Andriana Arnova harus menyaksikan pengkhianatan suaminya dengan kakak iparnya sendiri.
Namun bukan marah, minta cerai yang ia lakukan, melainkan membalasnya dengan kegilaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Rasa sakit, kecewa dan dendam di dadanya telah merubah dunianya.
Demi membalas dendam atas pengkhianatan suaminya, ia rela mengorbankan karir yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
Baginya setiap kerugian harus ada bayarannya dan setiap rasa sakit harus ada pembalasan yang akan lebih menyakitkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vea Vivie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
Andriana mengusap air matanya, wajahnya merah dan pucat karena kelamaan menahan tangisannya.
Akhirnya ia tidak bisa menahannya lagi ia sandarkan kapalnya di gagang stir dan meluapkan rasa sakit di hatinya dengan menangis sejadi jadinya.
Setelan beberapa saat tangisannya pun mulai reda, ia usap wajahnya dan merapikan kembali rambutnya yang tadinya sempat berantakan.
''Andriana kamu bukan orang bodoh, kamu juga bukan orang lemah, kamu harus bisa membalas rasa sakit dan pengkhianatan ini"
Kata hatinya mulai bergejolak memberikan semangat untuk dirinya sendiri.
Ia pun menarik nafas panjang, menegakkan posisi duduknya, menatap jauh ke depan dengan tangan sudah siap di atas gagang stir mobil miliknya " Benar, aku tidak akan membiarkan mereka bebas begitu saja tanpa pembalasan, ku pasti akan membalas pengkhianatanmu mas" Gumamnya sebelum pergi meninggalkan tempat itu.
Andriana terus melajukan mobilnya tanpa tujuan yang jelas, yang pasti ia akan pergi ke tempat yang bisa membuatnya melupakan bayang bayang kedua insan yang menjijikan itu.
Bruk
Tiba tiba mobil yang ia kemudikan menabrak bemper belakang mobil yang ada di depannya.
Andriana membulatkan matanya karena mobil yang sudah ia tabrak bukanlah mobil sembarangan tapi mobil mewah edisi terbatas bernilai lebih dari sepuluh miliar.
Tak lama kemudian sopir dari mobil tersebut pun keluar dan menggedor-gedor pintu mobilnya.
"Turun! Hei turun kamu! Kamu harus tanggung jawab dan memperbaiki mobil ini! Hei turun atau aku bakar mobilmu!" Teriak keras sopir itu.
Dengan terpaksa akhirnya Andriana keluar dari mobilnya dengan senyum merekah bertujuan meluluhkan hati sang sopir, tapi nihil sopir itu tetap menatapnya dengan menakutkan.
"M-maaf pak, n-nanti a-aku akan perbaiki, sungguh pak aku tidak sengaja "Jawab Andriana.
"Kamu tahu berapa nilai kerusakan yang kamu harus ganti" ketus sopir itu dengan raut muka merah.
Andriana pun menggeleng perlahan sambil meremas ujung bajunya dengan kedua tangannya.
"Setidaknya nilainya lima ratus juta sampai satu miliar".
"Apa!"
Mendengar nilai yang fantastis kedua kaki Andriana menjadi lemas seketika
" Gila dari mana aku mendapatkan uang sebesar itu, pasti orang ini pembohong, aku harus menemui bosnya sendiri"
Andriana pun bergegas mendekati mobil mewah itu dan berdiri tegak di samping pintu belakang dengan badan sedikit membungkuk.
"Tuan, maafkan aku sungguh aku tidak sengaja tapi untuk mengganti dengan biaya sebesar itu sungguh aku tidak akan sanggup membayarnya, tolong tuan maafkan aku''
"Kalau kamu tidak sanggup menggantikan dengan uang, kamu bisa menggantikan dengan cara lain" Ucap tuan muda dari balik pintu mobil dengan kaca sudah turun hingga menampakkan wajahnya yang sangat tampan, dingin, dan berwibawa.
Andriana belum berani mengangkat kepalanya, tapi suara itu sangat familiar membuatnya harus mengangkat kepalanya dengan resiko apapun dan perlahan ia mulai memberanikan diri untuk menatap sang tuan muda.
Deg,deg,deg ....
Dadanya berdegup kencang ketika kedua pasang mata bertemu dalam satu tatapan yang inten dan begitu dalam.
"Devan"
"Andriana"
(Devan adalah kakak kelas Andriana sewaktu masih di SMA, dan diam diam Andriana sangat menyukainya tapi tidak berani mengatakannya hingga lulus sekolah dan Devan melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Tujuh tahun mereka tidak pernah lagi bertemu hingga hari ini mereka dipertemukan kembali).
Devan tersenyum tipis kemudian keluar dari mobilnya " Bang Udin, hubungi Leo minta dia urus semuanya!".
"Baik tuan" Jawab bang Udin.
Tiba tiba Devan menarik tangan Andriana membawanya masuk ke dalam mobil yang berada di belakangnya dan mengambil kunci mobil yang berada di saku Andriana tanpa ijinnya.
Andriana terdiam mematung dan membiarkan Devan berbuat semaunya.
Keduanya sudah berada di dalam mobil milik Andriana.
"Aduh mobil apa ini Andriana, sangat tidak nyaman"Gumam Devan sambil terus melajukan mobil sedan warna hitam milik Andriana pergi meninggalkan tempat itu.
"Devan? Kamu sungguh Devan Collin?" Tanya Andriana memastikan kalau dirinya sedang tidak bermimpi.
Devan tersenyum tipis lalu mengangguk.
Andriana pun tersenyum kemudian tertawa lepas membuat Devan mengernyitkan keningnya sambil memegangi kepalanya lalu meringis kesakitan.
"Kamu kenapa An? Kamu baik baik saja?"
"Hahaaaa kalau aku tidak sedang bermimpi pasti aku sedang berhalusinasi, mana mungkin Devan mau bersanding satu mobil denganku! Tunggu kalau bukan Devan lalu kamu siapa?Jangan jangan kamu penjahat yang mau menculikku ya? Aduhhh gimana ini" Racau Andriana sambil terus memegangi kepalanya dan terlihat benar benar sangat panik.
Devan pun sempat tidak mengerti dan memacu mobilnya lebih cepat dengan kecepatan tinggi agar segera tiba di apartemennya.
"Andriana, ada apa denganmu?"Gumamnya lirih.
Dan tak lama kemudian mereka tiba di lobi apartemen mewah.
Devan memarkirkan mobilnya, ia segera turun dan membukakan pintu untuk Andriana.
Perlahan Andriana pun turun dan menepis tangan Devan "Kamu pasti bukan Devan! Tapi di mana ini? Ah kepalaku pusing,aduh gimana ini".
Andriana memegangi kepalanya dan akhirnya ia pun pingsan terjatuh di dalam pelukan Devan yang berdiri tepat di sampingnya.
Devan bergegas membawa tubuh Andriana ke apartemennya dengan membopongnya.
Setelan tiba di sana, ia membaringkan tubuh Andriana perlahan di atas ranjang king size miliknya.
Sejenak Devan menatap wajah cantik yang nampak pucat dan sedikit bengkak di bawah mata yang menunjukkan kalau dia baru saja menangis.
Tak berselang lama, Andriana pun mulai membuka matanya. Dan yang pertama ia lihat adalah sosok tampan yang berada di hadapannya.
"K-kamu benar benar Devan?"
Tanpa membuka suara Devan hanya mengangguk dan tersenyum tipis membuat aura ketampanannya sangat memancar, bahkan pesonanya bisa membuat wanita manapun luluh padanya.
"Kamu sudah sadar? Sekarang kamu makan dulu atau aku menyuapimu?" Tanya Devan pelan.
"Tidak Van aku bisa makan sendiri"
"Baiklah aku ke depan dulu, kalau kamu butuh sesuatu panggil saja" Ucap Devan sambil mengusap lembut kepala Andriana lalu pergi meninggalkan kamarnya dan membiarkan Andriana menghabiskan makanannya.
Andriana sempat tidak percaya kalau yang barusan itu adalah Devan Collin, pemuda idamannya sejak SMA yang rasanya tidak mungkin untuk dimiliki. Jangankan bisa duduk bersanding atau diusap kepalanya, bisa menyapa saja rasanya sudah sangat beruntung.
"Ayolah Andriana apa yang kamu pikirkan?Kamu sudah menikah, saat ini statusmu tidak mungkin lagi bersamanya".
Batinnya sambil menyuapkan beberapa sendok makan ke mulutnya.
Untuk sesaat Andriana bisa melupakan kejadian yang baru saja ia alami, bayangan perselingkuhan suaminya dengan kakak iparnya pun mulai tertindih dengan ingatan masa lalu saat masih di SMA untuk pertama kalinya rasa cinta dan kagum tumbuh diam diam pada pemuda tampan idaman para wanita di sekolah pada masa itu.
Ceklek
Tak lama kemudian, Devan masuk ke dalam kamar
"Sudah selesai makannya, setelah kamu mandi dan aku akan mengantarmu pulang" Ucap Devan sambil melepaskan dasinya dan membuka kancing lengan kemejanya dan melipatnya hingga batas siku membuatnya terlihat benar-benar keren.
"Van"
"Ada apa An?"Jawab Devan tanpa menolehnya tapi tak mendengar sahutan lagi Devan pun akhirnya menoleh pada Andriana yang juga terlihat sangat memukau dan seksi.
Andriana meletakkan piringnya di atas meja, ia pun beranjak dan melangkah mendekatinya.
"Kenapa kamu baik kepadaku dan membawaku kemari?" Tanya Andriana pelan.
"Menurutmu?" Jawab Devan dengan senyum miringnya.
"Kamu akan meminta ganti rugi satu miliar padaku Van?"Tanya Andriana yang membuat Devan tertawa geli lalu memegang kedua pundak wanita itu memangnya ada tawaran lain?".
"Aku aku aku tidak punya uang sebanyak itu, tapi"Ucapnya ragu ragu.
Devan menarik nafas dalam-dalam"Andriana Arnova, kita sudah bukan anak kecil lagi,kita sama sama sudah dewasa, aku tahu sejak SMA kamu sangat menyukaiku".
"Hah kamu tahu?"Tanya Andriana pelan.
"iya aku tahu karena diam diam aku juga memperhatikanmu" Jawab Devan yang membuat Andriana melotot tajam tak percaya.
"Hah jadi"
Cup
Tanpa bicara lagi, Devan menyambar bibir merah Andriana singkat.
Keduanya saling bertatapan cukup lama.
Tiba tiba saja Andriana mendorong tubuh Devan dan memalingkan wajahnya"Tidak Van,ini tidak benar".
"Kenapa An, sekarang pria yang dulu kamu impikan sudah berdiri di depanmu, apalagi yang kamu tunggu?Apa kamu memikirkan suamimu dan statusmu?"Tanya Devan tanpa mengalihkan pandangannya.
(Lanjut part berikutnya)