Episode 3

Bab 3 - Surat Cerai di Samping Ranjang

Arga sadar penuh pada hari ketiga.

Hal pertama yang ia rasakan adalah nyeri tajam di dada. Hal kedua adalah suara alat monitor yang berulang seperti ketukan jam. Hal ketiga adalah wajah Bima yang menunduk di dekat ranjang.

"Komandan."

Arga mengerjap. "Aku belum mati?"

Bima menghela napas lega. "Belum. Susah juga kalau Komandan mati. Saya belum siap cari kerja baru."

Arga ingin tertawa, tapi dadanya sakit.

"Laras?"

"Ada di luar. Kendra juga sempat datang, tapi sudah saya antar pulang sama pengawal Bu Laras. Anak itu kelelahan."

Arga menutup mata sebentar. "Bagus."

Ia ingat ledakan, suara tembakan, hujan di jalan menuju Jakarta, lalu wajah seorang dokter. Wajah itu samar, tapi matanya jelas. Dingin, tenang, tajam. Seolah perempuan itu bisa menjahit nyawanya sambil menahan marah.

"Dokter yang operasi aku siapa?"

"Dokter Nadira."

Arga membuka mata. "Nadira?"

"Iya. Dokter Nadira Prameswari. Dokter bedah di sini."

Nama itu terasa menempel di kepala Arga.

Nadira.

Ia mencoba mengingat wajahnya, tapi obat masih membuat pikirannya berat.

"Dia bagus."

Bima langsung menyeringai. "Bagus sebagai dokter atau bagus sebagai perempuan, Komandan?"

Arga meliriknya.

"Mulutmu masih terlalu sehat."

"Siap, diam."

Pintu ICU terbuka. Seorang perawat masuk bersama seorang pria berjas rapi yang membawa map cokelat.

"Mayor Arga, ada kuasa hukum yang ingin bertemu sebentar. Katanya urusan keluarga. Karena kondisi Anda sudah sadar, dokter mengizinkan lima menit."

Arga mengerutkan kening. "Kuasa hukum?"

Pria itu membungkuk sopan. "Selamat siang, Pak Arga. Saya Hari Santoso, kuasa hukum Ibu Nadira Prameswari."

Bima yang tadi santai langsung menegang.

Arga menatap pria itu. "Nadira Prameswari?"

"Istri Bapak."

Ruangan mendadak hening.

Arga berpikir mungkin obat bius masih bekerja.

"Ulangi."

Pak Hari tetap tenang. "Saya kuasa hukum dari Ibu Nadira Prameswari, istri sah Bapak berdasarkan buku nikah yang tercatat di KUA Kebayoran Baru empat tahun lalu."

Bima menutup mata.

"Bima," suara Arga rendah, "apa ini?"

Bima tidak menjawab.

Pak Hari membuka map dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen.

"Ibu Nadira mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama. Ini salinan surat kuasa dan konsep gugatan awal. Beliau berharap proses dapat berjalan baik tanpa konflik berkepanjangan."

Arga menatap kertas itu seperti menatap granat.

Cerai.

Ia baru bangun dari operasi, dan istri yang hampir tidak ia kenal mengirim pengacara untuk cerai.

Lucu sekali.

Empat tahun lalu ia memang menikah. Akad itu berlangsung cepat di rumah keluarga Nadira. Ia ingat seorang perempuan muda memakai kebaya putih, wajahnya tertutup riasan sederhana, mata tertunduk. Setelah akad, ia hanya sempat berkata, "Maaf, saya harus pergi." Lalu tugas itu menelannya.

Ia tidak pernah kembali.

Tapi bukan berarti ia lupa bahwa ia punya istri.

Di tengah operasi rahasia, komunikasi dibatasi. Ia bahkan tidak bisa memberi kabar kepada orang tuanya. Namanya beberapa kali sengaja dikaburkan dalam laporan karena keselamatan jaringan. Ia bertahan hidup dari satu penyamaran ke penyamaran lain.

Ia berpikir, kalau pulang nanti, ia akan menemui perempuan itu. Ia akan meminta maaf, memberi penjelasan, dan memulai dari awal jika ia masih mau.

Ternyata perempuan itu lebih dulu mengirim gugatan cerai.

"Alasannya?" tanya Arga.

Pak Hari mendorong kertas ke meja kecil.

"Tidak menjalankan kewajiban sebagai suami, tidak ada nafkah lahir batin selama empat tahun, dan dugaan hubungan dengan perempuan lain."

Arga tertawa pendek.

Tawanya membuat luka di dadanya sakit, tapi ia tetap tertawa.

"Dugaan hubungan dengan perempuan lain?"

"Itu yang disampaikan klien saya."

"Dia bahkan belum pernah bicara denganku."

"Ibu Nadira merasa sudah cukup menunggu."

Arga menatap pengacara itu tajam. "Apa dia minta harta?"

Pak Hari berhenti sebentar. "Beliau meminta hak sesuai hukum."

"Berapa?"

"Ada nafkah tertunda dan kompensasi yang akan dibicarakan dalam proses."

Wajah Arga mengeras.

Jadi begitu.

Empat tahun tidak bertemu, tiba-tiba cerai, lalu minta kompensasi.

Ia seharusnya merasa bersalah. Ada bagian kecil di dirinya yang tahu Nadira punya hak untuk marah. Tapi tubuhnya masih sakit, kepalanya masih penuh ledakan, dan harga dirinya yang keras langsung mengambil alih.

"Sampaikan pada istri saya," kata Arga pelan, "saya setuju bercerai."

Bima tersentak. "Komandan..."

Arga tidak memandangnya.

"Tapi jangan harap dia bisa memeras keluarga Wijaya. Aku akan bertanggung jawab sesuai hukum, bukan sesuai drama yang dia susun."

Pak Hari menatapnya. "Baik. Saya akan sampaikan."

"Dan satu lagi." Arga menahan nyeri saat menggeser tubuh. "Kalau dia tinggal di rumah keluargaku, beri tahu dia untuk bersiap pindah."

Pak Hari mengangkat alis.

"Saya tidak tahu situasi tempat tinggal klien saya."

"Tulis saja." Arga menatapnya dingin. "Tiga hari. Setelah aku keluar dari sini, aku tidak mau melihat perempuan yang menggugat cerai aku masih memakai rumah keluargaku."

Bima tampak ingin membenturkan kepala ke dinding.

Pak Hari mengangguk, memasukkan dokumen kembali ke map.

"Saya paham. Semoga Bapak lekas pulih."

Setelah pengacara itu keluar, Bima langsung mendekat.

"Komandan, menurut saya jangan gegabah."

"Kau tahu istriku siapa?"

Bima diam.

Arga menangkap diam itu. "Kau tahu?"

"Saya baru tahu dari administrasi rumah sakit, Komandan."

"Kapan?"

"Kemarin."

Arga menatapnya tajam.

Bima buru-buru berkata, "Saya belum yakin. Saya mau memastikan dulu."

"Memastikan apa?"

Bima terlihat tersiksa. "Dokter Nadira yang mengoperasi Komandan... nama lengkapnya Nadira Prameswari."

Arga membeku.

"Apa?"

"Saya cek data pasien dan data keluarga dari rumah. Nama istri Komandan juga Nadira Prameswari."

Arga menatap pintu ICU.

Dokter Nadira.

Perempuan bermata dingin yang menyelamatkan nyawanya.

Istrinya?

Tidak. Tunggu.

Ia mencoba mengingat wajah pengantin empat tahun lalu. Kebaya putih. Riasan lembut. Mata yang tidak berani menatap lama. Waktu itu ia terlalu terburu-buru. Terlalu fokus pada operasi. Ia bahkan tidak mengingat suaranya.

Sekarang ingatannya bertabrakan dengan wajah dokter di ruang resusitasi. Mata yang sama? Mungkin. Sikap tenang itu? Entah.

"Kenapa dia tidak bilang?" gumam Arga.

Bima menatapnya seperti ingin menangis. "Mungkin karena Komandan tidak mengenali beliau."

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada peluru.

Arga menutup mata. Beberapa detik kemudian ia membukanya lagi.

"Panggil dia."

"Dokter Nadira?"

"Sekarang."

Bima keluar. Arga menunggu dengan rahang mengeras. Dadanya nyeri, tapi ada sesuatu yang lebih tidak nyaman di dalam kepalanya.

Kalau dokter itu benar istrinya, berarti ia baru saja menyuruh pengacara menyampaikan bahwa ia setuju cerai dan mengusirnya dari rumah.

Tidak apa-apa.

Dia yang mengajukan.

Dia yang datang dengan pengacara.

Dia yang minta kompensasi.

Arga menahan diri dari rasa bersalah yang mulai menyusup.

Pintu terbuka beberapa menit kemudian.

Nadira masuk dengan jas dokter putih. Rambutnya diikat rapi. Wajahnya tenang, bahkan terlalu tenang.

Arga menatapnya.

Kini setelah tahu, ia melihatnya lebih jelas.

Ada sesuatu yang samar dari hari akad itu. Garis rahang, bentuk mata, cara ia menahan ekspresi. Ya. Mungkin benar. Perempuan ini memang istri yang ia tinggalkan.

"Mayor Arga ingin bertemu saya sebagai dokter atau sebagai pasien yang punya keluhan?" tanya Nadira.

Suara itu membuat Arga terdiam sebentar.

"Sebagai suami."

Nadira tersenyum kecil.

Tidak ada hangatnya.

"Maaf, saya sedang bertugas. Untuk urusan selain medis, silakan melalui kuasa hukum saya."

Arga menatapnya tajam. "Jadi benar kamu Nadira."

"Nama saya tertulis di papan dokter jaga."

"Kenapa tidak bilang dari awal?"

Nadira melangkah mendekat, memeriksa monitor seolah ia hanya pasien biasa.

"Apa yang harus saya bilang? Halo, Mas Arga, saya istri yang kamu tinggalkan empat tahun, tapi sekarang kamu datang bersama perempuan dan anak yang memanggilmu Papa?"

Arga terdiam.

Nadira mencatat tekanan darahnya.

"Kondisi Anda stabil. Jangan terlalu banyak emosi, nanti jahitan terbuka."

"Laras bukan istriku."

Tangan Nadira berhenti setengah detik, lalu bergerak lagi.

"Itu bukan urusan saya."

"Kendra bukan anakku."

"Sekali lagi, bukan urusan saya."

Arga mulai kesal. "Kamu menggugat cerai karena salah paham."

Nadira menatapnya.

"Saya menggugat cerai karena selama empat tahun saya menjadi istri tanpa suami. Salah paham hanya bonus."

Kalimat itu membuat Arga tidak langsung bisa membalas.

Nadira menutup berkas.

"Soal rumah keluarga Wijaya, saya sudah akan pindah. Anda tidak perlu menunggu tiga hari."

Arga merasa dadanya lebih sesak.

"Aku belum selesai bicara."

"Saya sudah selesai mendengar."

Nadira berbalik ke pintu.

Arga memanggil, "Nadira."

Ia berhenti, tapi tidak menoleh.

"Aku tidak tahu kamu dokter itu."

"Saya tahu."

"Kalau aku tahu..."

Nadira menoleh. Matanya tenang, tapi ada lelah yang dalam di sana.

"Kalau Mas tahu, apa? Tidak jadi menceraikan saya? Tidak jadi mengusir saya? Tidak jadi membiarkan perempuan lain memakai tempat yang seharusnya milik istri?"

Arga menggenggam selimut.

Nadira berkata pelan, "Mas Arga, orang tidak berubah hanya karena baru tahu sesuatu yang menguntungkan dirinya."

Ia keluar.

Pintu menutup.

Bima yang berdiri di luar tidak berani masuk.

Arga menatap langit-langit ICU.

Untuk pertama kalinya sejak ia pulang dari operasi, ia merasa luka di dadanya bukan bagian paling sakit dari tubuhnya.

Terpopuler

Comments

Katherina Ajawaila

Katherina Ajawaila

laki" edan sana sini. tebar pesona, SMP anak. org bisa panggil PP, keren bae, perempuan yg bukan, istri bisa mau menguasai 🤑

2026-08-05

0

Yati Syahira

Yati Syahira

aneh arga gila bikan istri tapi trus disebut waras

2026-06-26

1

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!