Episode 5

Bab 5 - Rumah yang Ditinggalkan

Arga tidak pernah suka merasa tidak berdaya.

Sejak remaja ia terbiasa memaksa tubuhnya melewati batas. Latihan fisik, luka, operasi lapangan, penyamaran berbulan-bulan, tidur di lantai gudang, makan seadanya. Semua bisa ia tahan.

Tapi berbaring di ranjang rumah sakit sambil tahu Nadira sedang pergi dari rumahnya, itu membuatnya hampir gila.

"Komandan, jangan cabut infus."

Bima berdiri di samping ranjang dengan wajah putus asa.

Arga sudah duduk meski perban di dadanya menarik kulit setiap kali ia bergerak. "Ambilkan bajuku."

"Tidak."

Arga menatapnya.

Bima menegakkan punggung. "Maaf, Komandan. Untuk kali ini saya berani tidak patuh. Dokter bilang Komandan belum boleh turun."

"Dokter siapa?"

"Dokter Nadira."

Nama itu membuat Arga diam setengah detik.

Bima memanfaatkan celah itu. "Kalau Komandan memaksa keluar lalu jahitan terbuka, Dokter Nadira bukan tambah luluh. Beliau mungkin tambah ingin mengubur Komandan hidup-hidup."

"Mulutmu..."

"Saya tahu. Masih terlalu sehat."

Arga mengembuskan napas kasar.

Ponselnya tergeletak di meja. Ia sudah menelepon Nadira berkali-kali. Nomornya kini tidak aktif untuknya. Bukan tidak aktif, sebenarnya. Ia tahu bedanya. Nadira memblokirnya.

Istrinya sendiri memblokirnya.

Mantan istri, suara kecil di kepalanya mengoreksi.

Arga meraih ponsel dan menelepon rumah. Mama Renata mengangkat pada dering pertama.

"Mama."

"Jangan panggil Mama dulu kalau cuma mau bikin Mama darah tinggi."

Arga memejamkan mata. "Nadira pergi?"

"Menurut kamu?"

"Ma, aku bisa jelaskan."

"Jelaskan ke istrimu. Bukan ke Mama."

"Dia blokir aku."

"Bagus."

Arga terdiam.

Bima menunduk, menahan senyum.

Mama Renata melanjutkan dengan suara tajam, "Kamu baru sadar dari operasi, bukannya sujud syukur dan minta maaf, malah mengusir istrimu dari rumah. Siapa yang ajari kamu jadi laki-laki seperti itu?"

"Aku tidak tahu dia Dokter Nadira."

"Kalau dia bukan dokter yang kamu suka, berarti boleh kamu usir?"

Arga seperti ditampar.

"Ma..."

"Empat tahun, Arga. Empat tahun Nadira tinggal di rumah ini. Dia menemani Mama ke dokter. Dia mengurus obat Papa. Dia ikut acara keluarga, menjawab pertanyaan orang-orang yang kepo tentang kamu, menahan malu sendirian. Kamu pulang-pulang membawa nama perempuan lain dan anak yang memanggilmu Papa, lalu kamu marah karena dia minta cerai?"

Arga menggenggam ponsel lebih erat.

"Laras bukan..."

"Mama tahu siapa Laras. Tapi Nadira tidak tahu. Kamu tidak memberi dia kesempatan tahu."

Arga tidak punya jawaban.

Mama Renata menurunkan suara. "Kalau kamu masih punya sedikit otak, pikirkan dulu luka Nadira sebelum memikirkan egomu."

Telepon terputus.

Arga menatap layar.

Bima berdehem pelan. "Mama Renata benar."

Arga menoleh.

"Kau mau ikut memarahiku?"

"Saya prajurit Komandan. Kalau di lapangan saya ikut perintah. Tapi ini bukan lapangan. Ini rumah tangga Komandan yang sudah hampir jadi puing."

Arga menatapnya lama. "Kau makin berani."

"Saya ikut Komandan terlalu lama. Ketularan tidak tahu diri."

Biasanya Arga akan menendang kursi Bima. Sekarang ia hanya bersandar, terlalu lelah untuk marah.

"Laras di mana?"

"Di ruang tunggu."

"Suruh dia pulang."

Bima ragu. "Beliau pasti menolak."

"Suruh pulang, Bima."

"Siap."

Bima keluar.

Beberapa menit kemudian, Laras masuk tanpa menunggu izin. Wajahnya tampak tersinggung, tapi begitu melihat Arga duduk, ekspresinya berubah cemas.

"Mas Arga, kamu belum boleh duduk."

Arga menatapnya. "Kenapa Kendra memanggilku Papa?"

Laras membeku.

"Mas..."

"Jawab."

Laras meremas tali tas. "Dia masih kecil. Bayu meninggal waktu dia bayi. Kamu yang paling sering membantu kami. Dia dekat sama kamu."

"Aku bertanya kenapa dia memanggilku Papa."

Mata Laras mulai berkaca-kaca. "Karena dia butuh figur ayah."

"Figur ayah bukan berarti aku ayahnya."

"Aku tahu." Laras mendekat satu langkah. "Tapi kamu sendiri yang selalu datang saat dia sakit. Kamu yang bayar sekolahnya. Kamu yang janji membelikan sepeda. Apa salah kalau anak itu merasa kamu papanya?"

"Salah kalau itu membuat istriku mengira aku punya keluarga lain."

Wajah Laras berubah.

"Istrimu?"

"Nadira."

Laras menatapnya seolah baru mendengar kabar buruk. "Dokter itu?"

"Dia istriku."

"Tapi kalian sudah cerai."

Arga menatapnya dingin. "Prosesnya belum selesai."

"Mas sendiri yang setuju."

"Aku belum tahu dia siapa."

Laras tertawa kecil. Ada getir dan panik di sana. "Jadi kalau bukan dia, Mas tidak peduli?"

Pertanyaan itu sama seperti yang Mama Renata katakan. Arga benci karena jawabannya membuat dirinya terlihat buruk.

"Aku akan tetap bertanggung jawab pada kesalahanku."

"Bagaimana dengan tanggung jawab Mas pada aku dan Kendra?"

"Kendra anak Bayu. Aku akan memastikan dia tidak kekurangan. Tapi mulai hari ini, batasnya jelas. Aku bukan suamimu. Aku bukan ayahnya. Jangan biarkan dia memanggilku Papa lagi."

Air mata Laras jatuh.

"Mas tega."

"Yang tega itu membiarkan anak percaya pada kebohongan."

Laras menatapnya lama. "Semua berubah karena Dokter Nadira?"

"Semua berubah karena aku akhirnya sadar sudah menyakiti istriku."

Laras menggigit bibir. "Mas selalu begini. Bayu mati menyelamatkan kamu, dan kamu merasa hidupmu harus membayar semuanya. Tapi begitu ada perempuan lain, kamu langsung membuang kami."

Arga menegang.

Nama Bayu selalu menjadi luka yang tidak pernah kering.

Bayu Mahendra adalah sahabatnya. Orang yang mendorong Arga keluar dari reruntuhan sebelum tembakan menghantam tubuhnya. Sebelum meninggal, Bayu hanya sempat berkata, "Tolong Laras dan anakku."

Arga menepati itu.

Tapi ia tidak pernah berjanji menggantikan Bayu sebagai suami.

"Aku tidak membuang kalian," katanya pelan. "Aku mengembalikan posisi yang benar."

Laras menghapus air mata. "Dan kalau aku tidak mau?"

Arga menatapnya.

Untuk pertama kalinya, Laras melihat komandan yang biasa ditakuti anak buahnya. Bukan pria yang selama ini ia datangi saat butuh pertolongan.

"Jangan paksa aku membuat batas dengan cara yang lebih keras."

Laras mundur.

Ia keluar tanpa pamit.

Arga menutup mata. Kepala dan dadanya sama-sama sakit.

Sore itu dokter jaga mengizinkannya dipindah ke ruang rawat VIP. Bukan karena ia sudah pulih, tetapi karena pengawasan bisa lebih tenang dan keluarganya mulai berdatangan.

Papa Surya datang menjelang magrib.

Arga belum pernah merasa takut melihat ayahnya sendiri. Tapi kali ini, begitu Papa Surya masuk, ia tahu yang datang bukan hanya seorang ayah. Yang datang adalah orang yang selama empat tahun menyayangi Nadira sebagai anak.

"Pa."

Papa Surya duduk tanpa menjawab salam.

"Kamu tahu di mana Nadira?"

Arga menggeleng.

"Bagus. Kamu memang tidak berhak tahu dulu."

Arga menunduk.

Papa Surya meletakkan sebuah amplop di meja.

"Itu salinan buku nikah dan beberapa dokumen yang kamu perlukan untuk proses pengadilan. Nadira meninggalkan semuanya dengan rapi. Bahkan saat pergi, dia masih memikirkan agar prosesmu tidak repot."

Arga menatap amplop itu.

"Pa, aku mau memperbaiki."

"Kamu baru mau setelah tahu dia perempuan yang menarik hatimu."

Arga tidak bisa membantah.

"Kalau Dokter Nadira bukan istrimu, apa kamu akan tetap merasa bersalah sudah mengusir istrimu dari rumah?"

Pertanyaan yang sama, untuk ketiga kalinya.

Arga akhirnya menjawab dengan jujur.

"Mungkin tidak secepat ini."

Papa Surya menatapnya lama.

"Setidaknya kamu masih bisa jujur."

Arga menelan pahit.

"Aku salah."

"Iya."

"Aku mau minta maaf."

"Minta maaf itu mudah, Arga. Membuat orang percaya lagi itu yang sulit."

Papa Surya berdiri.

"Sembuh dulu. Setelah itu kalau kamu mau mengejar Nadira, lakukan sebagai laki-laki yang sadar sudah menghancurkan hati orang. Bukan sebagai Mayor Arga, bukan sebagai anak keluarga Wijaya, bukan sebagai pria yang terbiasa memberi perintah."

Arga mengangguk.

Setelah Papa Surya pergi, Arga membuka amplop itu.

Buku nikah ada di dalam.

Ia melihat foto mereka.

Nadira muda di foto itu tampak gugup, tapi matanya jernih. Ia berdiri di samping Arga yang bahkan tidak menoleh ke arahnya.

Arga menyentuh foto itu dengan ibu jari.

"Bodoh," gumamnya pada diri sendiri.

Pintu terbuka. Bima masuk membawa bubur.

"Komandan harus makan."

"Cari tahu Nadira tinggal di mana."

Bima meletakkan bubur. "Saya sudah tahu."

Arga menatapnya.

"Apartemen milik Papa Surya di Kemang. Tapi beliau pesan, kalau saya kasih tahu Komandan sebelum Komandan bisa berdiri tanpa infus, saya akan dipindahkan jadi penjaga gudang seumur hidup."

Arga hampir tertawa.

"Kau takut pada ayahku?"

"Saya lebih takut pada Mama Renata."

Untuk pertama kalinya hari itu, sudut bibir Arga bergerak.

Tapi senyum itu cepat hilang saat ia kembali melihat buku nikah.

Ia pernah meninggalkan Nadira tanpa menoleh.

Kali ini, kalau ia ingin perempuan itu kembali, ia harus belajar berjalan ke arahnya pelan-pelan.

Dan mungkin, ia harus siap terbakar dulu.

Terpopuler

Comments

Katherina Ajawaila

Katherina Ajawaila

yg fi tolong lupa daratan, di ksh hati minta empela, dasar pelskor main. cak rata aja 😡

2026-08-05

1

Jetva

Jetva

MENOLONG BUKAN BERARTI MEMILIKI APALAGI MENIKAHI.....DITOLONG MALAH NGELUNJAK...

2026-07-19

1

Hadi Mulyono

Hadi Mulyono

nyebelin banget arga

2026-07-12

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!