Gilang cuma tukang galon biasa bangun sebelum subuh, dorong gerobak dari gang ke gang, dan pulang dengan tubuh remuk demi biayai kuliah malam dan ibunya yang sakit-sakitan. Sampai suatu pagi, sebuah alamat baru di komplek elite membawanya ke depan pagar tinggi milik Anindita Prameswari pewaris tunggal bisnis keluarga yang hidup dikelilingi kemewahan, namun sepi dari kehangatan yang sesungguhnya ia rindukan. Dari transaksi jual beli galon yang sederhana, tumbuh sesuatu yang tak pernah mereka duga: percakapan singkat di depan pagar, yang perlahan berubah jadi alasan bagi keduanya untuk menunggu hari berikutnya tiba. Tapi cinta yang lahir dari dua dunia yang begitu berbeda ini harus membayar harga yang mahal. Seorang paman licik dengan rahasia gelap, fitnah yang mengancam merenggut kebebasan Gilang, hingga pengkhianatan dari orang yang paling dipercaya keluarga Prameswari semua bersatu untuk memisahkan mereka selamanya. Akankah ketulusan seorang tukang galon cukup kuat melawan kekuasaan dan kelicikan yang mengintai dari dalam rumah mewah itu sendiri? Cinta Segalon adalah kisah tentang cinta yang menolak tunduk pada status sosial dan keberanian untuk memperjuangkannya, sekalipun dunia terus berusaha memisahkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batuk yang tak kunjung reda
Beberapa hari setelah kejadian di depot tersebut, Gilang mulai memperhatikan bahwa kondisi kesehatan ibunya semakin memburuk. Batuk yang sudah diderita Bu Suryani selama beberapa minggu terakhir, yang awalnya dianggap sekadar flu biasa akibat kelelahan bekerja, ternyata tidak kunjung membaik, bahkan mulai disertai dengan sesak napas yang membuat Gilang semakin khawatir.
"Bu, batuknya kok makin parah ya. Kita periksa ke dokter aja yuk," ujar Gilang suatu pagi, mendapati ibunya terbatuk-batuk hebat sambil memegangi dadanya di depan mesin jahit yang masih setia dia operasikan meski kondisi tubuhnya semakin lemah.
"Nggak usah, Nak. Paling cuma kecapean aja. Nanti juga sembuh sendiri," jawab Bu Suryani, seperti biasa berusaha meremehkan kondisinya sendiri demi tidak membebani anaknya dengan biaya pengobatan yang mereka berdua tahu betul akan cukup memberatkan kondisi ekonomi keluarga tersebut.
Namun kekhawatiran Gilang semakin bertambah ketika suatu malam, dia mendapati ibunya terjatuh di kamar mandi akibat pusing mendadak, sebuah kejadian yang membuatnya tidak bisa lagi mengabaikan kondisi kesehatan sang ibu. "Bu! Ibu kenapa?" teriak Gilang panik, segera membantu ibunya bangun dan membaringkannya di tempat tidur.
"Ibu cuma pusing sebentar, Nak. Nggak apa-apa kok," jawab Bu Suryani dengan suara lemah, meski wajahnya yang pucat pasi menunjukkan bahwa kondisinya jauh lebih serius dari yang dia akui.
Keesokan paginya, tanpa mempedulikan penolakan ibunya, Gilang memutuskan untuk membawa Bu Suryani ke puskesmas terdekat, menggunakan sisa tabungan yang sebenarnya telah dia sisihkan untuk biaya kuliah semester depan.
Setelah menjalani pemeriksaan awal, dokter di puskesmas tersebut menyarankan agar Bu Suryani segera dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar untuk pemeriksaan lebih lanjut, mengingat gejala yang ditunjukkan mengarah pada kemungkinan masalah serius pada organ pernapasannya. "Berdasarkan gejala yang ditunjukkan, kami khawatir ada masalah pada paru-paru ibu Anda. Sebaiknya segera dilakukan pemeriksaan rontgen dan tes lanjutan di rumah sakit."
Mendengar penjelasan tersebut, Gilang merasakan kekhawatiran yang begitu mendalam, membayangkan berbagai kemungkinan buruk yang mungkin dialami ibunya tersebut. "Kira-kira butuh biaya berapa ya, Dok, buat pemeriksaan lanjutan itu?"
Dokter tersebut menyebutkan perkiraan biaya yang membuat wajah Gilang semakin pucat, sebuah jumlah yang jauh melampaui kemampuan finansialnya saat ini, terlebih setelah dia harus mengeluarkan sebagian tabungannya untuk biaya pemeriksaan awal tersebut.
Sepulang dari puskesmas, Gilang duduk termenung di kontrakannya, memikirkan berbagai cara untuk mengumpulkan dana yang dibutuhkan demi kesehatan ibunya. Dia menghubungi Yoga, berharap sahabatnya tersebut memiliki saran mengenai bagaimana cara mendapatkan pinjaman atau bantuan finansial dalam waktu singkat.
"Yog, Ibu saya sakit parah, butuh biaya buat pemeriksaan lanjutan di rumah sakit. Saya bingung banget gimana caranya dapetin uang secepat ini," ujar Gilang dengan suara yang menunjukkan keputusasaan yang mendalam.
"Aduh, Lang, turut prihatin banget. Coba deh, kamu tanya ke koperasi simpan pinjam tempat kita biasa nabung, siapa tau bisa bantu," saran Yoga, mencoba memberikan solusi meski dia sendiri tahu betul keterbatasan yang dihadapi teman-teman sesama tukang galon dalam hal akses terhadap pinjaman besar.
Malam itu, dengan perasaan campur aduk antara khawatir dan putus asa, Gilang memutuskan untuk menceritakan kondisi ibunya kepada Nindi, meski dia merasa tidak enak untuk membebani gadis tersebut dengan masalah pribadinya yang begitu berat. "Mbak Nindi, Ibu saya sakit parah. Kayaknya ada masalah di paru-parunya, tapi saya belum punya cukup uang buat periksa lebih lanjut."
Nindi, yang mendengar kabar tersebut, segera merasakan keinginan kuat untuk membantu Gilang mengatasi kesulitan tersebut. "Mas, aku bisa bantu biayanya kok. Jangan sungkan, please, biar Ibu bisa segera diperiksa."
Namun tawaran tulus tersebut justru membuat Gilang merasa semakin terjebak dalam dilema besar, menyadari bahwa menerima bantuan finansial dari Nindi bisa membuka celah baru bagi Om Hensa untuk semakin menyudutkan posisinya, sementara menolaknya berarti membiarkan kondisi ibunya semakin memburuk tanpa penanganan yang layak.
"Makasih banget, Mbak, tapi saya nggak enak kalau harus terima bantuan segede itu dari Mbak Nindi. Nanti malah bisa disalahgunain sama Om Hensa buat nyerang saya lagi," jawab Gilang dengan berat hati, menolak tawaran tersebut meski dalam hatinya sendiri dia begitu membutuhkan bantuan tersebut demi kesembuhan ibunya.
"Tapi Mas, ini kondisi darurat. Kesehatan Ibu itu lebih penting dari kekhawatiran soal apa yang mungkin dilakuin Om aku," bantah Nindi, berusaha meyakinkan Gilang agar tidak menolak bantuan yang bisa sangat berarti bagi keselamatan ibunya tersebut.
Gilang terdiam sejenak, mempertimbangkan kembali keputusannya dengan hati yang berat, menyadari bahwa dia sedang berada di persimpangan sulit antara menjaga harga diri dan kemandiriannya, atau menerima uluran tangan yang tulus demi menyelamatkan nyawa orang yang paling dia cintai, sebuah pilihan sulit yang akan segera menguji sejauh mana batas kebanggaan dan cinta yang harus dia korbankan demi keselamatan ibunya sendiri.