Alesia Fiore mengira hidupnya di Korea Selatan sudah berada di titik paling damai. Demi memperbaiki ekonomi keluarga yang ironisnya hanya peduli pada uang kirimannya Alesia rela bekerja keras bagai kuda selama satu tahun sebagai admin pemasaran di Aetheris Games. Biarpun sering lembur, ia bahagia karena memiliki lingkungan kerja yang sehat dan sahabat-sahabat yang suportif.
Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat takdir membawa Dante Luca Alessio masuk ke hidupnya.
Dimulailah hari-hari penuh kesialan, kejengkelan, dan kesalahpahaman kocak bagi Alesia yang harus melayani segala tuntutan ajaib dari bos barunya yang ruthless. Sanggupkah Alesia bertahan demi pundi-pundi won, atau justru benci di antara mereka berubah menjadi benih-benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21
Alesia berdiri di depan meja konter marmer dapur mewah Dante, menatap deretan bahan makanan premium yang tersusun rapi.
Ada potongan daging wagyu dengan marbling sempurna, jamur truffle hitam, hingga berbagai macam sayuran organik impor. Namun, jemari Alesia mendadak ragu. Ia benar-benar tidak terbiasa memasak makanan rumahan Korea, apalagi hidangan Barat kelas atas yang biasa disantap bosnya.
"Pak, jangan salahkan saya ya kalau menu malam ini sangat melokal," ujar Alesia sambil menoleh ke arah Dante yang masih setia duduk di kursi bar, memperhatikannya dengan tatapan intens.
"Masak saja apa yang kamu bisa, Fiore. Saya tidak menerima alasan kelaparan malam ini," sahut Dante datar, namun matanya tidak lepas dari sosok Alesia yang tampak tenggelam di dalam baju tidur kebesaran miliknya.
Alesia mengembuskan napas panjang, lalu mulai menggeledah isi kulkas. Beruntung, di salah satu sudut rak, ia menemukan beberapa blok tahu putih besar dan sebungkus tepung serbaguna yang tampaknya dibeli oleh kepala pelayan rumah Dante.
Otak Alesia langsung memikirkan satu menu simpel yang selalu menjadi penyelamatnya saat tanggal tua di apartemen: tahu goreng tepung renyah dan saus kecap pedas, lengkap dengan nasi putih hangat yang kebetulan sudah matang di dalam rice cooker digital milik Dante.
Dengan lincah, Alesia mulai memotong tahu menjadi balok-balok kecil. Ia melarutkan sebagian tepung dengan sedikit air dingin agar menghasilkan tekstur yang ekstra renyah saat digoreng, sementara sisa tepungnya dibiarkan kering.
Tangannya bergerak dengan sangat terampil. Suara desis minyak panas mulai memenuhi dapur mewah yang biasanya hanya digunakan untuk memanaskan makanan katering bintang lima itu.
Aroma gurih bawang putih dan adonan tepung goreng yang khas mendadak menguar, memenuhi seluruh ruangan dan mengalahkan aroma parfum ruangan mahal milik Dante.
Dante menghirup aroma tersebut, keningnya sedikit berkerut namun perutnya tidak bisa berbohong suara keruyuk pelan terdengar dari arah perut sang CEO, membuat Alesia yang sedang membalik tahu goreng diam-diam menahan senyum kemenangan.
'Rasakan kamu, Pak Singa. Wangi tahu goreng buatan anak bangsa memang tidak ada tandingannya,' batin Alesia riang.
Hanya butuh waktu lima belas menit bagi Alesia untuk menyelesaikan "mahakaryanya". Ia menata tahu goreng tepung yang kuning keemasan itu di atas piring porselen, lalu menyajikannya di atas meja bar di depan Dante bersama dengan semangkuk nasi putih hangat.
"Silakan dicicipi, Pak. Ini menu simpel, namanya tahu goreng tepung. Makan selagi hangat agar tekstur renyahnya masih terasa," ucap Alesia dengan nada sedikit bangga namun juga was-was.
Dante menatap hidangan di depannya dengan pandangan menilai. Tampilan makanan itu sangat sederhana, jauh dari estetika hidangan restoran bintang lima yang biasa ia santap.
Pria itu mengambil sumpit peraknya, menjepit satu potong tahu goreng yang masih mengepulkan uap panas, lalu meniupnya sekilas sebelum memasukkannya ke dalam mulut.
Kriuk.
Suara renyahnya lapisan tepung terluar terdengar jelas di keheningan dapur. Begitu gigi Dante menembus bagian dalam tahu yang lembut dan gurih karena bumbu yang meresap sempurna, sepasang mata abu-abu pria itu langsung melebar seketika.
Ia terdiam selama beberapa detik, mengunyah perlahan seolah sedang menganalisis ledakan rasa asing yang mendadak memanjakan lidahnya. Dante kemudian mengambil sesuap nasi hangat, lalu kembali menjepit potongan tahu kedua.
Melihat Dante yang makan dengan tenang tanpa mengeluarkan kritikan pedas seperti biasanya, Alesia menahan napas cemas.
"Bagaimana, Pak? Rasanya aneh ya di lidah Bapak?"
Dante menelan makanannya dengan perlahan, meletakkan sumpitnya sejenak, lalu mendongak menatap Alesia dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kamu bilang tidak bisa memasak... tapi kenapa rasanya enak sekali, Fiore?" ucap Dante jujur, suaranya terdengar berat dan tulus tanpa ada nada sinis sedikit pun.
Alesia langsung mengembuskan napas lega yang sangat besar, dadanya terasa hangat mendengar pujian tak terduga itu. Sebuah senyuman manis dan tulus terukir di wajahnya.
"Syukurlah kalau Bapak cocok dengan rasanya. Saya sempat takut Bapak bakal menyuruh saya membuangnya ke tempat sampah."
"Saya tidak sekejam itu," sahut Dante pendek, sebelum kembali melanjutkan makannya dengan lahap, bahkan menghabiskan seluruh nasi di mangkuknya tanpa sisa.
Setelah makan malam selesai dan semua piring kotor telah dibersihkan oleh Alesia, gadis itu melirik jam dinding digital di ruang tengah. Angka merah sudah menunjukkan pukul 23.30 malam. Rasa lelah yang teramat sangat dan kantuk yang berat mulai menyerang kesadarannya kembali.
Alesia berjalan menghampiri Dante yang sedang duduk di sofa ruang tengah sambil memeriksa tabletnya.
"Pak Dante... karena tugas memasak sudah selesai dan utang saya malam ini harusnya sudah berkurang, saya berniat untuk pamit pulang sekarang, Pak. Sudah malam sekali, besok saya harus datang pagi ke kantor."
Bersambung