Setelah menyelesaikan masa militernya, Jiang Ming mendapati dirinya terjebak dalam kerasnya realita sebagai pemuda tanpa uang, pekerjaan, maupun koneksi, yang harus memutar otak demi menghidupi adik perempuannya.
Di tengah himpitan utang dan cibiran orang-orang yang meremehkannya, sebuah aplikasi aneh bernama "Toko Dewa Tiga Alam" tiba-tiba terinstal secara paksa di ponsel bututnya.
Aplikasi tersebut menjual berbagai barang supranatural dan keajaiban dari dimensi para dewa, namun ironisnya, semua benda ajaib itu hanya bisa dibeli jika Jiang Ming memiliki uang.
Alih-alih menjadi pahlawan super, Jiang Ming menggunakan kecerdasan dan insting bisnisnya untuk memanfaatkan barang ajaib termurah demi membangun kekayaan dari nol, perlahan memutarbalikkan nasibnya dari seorang pengangguran rendahan menjadi sosok yang mengendalikan kekuatan Tiga Alam di dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Semua tamu undangan langsung terdiam dan menoleh ke arah sumber suara.
Wang Hao tersentak kaget hingga menjatuhkan papan klipnya ke tanah.
Brak.
Pria itu berlari kecil mendekati panggung dengan kaki yang gemetar hebat.
"A-ada apa, Ketua Zhao? Apakah ada yang salah dengan persiapannya?" tanya Wang Hao tergagap.
Plak.
Sebuah tamparan keras dan telak mendarat di pipi kiri Wang Hao.
Zhao Tianhua menampar manajer proyeknya itu dengan seluruh tenaga yang dia miliki hingga Wang Hao tersungkur ke tanah.
"Ketua Zhao! Apa salahku?!" jerit Wang Hao memegangi pipinya yang memerah.
"Kau berani bertanya apa salahmu?! Kau telah mengundang kutukan ke proyek miliaran yuanku ini karena kebodohanmu mengurus warga kontrakan!" maki Zhao Tianhua tanpa ampun.
Jiang Ming menatap pemandangan di bawahnya itu dengan wajah yang sangat datar tak berekspresi.
Dia tidak lagi menggunakan tangannya sendiri untuk menghukum Wang Hao.
Dia menggunakan kekuasaan Zhao Tianhua untuk menghancurkan anjing suruhannya sendiri.
Ini adalah bukti mutlak bahwa Jiang Ming tidak lagi bermain di level jalanan, dia kini mendikte permainan dari atas singgasana tak kasat mata.
"Mulai detik ini kau kupecat dengan tidak hormat, Wang Hao!"
"Dan aku akan menuntutmu ke pengadilan atas semua kerugian material dari kecelakaan proyek ini!" vonis Zhao Tianhua tanpa memberikan celah sedikit pun.
Wang Hao menangis tersedu-sedu di depan umum, harga dirinya hancur lebur menjadi debu.
Pria itu merangkak memohon ampun, namun petugas keamanan Grup Tianyu langsung menyeretnya keluar dari area acara dengan kasar.
Su Qingxue yang berdiri di samping Jiang Ming menyipitkan matanya penuh kecurigaan.
"Kau sengaja melakukannya, kan?" bisik Su Qingxue tepat di telinga Jiang Ming.
"Aku hanya menyampaikan pesan dari langit, Nona Su. Nasib pria itu ditentukan oleh karmanya sendiri," balas Jiang Ming tersenyum penuh rahasia.
Setelah membuang Wang Hao, Zhao Tianhua kembali menatap Jiang Ming dengan wajah memelas.
"Parasitnya sudah kubuang, Tuan Jiang. Apakah naga suci itu kini akan melindungi proyekku?"
"Mari kita mulai ritualnya dan lihat sendiri keajaibannya, Ketua Zhao," jawab Jiang Ming mempersilakan.
Master Yan segera membakar tumpukan kertas jimat dan mulai merapalkan mantra keselamatan dengan suara lantang.
Suara tabuhan gendang tradisional mengiringi ritual tersebut, membuat suasana menjadi sangat mistis.
Asap dupa membumbung tinggi, menyelimuti lukisan naga hitam itu dalam kabut tipis.
Jiang Ming berdiri diam di tempatnya, matanya terus mengawasi aliran energi gaib yang semakin ganas.
Di dalam sistem Toko Dewa Tiga Alam, Jiang Ming secara diam-diam membuka menu inventarisnya.
Dia tidak membeli barang baru, dia hanya memfokuskan niatnya pada aura naga hitam itu untuk melepaskan satu hantaman energi negatif sekaligus.
"Makanlah persembahan kalian," perintah Jiang Ming di dalam hatinya.
Krak.
Sebuah suara retakan pelan terdengar dari arah lantai panggung beton di bawah altar.
Suara tabuhan gendang seketika terhenti.
Master Yan menghentikan rapalannya dan menatap ke bawah kakinya dengan kebingungan.
Krak krak krak.
Retakan itu menjalar dengan sangat cepat seperti kilat, membelah lantai semen tebal itu menjadi dua bagian.
"Gempa bumi! Semuanya mundur dari panggung utama!" teriak salah satu insinyur proyek dengan panik.
Bruk.
Tanah di bawah altar tiba-tiba amblas ke dalam, menciptakan sebuah lubang besar sedalam dua meter.
Altar persembahan dan meja dupa hancur berantakan tertelan oleh tanah yang runtuh tersebut.
Para tamu undangan menjerit histeris dan berlarian menjauhi pusat acara.
Zhao Tianhua jatuh terduduk dengan wajah sepucat kertas, seluruh tubuhnya gemetar melihat kehancuran di depan matanya.
Namun, ada satu hal yang membuat semua orang yang tersisa di sana terbelalak tidak percaya.
Di tengah puing-puing altar yang hancur dan tanah yang amblas, lukisan naga hitam itu tetap berdiri tegak tanpa goresan sedikit pun.
Penyangga kayunya patah, tetapi kanvas itu seolah mengambang tertahan oleh energi tak kasat mata di atas lubang tersebut.
Kilauan emas dari sisik naga itu memancar semakin terang, menyilaukan mata siapa pun yang melihatnya.
"Keajaiban... ini benar-benar mukjizat dari langit!" teriak Master Yan sambil bersujud ke arah lukisan tersebut.
"Ketua Zhao! Naga suci itu baru saja menyerap seluruh sisa bencana gempa bumi yang seharusnya meruntuhkan seluruh kerangka bangunan kita!"
Master Yan memberikan penjelasan logis yang sangat memutarbalikkan fakta sebenarnya.
Zhao Tianhua yang tadinya ketakutan setengah mati, kini ikut bersujud dan menangis penuh haru.
"Terima kasih, Tuan Wu Ming! Terima kasih, Dewa Naga! Kalian telah menyelamatkan nyawa kami semua!" seru Zhao Tianhua histeris.
Jiang Ming berdiri di tepi retakan tanah itu dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celananya.
Dia menatap wajah-wajah para konglomerat dan ahli fana yang sedang bersujud menyembah lukisan kutukan buatannya.
Sebuah senyum yang sangat menakutkan dan dingin perlahan terbentuk di bibir Jiang Ming.
"Sungguh pertunjukan yang sangat memuaskan," bisik Jiang Ming pada dirinya sendiri.
Dia tidak lagi menjadi korban dari kekejaman dunia ini.
Dia telah resmi menjadi sang dalang yang menulis naskah, mengatur panggung, dan memutuskan akhir cerita dari kehidupan musuh-musuhnya.
Dan tragedi Grup Tianyu ini hanyalah bab pembuka dari kekuasaan bayangan Jiang Ming di kota Jinhai.