja. Di layar ada rekaman CCTV dari area pantry. Rian tampak menerima gelas dari seorang perempuan berseragam panitia. Perempuan itu lalu bicara dengan seseorang di balik pilar.

Wajah orang di balik pilar tidak jelas, tapi gaun biru mudanya terlihat.

Laras.

Nadira menatap layar tanpa ekspresi.

Arga merasa amarahnya naik. "Panggil Laras."

Kevin memberi perintah pada keamanan. Beberapa menit kemudian, Laras masuk bersama Vania. Laras tampak pucat, sedangkan Vania tetap rapi seolah semua ini hanya kesalahpahaman kecil.

"Apa ini?" Vania bertanya. "Acara belum selesai, tamu mulai bertanya."

Kevin menatap adik angkatnya. "Bagus. Kalau kamu tidak mau tamu bertanya lebih banyak, jawab sekarang. Apa yang kamu lakukan pada minuman Dokter Nadira?"

Vania tertawa pelan. "Aku? Kak Kevin, kamu menuduhku?"

"Aku bertanya."

"Aku tidak tahu apa-apa."

Maya berdiri. "Kamu mau aku bantu ingatkan?"

Nadira menarik lengan Maya. "Duduk."

"Dir..."

"Duduk."

Maya duduk, tapi matanya tetap menyala.

Bima memutar rekaman lain. Kali ini dari lorong samping. Vania terlihat bicara dengan Laras. Tidak ada audio, tapi Vania menyerahkan sesuatu pada Laras. Laras kemudian memberikannya pada panitia perempuan yang ada di rekaman sebelumnya.

Laras langsung menangis.

"Aku tidak tahu isinya apa. Vania bilang itu vitamin supaya Nadira tampak sedikit pusing. Bukan racun. Aku tidak mau melukai dia."

Arga menatap Laras seperti tidak mengenalnya.

"Kamu tetap memberikannya."

Laras terisak. "Aku marah. Aku hanya ingin dia malu. Dia membuat Kendra kehilangan kamu."

"Kendra kehilangan kebohongan yang kamu buat."

Laras menutup wajah.

Vania mendengus. "Drama sekali. Tidak ada yang terluka serius. Dokter Nadira baik-baik saja."

Nadira akhirnya mengangkat kepala.

"Menurut Anda, orang baru boleh marah kalau sudah mati?"

Vania menatapnya.

Nadira berdiri perlahan. Arga refleks ingin membantu, tapi menahan diri saat Nadira mengangkat tangan kecil, memberi isyarat ia bisa.

"Anda mempermalukan saya di acara publik, menggunakan obat tanpa izin, dan melibatkan staf hotel. Kalau saya kehilangan kesadaran di tempat yang Anda pilih, apa rencana berikutnya? Foto? Video? Akun gosip?"

Wajah Vania berubah tipis.

Kevin menatapnya tajam. "Vania."

"Aku tidak melakukan sejauh itu."

"Tapi kamu memikirkan."

Vania diam.

Nadira tersenyum lelah. "Terima kasih sudah menjawab."

Vania sadar ia terpancing. "Kamu tidak punya bukti."

Bima mengangkat plastik bukti berisi gelas. "Ada sisa minuman. Ada CCTV. Ada staf. Dan kalau perlu, kami lapor polisi malam ini."

Vania menatap Kevin. "Kak, kamu akan membiarkan mereka mempermalukan keluarga kita karena perempuan ini?"

Kevin menjawab dingin, "Kamu yang mempermalukan keluarga kita."

Vania tampak terpukul.

Laras mendekati Arga. "Mas, aku salah. Aku benar-benar tidak tahu efeknya akan seperti itu."

Arga mundur setengah langkah.

Gerakan kecil itu membuat Laras berhenti.

"Aku sudah berkali-kali memperingatkanmu," kata Arga. "Jangan ganggu Nadira."

"Aku cemburu."

"Cemburu bukan izin menyakiti orang."

"Aku mencintaimu."

Nadira menunduk. Kalimat itu tetap sakit didengar, walau ia sudah tahu.

Arga menatap Laras dengan wajah keras.

"Aku tidak mencintaimu."

Tangis Laras pecah.

"Aku hanya menjalankan amanah Bayu," lanjut Arga. "Aku akan tetap memastikan Kendra baik-baik saja. Tapi mulai malam ini, semua bantuan untukmu akan lewat pengacara dan wali keluarga Bayu. Kamu tidak boleh menghubungi Nadira, Maya, atau keluargaku."

Laras menatapnya hancur.

Vania tertawa sinis. "Hebat. Semua laki-laki jadi pahlawan untuk Nadira."

Nadira memandangnya. "Tidak. Saya hanya tidak diam saat disakiti."

Kevin menghubungi kepala keamanan dan kuasa hukum keluarga Hartono. Bima menghubungi kenalannya di kepolisian untuk konsultasi awal. Maya mengirim pesan ke redakturnya, bukan untuk menerbitkan, tapi untuk menyimpan kronologi kalau nanti Vania memutar cerita.

Di tengah semua itu, Nadira mulai merasa tubuhnya kembali lemah.

Arga melihat wajahnya memucat.

"Cukup. Kamu istirahat."

Kali ini Nadira tidak melawan.

Maya ingin ikut, tapi Kevin menahannya. "Saya butuh saksi independen untuk kronologi. Kamu jurnalis. Kamu tahu cara menulisnya rapi."

Maya menatap Nadira.

Nadira mengangguk. "Aku tidak apa-apa."

Arga membawa Nadira kembali ke kamar. Tidak menggendong seperti tadi, hanya berjalan di sampingnya dengan tangan siap di belakang punggung tanpa menyentuh.

Di dalam kamar, Nadira duduk di tepi sofa.

"Mas bisa pergi. Maya nanti naik."

"Aku tunggu sampai dia datang."

"Aku tidak selemah itu."

"Aku tahu."

"Lalu?"

"Aku yang belum tenang."

Jawaban itu membuat Nadira diam.

Arga berdiri di dekat jendela, menjaga jarak. Wajahnya pucat karena luka, tapi matanya masih awas.

Nadira memandangnya. "Kenapa Mas tidak marah padaku?"

Arga menoleh. "Kenapa aku harus marah?"

"Karena aku ikut acara Kevin. Karena aku minum tanpa hati-hati. Karena semuanya jadi kacau."

Arga berjalan mendekat, lalu berhenti sebelum terlalu dekat.

"Dulu aku mungkin akan mencari alasan untuk marah. Sekarang aku tahu orang yang salah bukan kamu."

Nadira menatap tangannya sendiri.

"Aku benci merasa membutuhkanmu."

"Aku tidak akan menggunakan itu untuk menekanmu."

"Mas pernah menggunakan banyak hal."

"Iya."

"Rumah. Status. Perintah. Rasa bersalah."

"Iya."

"Aku takut kalau aku luluh, Mas akan kembali jadi orang yang sama."

Arga duduk di kursi di seberangnya.

"Aku juga takut."

Nadira mengangkat mata.

"Aku takut kamu benar. Aku takut aku berubah hanya karena takut kehilangan kamu. Tapi aku tidak mau berhenti karena takut. Aku mau membuktikan, pelan-pelan, kalau aku bisa jadi pria yang tidak membuatmu menyesal memilihku."

Ruangan hening.

Nadira tidak tahu apakah obat masih tersisa di tubuhnya, atau kalimat Arga memang masuk terlalu dalam. Ia merasa lelah, marah, dan ingin menangis sekaligus.

"Jangan bicara terlalu bagus malam ini," katanya pelan. "Aku sedang tidak kuat membedakan mana yang tulus dan mana yang hanya terdengar indah."

Arga mengangguk. "Baik."

Nadira berbaring di sofa, menarik selimut sampai bahu. Arga mengambil kursi dan duduk agak jauh. Ia tidak bermain ponsel, tidak bicara, hanya berjaga.

Waktu berjalan.

Maya tidak segera naik karena kronologi di bawah ternyata panjang. Dokter Rendra pulang setelah memastikan Nadira stabil. Bima mengirim pesan bahwa situasi aman.

Nadira setengah tertidur ketika rasa dingin kembali datang.

"Mas Arga."

Arga langsung berdiri. "Apa yang sakit?"

"Dingin."

Ia mengambil selimut tambahan, tapi Nadira menggeleng.

"Duduk sini."

Arga membeku.

Nadira membuka mata sedikit. "Jangan buat aku mengulang."

Arga duduk di tepi sofa. Nadira menarik ujung lengan bajunya, bukan memeluk, hanya memastikan ia ada di sana.

"Aku masih marah," gumamnya.

"Aku tahu."

"Kalau besok aku sadar penuh dan menyesal, jangan ungkit."

"Tidak akan."

"Kalau kamu bohong, aku akan membencimu lebih parah."

"Aku tidak akan bohong."

Nadira memejamkan mata.

Arga duduk tanpa bergerak. Bahunya menjadi sandaran ringan ketika Nadira tanpa sadar mendekat. Ia menahan napas, takut gerakan kecil saja membuatnya merasa terancam.

Namun beberapa menit kemudian, Nadira berbisik, "Peluk aku. Sebentar saja."

Arga merasa seluruh pertahanan dirinya runtuh.

Ia merangkul Nadira perlahan, memberi kesempatan perempuan itu menolak. Nadira tidak menolak. Ia justru menyembunyikan wajah di dadanya, di sisi yang tidak terluka.

"Aku capek," katanya.

Arga menunduk, tidak mencium, tidak mengambil lebih.

"Istirahat."

"Jangan pergi."

"Aku di sini."

Malam itu tidak ada janji besar. Tidak ada kata cinta. Tidak ada pengampunan.

Hanya dua orang dewasa yang sama-sama terluka, duduk dalam ruang hotel yang terlalu terang, saling meminjam tenang karena di luar sana terlalu banyak orang ingin menghancurkan mereka.

Menjelang pagi, Nadira tertidur lebih dalam.

Arga masih terjaga.

Ia menatap wajah perempuan yang pernah ia tinggalkan, ia salah pahami, ia usir, lalu ia cari seperti orang kehilangan arah.

Dalam hati, ia membuat sumpah tanpa suara.

Mulai sekarang, siapa pun yang menyentuh Nadira harus melewati dirinya.

Tapi sebelum semua itu, ia harus belajar agar perlindungannya tidak berubah menjadi penjara baru.

1
sintesa destania
ceritamu buaguusss poolll di awal thors...aju pecinta novel tapi makin kesini makin bosan...baca bukan karean apa gitu sayang juga udah bab segini ga di terusin gitu...untuk ukuran suami istri kaku banget...sekat terlalu jelas thors...kayak terlalu mengada ngada maaf....sebenarx tata bahasa bagusss tp yaitu jadi bosan baca bukan karena penasaran cm sayang aja ga di lanjutun udah mau akhir bab Maaf🙏🙏
sintesa destania: tangan typo semua maaf hp agak error
total 1 replies
Dokkan Battle
awokawok FIKS SAKIT SOUL NYA
Kembarr Kembaarr
hebat dn aneh. suami istri sdng belajar tidur saja yg 1 di apartemen. yg 1 di rumah wijaya dn hanya di antar ke apart.... di tinggal tugas 1minggu tau2 hamil. aneh memang
Dilla Fitri
jujur terlalu gimana yaa ceritanya kek flat bngt, bukan dr alurny tp dr cara mrka ngobrol kek gd emosi, gd rasa gmn2ny
imoe nawar
👍
Kembarr Kembaarr
hubungan se kaku itu.. aneh cium kening aja gak pernah ehhh.... Hamil. peluk aja hrs izin dn tdk boleh lama tdk boleh peluk erat Hamil. ....
sintesa destania
seting tempat dimana sih...kn itu di purwokerto tp da nadira
sintesa destania
gak tahu bikin nya tiba² hamil...kuarasa seperti masih menunggu...ehh udah hamidun aja
sintesa destania
cuma gitu..kasihan arga
sintesa destania
terlalu lama thor
Queeny Geulitz Syahputri
keren.
Kembarr Kembaarr
stu kala MLEK.
fatmiatun sahono
ujung nya vanis iri. nira cucu org kaya dan terhormat. sementara Vania ga tau jungtrung nya anak angkat dr mana ....🙏
Yannie Mulya
mungkin si thor nya lulusan militer, bhasa begini amat🤣
Yannie Mulya
sama😄
fatmiatun sahono
mungkin maksudnya terang menuju subuh. oke...are you y🙏
Fauziah
menarik... kata katanya efisien sesuai dgn kebutuhan
Kembarr Kembaarr
cerita ini menggambarkn kalau pengusaha licik lg picik itu mampu mengalahkn penegak hukum wakau setinggi apapun jabatannya
Partini Minok Nur Maesa
mereka itu semua ngobrolnya kok kaku bgt sich kyk polisi sama tersangka.
Partini Minok Nur Maesa
nah bnr pdhl hbs bhs Vania lho yg mulutnya betbusa ini gmn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!