Demi menyelamatkan nyawa adik kecilnya yang mengidap penyakit jantung, Ekaterina rela melakukan apa pun—bahkan menerima "pekerjaan satu malam" yang menjebaknya ke pelukan Viktor Morozov, sang pewaris kerajaan mafia paling ditakuti di kota.
Satu malam yang seharusnya hanya jebakan. Satu malam yang mengubah segalanya.
Ketika Viktor menyadari ia telah masuk perangkap, ia mencampakkan Ekaterina dengan kata-kata paling kejam. Tapi takdir punya rencana lain: gadis miskin yang ia hina itu kini mengandung anaknya—dan menolak menyerahkan apa pun pada pria yang telah menghancurkannya.
Viktor terbiasa memiliki segalanya: kuasa, uang, dan rasa takut orang lain. Yang tak pernah ia miliki adalah sebuah keluarga. Kini, demi merebut kembali wanita yang ia sia-siakan dan dua gadis kecil yang perlahan meruntuhkan tembok es di hatinya, sang mafia siap membakar dunia sampai rata.
Namun luka tak sembuh hanya dengan janji. Ekaterina sudah terlalu sering dikhianati untuk percaya dengan mudah, dan masa lalu yang kelam—seorang ayah pemabuk, utang yang menumpuk, rahasia yang bisa menghancurkan semuanya—masih membayangi.
Bisakah seorang pembunuh berdarah dingin belajar mencintai? Bisakah sebuah keluarga yang lahir dari kebohongan berubah menjadi cinta yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 — Di Antara Kebencian dan Dirinya
Viktor
Aku bangun pagi-pagi. Rumah masih senyap, tenggelam dalam ketenangan langka sebelum semua orang terjaga. Tanpa bisa kucegah, langkahku membawaku ke kamar Ekaterina.
Kubuka pintu perlahan, tanpa suara.
Pemandangan itu membuatku langsung berhenti.
Ekaterina tidur sambil memeluk Lisbela seakan gadis kecil itu adalah pelabuhan amannya. Lis nyaris tersembunyi dalam pelukannya, sementara Ekaterina membenamkan wajah di rambut si kecil, seolah bahkan dalam tidur pun ia harus melindunginya dari dunia.
Dadaku terasa sesak dengan cara yang aneh.
Aku terus mengamati mereka berdua beberapa detik yang terlalu lama. Untuk pertama kalinya sejak sekian lama, Ekaterina tampak damai. Tanpa rasa takut. Tanpa ketegangan yang biasa membeku di matanya.
Ia bergerak di ranjang.
Aku cepat-cepat keluar sebelum ia melihatku berdiri di sana seperti orang bodoh yang mengintip saat ia tidur.
Aku ke ruang tamu dan duduk di sofa, mengusap wajah dengan tangan. Tapi cukup beberapa detik sendirian saja, Alfredo kembali ke pikiranku.
Keinginan membunuh bajingan itu masih hidup.
Andai bukan karena Ekaterina... ia sudah terkubur di suatu tempat yang takkan pernah ditemukan siapa pun.
Tapi ia yang meminta.
Dan aku benci menyadari bahwa aku tak mampu menolak apa pun ketika ia menatapku dengan cara itu.
Meski begitu, bukan berarti Alfredo akan lolos begitu saja.
Sebuah senyum dingin muncul di wajahku.
Tak boleh membunuh. Baiklah. Tapi memberi pelajaran... itu bisa kulakukan dengan senang hati.
Aku tenggelam dalam pikiran, membayangkan persis berapa banyak tulang si sialan itu yang bisa kupatahkan tanpa menyebabkan pemakaman, ketika ponselku berdering.
Ibuku.
"Selamat pagi, Nak. Aku dalam perjalanan."
"Terima kasih, Ma."
Sebelum aku sempat menanyakan apa pun, ia memutus sambungan.
Sempurna.
Belum sampai sepuluh menit, aku mendengar keramaian di luar. Langkah kaki dan suara-suara.
Aku bangkit dan, saat membuka pintu, aku hampir kena serangan jantung.
"Apa-apaan ini?"
Ibuku mengenakan kacamata hitam besar, elegan seperti biasa, sementara di belakangnya muncul nyaris satu pasukan. Pengawal, koper, kantong belanja, kotak-kotak... seolah ia berniat pindah tinggal ke sini.
Lalu Olga muncul. Tersenyum seolah itu hal paling wajar di dunia. Tapi aku tahu ia datang untuk menggangguku. Dan ia penasaran soal Ekaterina.
Olga melihatku berdiri di ambang pintu dan langsung menyeringai jenaka.
Tentu saja ia takkan melewatkan kesempatan ini.
Ia melewatiku tanpa menunggu, sambil berkata:
"Selamat pagi, papa terbaik tahun ini."
Aku memejamkan mata sesaat, sudah merasakan ketenanganku berakhir.
Aku mengabaikan Olga dan langsung menuju kamar. Berganti pakaian cepat, mengambil ponsel dan kunci mobil. Kepalaku masih terlalu penuh untuk basa-basi.
Begitu keluar dari kamar, kudapati Lis berdiri di depan pintu kamar Ekaterina, mengamati semuanya dalam diam.
Ia menatapku dan tersenyum malu-malu.
Dadaku terasa sesak dengan cara yang aneh.
Aku berjongkok di hadapannya, menyejajarkan tinggiku dengannya. Bahkan sebelum aku sempat berkata apa pun, Lis melingkarkan lengan-lengan kecilnya ke leherku.
"Selamat pagi, Om Viti."
Suara kecil itu meluluhkanku sepenuhnya.
"Selamat pagi, putri kecil."
Ia mengecup pipiku dengan kelembutan yang begitu polos hingga selama beberapa detik aku lupa segala kekacauan yang terjadi di sekelilingku.
Aku melirik ke dalam kamar. Ekaterina masih tertidur lelap, memeluk bantal. Wajahnya lelah. Rapuh.
Lis menyadari arah pandangku dan menaruh jari kecilnya di depan bibir.
"Sst... Kathy masih tidur."
Aku nyaris tersenyum.
"Baiklah. Kita biarkan dia istirahat."
Kututup pintu perlahan lalu kugendong Lis, membawanya bersamaku ke ruang tamu.
Tapi begitu kami tiba dan ia melihat banyaknya orang di sana, tubuh kecilnya langsung menegang. Rasa malunya kembali seketika.
Ia turun dari gendonganku dan memeluk kakiku, nyaris bersembunyi di belakangku.
Ibuku mendekat perlahan, dengan caranya yang penuh kehati-hatian.
"Hai, Lisbela... ingat aku?"
Lis hanya menggeleng pelan, menyembunyikan separuh wajahnya di balik pahaku.
Olga muncul tak lama kemudian, terlalu ceria untuk suasana hatiku saat ini.
"Hai, gadis kecil. Aku Olga... adik Viktor."
Lis mengamatinya beberapa detik dalam diam, penuh curiga. Lalu mengangkat pandangan ke arahku seolah meminta izin.
Aku mengusap rambutnya.
"Kau boleh bicara dengan mereka, putri kecil."
Lis menggenggam tanganku lebih erat sebelum akhirnya menjawab lirih:
"Hai..."
Semua orang di ruangan itu tampak langsung terpikat olehnya.
Dan aku menyadari sesuatu yang berbahaya saat itu.
Lis sudah masuk terlalu cepat ke dalam hidupku.
Tapi rasa malunya tak bertahan lama.
Rasa ingin tahu segera mulai berbinar di mata Lis saat ia mengamati Olga lekat-lekat.
Ia memiringkan kepala dan bertanya dengan sepolos-polosnya:
"Kenapa Tante berkulit sawo matang... padahal ibu dan kakak Tante berambut pirang?"
Sesaat ruangan itu hening.
Lalu Olga mulai tertawa.
"Karena aku mengikuti ayahku, putri kecil. Rambutnya hitam."
Aku langsung memanfaatkan kesempatan itu.
"Bukan. Itu karena dia anak angkat."
Mata Olga membelalak seketika.
"VIKTOR!"
Lis mengerutkan kening, benar-benar bingung.
Sebelum ada yang sempat menjelaskan apa-apa, Olga meraih tas pertama yang ditemukannya di sofa dan melemparkannya ke arahku.
Aku menangkapnya sebelum mengenai wajahku.
"Kau menyebalkan sekali," omelnya sambil tertawa.
Lalu aku mendengar suara pelan dan halus.
Lis tertawa.
Menutupi mulut kecilnya dengan tangan mungil, seolah tak boleh tertawa keras. Matanya menyipit geli.
Tawa itu bahkan membuat ibuku tersenyum haru.
"Ya Tuhan... dia mirip sekali dengan Ekaterina," gumam ibuku.
Lis berhenti tertawa perlahan, masih menempel di kakiku, tapi kini jauh lebih nyaman berada di dekat mereka.
Aku kembali berjongkok di hadapan Lis.
"Aku harus pergi kerja sekarang, putri kecil."
Ia hanya mengangguk pelan.
Tapi matanya mengungkapkan hal lain.
Takut.
Seolah cemas aku pergi dan tak kembali lagi.
Tatapan itu memukulku terlalu keras untuk seorang anak yang nyaris tak kukenal.
Aku memegang lembut wajah kecilnya.
"Hei... ibuku dan Olga akan menjagamu selagi Kathy tidur, ya?"
Lis melirik ibuku, lalu Olga, masih ragu.
Olga tersenyum, mencoba menenangkannya.
Ibuku lalu mengulurkan tangan penuh kasih.
"Ikut aku, sayang. Aku ambilkan cokelat panas untukmu."
Lis ragu beberapa detik. Jari-jari kecilnya menggenggam tanganku erat sebelum akhirnya melepaskan pelan-pelan.
"Kau kembali?" tanyanya lirih.
Pertanyaan sederhana itu benar-benar membuatku lengah.
Aku menelan ludah sebelum menjawab.
"Aku kembali."
Ia tampak sedikit lebih tenang setelahnya.
Lalu ia mengikuti ibuku, sesekali masih menoleh ke belakang untuk mengawasiku, seakan takut aku menghilang begitu ia mengalihkan pandangan.
Dan entah kenapa...
aku benar-benar ingin cepat kembali.
Aku keluar dari apartemen dengan satu tujuan: membuat Alfredo menderita.
Sepanjang jalan kepalaku mendidih. Amarah berdenyut panas di dadaku. Alfredo menghancurkan terlalu banyak nyawa, menimbulkan terlalu banyak luka. Dan hari ini aku akan menginjak gudang itu, siap mengembalikan setiap tetes penderitaan.
Begitu tiba, aku terkejut melihat Maxim bersandar di mobil. Asap rokok mengepul pelan sementara ia mengamatiku dalam diam.
"Aku takkan mau melewatkan pertunjukan eksekusi calon mertua," katanya dengan senyum miring.
Aku terlepas tawa pendek.
"Aku tak boleh membunuh Alfredo. Belum."
Maxim mengangkat alis. Ia menarik rokok dari mulutnya, membuangnya ke tanah dan menginjaknya pelan, menatapku seakan berusaha mencerna apa yang barusan didengarnya.
"Brengsek... sudah jadi kacung rupanya," ejeknya. "Padahal anaknya bahkan bukan darahmu, kan?"
Rahangku langsung mengunci.
Angin dingin menampar wajahku, tapi darahku seketika mendidih di dalam pembuluh.
Maxim terus menatapku, menunggu reaksi.
Aku melangkah ke arahnya.
"Kalau aku membunuh Alfredo sekarang, dia takkan pernah memaafkanku. Aku sudah terlalu banyak berbuat salah padanya... Tapi lelaki ini akan menderita karena melukainya."
Aku langsung menuju ruangan tempat si sialan itu berada.
Ruangan itu gelap, lembap, berat. Bau darah dan karat bercampur di udara.
Alfredo terikat di sebuah kursi di tengah ruangan. Wajahnya sudah babak belur dari sesi-sesi sebelumnya. Meski begitu, saat melihatku masuk, ia mencoba mempertahankan ekspresi orang tak bersalah.
Menyedihkan.
"Aku tak punya uang... tapi bisa kuusahakan," katanya putus asa. "Aku bahkan tak tahu kenapa aku ada di sini. Aku orang baik-baik. Aku punya dua anak perempuan untuk kubesarkan."
Aku benci kebohongan.
Bahkan sebelum ia selesai bicara, kepalan tanganku menghantam wajahnya dua kali berturut-turut.
Bunyi tumbukan yang keras menggema di ruangan.
Kepalanya terpelanting ke samping sementara darah mengalir dari mulutnya.
Kucengkeram wajahnya lewat rambut dan menggeram di dekatnya:
"Justru karena kedua putrimu itulah kau ada di sini... dasar sampah."
Alfredo meludahkan darah ke lantai.
"Apa lagi ulah si Ekaterina sialan itu?"
Aku tertawa.
Tapi bukan tawa biasa.
Tawa hampa. Dingin. Berbahaya.
Keberanian bajingan itu membuatku hilang kendali.
Aku kembali menghantam wajahnya tanpa henti. Sekali. Lagi. Lagi.
Sampai wajahnya nyaris berubah jadi gumpalan merah.
Kursi itu berderit keras di lantai sementara Alfredo mengerang tertahan.
Kurasakan tangan-tangan mencengkeram lenganku.
"Cukup, Viktor! Sialan!" geram Maxim di belakangku. "Kau bisa membunuhnya kalau begini."
Dadaku naik-turun berat.
Darahku mendidih begitu hebat sampai pandanganku menggelap beberapa detik.
Aku mundur, tapi sebelumnya kulayangkan tendangan keras ke perut Alfredo.
Kursi itu terjungkal bersamanya.
Bunyi tubuh membentur lantai menggema di keheningan ruangan.
Aku keluar dari ruangan itu dengan rasa tercekik.
Setiap langkah seakan memperberat tekanan di dadaku.
Lalu bayangannya kembali menyerbu kepalaku.
Ekaterina yang terluka.
Menangis di sofa.
Ketakutan.
Hancur.
Aku memejamkan mata kuat-kuat.
Aku harus membunuh Alfredo.
Aku harus mengakhiri semua ini agar bisa tenang.
Aku berbalik, siap kembali ke ruangan itu, tapi Maxim menghadang di depanku dan mencengkeram bahuku kuat-kuat.
"Kalau begini, kau akan kehilangan gadismu selamanya."
Kata-katanya menghantamku seperti tinju.
Aku terpaku beberapa detik.
Bernapas berat.
Lalu kusingkirkan tangannya dari bahuku dan keluar dari gudang.
Udara dingin menampar wajahku begitu aku melewati pintu.
Dan aku sadar aku gemetar.
Bukan karena takut.
Tapi karena, untuk pertama kalinya dalam hidupku... ada seseorang yang berhasil mencegahku membunuh seorang lelaki.