Handoko Priambodo dan Mellisa Ariani pernah saling mencintai saat masih kuliah. Namun, impian mereka kandas ketika Handoko melanjutkan studi S2 ke luar negeri, memaksa mereka berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.
Puluhan tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di acara lamaran putra Handoko dengan putri Mellisa. Pertemuan itu membangkitkan kembali cinta lama yang seharusnya telah terkubur.
Di balik status mereka sebagai calon besan, terjalin kembali hubungan terlarang yang mengancam menghancurkan rumah tangga, melukai anak-anak mereka, dan mengoyak dua keluarga sekaligus.
Akankah mereka memilih cinta masa lalu, atau mempertahankan kebahagiaan anak-anak mereka?
Karena terkadang, **besan adalah maut**.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Sesal yang Datang Bersamaan
Mellisa dan Handoko masih berada di Kafe Biru. Keduanya terdiam cukup lama, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Pertemuan yang awalnya hanya ingin membuka kembali cerita masa lalu itu justru membawa mereka pada satu kesadaran pahit: begitu banyak hal yang seharusnya tidak terjadi jika waktu itu mereka tidak terpisah oleh keadaan dan kesalahpahaman.
Mellisa menundukkan wajahnya.*Seandainya waktu itu aku tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. Seandainya aku tidak langsung percaya pada apa yang dikatakan orang rumahnya. Mungkin semuanya tidak akan seperti ini.* Dadanya terasa sesak.
Sementara itu, Handoko pun menatap meja di hadapannya dengan pikiran yang tidak kalah berat.
*Seandainya waktu itu aku lebih cepat pergi ke Bandung. Seandainya aku tahu Mellisa mencariku dan aku bisa menjelaskan semuanya sebelum dia menikah. Mungkin pernikahannya dengan Riza masih bisa digagalkan.*
Namun, semua itu hanyalah seandainya. Kenyataan tidak pernah mengenal kata kembali.
Nasi sudah menjadi bubur. Apa yang telah terjadi tidak mungkin diulang. Mereka hanya bisa menatap masa lalu dari tempat mereka berdiri sekarang, dengan luka dan penyesalan yang sama-sama tidak bisa dihapus.
Handoko akhirnya mengangkat wajahnya. "Mel..."
Mellisa menatapnya. "Bagaimana pernikahanmu dengan laki-laki yang melamarmu itu?" tanya Handoko pelan. "Apakah kamu bahagia?"
Pertanyaan itu membuat Mellisa terdiam. Beberapa detik kemudian, dia hanya menggeleng.
Seketika, pikirannya kembali pada masa lalu. Pada perjalanan bulan madu mereka ke Paris.
***
Paris seharusnya menjadi tempat yang indah untuk memulai kehidupan baru.
Mellisa berusaha keras meyakinkan dirinya bahwa dia harus melupakan Handoko. Dia mencoba menikmati setiap sudut kota yang mereka datangi bersama Riza. Dia tersenyum, tertawa, bahkan sesekali bergelayut manja di lengan suaminya ketika mereka berjalan menyusuri jalanan Paris.
Di hadapan Riza, dia berusaha terlihat bahagia.
Namun, di dalam hatinya, nama Handoko masih tertinggal.
Bayangan laki-laki itu sesekali muncul begitu saja. Kenangan masa kuliah mereka, percakapan-percakapan sederhana, perhatian-perhatian kecil yang dulu terasa biasa, semuanya kembali hadir ketika Mellisa justru sedang berusaha menguburnya.
Malam itu, mereka kembali ke hotel setelah seharian menikmati suasana Paris. Kamar hotel terasa tenang. Lampu temaram menerangi ruangan, menciptakan suasana hangat dan romantis. Riza mendekati Mellisa dengan kelembutan seorang suami yang ingin menjadikan malam itu sebagai awal kehidupan mereka.
Mellisa sempat memejamkan mata. Dia tahu, setelah menikah, inilah kehidupan yang harus dia jalani.
Maka malam itu, dia mencoba berhenti melawan perasaannya sendiri. Dia menerima Riza sepenuh yang dia mampu. Dia menyerahkan dirinya kepada laki-laki yang kini telah menjadi suaminya, berharap kedekatan itu bisa membuat hatinya perlahan berpindah.
Untuk sesaat, Mellisa mencoba percaya bahwa mungkin beginilah caranya melupakan masa lalu.
Malam berlalu dalam keheningan yang penuh kelembutan. Riza memperlakukannya dengan kasih sayang, sementara Mellisa berusaha membalasnya dengan ketulusan yang masih dia cari di dalam dirinya.
Namun, hati rupanya menyimpan sesuatu yang tidak bisa dikendalikan. Ketika akhirnya tertidur, pertahanan Mellisa runtuh.
Dalam tidurnya, bibirnya bergerak pelan. "Mas Handoko..."
Riza yang masih terjaga seketika membuka mata.
Dia menoleh kepada Mellisa. Mungkin dia berharap dirinya salah dengar. Namun beberapa saat kemudian, nama itu kembali terdengar.
"Mas Handoko..."
Raut wajah Riza berubah. Dia membangunkan Mellisa.
"Mel."
Mellisa membuka mata dengan bingung.
"Siapa Handoko?"
Mellisa terdiam.
"Siapa dia?" ulang Riza, kali ini dengan suara yang jauh lebih keras.
"Mas..."
"Jangan bilang kamu tidak tahu siapa yang baru saja kamu sebut!"
Mellisa mulai panik. Dia mencoba menjelaskan, tetapi dalam keadaan terdesak, tidak ada lagi alasan yang bisa dia sembunyikan.
Akhirnya, air matanya jatuh. "Dia... orang yang pernah aku cintai."
Pengakuan itu membuat Riza terpaku. "Orang yang pernah kamu cintai?"
Mellisa menunduk. "Aku sudah berusaha melupakannya, Mas."
"Tapi kamu masih mengingat dia."
Mellisa tidak menjawab. Dan diamnya justru menjadi jawaban paling menyakitkan bagi Riza.
Sejak malam itu, bulan madu mereka berubah menjadi perjalanan yang penuh keheningan.
Riza tidak lagi bersikap seperti sebelumnya. Dia tetap membawa Mellisa mengunjungi tempat-tempat yang sudah mereka rencanakan, tetapi kemesraan itu menghilang. Tidak ada lagi gurauan, tidak ada lagi percakapan hangat.
Riza lebih banyak diam. Dan sejak malam itu, dia tidak pernah menyentuh Mellisa lagi. Mereka pulang dari Paris dengan hubungan yang jauh berbeda dari ketika berangkat.
Sesampainya di Indonesia pun keadaan tidak membaik. Riza bahkan sempat berpikir untuk langsung menceraikan Mellisa. Baginya, hidup bersama perempuan yang masih menyimpan cinta untuk laki-laki lain terasa terlalu menyakitkan.
Namun, sebelum keputusan itu benar-benar diambil, Mellisa mengetahui bahwa dirinya hamil.
Kehamilan itu membuat Riza mengurungkan niatnya.
Dia tidak ingin anak yang tidak berdosa menjadi korban dari persoalan mereka. Akhirnya, mereka tetap menjalani pernikahan itu. Bukan karena luka Riza sudah sembuh. Bukan pula karena Mellisa sudah sepenuhnya melupakan Handoko.
Mereka hanya memilih bertahan karena ada seorang anak yang kini mengikat kehidupan mereka.
***
Kenangan itu perlahan memudar dari benak Mellisa. Dia kembali menatap Handoko yang masih duduk di hadapannya.
"Bahagia?" Mellisa mengulang pertanyaan itu lirih.
Dia tersenyum tipis, tetapi senyum itu sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan. "Aku bahkan tidak tahu bagaimana rasanya bahagia dalam pernikahanku, Mas."
Handoko terdiam. Dadanya terasa sesak mendengar jawaban itu. Kini dia tahu, ternyata bukan hanya dirinya yang kehilangan kesempatan. Mellisa pun telah menjalani bertahun-tahun kehidupan yang seharusnya tidak pernah menjadi miliknya.
Dan semua itu bermula dari sebuah kesalahpahaman yang tidak pernah sempat mereka luruskan.
Bagian ini bisa dibuat sebagai lanjutan yang menunjukkan bahwa mereka akhirnya memilih berpisah secara baik-baik demi Kania.
Seiring berjalannya waktu, hubungan Mellisa dan Riza tidak juga menemukan jalan untuk kembali seperti semula. Mereka tetap tinggal dalam ikatan pernikahan, tetapi kehidupan yang mereka jalani lebih menyerupai dua orang yang sekadar berbagi rumah daripada sepasang suami istri.
Riza masih menyimpan luka dari pengakuan Mellisa tentang Handoko. Sementara Mellisa pun tidak pernah benar-benar mampu menghapus masa lalu dari hatinya. Mereka sama-sama berusaha bertahan, terutama demi Kania yang semakin tumbuh besar.
Namun, ketika Kania mulai masuk taman kanak-kanak, keduanya akhirnya menyadari bahwa mempertahankan pernikahan tanpa adanya kebahagiaan justru tidak akan menyelesaikan apa pun.
Mereka kemudian mengambil keputusan yang tidak mudah. Berpisah.
Bukan dengan pertengkaran atau saling menyalahkan, melainkan melalui sebuah kesepakatan bahwa apa pun yang terjadi di antara mereka, Kania tetap harus mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Mellisa dan Riza sepakat untuk tetap menjadi ayah dan ibu yang baik bagi putri mereka. Mereka akan membesarkan Kania bersama, memastikan anak itu tidak pernah merasa kehilangan salah satu dari kedua orang tuanya hanya karena pernikahan mereka telah berakhir.
Pada akhirnya, mereka melepaskan satu sama lain agar masing-masing bisa menjalani kehidupan dengan lebih tenang.
Dan Kania menjadi satu-satunya alasan yang membuat mereka tetap mampu duduk bersama, berbicara dengan baik, dan bekerja sama sebagai orang tua.
Mereka tidak lagi menjadi pasangan. Tetapi mereka tetap menjadi dua orang tua bagi seorang anak yang sama-sama mereka cintai.a