Reyhan Mahardika adalah seorang aktor figuran gagal yang nasibnya berubah drastis setelah ia diikat oleh Sistem Pemeran Penjahat Profesional yang menjanjikan karier legendaris. Namun keberuntungan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika setiap adegan pembunuhan yang ia perankan di depan kamera tiba-tiba terjadi di dunia nyata dengan pola yang sama persis. Publik dan polisi, termasuk Detektif Alena Prameswari yang cerdas dan dingin, mulai mencurigainya setelah sebuah video aktingnya yang terlalu realistis tersebar ke internet. Kini Reyhan harus membuktikan dirinya tidak bersalah sambil terus menjalankan misi dari sistem misterius itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Ceklek.
Pintu apartemen tertutup rapat menyisakan keheningan di ruang tengah.
Alena sudah pergi untuk menyerahkan diri ke markas Propam Mabes Polri.
Reyhan menatap pintu itu cukup lama dengan perasaan campur aduk.
"Semoga detektif galak itu tidak melakukan hal bodoh di sana," batin Reyhan.
Kania yang duduk di lantai segera memecah keheningan dengan suara ketikan laptopnya.
Tak! Tak! Tak!
"Berhenti melamun, Reyhan."
"Kita punya masalah yang lebih besar sekarang."
Reyhan berbalik dan berjalan menghampiri jurnalis wanita tersebut.
"Kau sudah menemukan lokasi Teater Harapan?"
Kania tersenyum bangga sambil memutar layar laptopnya ke arah Reyhan.
"Tentu saja."
"Pemerintah kota memang sudah menghapus gedung ini dari peta resmi sejak lima tahun lalu."
"Tapi aku berhasil meretas arsip tata kota lama."
Kania menunjuk sebuah titik merah di peta digital yang terlihat sangat buram.
"Gedung teater itu berada di kawasan kumuh Sektor Utara."
"Itu daerah yang akan segera digusur untuk proyek apartemen mewah."
Reyhan mengerutkan keningnya melihat lokasi tersebut.
"Kawasan kumuh Sektor Utara?"
"Itu daerah yang penuh dengan preman dan orang-orang buangan."
"Banyak warga di sana yang sangat membenci polisi dan pemerintah."
Kania mengangguk dengan cepat sambil menutup laptopnya.
"Tepat sekali."
"Dan tebak siapa idola baru warga di sana sejak video manifesto tadi pagi viral?"
Kania menatap Reyhan dengan pandangan penuh arti.
"Kau, Reyhan."
"Mereka menganggapmu sebagai dewa penyelamat yang berani melawan pemerintah korup."
Reyhan memijat pelipisnya yang terasa pening.
"Ini bukan kabar baik, Kania."
"Orang-orang fanatik lebih berbahaya daripada polisi yang terorganisir."
"Ayo kita berangkat sekarang sebelum situasinya makin kacau."
Kania segera memasukkan laptopnya ke dalam tas ransel.
"Aku bawa mobil sewaan di lantai bawah."
"Aku yang menyetir."
Mereka berdua segera turun melalui tangga darurat untuk menghindari kamera CCTV di lobi apartemen.
Brum!
Mobil sewaan Kania melaju membelah jalanan ibu kota yang mulai padat.
Sepanjang perjalanan, Kania tidak berhenti memantau media sosial melalui ponselnya.
"Gila, ini benar-benar gila."
"Hashtag SangKeadilan dan PenerusKeadilan merajai semua platform, Reyhan."
"Banyak orang yang mulai turun ke jalan dan berbuat rusuh di depan gedung pemerintahan."
Reyhan menatap jalanan dari balik kaca jendela dengan wajah dingin.
"Pembunuh bertopeng itu sengaja menciptakan kekacauan sosial."
"Dia menggunakan namaku untuk memicu amarah publik yang selama ini terpendam."
"Kalau begini terus, negara ini bisa hancur dari dalam."
Kania melirik Reyhan sekilas dari kursi kemudi.
"Kau benar-benar peduli pada negara ini atau kau cuma takut ditangkap?"
Reyhan tersenyum sinis mendengar pertanyaan provokatif itu.
"Aku cuma aktor figuran yang ingin bertahan hidup, Kania."
"Tapi aku tidak suka dimanfaatkan sebagai boneka oleh psikopat bertopeng."
Satu jam kemudian, mobil Kania mulai memasuki kawasan kumuh Sektor Utara.
Pemandangan kota yang megah langsung berubah menjadi deretan rumah bedeng dari triplek dan seng berkarat.
Jalanan aspal berubah menjadi tanah bergelombang yang dipenuhi sampah dan genangan air kotor.
"Mobilku tidak bisa masuk lebih jauh dari sini," keluh Kania saat ban mobilnya terperosok lubang kecil.
"Kita jalan kaki saja."
"Teater Harapan seharusnya ada di ujung jalan utama kawasan ini."
Reyhan dan Kania turun dari mobil dan mulai berjalan kaki melewati gang-gang sempit.
Bau busuk dari selokan langsung menyengat hidung mereka.
Namun ada hal lain yang membuat Reyhan merasa jauh lebih tidak nyaman.
Suasana di kawasan kumuh itu terasa sangat tegang.
Banyak warga yang berkumpul di pinggir jalan dengan membawa kayu, pipa besi, dan botol kaca.
Mereka sedang mendengarkan siaran ulang video manifesto pembunuh bertopeng dari sebuah radio tua.
Tap. Tap. Tap.
Langkah kaki Reyhan dan Kania langsung menarik perhatian puluhan warga di sana.
Seorang pria berbadan besar dengan tato di sekujur lengannya menunjuk ke arah Reyhan.
"Hei!"
"Itu dia!"
"Itu pria yang ada di video tadi pagi!"
Pria bertato itu berteriak dengan suara yang sangat lantang.
Seketika, seluruh mata di gang kumuh itu tertuju pada Reyhan.
Kania langsung bersembunyi di belakang punggung Reyhan dengan tubuh gemetar.
"Reyhan, mereka mengenali wajahmu," bisik Kania panik.
"Bukankah kau seharusnya menyamar dulu tadi?"
"Tidak ada waktu untuk menyamar, lagipula percuma."
"Pembunuh itu menantangku datang ke sini sebagai diriku sendiri."
Puluhan warga yang membawa senjata tajam dan kayu mulai berjalan mendekati Reyhan.
Mereka mengepung Reyhan dan Kania dari segala arah.
Pria bertato yang sepertinya adalah pemimpin preman di daerah itu melangkah maju.
Wajah pria itu terlihat sangat garang, namun matanya memancarkan rasa hormat yang aneh saat menatap Reyhan.
"Kau Reyhan Mahardika, kan?"
"Aktor Kematian."
"Sang Penerus Keadilan."
Reyhan berdiri tegak, tidak memundurkan langkahnya sedikit pun.
"Itu namaku."
"Apa mau kalian?" tanya Reyhan dengan nada datar dan tenang.
Pria bertato itu tiba-tiba menjatuhkan pipa besi dari tangannya.
Klak!
Pria itu berlutut dengan satu kaki di depan Reyhan.
Melihat hal itu, puluhan warga lainnya ikut berlutut dan menundukkan kepala mereka.
"Kami adalah orang-orang yang tanahnya dirampas oleh Yayasan Pelita Hati!" teriak pria bertato itu.
"Hukum tidak pernah memihak kami."
"Polisi malah memukuli kami saat kami protes."
"Tapi kau dan pria bertopeng itu telah menghukum mereka semua!"
"Pimpin kami, Tuan Reyhan!"
"Kami siap mati untuk membakar gedung-gedung mewah milik para koruptor itu!"
Kania membelalakkan matanya melihat adegan gila di depannya ini.
Ratusan orang kumuh ini benar-benar memuja Reyhan seperti seorang nabi.
"Reyhan, ini kesempatan bagus."
"Kau punya pasukan kecil sekarang," bisik Kania dari belakang.
"Diam kau," balas Reyhan dengan suara tertahan.
Reyhan tahu ini bukan kesempatan bagus, ini adalah jebakan psikologis.
Kalau ia mengiyakan permintaan warga ini, ia benar-benar akan menjadi teroris di mata negara.
Pembunuhan massal akan terjadi, dan tangan Reyhan akan berlumuran darah orang-orang yang tidak bersalah.
[Ding! Misi Sosial terpicu.]
[Misi: Lewati hadangan simpatisan tanpa menggunakan kekerasan fisik.]
[Batas waktu: 10 Menit.]
[Hadiah: Peningkatan Skill Karisma (Tingkat Menengah).]
[Kegagalan: Terjadi kerusuhan berdarah dan Anda akan resmi ditetapkan sebagai musuh negara.]
"Sistem selalu tahu kapan harus memperumit suasana," batin Reyhan.
Reyhan menghela napas panjang dan menatap pria bertato di depannya.
Wenggg.
Reyhan mengaktifkan Skill Karisma dan Skill Manipulasi Pikirannya secara bersamaan.
Aura di sekitar Reyhan tiba-tiba berubah menjadi sangat berwibawa, dingin, namun penuh dengan belas kasih palsu.
"Bangunlah," ucap Reyhan.
Suara Reyhan tidak keras, namun terdengar sangat jelas dan menggema di telinga setiap warga yang ada di sana.
Pria bertato itu mendongak dan perlahan berdiri, tubuhnya gemetar merasakan aura intimidasi dari Reyhan.
"Kalian ingin membakar gedung-gedung mewah itu?" tanya Reyhan sambil menatap mata puluhan warga satu per satu.
"Kalian ingin balas dendam dengan darah?"
"Iya!" teriak beberapa warga dengan penuh amarah.
Reyhan menggelengkan kepalanya pelan.
"Kalau kalian melakukan itu, apa bedanya kalian dengan mereka?"
"Kalau kalian membunuh orang-orang tak bersalah di sana, kalian hanyalah sekumpulan monster jalanan."
"Bukan penegak keadilan."
Gelombang sugesti dari Manipulasi Pikiran tingkat dasar mulai menyusup ke dalam otak para warga yang sedang emosi itu.
Amarah mereka tiba-tiba terasa surut, digantikan oleh keraguan dan rasa malu yang aneh.
"Keadilan sejati tidak dilakukan dengan tawuran dan membakar kota."
"Keadilan sejati adalah memotong kepala ularnya langsung dari sarangnya."
"Itulah yang sedang aku lakukan."
Reyhan menunjuk ke arah ujung jalan, ke arah bayangan gedung tua Teater Harapan yang menjulang tinggi di kejauhan.
"Biarkan aku lewat."
"Aku harus menyelesaikan pertunjukan ini dengan caraku sendiri."
"Kalau kalian benar-benar menghormatiku, jangan ada satu pun dari kalian yang berbuat rusuh hari ini."
"Atau aku sendiri yang akan mendatangi kalian satu per satu."
Kata-kata terakhir Reyhan diucapkan dengan nada ancaman yang sangat dingin.
Pria bertato itu menelan ludahnya kasar.
Sugesti ketakutan dan rasa hormat yang ditanamkan Reyhan benar-benar melumpuhkan niat berontak mereka.
"Beri jalan!" teriak pria bertato itu sambil menyingkir ke pinggir gang.
"Beri jalan untuk Sang Penerus Keadilan!"
Puluhan warga yang memblokir jalan itu perlahan mundur dan membuka jalan yang cukup lebar untuk Reyhan dan Kania.
Mereka semua menundukkan kepala dengan patuh, tidak ada satu pun yang berani menatap mata Reyhan.
Kania mengikuti Reyhan dari belakang dengan mulut sedikit terbuka.
"Kau mengerikan, Reyhan."
"Kau baru saja mencuci otak seratus orang preman hanya dengan modal bicara kurang dari tiga menit."
Reyhan tidak menanggapi pujian atau sindiran Kania.
Keringat dingin mulai mengalir di punggung Reyhan.
Menggunakan Manipulasi Pikiran pada banyak orang sekaligus ternyata sangat menguras energinya.
[Ding! Misi Sosial Berhasil!]
[Evaluasi: Pengendalian massa yang sempurna tanpa setetes darah pun.]
[Hadiah didistribusikan: Skill Karisma ditingkatkan ke Tingkat Menengah.]
Reyhan merasa pita suaranya dan postur tubuhnya berubah sedikit.
Kini, tanpa harus berusaha keras, kehadirannya saja sudah bisa membuat orang lain merasa segan dan terintimidasi.
Mereka terus berjalan melewati kawasan kumuh itu hingga keramaian warga mulai menghilang.
Suasana berubah menjadi sangat sunyi dan mencekam.
Di ujung jalan tanah tersebut, berdirilah sebuah bangunan tua yang sangat besar dan megah pada masanya.
Catnya sudah mengelupas parah dan dindingnya dipenuhi lumut hitam.
Sebagian atap bangunan itu terlihat hangus dan runtuh.
Di atas pintu masuk utama, terdapat sebuah papan nama dari besi berkarat yang sudah miring.
Tulisannya masih bisa dibaca dengan samar.
"Teater Harapan."
Kania menelan ludahnya melihat gedung yang menyerupai rumah hantu raksasa itu.
"Kita benar-benar akan masuk ke sana?" tanya Kania ragu.
"Aku punya firasat buruk tentang tempat ini."
Reyhan menghentikan langkahnya tepat di depan anak tangga gedung teater tersebut.
"Firasatmu benar, Nona Jurnalis."
"Tempat ini adalah kuburan."
"Kuburan untuk masa lalu, dan mungkin kuburan untuk kita berdua."
Reyhan melangkah naik dan mendorong pintu kayu ganda yang sudah lapuk itu.
Kriet.
Suara engsel berkarat yang berdecit memecah kesunyian kawasan kumuh tersebut.
Udara dingin dan bau debu tebal langsung menyambut kedatangan mereka.
Panggung pertunjukan terakhir sudah dibuka.