Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibayar 2M Menjadi Istri Duda Anak 1

Dibayar 2M Menjadi Istri Duda Anak 1

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Baru lulus SMA di usia 19 tahun, masa depan Aira hancur berantakan. Ayahnya berselingkuh hingga memiliki anak lain, dan mirisnya, Aira serta ibunya terpaksa tinggal seatap dengan keluarga baru sang ayah demi bertahan hidup. Tekanan batin yang luar biasa membuat sang ibu terserang stroke parah.

​Tanpa biaya pengobatan, Aira mengambil keputusan nekat: menerima penawaran 2 Miliar rupiah untuk menikah dengan Arka Danuartha, seorang duda kaya raya berumur 39 tahun yang dingin dan memiliki putra kecil bernama Elano.

​Kehidupan pernikahan beda 20 tahun ini penuh kejutan. Kepedihan masa lalu Aira dan sifat kaku Arka memicu berbagai momen canggung yang kocak sekaligus menggemaskan, terutama saat Aira belajar menjadi ibu sambung bagi Elano. Namun di balik sikap dinginnya, Arka perlahan menjadi pelindung yang menyembuhkan luka hati Aira. Dari pernikahan kontrak yang berawal dari kepedihan, mampukah cinta sejati tumbuh di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Bayangkan dibalik pintu

Senin pagi di kediaman Danuartha disambut oleh rintik hujan yang mengguyur ibu kota sejak subuh. Suasana rumah terasa sejuk dan tenang, diiringi aroma samar kopi hitam yang baru saja diseduh dari dapur utama.

Aira berdiri di depan cermin besar di kamarnya, merapikan gaun terusan berlengan panjang berwarna krem yang dipadukan dengan kardigan rajut tipis. Rambut cokelatnya biarkan terurai bebas, menyentuh bahunya dengan gelombang alami. Setelah merapikan penampilannya, Aira melangkah keluar menuju kamar Elano.

"Mas Elano, ayo sarapan... Papa sebentar lagi mau berangkat ke kantor," panggil Aira lembut sembari membuka pintu kamar anak itu.

Elano yang sedang sibuk mengancingkan kemeja seragam TK-nya mendongak, lalu mengumbar senyum lebar. "Mama Aira! Lihat, Elano sudah bisa pakai kancing baju sendiri!"

"Wah, pintarnya anak Mama," puji Aira tulus, berlutut untuk merapikan kerah kemeja Elano yang masih agak melipat.

"Ayo, Papa sudah tunggu di bawah."

Ketika mereka berdua menuruni tangga menuju meja makan, Arka sudah duduk tegap di sana. Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu gelap buatan penjahit ternama, dipadu dengan kemeja putih dan dasi bernuansa senada. Ketampanan dan aura dominannya selalu berhasil membuat Aira tertegun sejenak setiap kali melihatnya di pagi hari.

"Pagi, Papa!" seru Elano riang, langsung menarik kursi di samping Arka.

Arka menurunkan surat kabar bisnis yang dibacanya, lalu mengusap kepala Elano dengan kehangatan tipis.

"Pagi, Elano. Sarapan yang banyak, hari ini hari pertama kamu sekolah lagi setelah libur."

"Pagi, Mas Arka," sapa Aira pelan, mengambil tempat di seberang Arka untuk menyiap piring sarapan Elano.

"Pagi," balas Arka singkat. Matanya sempat melirik ke arah Aira, memperhatikan penampilan gadis itu yang terlihat lebih segar dibanding hari-hari sebelumnya.

"Nanti Raymond akan mengantarmu dan Elano ke sekolah. Setelah itu, kamu bebas jika ingin ke rumah sakit."

"Baik, Mas. Terima kasih," jawab Aira sopan.

Namun, kedamaian sarapan pagi itu mendadak terusik ketika suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah pintu depan. Raymond melangkah masuk ke ruang makan dengan raut wajah yang cukup tegang—sebuah pemandangan yang sangat jarang terjadi pada asisten pribadi Arka yang biasanya selalu tenang itu.

Raymond membungkuk kecil di samping kursi Arka. "Pak Arka, maaf mengganggu sarapan Anda. Dewan Komisaris baru saja memajukan rapat mendadak menjadi pukul delapan pagi. Nyonya Dania... sudah berada di kantor pusat."

Mendengar nama 'Nyonya Dania', gerakan tangan Arka yang sedang memegang cangkir kopi mendadak terhenti. Manik mata hitamnya yang tajam berubah menjadi sangat dingin dan mengeras. Udara di sekitar meja makan mendadak terasa turun beberapa derajat.

Aira yang menyadari perubahan atmosfer itu langsung melirik Arka dengan ragu. Siapa Nyonya Dania? Aira belum pernah mendengar nama itu sebelumnya. Apakah dia salah satu anggota keluarga Danuartha, ataukah seseorang dari masa lalu Arka?

"Dania sudah kembali dari London?" tanya Arka dengan suara yang amat rendah dan sarat akan ketegasan yang tertahan.

"Benar, Pak. Pesawatnya mendarat tadi malam, dan pagi ini beliau langsung mengeksekusi rapat peninjauan saham atas nama keluarga besar Danuartha," terang Raymond hati-hati.

Arka meletakkan cangkir kopinya tanpa bersuara, lalu berdiri dari kursinya. Ia merapikan jasnya, lalu menatap Elano seraya mengusap pipi anak itu.

"Papa berangkat sekarang. Nurut sama Mama Aira di sekolah."

"Siap, Papa!" jawab Elano polos.

Sebelum melangkah pergi, Arka menatap Aira sejenak. Ada Kilatan emosi yang rumit di matanya—antara kejengkelan, kelelahan mental, dan kerahasiaan yang tertutup rapat.

"Saya mungkin akan pulang terlambat malam ini. Tidak perlu menunggu."

"B-baik, Mas Arka. Hati-hati di jalan," sahut Aira pelan.

Arka mengangguk singkat, lalu melangkah lebar meninggalkan ruang makan disusul oleh Raymond.

Aira memandangi punggung Arka yang menghilang di balik pintu depan. Rasa ingin tahu yang besar menyelusup di dadanya, disertai sedikit rasa cemas yang tak beralasan. Nama 'Nyonya Dania' seolah membawa badai baru yang siap mengusik ketenangan yang baru saja mulai ia rasakan di rumah ini.

Siang harinya, setelah mengantar Elano ke sekolah dan menjenguk ibunya di rumah sakit, Aira kembali ke rumah. Rumah megah itu terasa sangat sepi tanpa kehadiran Elano yang masih mengikuti kegiatan ekstrakurikuler hingga sore, dan tanpa Arka yang sedang bergelut dengan urusannya di kantor pusat.

Aira memutuskan untuk membantu Bi Inah merapikan beberapa dokumen lama dan buku-buku di perpustakaan lantai satu. Saat sedang mengelap debu di rak kayu jati, Bi Inah melangkah masuk membawa nampan berisi teh hangat untuk Aira.

"Nyonya Aira, istirahat dulu. Biar Bibi yang teruskan mengelap bukunya," ujar Bi Inah ramah.

Aira tersenyum, menerima cangkir teh tersebut dan duduk di sofa perpustakaan. "Terima kasih, Bi. Eh, Bi Inah... Aira boleh tanya sesuatu tidak?"

Bi Inah menaikkan alisnya pelan, lalu ikut duduk di kursi kayu kecil di depan Aira.

"Boleh, Nyonya. Mau tanya apa?"

Aira agak ragu sejenak, memutar-mutar cangkir teh di tangannya. "Tadi pagi... Mas Raymond menyebut nama 'Nyonya Dania' di depan Mas Arka. Reaksi Mas Arka langsung berubah dingin sekali. Nyonya Dania itu... siapa ya, Bi?"

Wajah Bi Inah seketika berubah agak canggung. Wanita paruh baya itu mengembuskan napas pelan, melirik ke arah pintu perpustakaan untuk memastikan tidak ada orang lain yang mendengar.

"Aduh, Nyonya... sebenarnya Bibi tidak berhak bercerita banyak soal urusan keluarga besar Danuartha," bisik Bi Inah pelan.

"Tapi karena Nyonya sekarang adalah istri Den Arka, mungkin Nyonya memang perlu tahu sedikit."

Aira menyimak dengan serius, memajukan tubuhnya.

"Nyonya Dania itu adalah adik ipar almarhumah Nyonya Siska—istri pertama Den Arka yang sudah meninggal dunia empat tahun lalu," terang Bi Inah hati-hati.

"Dania itu orangnya sangat ambisius. Dulu, sebelum Den Arka menikah dengan almarhumah Nyonya Siska, Dania sebenarnya menyukai Den Arka. Tapi Den Arka lebih memilih almarhumah kakaknya."

Jantung Aira berdesir aneh mendengar fakta tersebut. Adik dari almarhumah istri pertama Mas Arka?

"Setelah Nyonya Siska meninggal karena sakit," lanjut Bi Inah dengan nada prihatin, "Nyonya Dania terus-menerus berusaha mendekati Den Arka lagi. Dia bahkan menggunakan pengaruh saham keluarga besarnya untuk mendesak Den Arka agar mau menikahinya demi alasan 'membantu merawat Elano'. Tapi Den Arka selalu menolak tegas karena beliau tahu Dania cuma menginginkan kekayaan dan posisi di Danuartha Group."

Aira mendengarkan cerita itu dengan dada yang mendadak terasa agak sesak. Penjelasan Bi Inah membuka tabir baru tentang betapa rumitnya kehidupan Arka. Pria itu tidak hanya menanggung trauma kehilangan istri tercintanya, tetapi juga harus terus-menerus bertarung menghadapi ambisi orang-orang di sekitarnya yang memburu harta dan kekuasaan.

"Jadi... kehadiran Nyonya Dania di Jakarta sekarang ini..." gumam Aira menggantung.

"Pasti untuk membuat masalah lagi, Nyonya," desah Bi Inah prihatin.

"Dia pasti kaget dan marah besar kalau tahu Den Arka tiba-tiba sudah menikah lagi dengan Nyonya Aira secara diam-diam. Nyonya Aira harus hati-hati ya kalau suatu saat bertemu dengan Nyonya Dania."

Aira menelan ludah, mengangguk pelan.

"Terima kasih informasinya ya, Bi Inah."

Malam harinya, hujan mengguyur ibu kota makin deras. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Rumah megah itu sudah sepi; Elano dan para asisten rumah tangga sudah tertidur lelap di kamar masing-masing.

Aira belum bisa memejamkan mata. Gadis itu duduk di sofa ruang tengah lantai dua, mengenakan baju tidur satin berlengan panjang, sambil membaca buku novel untuk mengusir rasa kantuknya. Namun, sejujurnya, ia sedang menunggu kepulangan Arka.

Tepat pukul sebelas lewat empat puluh menit, suara deru mobil terdengar berhenti di garasi depan. Tak lama kemudian, derap langkah kaki yang agak tidak stabil terdengar menaiki tangga.

Aira segera berdiri dan melangkah ke lorong. Di sana, ia melihat Arka sedang berjalan perlahan menuju kamarnya. Jas hitam pria itu sudah dilepas dan tersampir di lengannya, dasinya terkulai longgar, dan dua kancing atas kemejanya terbuka. Wajah tampan pria berusia 39 tahun itu tampak sangat lelah, dengan raut ketegangan yang amat pekat di dahinya.

"Mas Arka?" panggil Aira pelan, melangkah mendekat.

Arka menghentikan langkahnya, mendongak menatap Aira. Ketika jarak mereka menipis, Aira bisa mencium aroma alkohol tipis bercampur aroma parfum kayu cendana dari tubuh pria itu. Arka tidak mabuk berat, tetapi jelas baru saja melewati malam yang sangat melelahkan dan penuh tekanan.

"Kenapa kamu belum tidur?" tanya Arka, suaranya terdengar serak dan berat.

"Saya... saya cuma belum mengantuk, Mas," jawab Aira canggung, menutupi alasan sebenarnya.

"Mas Arka mau saya buatkan teh hangat atau sup untuk meredakan pusing?"

Arka menatap Aira dalam diam selama beberapa detik. Tatapan mata hitam pria itu terasa begitu dalam dan intens, membuat Aira mendadak salah tingkah dan menundukkan kepalanya.

Tiba-tiba, Arka menghembuskan napas panjang dan melangkah maju satu tindak. Sebelum Aira sempat bereaksi, Arka menyandarkan dahi hangatnya di bahu Aira, membiarkan sebagian beban tubuhnya bertumpu pada gadis itu.

Aira mematung seketika. Tubuhnya membeku bagaikan patung. Napasnya tertahan saat merasakan kehangatan dahi Arka yang menempel di bahunya, serta hembusan napas serak pria itu yang menyentuh lehernya.

"Mas... Mas Arka?" bisik Aira dengan jantung yang berdegup liar bagai genderang perang.

"Diam sebentar, Aira..." gumam Arka amat pelan, suaranya terdengar sangat lelah di dekat telinga Aira. "Biarkan seperti ini cuma dua menit."

Aira melepaskan napas perlahan. Ketakutan dan rasa canggung yang sempat menyergapnya perlahan sirna, berganti dengan rasa iba dan kehangatan yang mendalam. Arka Danuartha—pria yang selama ini tampak begitu perkasa, dingin, dan tak tersentuh—siang dan malam ini terlihat begitu rentan di hadapannya.

Tanpa sadar, tangan Aira terangkat perlahan. Dengan ragu dan kehati-hatian yang luar biasa, jemari halus Aira mengusap punggung jas Arka yang tersampir di lengan pria itu, memberikan dorongan penenang yang lembut.

"Ada masalah berat di kantor ya, Mas?" bisik Aira tulus, suaranya sangat lembut bagaikan usapan angin malam.

Arka tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu hanya makin mempererat sandaran dahinya di bahu Aira, menghirup aroma alami dari tubuh gadis sembilan belas tahun itu yang entah bagaimana sanggup menenangkan badai emosi dan kelelahan di kepalanya.

Dania baru saja melancarkan ancaman politik di dewan komisaris, menuntut hak pengelolaan aset dan mempertanyakan keputusan Arka yang menikah secara diam-diam. Seluruh tekanan pekerjaan dan konfrontasi keluarga besar membuat Arka merasa muak. Namun di sini, di dalam pelukan dan ketenangan yang ditawarkan Aira, Arka menemukan sudut aman yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang sarat akan getaran emosi yang tak terucapkan.

Perlahan, Arka menegakkan kembali tubuhnya. Manik mata hitamnya menatap lurus ke dalam mata cokelat Aira yang jernih. Jarak wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Aira bisa melihat dengan jelas bayangan dirinya di dalam manik mata Arka yang pekat.

Arka mengangkat tangan kanannya, jemari besarnya yang hangat menyentuh pelan pipi Aira, mengusapnya dengan gerakan yang sangat lembut—sebuah gestur keintiman pertama yang terjadi tanpa sengaja di antara mereka.

Jantung Aira berdebar begitu kencang hingga terasa sakit di dadanya. Wajahnya merona merah, namun ia tidak menarik diri.

"Terima kasih, Aira," kata Arka dengan suara serak yang begitu dalam, menatap bibir Aira sejenak sebelum kembali mengunci tatapan matanya.

"Masuklah ke kamarmu dan tidur."

Arka melepaskan sentuhannya di pipi Aira, berbalik, dan melangkah masuk ke dalam kamarnya sendiri, meninggalkan Aira yang berdiri mematung di tengah lorong yang sepi.

Aira menyentuh pipinya yang baru saja diusap Arka. Sentuhan hangat itu masih berbekas jelas di kulitnya, meninggalkan desiran aneh yang membakar dadanya dengan kehangatan yang tak terlukiskan.

Di malam yang dingin dan berhujan itu, tembok pembatas di antara mereka tidak hanya meretak... melainkan mulai runtuh satu per satu. Aira sadar, dirinya sudah melangkah terlalu jauh ke dalam kehidupan Arka Danuartha, dan memutar balik bukan lagi sebuah pilihan.

_Bersambung

1
Penulis kentang🍠
apaan dahhhh busett
gurucantik
😍😍😍😍😍
sago
🤣🤣🤣🤣🤣
sago
nak😍😍
sago
uhuyyy
sago
sini aku bantu make kartunya🤣
sago
😍😍😍😍
sago
💪💪💪💪💪🙏
sago
🤣🤣🤣
sago
lucu banget elano
sago
😂tulahh
sago
iyaa ihhh
Saintz Gold
gasabarrrr
Saintz Gold
cemburuuuu
Saintz Gold
🤭🤭🤭
Saintz Gold
😍😍😍😍
Pendi Gudung
lanjuttt
Pendi Gudung
asik naga ajaaa
Rif Qi
up Thor jangan lama lama
Rif Qi
lnjutttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!