Sentuh Aku, Leluhurmu Tamat!
Lahir dengan meridian rapuh dan dijadikan samsak hidup oleh murid dalam sekte, Gu Ran membangkitkan sistem anomali yang menghubungkan nyawanya dengan figur terkuat dari siapa pun yang menindasnya. Semakin keras musuh mencoba melukainya, semakin sekarat leluhur tertinggi mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Matahari siang memanggang atap-atap genteng tanah liat di Kota Batu Hitam, kota persinggahan terakhir sebelum memasuki perbatasan Lembah Naga Jatuh.
Aroma daging kambing bakar dan bau arak gandum murahan menguar pekat dari deretan kedai di sepanjang jalan utama.
Kereta naga bertingkat dua milik rombongan Sekte Pedang Langit berhenti di pelataran depan Kedai Teh Angin Musim Semi untuk memberi minum empat kuda penarik.
Gu Ran melangkah turun dari kabin kereta, meregangkan kedua tangannya ke atas hingga terdengar bunyi gemeletuk pelan di punggungnya.
Ia memilih duduk di sebuah bangku kayu panjang di bawah naungan atap rumbia luar kedai. Di atas meja kayu kasar di depannya, pelayan kedai meletakkan semangkuk arak manis dingin yang ditaburi bunga osmanthus kuning.
Xiao Zhu berdiri di belakang bangku Gu Ran, memegang payung sutra untuk menghalangi sorot terik matahari.
Di sudut pelataran kedai, tiga orang kultivator pengembara bertubuh kekar dengan tato serigala di lengan mereka sedang menenggak arak dari kendi tanah liat.
Pemimpin mereka, seorang pria berkepala botak dengan pedang golok besar di punggungnya, melirik ke arah Gu Ran dengan tatapan meremehkan.
“Lihat bocah berambut putih itu,” bisik si pria botak kepada dua rekannya seraya tertawa mencibir. “Kulitnya pucat seperti tahu sutra, pakaiannya bersih tanpa sebutir debu. Pasti anak manja dari sekte kota yang baru pertama kali keluar rumah.”
Pria botak itu bangkit dari bangkunya, lalu melangkah lebar mendekati meja Gu Ran.
Dengan sengaja, ujung sepatu bot kulitnya menendang tanah merah di depan meja, membuat segumpal debu tanah kering melayang ke udara mengarah lurus ke jubah putih Gu Ran.
“Hei, bocah kota,” suara si pria botak terdengar berat mengejek. “Jalanan di sini berdebu. Kalau takut kotor, lebih baik kau pulang dan minum air susu ibumu!”
Gu Ran menatap gumpalan debu yang melayang lambat di udara, lalu mengangkat mangkuk araknya agar tidak kemasukan pasir.
Namun sebelum butiran debu itu sempat menyentuh sehelai pun benang sutra di jubah Gu Ran, sebuah jeritan melengking membelah udara siang hari.
“BAJINGAN GILA! JANGAN KIBASKAN DEBU KE ARAHNYA!”
SWING! SWING! SWING!
Sesosok bayangan abu-abu melompat turun dari kursi kusir kereta naga dengan kecepatan yang membuat mata manusia fana kabur.
Song Ming menghunus Pedang Hujan Hijau miliknya di udara.
Kilatan bilah pedang berdesing puluhan kali dalam hitungan sekejap mata, menciptakan pusaran angin berkecepatan tinggi di sekitar tubuh ketiga pendekar liar tersebut.
SREK! SREK! SREK! SREK!
Suara robekan kain terdengar bertubi-tubi bagai daun kering dihantam badai topan.
Hembusan angin pedang Song Ming menyapu seluruh butiran debu di udara menjauh, meniupnya kembali tepat ke wajah si pria botak.
Satu detik kemudian, Song Ming mendarat tegak di atas tanah berdebu, menyelipkan kembali bilah pedangnya ke dalam sarung dengan bunyi klak tajam.
Tiga pendekar pengembara itu membeku di tempat, mata mereka melotot lebar tanpa mampu bergerak satu senti pun.
Hembusan angin sepoi-sepoi bertiup pelan melintasi pelataran kedai.
Bruk… bruk… srrrkkk!
Seluruh jubah kulit tebal, kemeja kain, celana panjang, ikat pinggang, dan sepatu bot yang melekat di tubuh ketiga pria kekar itu seketika runtuh luruh ke tanah, hancur menjadi serpihan kain halus selebar kuku jari.
Ketiga pendekar berotot itu kini berdiri telanjang bulat di tengah jalan raya yang ramai, hanya menyisakan selembar celana dalam kain compang-camping yang compang-camping di pinggul mereka.
Tidak ada segores pun luka di kulit mereka, namun seluruh pakaian mereka telah musnah dicukur oleh ketajaman pedang sang Tuan Muda.
Seluruh pengunjung kedai dan pedagang di sekitar pelataran terdiam mematung, menatap pemandangan itu dengan mulut menganga lebar.
Song Ming menodongkan ujung sarung pedangnya ke hidung si pria botak yang kini menggigil ketakutan.
Mata Song Ming merah menyala, napasnya memburu dipenuhi amarah histeris:
“Kalian tahu apa akibatnya kalau dia terkena debu?!” bentak Song Ming dengan suara melengking panik. “Kalau debu kalian membuatnya bersin, dadanya bisa sesak! Kalau dadanya sesak, kakek buyutku di dalam gua akan batuk darah! Dan kalau kakek buyutku marah, seluruh klan kalian akan dijadikan abu gosong!”
Si pria botak dan kedua rekannya serentak menjatuhkan lutut ke tanah berdebu, menutupi tubuh bagian bawah mereka dengan tangan gemetar hebat.
“A-Ampun, Tuan Pendekar! Kami buta! Kami tidak mengenali dewa agung!” ratap si pria botak sambil bersujud mencium tanah berpasir.
Gu Ran menghabiskan tegukan arak manis terakhir di mangkuknya, lalu meletakkan mangkuk kosong itu ke atas meja.
Ia bangkit berdiri, menepuk debu yang tidak ada di jubahnya, lalu menoleh ke arah Song Ming.
“Pedangmu lumayan cepat, Song Ming. Anginnya pas untuk mengeringkan mangkuk arakku.”
Song Ming buru-buru menyeka keringat dingin di dahinya, lalu membungkuk dengan senyum lega. “T-Terima kasih atas pujiannya, Tuan Muda Gu!”
Gu Ran melangkah santai menaiki tangga kereta naga kembali.
“Ayo berangkat. Jangan biarkan Tiga Patriark di Lembah Naga Jatuh menunggu terlalu lama.”