Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Episode 1

Bab 1 - Suami yang Pulang Bersimbah Darah

Hujan turun deras di luar IGD Rumah Sakit Cakra Medika.

Nadira baru saja melepas sarung tangan setelah operasi kecil di ruang tindakan ketika suara sirene ambulans menembus malam. Belum sempat ia minum, pintu IGD terbuka dengan kasar.

"Dokter! Korban tembak. Tekanan darah turun!"

Nadira menoleh. Dua perawat mendorong brankar masuk. Di atasnya terbaring seorang pria berseragam lapangan yang sudah nyaris tidak dikenali karena darah menutupi wajah dan dadanya.

"Ruang resusitasi satu. Cepat."

Nadira berjalan cepat, suara langkahnya tenggelam oleh deru hujan dan kepanikan perawat. Tangannya otomatis mengambil gunting medis untuk membuka seragam pasien. Ia sudah melihat banyak luka. Peluru, kecelakaan, tusukan, ledakan tabung gas. Semua darah punya bau yang sama.

Tapi saat kain di dada pria itu terbuka, matanya berhenti.

Ada bekas luka kecil di bawah tulang selangka kiri. Bentuknya seperti bulan sabit.

Nadira mengenal tanda itu dari satu-satunya foto lama yang pernah diberikan Mama Renata padanya empat tahun lalu. Foto buram seorang pria muda dengan seragam TNI, wajahnya kaku, matanya tajam, dan di dekat lehernya ada bekas luka kecil.

Arga Pratama Wijaya.

Suaminya.

Suami yang hanya ia temui sebentar saat akad nikah empat tahun lalu. Suami yang pergi setelah mengucap ijab kabul, lalu menghilang dalam operasi rahasia. Suami yang oleh banyak orang sudah dianggap gugur.

"Dok?" Perawat Santi memanggilnya.

Nadira menarik napas.

"Pasang dua jalur infus besar. Siapkan transfusi. Hubungi ruang operasi sekarang."

Suaranya tidak bergetar.

Ia tidak punya hak untuk runtuh di depan pasien, bahkan jika pasien itu laki-laki yang membuat hidupnya menggantung selama empat tahun.

Seorang pria berpakaian hitam mendekat. Rambutnya cepak, wajahnya tegang.

"Dokter, Komandan kami harus selamat."

"Nama pasien?"

Pria itu ragu sedetik. "Arga."

Nadira menatap monitor. "Nama lengkap."

Pria itu menelan ludah. "Mayor Arga Pratama Wijaya."

Ada sesuatu yang retak pelan di dada Nadira. Bukan karena ia baru tahu. Justru karena ia akhirnya mendengar nama itu diucapkan di depan tubuh yang hampir mati.

"Keluarga sudah dihubungi?"

"Belum bisa, Dok. Kami harus menunggu instruksi."

Nadira hampir tertawa. Instruksi. Selama empat tahun, hidupnya juga ditahan oleh kata itu. Instruksi operasi. Instruksi rahasia. Instruksi keamanan. Semua orang punya alasan untuk membiarkan dia menunggu, tapi tidak ada yang pernah bertanya bagaimana rasanya menjadi istri yang tidak pernah benar-benar menjadi istri.

"Tekanan darah turun, Dok!"

Nadira menekan semua pikiran ke dasar kepala.

"Siapkan intubasi."

Arga membuka mata sedikit. Hanya sebentar. Mata itu hitam, buram karena nyeri, tapi tetap tajam seperti foto lama itu.

Nadira mendekat. "Mayor Arga, dengar saya?"

Bibirnya bergerak.

Nadira menunduk, mengira ia akan menyebut nama orang tuanya.

"Laras..."

Satu nama perempuan keluar dari mulutnya, pelan, pecah, tapi cukup jelas untuk menghantam Nadira.

Perawat tidak menyadari apa pun. Bima, pria cepak tadi, malah menggenggam sisi brankar.

"Komandan, tahan. Bu Laras dan Kendra aman."

Nadira diam selama setengah detik.

Bu Laras.

Kendra.

Nama perempuan dan anak yang disebut dalam kondisi sekarat.

Bagus, Arga.

Empat tahun tidak pulang, ternyata bukan karena tidak ada rumah. Mungkin hanya karena rumahnya bukan di tempat Nadira menunggu.

"Dokter?" Bima panik. "Kenapa?"

"Tidak ada." Nadira menatap monitor. "Bawa ke ruang operasi."

Operasi berlangsung hampir empat jam.

Peluru tidak bersarang terlalu dalam, tapi pecahan logam merusak jaringan dan ada perdarahan yang sulit dikendalikan. Nadira berdiri di meja operasi tanpa sekali pun membiarkan pikirannya melayang. Tangannya bekerja cepat. Perintahnya singkat. Saat salah satu residen gugup, ia hanya berkata, "Fokus. Dia masih hidup."

Lucu.

Selama empat tahun ia mengira Arga mungkin sudah mati. Sekarang setelah tubuh pria itu ada di depannya, ia justru menjadi orang yang paling keras kepala mempertahankan nyawanya.

Ketika operasi selesai, langit di luar mulai pucat.

Nadira keluar dari ruang operasi dengan punggung kaku. Masker ia turunkan. Keringat dingin menempel di pelipis.

Bima langsung berdiri. "Dokter, bagaimana Komandan?"

"Operasi berhasil. Dua puluh empat jam ke depan tetap kritis, tapi kondisinya stabil."

Bima menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Alhamdulillah."

Nadira melepas penutup kepala. "Siapa keluarga yang bisa dihubungi?"

Bima membuka mulut, tapi suara langkah cepat memotong jawabannya.

Seorang perempuan berlari dari ujung koridor. Rambutnya basah karena hujan, wajahnya pucat, dan di sampingnya seorang anak laki-laki kecil memegang boneka dinosaurus.

"Mas Arga!"

Perempuan itu berhenti di depan Bima. "Mas Arga gimana? Dia masih hidup, kan?"

Bima terlihat serba salah. "Bu Laras, tenang dulu. Operasi berhasil."

Perempuan bernama Laras itu langsung menangis. Anak kecil di sampingnya ikut panik.

"Papa Arga sakit, Ma?"

Papa Arga.

Nadira berdiri sangat diam.

Laras memeluk anak itu, lalu menatap Nadira. "Dokter yang operasi Mas Arga?"

"Iya."

"Terima kasih, Dok. Terima kasih sudah menyelamatkan suami saya."

Kata itu turun seperti pisau.

Suami saya.

Bima menegang. "Bu Laras..."

Laras seperti tidak mendengar. Ia sibuk menangis, memeluk anaknya, mengulang nama Arga berkali-kali seolah koridor rumah sakit itu miliknya.

Nadira tidak mengatakan apa pun.

Apa yang harus ia katakan?

Bahwa laki-laki yang sedang mereka tangisi adalah suaminya juga? Bahwa ia punya buku nikah dengan nama Arga Pratama Wijaya di lemari kamar rumah keluarga Wijaya? Bahwa selama empat tahun ia duduk di meja makan bersama Mama Renata, mendengarkan cerita tentang putra yang mungkin tidak akan pulang, sementara perempuan ini punya anak yang memanggilnya Papa?

Nadira memasukkan kedua tangan ke saku jas dokter.

"Pasien akan dipindah ke ICU. Hanya satu orang yang boleh melihat dari luar kaca."

Laras mengangguk cepat. "Saya istrinya. Saya yang akan menunggu."

Nadira menatapnya.

Bima membuka mulut, mungkin hendak meluruskan sesuatu, tapi Nadira sudah lebih dulu berkata, "Silakan ikuti perawat."

Ia berbalik sebelum siapa pun melihat wajahnya.

Di lorong menuju ruang dokter, beberapa perawat berbisik tentang pria yang baru selesai dioperasi itu. Mereka tidak tahu hubungan Nadira dengannya, jadi kalimat mereka terdengar ringan.

"Kasihan istrinya, ya. Datang bawa anak kecil."

"Mayor itu masih muda. Untung selamat."

"Dokter Nadira hebat banget. Kalau telat sedikit, mungkin tidak tertolong."

Nadira terus berjalan. Setiap kalimat menempel di punggungnya. Istrinya. Anak kecil. Untung selamat. Hebat. Tidak ada satu pun yang salah menurut mereka, tapi semuanya terasa seperti menertawakan hidup Nadira.

Di depan vending machine, ia berhenti sebentar. Tangannya hendak mengambil kopi kaleng, lalu batal. Lambungnya kosong sejak malam, tapi ia tidak yakin bisa menelan apa pun.

Ia teringat akad nikah empat tahun lalu. Arga berdiri kaku di sampingnya. Setelah ijab kabul, pria itu hanya menoleh sebentar dan berkata, "Maaf, saya harus pergi malam ini."

Nadira waktu itu mengangguk. Ia tidak menangis. Ia bahkan tidak sempat kecewa karena semua orang berkata tugas negara harus didahulukan. Ia percaya. Ia benar-benar percaya.

Sekarang kepercayaannya terasa sangat bodoh.

Di ruang ganti dokter, Nadira mengunci pintu. Ia berdiri di depan wastafel, mencuci tangan yang sebenarnya sudah bersih. Air mengalir di antara jarinya. Sabun berbusa. Bau antiseptik memenuhi hidung.

Tangannya tidak berhenti gemetar.

Ponselnya menyala. Ada pesan dari Mama Renata.

Nadira, kamu pulang pagi ini? Mama masak soto kesukaan kamu.

Nadira menatap layar lama sekali.

Mama Renata belum tahu Arga pulang. Belum tahu anaknya hidup. Belum tahu mungkin anaknya tidak pernah benar-benar sendiri.

Nadira mematikan keran.

Ia membuka kontak pengacara yang pernah direkomendasikan Maya, sahabatnya.

Jarinya mengetik pelan.

Pak Hari, saya ingin mengurus gugatan cerai. Secepatnya.

Pesan terkirim.

Baru setelah itu Nadira menyadari air mata jatuh ke layar ponselnya.

Ia menghapusnya dengan punggung tangan.

Tidak apa-apa.

Dokter boleh menyelamatkan pasien.

Tapi seorang istri juga boleh menyelamatkan dirinya sendiri.

Di luar pintu, suara langkah perawat kembali sibuk. Hidup rumah sakit terus bergerak seolah hati Nadira tidak baru saja patah. Ia menarik napas, merapikan jasnya, lalu membuka pintu dengan wajah yang sudah ia latih bertahun-tahun.

Terpopuler

Comments

Amilawati

Amilawati

ending Nadira balik lagi jilad lakinya murahn bangett

2026-06-26

1

Katherina Ajawaila

Katherina Ajawaila

awal cerita yg. sangat menarik, yg buat greget yg baca 🤭

2026-08-05

0

Kasih Thalita Pratiwi

Kasih Thalita Pratiwi

Thor cerita mu banyak amat sih...tapi up nya lamaaaa semua

2026-05-22

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!