Indonesia
NovelToon NovelToon
TAWANAN MUSUHKU

TAWANAN MUSUHKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Zaara 26

ZONA DEWASA‼️
Luna seorang mahasiswa yang berkuliah di universitas elite di ibukota menyembunyikan identitasnya yang seorang putri tunggal dari pengusaha yang diambang kebangkrutan, dia pun melarikan diri dari rumahnya karna hendak di jodohkan.
Di kampusnya ia jatuh cinta dengan Adrian Xander Mahasiswa terpopuler di universitas Legacy.
Namun secara tidak sengaja Luna mengalami sebuah peristiwa yang membuatnya terikat dengan Moreno Xander yang juga merupakan saudara tiri Adrian
Apa yang akan terjadi pada kehidupan Luna setelah dia dihadapkan dengan dua Xander bersaudara???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Sepeninggal Moreno, Luna melangkah pelan memindai kamar asing yang kini resmi menjadi ruang pribadinya. Ruangan itu didominasi warna krem dan abu-abu lembut dengan pencahayaan hangat. Dekorasinya terbilang minimalis dan sederhana, namun setiap furniturnya memancarkan kesan elegan dan premium.

​"Selera bule sinting itu bagus juga ternyata..." gumam Luna pelan di tengah keheningan kamar.

​Dengan sisa tenaga yang ada, Luna menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur king size yang sangat empuk. Rasa lelah yang luar biasa seketika menyergap seluruh persendiannya. Hari ini benar-benar berjalan seperti mimpi buruk yang sangat panjang.

​Saat jemarinya meraba area sekitar tempat tidur, Luna baru tersadar kalau tas dan ponselnya tidak ada.

​"Ah... tas sama HP gue masih ketinggalan di mobil Moreno," batinnya.

​Luna memejamkan mata sejenak, memutuskan untuk memintanya besok pagi saja. Lagipula, malam ini ia harus memaksakan fisiknya untuk beristirahat total. Besok pagi daftar panjang pekerjaannya sebagai "babu" sudah menanti.

​Namun, tepat sebelum matanya benar-benar terlelap, bayangan wajah sang ibu mendadak melintas kuat di benaknya. Wajah ibunya yang pucat, terbaring tak berdaya di balik kaca ruang ICU dengan selang medis yang menopang hidupnya.

​Seketika, rasa sesak menjejali dadanya. Tanpa mampu ditahan, bulir-bulir air mata menetes membasahi bantal tempatnya berbaring.

​"Mama... Luna kangen..." bisik Luna lirih, suara terisaknya tenggelam di dalam kegelapan kamar.

​Dengan dada yang sakit menahan rindu dan penderitaan, Luna akhirnya tertidur dalam lelap yang penuh dengan kepasrahan.

​Mobil sport berkecepatan tinggi yang dikemudikan Moreno membelah jalanan malam ibu kota yang mulai lengang.

Kendaraan mewah itu akhirnya berbelok dan berhenti tepat di area parkir khusus belakang sebuah klub malam eksklusif bernama “Culture”—sebuah tempat megah yang selama ini dikenal publik sebagai salah satu pusat hiburan malam paling elite, namun diam-diam juga berfungsi sebagai markas tak resmi bagi Moreno dan gengnya.

​Berbeda dari pengunjung pada umumnya, Moreno tidak masuk melalui pintu utama yang berkilau sorot lampu neon. Ia memilih melewati pintu samping yang tersembunyi, akses khusus yang hanya boleh dilewati oleh para staf dan petinggi klub.

​Moreno melangkah dengan aura dingin menyelimuti tubuhnya, menyusuri koridor sempit dengan pencahayaan yang minim. Langkah kakinya tegas di atas lantai keramik hingga akhirnya berhenti tepat di depan sebuah pintu kayu berlabel khusus.

​Tanpa membuang waktu untuk mengetuk, Moreno langsung memutar gagang pintu dan masuk ke dalam. Ruangan di baliknya jauh dari kesan hingar-bingar musik klub; tempat itu lebih mirip sebuah ruang kantor pribadi yang kedap suara, rapi, dan beraroma maskulin.

​Seorang pria berjas rapi yang tengah membereskan beberapa berkas langsung tersentak kaget. Menyadari siapa yang datang, staf kepercayaan itu buru-buru berdiri dan membungkuk hormat.

​"Selamat datang, Bos," sambut pria itu cepat.

​Moreno hanya bergumam pelan, “Hmm.”

​Ia melangkah lurus menuju sofa kulit hitam di sudut ruangan lalu menghempaskan tubuhnya dengan santai.

​"Bagaimana laporan pemasukan klub minggu ini?" tanya Moreno straight to the point, menyilangkan kakinya.

​Tanpa jeda, staf tersebut langsung menyambar laptop di atas meja dan mendekat. Layar laptop itu menampilkan grafik serta data finansial lengkap pendapatan Culture selama tujuh hari terakhir.

​Moreno mencondongkan tubuhnya ke depan. Sepasang mata tajamnya meneliti setiap angka dan laporan dengan sangat cermat, tidak melewatkan detail sekecil apa pun. Beberapa detik kemudian, ia mengangguk tipis.

​"Kinerja kalian minggu ini lumayan bagus. Pertahankan terus," ujar Moreno datar. Ia mengalihkan pandangannya, menatap tajam ke arah stafnya.

"Satu hal lagi yang paling penting... pastikan identitas gue sebagai pemilik utama klub ini tetap aman. Jangan sampai ada satu pun orang dari keluarga Xander yang tahu."

​Pria itu mengangguk patuh. "Baik, Bos. Privasi Anda aman bersama kami,"

​Merasa urusannya di ruang kantor sudah beres, Moreno bangkit berdiri dari sofa. Ia merapikan jaketnya sejenak sebelum melangkah keluar ruangan, berjalan menuju area depan klub untuk bergabung dan menemui teman-teman segengnya yang sudah menunggu.

​Begitu bayangan tubuh tinggi Moreno muncul di area VIP , teman-teman terdekatnya langsung menyambut dengan gembira dan siulan nyaring.

​"Wih, dateng juga bos besar kita! Dari mana aja lo, Ren? Baru keliatan batang hidungnya!" seru Dimas, salah satu sahabat dekatnya, dengan cengiran lebarnya.

​Moreno hanya mendengus pelan, menjawab pertanyaan itu dengan gumaman asal-asalan tanpa berniat menjelaskan panjang lebar.

"Biasalah ada urusan..!!

"Urusan mulu sih lo!! balas Dimas.

​"Udah, gak usah diinterogasi! Sini lu, duduk!" timpal teman yang lain sambil menepuk-nepuk sofa kosong di sebelah mereka.

"Kita udah pesen banyak wine mahal nih. Temenin kita teler malam ini!"

​Moreno mengangguk acuh tak acuh. Ia melangkah mendekat, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa empuk. Dengan gerakan santai, ia menuangkan cairan merah pekat itu ke dalam gelas kaca, lalu menyulut sebatang cerutu dan menghisapnya perlahan, membiarkan asap kelabu mengepul di udara remang-remang klub.

​Di tengah obrolan santai itu, Adit—teman Moreno yang duduk di seberangnya—tiba-tiba menyenggol lengan Moreno sambil tersenyum penuh arti.

​"Eh, Ren. Ngomong-ngomong soal cewek, tadi ada yang nitip salam pengen kenalan sama lu. Katanya sih, anak satu kampus sama kita," bisik Adit melirik ke arah meja sebelah.

​Moreno hanya melirik sekilas, sama sekali tidak tertarik. "Oh, ya?" sahutnya datar.

​Mendapat lampu hijau, Adit langsung menoleh ke arah seorang gadis berpenampilan seksi yang duduk tak jauh dari mereka.

"Sasha, sini!" panggil Adit.

​Gadis bernama Sasha itu tersenyum manis, lalu beranjak menghampiri meja mereka. Adit menunjuk ke arah Moreno.

"Nah, Ren, kenalin... ini Sasha."

​Sasha berdiri di dekat Moreno, melempar tatapan memuja. Tanpa menunggu aba-aba lebih lama, Sasha langsung bergeser duduk tepat di sebelah Moreno, memangkas jarak hingga aroma parfum manisnya menyeruak. Sasha menjulurkan tangan kanannya dengan jemari lentik.

​"Hai, Ren. Aku Sasha," sapanya dengan suara yang dibuat semanis mungkin.

​Moreno menatap uluran tangan itu sejenak dengan sorot mata dingin. Ia menyambutnya, namun hanya bersalaman sekadarnya—tidak lebih dari satu detik—sebelum langsung menarik kembali tangannya.

​Sasha tidak patah arang. Ia merapikan rambutnya, lalu tersenyum salah tingkah.

"Aku sering banget lihat kamu di kampus, Ren. Sebenarnya udah lama pengen kenalan, tapi... ya, jujur aja aku agak malu."

​Moreno menyesap wine-nya perlahan, lalu menghembuskan napas kasarnya ke udara. Tanpa basa-basi khas buaya darat pada umumnya, Moreno menatap lurus mata gadis itu.

​"Sekarang udah kenal, kan?" tanya Moreno dengan nada datar yang menusuk. "Terus... mau lo apa?"

​Pertanyaan yang terlampau to the point itu sukses membuat Sasha salah tingkah seketika. Pipinya memerah, namun ia berusaha mempertahankan senyumannya.

​"Selain kenal..." bisik Sasha pelan, mendekatkan tubuhnya sedikit lagi ke arah Moreno seraya mengusap ujung lengan jacket pria itu, "...aku juga pengen lebih dekat sama kamu, Ren."

Moreno menyandarkan punggungnya, menatap Sasha dari samping dengan raut wajah yang sukar ditebak.

"Lebih dekat... yang kayak gimana maksud lo?" tanya Moreno dengan nada menyelidik yang berat.

​Pipi Sasha makin memerah padam, namun rasa percaya dirinya yang tinggi mengalahkan rasa malunya. Gadis itu mencondongkan tubuhnya lebih dekat, berbisik berani tepat di samping telinga Moreno.

​"Kalau kamu mau... aku bisa nemenin kamu tidur malam ini, Ren."

​Bukannya tergiur, Moreno justru menyunggingkan senyum miring yang sarat akan nada meremehkan. Ia melirik Sasha seolah gadis di sampingnya itu adalah barang murahan yang tak menarik minatnya sedikit pun.

​"Nggak perlu," sahut Moreno dingin, memutar gelas wine di tangannya.

​Dahi Sasha berkerut, tak percaya penawarannya ditolak mentah-mentah. "Memangnya kenapa? Aku kurang cantik?"

​"Bukan masalah cantik atau enggak," potong Moreno datar, menatap Sasha lurus- tanpa emosi.

"Gue cuma lagi gak butuh teman tidur. Dan lagian... gue sama sekali gak minat sama lo."

​Sasha yang pantang menyerah mencoba menurunkan gengsinya satu tingkat lagi. Ia mengusap pelan lengan Moreno.

"Gak masalah kok kalau kamu udah punya pacar. Aku gak keberatan cuma jadi selingkuhan kamu, Ren..."

​Moreno memotong kalimat itu dengan dengusan napas kasar. Kesabarannya makin menipis.

​"Gue gak punya pacar," tegas Moreno, menekankan setiap kata dengan intonasi yang membekukan darah. "Dan gue juga gak ada nafsu sama sekali sama lo. Paham?"

​Mendengar penegasan yang teramat tajam itu, mental Sasha runtuh seketika. Dengan wajah memerah karna malu, gadis itu perlahan memundurkan tubuhnya, menjauh dari Moreno.

​Melihat Moreno yang sudah masuk ke "mode jutek" dan bahaya, Adit dengan sigap mencairkan suasana.

"Sasha, sini aja duduk sama gue," panggil Adit buru-buru menyelematkan temannya.

​Setelah Sasha bergeser, Dimas yang memperhatikan kejadian itu sejak tadi melontarkan tawa kecil seraya menggelengkan kepala.

​"Dih, kenapa lo malam ini jutek amat, Ren?" tanya Dimas heran. "Biasanya juga lo santai-santai aja kalau ada cewek seksi nempel."

​Dimas memicingkan mata, menyunggingkan senyum penuh curiga ke arah sahabatnya itu.

"Jangan-jangan... lo udah punya gebetan baru ya, makanya cewek lain langsung lewat?"

​Moreno tidak menjawab. Bayangan wajah Luna yang memerah malu saat ciuman pertama gadis itu direnggut olehnya tadi mendadak melintas begitu saja di kepalanya.

Moreno hanya menyesap wine-nya dalam diam, menyembunyikan senyum tipis yang mendadak muncul di sudut bibirnya.

1
piercing
novel stuck with you up tidak? kalau up lanjut aku mau baca
Meow: Halo kak terima kasih atas atensinya novel stuck with you akan update 1-2 hari lagi 🙏
total 1 replies
piercing
masih ori ga lu ren? 🐊
piercing
jangan kasih ampun! plok2 segera🌚🌚🌚
piercing
cie 🐊
piercing
semangat ya.. harus sampai ending☻️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!