JUDUL: BERANDAL
GENRE: Romantis / Aksi / Posesif
TAG: #Badboy #GengMotor #Protective #DarkRomance #EksanPrasetya
***
"Kenapa kau menolongku? Kau tahu aku ini berandal jalanan, kan?"
"Nasya cuma tidak mau melihatmu mati di depan rumah..."
"Kau sudah menyelamatkan nyawaku, Nasya. Di duniaku, sekali kau terlibat dengan seorang berandal, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi. Mulai hari ini, kau adalah milikku."
***
Eksan tidak pernah memilih untuk menjadi berandal. Namun, kerasnya kehidupan jalanan menempanya menjadi pemimpin faksi pemuda yang paling ditakuti di dalam gang kota. Di balik seragam sekolahnya yang koyak dan jaket hitam berlambang mawar berdarah di lengannya, Eksan adalah definisi nyata dari kata berandal—dingin, ugal-ugalan, dan tak tersentuh hukum. Bagi Eksan, hidup di jalanan hanya tentang satu prinsip: "Dalam gang, hidup berani, mati berarti."
Hingga suatu malam, setelah pertempuran berdarah yang nyaris merenggut nyawanya, Eksan yang terluka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denis Suhendar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Amarah Sang Penguasa Jalanan
Suasana di sepanjang trotoar jalan sepi di depan sekolah itu mendadak mendingin dengan sangat ekstrem, seolah-olah pasokan oksigen di sekitar area tersebut baru saja tersedot habis oleh kehadiran Eksan. Dua anak buah geng Red Wolf yang tadinya mencengkeram kuat lengan Nasya secara refleks langsung melonggarkan pegangan mereka. Tubuh mereka gemetar samar saat sepasang mata elang milik Eksan menghujam lurus ke arah tangan mereka dengan pancaran kebencian yang nyata. Aura intimidasi tingkat tinggi yang dipancarkan oleh sang berandal tertinggi faksi Black Cobra itu terlalu pekat untuk diabaikan begitu saja, bahkan dalam kondisi tubuh Eksan yang sebenarnya masih dipenuhi oleh balutan perban luka.
"E-Eksan..." cicit Nasya dengan suara yang sangat lirih di tengah sisa isak tangis ketakutannya. Rasa takut luar biasa yang sempat melumpuhkan seluruh persendian tubuhnya kini mendadak berganti dengan secercah harapan yang membuncah besar saat melihat sosok tegap pemuda itu berdiri kokoh bagaikan benteng yang siap melindunginya dari marabahaya.
Wakil ketua Red Wolf, pria dengan tato serigala besar di sepanjang lengan kanannya itu, sempat tertegun selama beberapa detik melihat kehancuran salah satu motor sport merah milik anak buahnya yang kini sudah ringsek tak berbentuk. Namun, ego tinggi dan gengsi dunia jalanan segera menguasai kembali akal sehatnya yang tumpul. Pria beringas itu meluapkan tawa hambar yang dipaksakan, mencoba menutupi detak jantungnya sendiri yang sebenarnya mulai berdegup kencang karena rasa gugup yang mendera batinnya.
"Hahaha! Lihat siapa yang datang merangkak menyerahkan nyawanya secara sukarela ke hadapanku!" teriak pria bertato itu sambil melangkah maju dua langkah, mencoba menantang dominasi absolut yang dimiliki oleh Eksan. "Kau berani mengancam keselamatan kami dalam kondisi tubuh yang sekarat seperti itu, Eksan?! Perutmu baru saja dirobek oleh pisau kami semalam, dan sekarang kau bertingkah sok jagoan seolah-olah kau masih seorang raja jalanan yang tak bisa dikalahkan?! Dasar berandal sombong!"
Eksan sama sekali tidak membalas provokasi murahan yang diteriakkan oleh musuhnya tersebut dengan kata-kata. Sudut bibirnya yang terluka parah hanya terangkat sedikit ke atas, membentuk sebuah seringai dingin yang luar biasa mengerikan dan penuh dengan sinisme. Detik berikutnya, tanpa memberikan aba-aba atau peringatan sedikit pun, tubuh tegap Eksan bergerak melesat maju dengan kecepatan gila yang sangat tidak masuk akal bagi ukuran seorang remaja pria yang sedang menahan luka robek di tubuhnya.
*BUGH!*
Satu pukulan mentah dengan kepalan tangan kanan yang berkekuatan penuh langsung menghantam telak bagian rahang kiri sang wakil ketua Red Wolf sebelum pria bertato itu sempat mengangkat kedua tangannya untuk memasang posisi bertahan. Bunyi berderak yang sangat mengerikan dari tulang rahang yang bergeser atau retak terdengar begitu nyaring di udara yang sunyi, disusul oleh tubuh kekar pria bertato itu yang langsung terpental ambruk ke atas permukaan aspal trotoar yang basah. Pria itu langsung memuntahkan cairan merah pekat dari mulutnya yang robek, mengerang kesakitan yang teramat sangat.
"Bos!" teriak kedua anak buah Red Wolf secara bersamaan dengan nada suara yang melengking panik. Wajah garang mereka seketika berubah pucat bagaikan mayat saat melihat pemimpin faksi mereka ditumbangkan hanya dalam satu kali serangan brutal tanpa ampun oleh Eksan.
Eksan berdiri dengan tegak dan angkuh di atas tubuh musuhnya yang terkapar mengerang memegangi wajahnya. dan tangan kanannya yang tampak sedikit memerah akibat benturan keras tadi, lalu perlahan-lahan mengalihkan pandangan matanya yang pekat, gelap, dan penuh dengan nafsu membunuh ke arah dua anak buah musuh yang masih tersisa di tempat itu.
"Kalian berdua... mau melepaskan tangan kotor kalian dari gadisku sekarang juga, atau mau aku patahkan pergelangan tangan kalian secara permanen detik ini juga?" tanya Eksan dengan nada suara yang terdengar sangat tenang, datar, namun memiliki getaran dingin yang menusuk layaknya bilah es tajam langsung ke ulu hati mereka.
Mendengar ancaman mematikan yang tidak main-main itu, kedua anak buah Red Wolf langsung melepas cengkeraman mereka pada tubuh Nasya seolah-olah kulit gadis itu adalah lempengan besi panas membara yang bisa menghancurkan jemari tangan mereka. Mereka melangkah mundur teratur dengan posisi kaki yang limbung karena ketakutan yang luar biasa, lalu dengan terburu-buru membopong tubuh wakil ketua mereka yang sudah setengah tidak sadarkan diri untuk segera dinaikkan ke atas salah satu motor sport merah yang masih bisa menyala.
*Vroom! Vroom!*
Tanpa memedulikan motor rekan mereka yang satu lagi yang sudah hancur berkeping-keping akibat hantaman motor Eksan, sisa-sisa anggota geng Red Wolf itu langsung memutar tuas gas motor mereka sekencang-kencangnya. Mereka melesat kabur melarikan diri dari area trotoar tersebut menembus jalan raya, meninggalkan kepulan asap knalpot hitam dan rasa ketakutan yang mendalam di belakang mereka. Mereka tahu betul, memaksakan pertempuran jarak dekat melawan seorang Eksan yang sedang mengamuk demi melindungi wanitanya adalah tiket gratis menuju ruang unit gawat darurat rumah sakit.
Setelah memastikan suasana di sekeliling jalanan trotoar kembali sunyi dan seluruh musuh telah menjauh sepenuhnya dari pandangan, aura haus darah yang tadi memancar pekat dari tubuh Eksan perlahan-lahan mulai meredup dan menghilang. Pemuda berandal itu mengembuskan napas berat yang terasa panas dari tenggorokannya, lalu secara refleks tangan kirinya langsung bergerak memegangi perut bagian kirinya yang mendadak terasa luar biasa perih dan panas. Noda merah segar yang pekat mulai merembes perlahan di balik kain seragam sekolah putihnya yang sudah acak-acakan. Jahitan lukanya akibat pertempuran semalam ternyata benar-benar robek kembali akibat gerakan fisiknya yang terlalu dipaksakan demi menyelamatkan keselamatan Nasya dari bahaya penculikan.
Nasya yang melihat hal mengerikan itu langsung berlari mendekat tanpa memedulikan lagi rasa takutnya pada status berandal jalanan yang melekat kuat pada diri Eksan. "Eksan! Lukamu... lukamu berdarah lagi dengan sangat banyak!" seru Nasya dengan nada suara yang penuh kepanikan yang luar biasa. Kedua belah tangan mungilnya mengambang di udara tepat di depan dada bidang Eksan, merasa sangat bingung, cemas, sekaligus takut untuk menyentuh tubuh pemuda itu yang sedang menahan rasa sakit yang mendera.
Eksan menatap ke arah wajah Nasya yang saat ini masih basah dan berantakan oleh sisa-sisa air mata ketakutannya. Bukannya mengkhawatirkan kondisi tubuhnya sendiri yang kembali bersimbah darah segar, Eksan justru mengulurkan tangan kanannya yang kasar. Jemari besarnya yang Penuh kapalan bergerak dengan sangat lembut menghapus sisa tetesan air mata yang mengalir di pipi mulus Nasya. Sentuhan telapak tangannya terasa begitu hangat dan penuh kasih sayang, berbanding terbalik dengan kekejaman brutal tanpa ampun yang baru saja ia tunjukkan pada musuh-musuhnya beberapa menit yang lalu.
"Kenapa kau masih menangis, hah? Aku kan sudah pernah bilang kepadamu semalam kalau kau sekarang berada di bawah perlindunganku sepenuhnya, Gadis Kecil," bisik Eksan dengan suara rendah yang terdengar serak namun dipenuhi oleh kelembutan yang sangat asing bagi jiwanya yang terbiasa dingin dan keras. "Selama aku masih bisa mengembuskan napas di atas jalanan kota ini, tidak akan ada satu ekor serigala pun dari geng musuh yang boleh menyentuh seujung kuku dari apa yang sudah menjadi milikku."
Nasya menggigit bibir bawahnya erat-erat, menatap kalung rantai perak berbentuk kepala kobra bermata merah yang kini menggantung jelas di luar kerah baju seragam sekolahnya. "Mereka... mereka mencari karena kalung ini, Eksan. Mereka semua bilang kepadaku bahwa aku hanyalah kelemahan terbesarmu yang baru..."
Mendengar kalimat pasrah yang diucapkan oleh Nasya, Eksan menarik kembali tangannya perlahan, lalu menyandarkan tubuh tegapnya pada jok motor gede hitamnya yang mesinnya masih menyala. Tatapan matanya yang pekat kembali mengeras dengan tajam, namun kali ini bukan karena luapan amarah pada musuh, melainkan sebuah ketetapan hati yang absolut dan tak bisa diganggu gugat oleh siapa pun.
Ia merangkul kedua belah pundak kecil Nasya dengan lembut namun penuh penekanan yang tegas, memaksa gadis polos itu untuk menatap langsung masuk ke dalam yang pekat dan dalam.
"Mereka semua salah besar tentang hal itu, Nasya," ucap Eksan dengan nada suara yang bergetar penuh penekanan posesif yang sangat kuat membelenggu. "Kau sama sekali bukan kelemahanku di dunia jalanan ini. Tapi mulai hari ini dan seterusnya, kau adalah satu-satunya alasan terbesar bagiku untuk menghancurkan dan meratakan siapa saja yang berani mengusik ketenangan duniaku."
Eksan mematikan mesin motornya sejenak, lalu meraih dan memberikan sebuah helm hitam cadangan milik faksi Black Cobra kepada Nasya. "Naik ke atas motorku sekarang juga tanpa banyak bertanya lagi. Area gang perumahan di sekitar rumahmu sudah tidak aman lagi untuk kau tinggali sendirian setelah kejadian siang ini. Aku akan membawamu ke sebuah tempat tersembunyi yang jauh lebih aman dari jangkauan mereka."