Indonesia
NovelToon NovelToon
Kembali Pada Luka Yang Sama

Kembali Pada Luka Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Teen / Mengubah Takdir
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: MIKHACINTA

Ada rasa yang tak pernah benar-benar mati, ia hanya bersembunyi di balik nama yang enggan kita sebut lagi.

Sera percaya bahwa pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa jiwanya yang hancur karena Adrian. Ia telah meruntuhkan harapannya dan mengunci rapat pintu perasaannya.

Tetapi benang merah tak pernah bisa dipatahkan.

Ketika waktu membawa Adrian kembali, pria itu tak lagi menawarkan duri. Ia hadir bagai sudut paling aman di tengah bisingnya dunia, menawarkan pulih di atas luka yang pernah ia goreskan sendiri.

Di antara bayang-bayang ragu, riuh penyesalan dari masa lalu, dan kehangatan yang kembali merekah... bisakah Sera mempertaruhkan hatinya sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MIKHACINTA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menghindar

Malam itu, kututup laptopku dengan rasa kecewa yang bertumpuk. Hingga kantuk perlahan menguasai, tak ada satu pun notifikasi dari Adrian di layar ponselku. Aku merebahkan tubuh di atas kasur, membiarkan dadaku dihantam rasa insecure yang teramat besar pada sosok Sabrina, wanita cantik, dewasa, dan sempurna yang berhak berada di sisi Adrian. Aku pun terlelap dalam gulungan kecewa dan rasa sakit yang menyayat.

***

Besok paginya, aku berangkat ke sekolah seperti biasa. Kali ini aku tidak menaiki angkot, melainkan mengendarai motor Scoopy merah kesayanganku. Aku berencana menemui Naura sepulang sekolah nanti untuk mencurahkan semua beban yang menghimpit dada.

Setelah memarkirkan motor di penitipan langganan di samping sekolah, aku berjalan menelusuri trotoar menuju gerbang. Tiba-tiba, sebuah teriakan memanggil namaku dari arah jalan raya.

"Sera!"

Aku menengok ke sumber suara. Di sana, Kania baru saja turun dari motor besar yang dinaiki Adrian.

"Tunggu Nia, Sera!" panggil Kania.

Mataku tak sengaja bertaut lagi dengan lelaki itu. Adrian melepas helmnya, menatapku lurus seraya mengukir senyum hangat yang selalu membuat dadaku berdesir. Kania mencium tangan Adrian berpamitan, dan Adrian mengacak pelan rambut adiknya, persis seperti gerakan lembut yang dilakukannya di kepalaku malam itu di halaman rumahku.

Adrian kembali menatapku dan tersenyum, namun aku memilih memalingkan muka, berpura-pura tak peduli dan berfokus penuh pada Kania.

"Tumben enggak telat nih?" tanyaku pada Kania.

"Iya, tumben banget dia udah bangun pagi-pagi," jawab Kania seraya menunjuk ke arah Adrian. "Masuk yuk!"

"Yuk," ajakku.

Melihat sikapku yang dingin dan mengabaikannya, Adrian tiba-tiba berseru memanggilku lagi dari atas motornya, "Sera!"

Langkah kami terhenti. Aku dan Kania sama-sama menoleh ke arahnya. Kania menatapku bingung. "Sera kenal sama Mas Adrian?"

"Enggak kok," jawabku acuh tak acuh. "Yuk masuk."

Kania mengangkat bahu pasrah lalu menoleh sebentar ke arah kakaknya. Dari sudut mata, kulihat Adrian masih memandangi kami berdua dengan raut wajah yang sulit diartikan. Suara deru mesin motornya menyala, lalu ia memutar gas meluncur pergi meninggalkan gerbang sekolah. Aku sempat mencuri pandang menatap punggungnya yang menjauh, meninggalkan goresan nyeri di dalam dadaku yang bahkan tak sanggup kujelaskan.

***

Aku dan Kania berjalan berdampingan menuju kelas. Di dalam, Dea, Irma dan Dini sudah sampai lebih dulu.

"Wih, tumben nih barengan? Tumben juga lo enggak telat, Nia?" ledek Dini begitu melihat kami masuk.

Aku hanya melempar senyum tipis lalu berjalan menuju bangkuku. "Kenapa aku harus mengawali hari dengan bertemu dia?"  batinku penuh sesak. Kurabahkan separuh tubuhku di atas meja, memeluk tas sekolah rapat-rapat untuk menyembunyikan wajahku yang muram.

"Sera!"

Suara heboh Celine yang baru tiba membuyarkan lamunanku. Celine berlari menghampiri meja seraya menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajahku.

"Sera, Sera, liat deh! Ini elo kan? Sama kakaknya Nia kan ini?" seru Celine antusias.

Di layar itu, tampak video rekaman saat aku dan Adrian tampil berduet di acara launching kafe milik Bang Bram. Petikan gitarku dan suara berat Adrian terdengar begitu menyatu.

"Keren banget Sera, sumpah!" puji Celine menggebu-gebu.

Aku tak terlalu menanggapi dan tetap membaringkan kepala di atas tas. Rasa penasaran menyebar cepat; Kania ikut mendekat dengan mata berbinar.

"Mana coba liat? Sera sama Mas Adrian?" celetuk Kania kepo.

Celine, Dea, Kania, dan Irma langsung berkumpul mengelilingi ponsel Celine untuk menonton video tersebut bersama-sama, sementara Dini saat itu sedang izin ke toilet.

"Pantesan aja tadi Mas Iyan manggil Sera di depan gerbang, ternyata kalian saling kenal!" goda Kania seraya tersenyum jahil padaku.

"Enggak, Nia... itu cuma enggak sengaja aja," sahutku pelan, berusaha menetralkan suasana. "Intinya waktu itu gue sama sahabat gue, Naura, datang ke *launching* kafe baru. Ada band yang batal tampil, dan karena gue kenal sama pemilik kafenya, gue ditawarin buat ngisi. Gue enggak tahu kalau bakal dipasangkan sama kakaknya Kania."

"Ohhh, begitu..." sahut mereka berbarengan sambil manggut-manggut paham.

Tak lama kemudian, langkah kaki Pak Bayu, guru matematika kamimemasuki ruangan.

"Selamat pagi, anak-anak."

Kerumunan di mejaku seketika bubar. Teman-teman kembali ke bangku masing-masing, dan pelajaran pun dimulai.

***

Sepulang sekolah, aku bergegas berjalan cepat menuju tempat penitipan motor. Di koridor, aku tak sengaja berpapasan dengan Celine.

"Bareng yuk!" ajakku pada Celine.

"Lo mau nebeng gue?" tanya Celine.

"Enggak, gue juga mau ambil motor di parkiran kok," jawabku.

"Oh, lo bawa motor juga."

Kami melangkah keluar gerbang sekolah bersama. Di trotoar depan gerbang, Celine menunjuk ke satu arah. "Eh, Nia tuh."

Melihat Kania sedang berdiri menunggu jemputan, aku buru-buru menarik lengan Celine. "Ya udah, biarin aja yuk. Gue buru-buru nih," bohongku cepat. Aku hanya ingin menghindari kemungkinan bertemu dengan Adrian yang mungkin saja sedang dalam perjalanan menjemput adiknya.

Setelah berpisah dengan Celine di parkiran motor, aku mengendarai Scoopy merahku membelah jalanan. Di sebuah persimpangan, aku meminggirkan motor sejenak dan merogoh ponsel di dalam tas untuk menelepon Naura.

"Ra, halo? Ra, gue ke sekolah lo sekarang ya. Gue tunggu di tempat biasa," ucapku begitu sambungan terhubung.

"Gue bentar lagi keluar nih. Oke, siap!" jawab Naura di seberang telepon.

Sekolah Naura tidak terlalu jauh dari sekolahku. Itu adalah salah satu SMA unggulan favorit di kota kami, sekolah berfasilitas megah yang dulu gagal kumasuki karena seleksinya yang teramat ketat. Naura dan Ray yang merupakan atlet berprestasi tentu bisa melenggang masuk ke sana dengan mudah.

Aku memarkirkan motor di depan kedai kecil di samping gerbang sekolah Naura, lalu duduk di salah satu sudut meja kayu yang teduh.

"Mbak, es cokelat satu ya," pesanku pada pelayan kedai.

Sembari menunggu, aku memperhatikan gerbang sekolah megah di hadapanku. Tak lama kemudian, pelayan datang membawakan pesananku. "Silakan, Kak..."

"Makasih, Mbak."

Baru saja aku menyeruput es cokelat dingin itu, sebuah notifikasi pesan masuk dari Naura di layar ponsel:

"Sera, tunggu 15 menitan yaa. Gue ada rapat ekskul dikit nih."

Aku menghela napas panjang, bersandar di kursi kayu. "Hadehhh... untung gue sayang sama lo, Ra," gumamku pelan.

Tahu bahwa Naura akan sedikit lama, aku kembali memanggil pelayan kedai. "Mbak, saya pesen kentang goreng satu ya."

"Baik, Kak, tunggu sebentar ya," jawab pelayan itu ramah seraya berlalu menuju dapur. Aku kembali menyesap es cokelatku, membiarkan manis dinginnya sedikit mengikis sesak yang menggantung sejak pagi.

Notifikasi ponselku kembali berbunyi sekali lagi. Sebuah pesan singkat dari Adrian muncul di layar.

"Hai Sera."

Ngapain dia ngirim chat? Apa pacarnya udah pergi lagi? Dia pikir aku ban serep? gerutuku dalam hati.

Aku putuskan untuk tidak menghiraukannya. Kutaruh kembali ponsel itu di atas meja kayu kedai dengan ketukan agak keras.

Tak lama kemudian, layar ponselku menyala lagi menampilkan pesan susulan darinya:

"Sera? Mas ada bikin salah, ya? Mas minta maaf kalau Mas ada bikin salah."

Aku tetap bergeming, membiarkan pesan itu menggantung tanpa niat sedikit pun untuk membalasnya.

Di tengah usahaku mengalihkan pandangan ke jalanan depan sekolah Naura, mataku mendadak menangkap sosok yang tak asing dari kejauhan. Indah. Ia tampak santai berjalan lalu menaiki boncengan motor yang dikendarai oleh seorang siswa berseragam sekolah lain.

Apa benar Indah udah putus sama Ray?  tanyaku dalam hati, memperhatikan motor itu melaju hingga menghilang di persimpangan jalan.

1
Ana Maria
seruuu
Andari Nasution
semangat
Sri Wulandari
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!