Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Kultivasi Sandera

Sistem Kultivasi Sandera

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi Timur
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Sentuh Aku, Leluhurmu Tamat!

Lahir dengan meridian rapuh dan dijadikan samsak hidup oleh murid dalam sekte, Gu Ran membangkitkan sistem anomali yang menghubungkan nyawanya dengan figur terkuat dari siapa pun yang menindasnya. Semakin keras musuh mencoba melukainya, semakin sekarat leluhur tertinggi mereka sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Ratusan lampion sutra merah bergantungan di bawah langit-langit kayu gaharu Balai Perjamuan Agung, menebarkan cahaya temaram yang hangat ke atas karpet beludru merah.

Malam Perjamuan Musim Gugur adalah ajang diplomasi tahunan terbesar di Pegunungan Selatan. Puluhan meja pernis panjang dipadati para tetua inti, perwakilan keluarga bangsawan, dan delegasi dari sekte-sekte tetangga yang datang membawa peti hadiah persembahan.

Dentang cawan giok beradu dengan petikan senar kecapi tujuh dawai, menyamarkan ketegangan politik antar-wilayah yang mendidih di balik senyum ramah para tamu.

Di barisan meja kehormatan paling depan, Gu Ran duduk bersila santai di atas bantal sutra emas.

Jubah sutra putih yang ia kenakan tampak bersih mengkilap tanpa lipatan. Di jari manis kanannya, cincin giok master Paviliun Harta memantulkan pendar hijau lembut setiap kali ia menggerakkan tangannya mengambil cawan arak buah persik.

Tepat di samping kursinya, Song Ming berdiri tegak dengan wajah kaku.

Setiap kali ada piring hidangan baru yang diantarkan ke meja Gu Ran, sang Tuan Muda Sekte segera mencabut sepasang sumpit perak, menelan sesendok kuah sup atau sepotong daging bebek panggang, lalu menunggu selama beberapa menit dengan napas tertahan.

Melihat pewaris tahta Sekte Pedang Langit bertindak layaknya kasim penguji racun, beberapa utusan sekte luar berbisik-bisik di balik lengan jubah mereka.

“Saudara Cilik Gu tampaknya sangat menikmati arak pegunungan selatan.”

Sebuah suara serak dan dingin terdengar dari meja tamu kehormatan di seberang aula.

Seorang lelaki tua bertubuh kurus dengan jubah hitam bersulam kalajengking perak mengangkat cawan araknya. Tetua Mo Yan, utusan utama dari Sekte Racun Lembah Hitam, menatap Gu Ran dengan sepasang mata sipit yang dipenuhi rasa penasaran beracun.

Kabar mengenai seorang budak penempa yang mendadak mengguncang hierarki Sekte Pedang Langit telah sampai ke telinga para penguasa lembah selatan. Mereka mencium aroma kelemahan internal yang bisa dimanfaatkan.

“Araknya lumayan manis,” jawab Gu Ran datar tanpa mengangkat pantatnya dari bantal duduk. Ia hanya menyesap bibir cawannya sedikit, membiarkan aroma buah persik membasahi lidahnya.

Tetua Mo Yan tersenyum tipis, lalu menenggak cawannya hingga tandas.

Di tengah aula, irama petikan kecapi mendadak beralih menjadi tempo cepat yang menggebu-gebu. Belasan penari wanita berjubah sutra tipis melangkah masuk, mengibaskan selendang merah di udara dan membentuk formasi lingkaran yang menutupi pandangan antar-meja.

Lilin-lilin di dinding aula dipadamkan satu per satu untuk menambah kemegahan tarian lentera, menyisakan bayangan temaram yang bergerak liar di pilar-pilar ruangan.

Di tengah keremangan itu, seorang pelayan penyaji arak melangkah hening di belakang kursi Gu Ran.

Langkah kakinya begitu ringan, tanpa menimbulkan desau gesekan kain sedikit pun di atas karpet beludru. Tangannya memegang sebuah teko porselen tembaga, namun di sela jari telunjuk kanannya, sebuah cincin perak berpahat duri halus tersembunyi rapi.

Pelayan itu membungkuk di samping bahu kiri Gu Ran, seolah hendak menuangkan arak tambahan ke cawannya.

KLIK!

Sebuah pegas mekanis mikro di dalam cincin perak berdetak sangat halus, nyaris tak terdengar di balik tabuhan gendang tarian.

Dari lubang jarum cincin tersebut, sebatang jarum perak hitam berukuran setipis rambut melesat keluar. Jarum Pembakar Jiwa—senjata pembunuh terkutuk yang dilapisi racun pemusnah sukma—meluncur lurus membelah udara temaram, mengarah tepat ke titik akupunktur urat leher belakang Gu Ran!

Kecepatan jarum itu secepat kedipan mata. Jaraknya hanya tersisa satu ruas jari dari kulit leher Gu Ran yang terbuka tanpa pelindung.

Di saat yang paling kritis itu, sebuah dengung mekanis dingin meledak bagai guntur di dalam rongga kepala Gu Ran.

TENGGG!

Pandangan Gu Ran seketika melambat, terhenti dalam pembekuan waktu kausalitas saat antarmuka transparan merah darah meledak di depan matanya:

[PERINGATAN DARURAT: Bahaya Kematian Fatal Terdeteksi!]

[Serangan: Jarum Pembakar Jiwa (Jarak: 2 Sentimeter).]

[Mekanisme Pertahanan Kausalitas Membuka Slot Sandera Tambahan (Slot 2).]

[Sistem Telah Mengunci Jejak Benang Jiwa Dalang Intelektual di Meja Tamu Kehormatan: Tetua Mo Yan (Alam Inti Emas Tingkat 9).]

[Hubungkan Benang Kausalitas Jiwa Sekarang?]

Ujung jarum hitam beracun itu tinggal berjarak sehelai rambut dari pori-pori kulit leher Gu Ran.

1
Selarik Syarah
system model baru, menarik utk di baca
Rayzent
🔥👀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!