Episode 2

Bab 2 - Istri yang Tidak Dianggap

Nadira keluar dari ruang ganti saat koridor ICU mulai ramai.

Pagi baru saja masuk, tapi rumah sakit tidak pernah benar-benar mengenal waktu. Perawat berganti sif. Dokter jaga menenteng kopi. Keluarga pasien duduk dengan wajah kusut di kursi tunggu.

Di depan kaca ICU, Laras berdiri sambil menggendong Kendra.

Anak itu mungkin berusia lima tahun. Wajahnya pucat, matanya sembab. Tangannya menempel di kaca, menatap Arga yang terbaring dengan banyak selang.

"Papa Arga tidur lama, Ma?"

Laras mengusap rambutnya. "Papa Arga capek. Kendra doain Papa, ya."

Nadira menghentikan langkah.

Papa Arga.

Setiap kali panggilan itu terdengar, ada bagian kecil dari dirinya yang terasa dicabut.

Ia tidak marah pada anak itu. Anak sekecil Kendra tidak tahu apa-apa. Yang membuat dada Nadira sesak adalah cara Laras membiarkan panggilan itu mengalir begitu mudah, seolah tidak ada istri lain yang pernah ada.

Bima berdiri tidak jauh dari mereka. Begitu melihat Nadira, ia langsung mendekat.

"Dokter Nadira, boleh bicara sebentar?"

Nadira mengangguk. "Soal pasien?"

"Iya. Komandan Arga punya riwayat alergi obat tertentu, tapi data medis lengkapnya ada di satuan. Saya sedang minta dikirim."

"Kirim ke perawat ICU begitu dapat. Untuk sementara kami pakai obat yang aman."

Bima menatapnya ragu. "Dokter... soal Bu Laras tadi..."

"Tidak perlu menjelaskan apa pun pada saya."

Nada Nadira datar.

Bima terdiam. Ia terlihat ingin mengatakan sesuatu, tapi Laras sudah menoleh.

"Mas Bima, dokter bilang aku bisa lihat Mas Arga sebentar, kan?"

Bima segera kembali ke sana. "Sebentar saja, Bu. Dari luar dulu."

Laras menggenggam tangan Kendra, lalu memandang Nadira dengan mata merah. "Dok, saya boleh tahu kapan Mas Arga sadar?"

"Belum bisa dipastikan. Kondisi pasien stabil, tapi tubuhnya kehilangan banyak darah."

"Dia selalu begitu." Laras tertawa kecil di antara air mata. "Kalau sudah soal tugas, dia nggak pernah peduli badannya sendiri."

Nadira tidak menjawab.

Laras melanjutkan, mungkin karena ingin meyakinkan dirinya sendiri. "Mas Arga janji akan pulang setelah operasi ini. Kendra sudah menunggu. Setiap malam anak ini tanya kapan Papa Arga datang."

Kendra memeluk kaki Laras. "Papa janji beliin sepeda."

"Iya, Sayang."

Nadira menatap wajah anak itu, lalu menatap Laras.

Ada rasa getir yang tidak bisa ia telan.

Arga pernah berjanji pada anak ini. Sementara kepadanya, Arga bahkan tidak pernah mengirim pesan singkat.

Empat tahun.

Selama itu Nadira tinggal di rumah keluarga Wijaya. Ia menemani Mama Renata ke dokter jantung. Ia membantu Papa Surya mengatur obat diabetes. Ia menghadiri acara keluarga besar sebagai menantu yang selalu ditanya, "Suamimu kapan pulang?"

Ia tersenyum setiap kali menjawab, "Doakan saja."

Ia mempertahankan nama Arga di depan keluarga, tetangga, dan kerabat yang mulai kasihan. Ada yang menyuruhnya menikah lagi. Ada yang berbisik bahwa ia terlalu muda untuk menjadi janda tanpa kepastian. Ada yang menyebutnya bodoh karena setia pada laki-laki yang mungkin sudah mati.

Tapi Nadira bertahan.

Bukan karena ia sangat mencintai Arga. Bagaimana mungkin ia mencintai pria yang hanya ia temui pada hari akad, itu pun kurang dari satu jam?

Ia bertahan karena janji.

Akad bukan permainan. Nama Arga ada di buku nikahnya. Mama Renata dan Papa Surya memperlakukannya seperti anak sendiri. Nadira tumbuh sebagai anak angkat yang selalu takut kehilangan tempat pulang. Di rumah Wijaya, untuk pertama kalinya setelah lama, ia merasa dibutuhkan.

Dan sekarang, semuanya terasa seperti lelucon.

"Dokter?"

Suara Laras menarik Nadira kembali.

"Iya?"

"Saya boleh tetap di sini, kan? Saya nggak mau jauh dari Mas Arga."

Nadira memandangnya lama. "Aturan ICU membatasi keluarga. Perawat akan mengatur jadwal."

"Saya keluarganya."

Kalimat itu tegas. Terlalu tegas.

Nadira tersenyum tipis. "Kalau begitu ikuti aturan keluarga pasien."

Ia berbalik.

Langkahnya baru sampai meja perawat ketika ponselnya bergetar.

Pak Hari membalas.

Bu Nadira, untuk gugatan cerai perlu dokumen buku nikah, KTP, KK, dan alasan gugatan. Apakah suami setuju?

Nadira menatap layar. Suami setuju?

Seharusnya Arga setuju. Ia sudah punya kehidupan lain. Bukankah itu lebih mudah?

Ia mengetik.

Saya akan siapkan dokumen. Tolong buatkan konsep gugatan secepatnya.

Pesan terkirim.

Perawat Santi mendekat sambil membawa berkas.

"Dok, pasien Mayor Arga perlu tanda tangan keluarga untuk beberapa prosedur lanjutan. Bu Laras bilang dia keluarga, tapi administrasi minta hubungan jelas."

Nadira menahan napas.

"Tanyakan ke Pak Bima. Dia yang membawa pasien."

"Baik, Dok."

Santi pergi. Nadira duduk di kursi dokter dan membuka rekam medis elektronik. Nama Arga muncul di layar.

Arga Pratama Wijaya.

Status perkawinan: menikah.

Kontak darurat: kosong.

Ia tertawa tanpa suara.

Bahkan sistem rumah sakit lebih jujur daripada hidup mereka. Menikah, tapi kosong.

Siang harinya, Arga sempat menunjukkan respons. Jari tangannya bergerak. Kelopak matanya bergetar. Laras hampir menangis histeris di luar kaca.

"Mas Arga!"

Nadira masuk ke ICU bersama dokter anestesi. Ia memeriksa pupil, tekanan darah, respons nyeri.

Arga membuka mata sedikit.

Pandangan mereka bertemu.

Untuk pertama kalinya sejak akad empat tahun lalu, Arga melihat Nadira dalam keadaan sadar, walau samar.

Tapi tidak ada pengenalan di matanya.

Ia hanya melihat dokter.

"Tenang, Mayor Arga. Anda di rumah sakit," kata Nadira.

Bibir Arga bergerak.

Nadira mendekat karena ia harus mendengar kebutuhan pasien.

"Laras..."

Nama itu lagi.

"Kendra..."

Nadira menarik tubuhnya tegak.

"Pasien gelisah. Tambahkan sedasi ringan sesuai instruksi."

Ia keluar dari ICU sebelum Laras masuk.

Laras melewatinya dengan wajah penuh harap. "Mas Arga manggil aku?"

Nadira berhenti.

Ia ingin berkata tidak. Ia ingin berkata, iya, dia memanggilmu, jadi ambil saja laki-laki itu seluruhnya. Ia ingin bertanya, sejak kapan kalian menjadi keluarga?

Tapi yang keluar dari mulutnya hanya, "Pasien belum sadar penuh. Jangan terlalu banyak bicara."

Laras mengangguk dan masuk.

Nadira berjalan ke tangga darurat. Ia tidak mau naik lift, tidak mau bertemu siapa pun.

Di anak tangga kosong, ia menelepon Maya.

Sahabatnya mengangkat dengan suara serak. "Dir, ini masih pagi banget buat orang yang kerja liputan sampai subuh."

"May."

Maya langsung sadar. "Kamu kenapa?"

"Aku mau cerai."

Diam.

Lalu suara Maya naik. "Akhirnya! Aku sudah bilang dari dulu, laki-laki hilang empat tahun itu bukan suami, itu legenda keluarga."

Nadira tertawa kecil, tapi tenggorokannya sakit.

"Dia pulang."

"Apa?"

"Arga pulang. Semalam masuk IGD. Aku yang operasi."

Maya tidak langsung bicara. "Ya Allah. Terus?"

"Dia punya Laras. Dan anak yang manggil dia Papa."

"Brengsek."

Nadira memejamkan mata.

Maya berkata lebih pelan, "Kamu di mana? Aku jemput."

"Nggak usah. Aku masih sif."

"Nadira, jangan sok kuat."

"Aku dokter, May. Pasienku masih kritis."

"Pasienmu itu suami yang nyakitin kamu."

"Justru karena itu aku harus profesional."

Maya menghela napas kasar. "Baik. Tapi setelah sif, kamu pulang ke apartemenku. Jangan pulang ke rumah Wijaya dulu kalau kamu belum siap."

"Aku harus ambil dokumen."

"Aku temani."

Nadira membuka mata. Dari celah pintu tangga, ia bisa melihat koridor ICU. Laras duduk dengan Kendra di pangkuannya. Bima berdiri di dekat mereka seperti penjaga keluarga kecil itu.

"May."

"Iya?"

"Aku capek."

Suara Maya melembut. "Aku tahu."

Nadira menutup telepon.

Ia berdiri beberapa detik lagi, lalu kembali ke koridor. Jas dokternya masih rapi. Wajahnya kembali tenang.

Sore itu, Pak Hari datang ke rumah sakit membawa konsep awal gugatan.

Nadira menemuinya di kantin yang hampir kosong.

"Bu Nadira yakin ingin secepat ini?" tanya pengacara itu.

"Saya sudah menunggu empat tahun. Itu cukup lama."

"Alasan gugatan?"

Nadira menatap kertas di depannya.

"Tidak menjalankan kewajiban sebagai suami. Tidak ada nafkah lahir batin. Dan..." Ia berhenti sebentar. "Ada dugaan hubungan dengan perempuan lain."

Pak Hari menulis.

"Apakah Ibu ingin menuntut hak nafkah atau ganti rugi?"

Nadira tersenyum dingin. "Tulis saja sesuai hukum. Saya tidak mau terlihat memohon. Tapi saya juga tidak akan keluar seperti sampah."

"Baik."

Saat Pak Hari pergi, Nadira melihat Laras berdiri di ujung kantin. Perempuan itu memegang botol air, tetapi matanya tertuju pada map di meja.

Laras pasti tidak tahu isinya.

Namun tatapannya berubah waspada.

Nadira memasukkan map itu ke tas.

Laras mendekat. "Dokter Nadira, boleh saya tanya sesuatu?"

"Silakan."

"Dokter kenal Mas Arga sebelumnya?"

Pertanyaan itu halus, tapi Nadira bisa mendengar durinya.

Nadira berdiri. "Saya mengenal banyak pasien, Bu Laras. Tapi saya tidak mencampur urusan pribadi dengan pekerjaan."

Laras tersenyum tipis. "Bagus kalau begitu."

Nadira membalas senyumnya.

"Saya juga berharap semua orang tahu batas."

Wajah Laras menegang.

Nadira berjalan melewatinya.

Untuk pertama kalinya hari itu, ia tidak merasa ingin menangis.

Ia hanya merasa ingin selesai.

Terpopuler

Comments

Hadi Mulyono

Hadi Mulyono

jangan jangan hilang ingatan

2026-07-12

1

Yati Syahira

Yati Syahira

aneh ya masa 4 th ydk ingat punya istri malah nikah lagi

2026-06-26

3

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!