Raka Wijaya, mantan komandan unit rahasia Garuda Hitam, dinyatakan tewas dalam misi yang sebenarnya adalah pengkhianatan dari dalam. Untuk melindungi orang-orang yang ia cintai, ia memilih hidup dalam bayang-bayang: menyamar sebagai sopir pribadi yang lemah dan tak berdaya di keluarga mertuanya sendiri — keluarga konglomerat Wijayakusuma yang meremehkannya habis-habisan. Tapi kota metropolitan penuh intrik, dan masa lalunya tidak akan tinggal diam selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 — Serangan ke Gudang
"Enam orang terdeteksi lewat pencitraan panas drone," lapor Wulan setelah satu jam pemantauan penuh, gambar gudang tua itu terpampang jelas di layar laptopnya. "Empat berjaga di pos depan dan belakang, dua lainnya bergerak di dalam — kemungkinan sedang membongkar sesuatu, mungkin bersiap memindahkan peralatan."
"Mereka bersiap mengevakuasi tempat ini," gumam Raka, menyadari jendela kesempatan mereka semakin kecil. "Kita harus masuk sekarang, sebelum bukti apa pun yang tersisa di sana dipindahkan."
Bara memeriksa perlengkapan mereka berdua — bukan lagi seragam samaran, tapi pakaian gelap sederhana yang memungkinkan gerak bebas, beberapa alat kecil untuk melumpuhkan tanpa membunuh, sesuai prinsip yang selalu mereka pegang sejak awal operasi ini.
"Wulan, matikan penerangan luar begitu kami mendekat," instruksi Raka. "Kami masuk dari sisi selatan, area paling gelap sesuai denah yang kau tunjukkan."
Mereka bergerak melintasi lahan kosong di belakang gudang, mengandalkan bayangan dan latihan lama yang membuat gerakan mereka nyaris tak terdengar bahkan oleh telinga paling tajam.
Dua penjaga di pos belakang jatuh dalam hitungan detik, dilumpuhkan sebelum sempat menyadari ancaman mendekat. Raka dan Bara menyelinap masuk melalui pintu samping yang jarang digunakan, mengikuti denah yang sudah mereka hafal dari pencitraan drone.
Di dalam, dua pria sedang memasukkan dokumen dan peralatan elektronik ke dalam kotak-kotak besar, tergesa seperti orang yang diberi waktu sangat terbatas untuk membersihkan jejak.
"Berhenti di tempat," Raka memerintah tegas, muncul dari bayangan dengan pistol yang direbut dari salah satu penjaga tadi.
Kedua pria itu membeku, tangan terangkat perlahan, jelas bukan operator terlatih seperti tim eksekusi sebelumnya — lebih mirip staf logistik biasa yang dipekerjakan untuk tugas kotor tanpa benar-benar memahami besarnya bahaya yang mereka tangani.
"Kotak-kotak itu," kata Bara, sudah bergerak memeriksa isinya sambil menjaga kedua pria itu dalam pengawasan. "Dokumen kertas, hard drive lama, beberapa ponsel cadangan."
Raka memeriksa salah satu dokumen yang tergeletak terbuka di meja kerja sederhana di pojok ruangan — daftar nama dan nomor telepon, beberapa ditandai dengan kode warna berbeda.
"Daftar operator lapangan," gumamnya, mengenali pola itu dari pengalamannya sendiri mengelola unit di masa lalu. "Ini bisa membantu kita melacak siapa lagi yang terlibat, sampai ke level mana."
"Raka," suara Wulan masuk mendadak, tegang. "Ada mobil baru mendekat dari jalan utama, bergerak cepat ke arah gudang. Sepertinya mereka memanggil bantuan begitu menyadari sesuatu tidak beres."
"Berapa lama sampai mereka tiba?"
"Kurang dari lima menit."
Raka menatap Bara, keduanya sudah memahami situasi tanpa perlu banyak kata. "Kita ambil yang paling penting, dan keluar sekarang."
Mereka bergerak cepat, menyelipkan dokumen paling krusial dan satu hard drive ke dalam tas kecil yang mereka bawa, mengikat kedua pria yang mereka lumpuhkan dengan tali yang tersedia di gudang itu sendiri — cukup untuk menahan mereka sampai bantuan tiba, tanpa mencederai lebih jauh dari yang diperlukan.
Saat mereka menyelinap keluar lewat pintu yang sama, suara mobil yang mendekat semakin jelas terdengar, lampu sorot mulai menyapu area sekitar gudang.
"Sekarang," bisik Raka, dan mereka berdua bergerak menghilang ke dalam kegelapan lahan kosong, tepat sebelum mobil-mobil baru itu berhenti di depan gudang, membawa lebih banyak orang bersenjata yang datang terlambat beberapa menit saja.
Kembali di bengkel tua, Wulan segera memindai hard drive yang berhasil mereka bawa, sementara Raka memeriksa daftar nama yang mereka temukan.
"Ini lebih besar dari yang kita kira," gumam Wulan, matanya membesar menatap isi hard drive itu. "Bukan cuma daftar operator lapangan untuk kota ini. Ada catatan operasi serupa di setidaknya tiga kota lain — pola yang sama, jaringan bayangan yang sudah menyebar jauh lebih luas dari sekadar mengincar keluarga Wijayakusuma."
Raka menatap layar itu lama, menyadari betapa dalam akar dari apa yang mereka hadapi. "Wirawan tidak hanya membangun jaringan untuk satu tujuan. Dia membangun kerajaan bayangan yang jauh lebih besar, dan Cendana hanyalah salah satu bagian dari rencana yang lebih luas."
"Kita perlu menyerahkan ini ke Satya secepat mungkin," kata Bara. "Ini bukan lagi cuma soal menyelamatkan satu keluarga atau menggagalkan satu merger. Ini soal jaringan yang mungkin sudah menyusup ke banyak tempat yang belum kita ketahui."
Raka mengangguk, merasakan beban baru yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan saat semua ini dimulai hanya sebagai usaha melindungi diri dan keluarganya sendiri. "Kita berhasil malam ini.