Indonesia
NovelToon NovelToon
Naga Tersembunyi Di Kota Metropolitan

Naga Tersembunyi Di Kota Metropolitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Raka Wijaya, mantan komandan unit rahasia Garuda Hitam, dinyatakan tewas dalam misi yang sebenarnya adalah pengkhianatan dari dalam. Untuk melindungi orang-orang yang ia cintai, ia memilih hidup dalam bayang-bayang: menyamar sebagai sopir pribadi yang lemah dan tak berdaya di keluarga mertuanya sendiri — keluarga konglomerat Wijayakusuma yang meremehkannya habis-habisan. Tapi kota metropolitan penuh intrik, dan masa lalunya tidak akan tinggal diam selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 — Rencana yang Lebih Besar

Briefing di kantor Praetora Nusantara pagi itu berlangsung tanpa Raka — alasan yang ia siapkan lewat pesan singkat ke Pak Harun, "urusan keluarga mendadak", diterima tanpa banyak tanya. Bara duduk sendirian di antara belasan petugas keamanan lain, mencatat setiap detail yang dipaparkan dengan wajah datar seorang pekerja lepas biasa.

"Grand Ballroom akan dibagi tiga zona pengamanan," jelas Pak Harun di depan denah besar yang terpasang di papan. "Zona merah untuk area podium dan meja penandatanganan, hanya bisa diakses tamu VIP dan petugas berlencana khusus. Zona kuning untuk area tamu umum. Zona hijau, area belakang panggung dan ruang tunggu eksekutif."

Bara memperhatikan satu detail yang menarik perhatiannya: ruang tunggu eksekutif memiliki jalur akses terpisah, tidak melalui metal detector utama — jalur yang biasanya disediakan untuk tamu kehormatan yang "terlalu penting untuk diperiksa seperti orang biasa".

"Siapa yang menggunakan ruang tunggu eksekutif?" tanya Bara, berusaha terdengar sekadar ingin tahu prosedural.

"Direksi Andratama dan Wijayakusuma, plus dua tamu istimewa yang namanya belum diumumkan ke daftar publik," jawab Harun singkat, lalu melanjutkan briefing tanpa memberi ruang untuk pertanyaan lebih jauh.

Dua tamu istimewa tanpa nama, pikir Bara, menyimpan detail itu dalam-dalam untuk dilaporkan nanti.

Sore harinya, mereka bertiga kembali berkumpul di bengkel tua — kali ini dengan ketegangan baru yang tidak bisa disembunyikan lagi.

"Dua tamu tanpa nama," ulang Wulan, jarinya sudah bergerak menelusuri sistem manajemen tamu hotel yang telah ia tembus sebelumnya. "Aku coba cari... ini aneh. Slot untuk dua tamu itu memang sengaja dikosongkan di sistem, bukan belum diisi — dikonfigurasi khusus agar tidak tercatat di log manapun setelah acara selesai."

"Seperti tamu yang tidak ingin pernah terbukti pernah hadir," gumam Raka, menyandarkan diri ke dinding, kelelahan semalam masih terasa di tubuhnya meski ia tak menunjukkannya.

"Ditambah temuan semalam soal laporan ganda dari Tri Daya," Bara melanjutkan, "aku mulai berpikir merger ini bukan sekadar soal saham dan ekspansi bisnis biasa."

Wulan membuka sebuah dokumen lain di layarnya — hasil penelusuran yang sudah ia kumpulkan diam-diam selama beberapa hari terakhir. "Aku sempat menggali struktur kepemilikan Andratama lebih dalam. Sebagian besar terlihat normal — properti, tambang, logistik. Tapi ada satu anak perusahaan kecil, hampir tersembunyi di lapisan kepemilikan paling bawah, bernama Cendana Data Nusantara."

"Perusahaan data?" tanya Raka.

"Bukan perusahaan data biasa." Wulan memperbesar sebuah dokumen tender pemerintah yang terpampang di layar. "Cendana Data Nusantara baru saja memenangkan proyek strategis nasional — pengelolaan pusat data untuk beberapa lembaga pemerintah, termasuk sebagian data keamanan dalam negeri. Dan begitu merger dengan Wijayakusuma Grup selesai, kepemilikan Cendana akan otomatis terkonsolidasi lebih dalam, lebih tersembunyi dari pengawasan publik."

Hening sejenak, ketiganya saling menatap, menyadari ukuran sebenarnya dari apa yang mereka hadapi.

"Merger ini bukan cuma soal memperkaya Setiawan atau mengincarku," kata Raka pelan, menyusun kepingan itu di kepalanya. "Ini soal mendapatkan akses ke data keamanan negara, disembunyikan di balik kesepakatan bisnis yang terlihat sah sepenuhnya."

"Dan sosok yang ditemui Setiawan malam itu, yang bicara soal 'rencana yang jauh lebih besar'—" Bara menambahkan, mengingat laporan lama kontaknya di dalam Andratama, "—mungkin bukan cuma atasan bisnis biasa. Mungkin bagian dari jaringan yang jauh lebih luas dari yang pernah kita bayangkan saat masih di unit dulu."

Wulan menyandarkan punggungnya ke kursi, menghela napas panjang. "Kalau benar begitu, kita tidak lagi cuma berurusan dengan satu pengkhianat yang ingin menutupi masa lalunya, Raka. Kita mungkin baru menyentuh permukaan dari sesuatu yang jauh lebih dalam."

Raka menatap folder tipis di meja — foto Setiawan yang kini terasa terlalu kecil untuk mewakili ancaman sesungguhnya yang mereka hadapi. Tiga tahun ia bersembunyi demi melindungi orang-orang yang ia cintai dari bayang-bayang masa lalunya sendiri. Sekarang, bayang-bayang itu ternyata hanya pintu depan dari sesuatu yang jauh lebih besar, mengancam bukan cuma keluarganya, tapi mungkin jauh lebih luas dari itu.

"Kalau begitu," kata Raka akhirnya, suaranya tenang tapi tegas, "kita tidak cuma perlu bukti pengkhianatan Setiawan lagi. Kita perlu tahu, siapa sebenarnya yang berdiri di belakangnya — sebelum penandatanganan itu membuka pintu yang tidak akan pernah bisa kita tutup kembali."

1
Eka P
c
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!