Dibuang oleh darah dagingnya sendiri hanya karena ia terlahir tidak sempurna.
Haruka tumbuh tanpa pelukan orangtua, tanpa tempat pulang. Dunia memandangnya sebelah mata... dihina, direndahkan, dianggap beban yang tak pantas hidup layak. Tapi di tengah semua penolakan itu, ada satu orang yang tak pernah melepaskannya: seorang nenek tua, satu-satunya yang mau memeluknya tanpa syarat.
Dari pelukan itulah tekad Haruka lahir. Ia bangkit, merangkak sejengkal demi sejengkal dari titik terendah, bukan untuk balas dendam, tapi untuk membuktikan satu hal: gadis cacat yang dulu mereka buang, kini akan berdiri lebih tinggi dari siapa pun yang pernah meremehkannya.
Akankah Haruka berhasil membungkam semua yang pernah menghinanya? Atau luka masa lalu akan terus menariknya kembali ke titik nol?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemakaman
Hujan gerimis turun perlahan, membasahi tanah pemakaman yang masih basah oleh tanah merah yang baru saja digali. Suasana duka begitu kental terasa, menyelimuti setiap sudut pemakaman sederhana di ujung desa itu. Di antara nisan-nisan kayu yang berjejer sederhana, Haruna berlutut di depan sebuah gundukan tanah yang masih baru, memeluk erat nisan kayu yang bertuliskan nama Nek Lasmi dengan tinta yang belum sepenuhnya kering.
Anehnya, tak ada setitik pun air mata yang mengalir dari matanya. Bukan karena ia tak merasakan kehilangan yang begitu besar, bukan pula karena hatinya telah mengeras. Justru sebaliknya... kesedihan yang ia rasakan begitu dalam, begitu menghancurkan, hingga mencapai puncak di mana air mata sekalipun sudah tak sanggup lagi mengalir.
Ada kepedihan yang terlalu besar untuk diungkapkan lewat tangisan biasa, sebuah kehampaan yang begitu mencekam hingga tubuhnya hanya bisa membeku dalam diam.
Para tetangga yang tadinya berkumpul memenuhi area pemakaman, satu per satu mulai beranjak pulang setelah prosesi pemakaman selesai. Meninggalkan ucapan belasungkawa dan pelukan hangat sebelum akhirnya menghilang di balik rintik hujan yang semakin deras. Hingga akhirnya, hanya tersisa Haruna dan Bu Inah yang masih setia berdiri di sana, menemani kesunyian yang begitu berat itu.
"Haruna, ayo pulang, Nak. Udah sore, hujannya juga makin deras," ajak Bu Inah lembut, menyentuh pundak Haruna yang masih membeku memeluk nisan itu.
Haruna menggeleng pelan, suaranya nyaris tak terdengar. "Haruna mau di sini dulu, Bu. Sebentar aja."
Bu Inah menghela napas, memahami betapa besar kehilangan yang tengah dirasakan gadis di hadapannya itu. Ia menunggu beberapa saat lagi, namun hujan yang semakin lebat membuat kekhawatirannya semakin membuncah. Apalagi melihat Haruna yang sudah basah kuyup sejak tadi tanpa memedulikan kondisinya sendiri.
"Har, Ibu khawatir kamu sakit kalau kelamaan di sini," Bu Inah mencoba membujuk sekali lagi.
Namun Haruna tetap bergeming, tak sedikit pun beranjak dari posisinya. Melihat ketetapan hati itu, dengan berat hati Bu Inah akhirnya memutuskan untuk pulang lebih dulu, meski hatinya masih dipenuhi kekhawatiran. "Ya sudah, kalau Haruna udah selesai, langsung pulang ya? Ibu tunggu di rumah."
Setelah kepergian Bu Inah, hujan semakin menderas, membasahi seluruh tubuh Haruna hingga menembus ke tulang. Namun gadis itu sama sekali tak bergeming, tetap memeluk nisan kayu itu erat-erat, seolah dengan begitu ia masih bisa merasakan kehangatan pelukan neneknya untuk terakhir kalinya.
"Nek," bisik Haruna pelan, suaranya bergetar di tengah derasnya hujan yang membasahi wajahnya, bercampur dengan air mata yang akhirnya perlahan mulai menetes lagi, "Haruna bakal kangen banget sama Nenek. Kangen sama suara Nenek, kangen dipeluk sama Nenek, kangen semuanya."
Ia mendekap nisan itu lebih erat, seolah tak ingin melepaskan sentuhan terakhir dengan satu-satunya keluarga yang pernah ia miliki. "Tapi Haruna janji, Nek. Haruna akan tepati semua janji yang Haruna ucapkan ke Nenek. Haruna akan sekolah, akan kuliah, akan jadi orang sukses. Haruna nggak akan sia-siain semua pengorbanan Nenek."
Hujan terus mengguyur tubuhnya yang gemetar kedinginan. Namun Haruna tetap bertahan di sana hingga langit mulai menggelap, hingga suara azan magrib berkumandang lirih dari kejauhan, menandakan waktu yang telah lama berlalu sejak pemakaman usai.
Barulah setelah itu, dengan langkah gontai dan tubuh basah kuyup, Haruna akhirnya bangkit. Memberikan satu kecupan terakhir pada nisan neneknya sebelum melangkah pulang menembus gelapnya malam yang masih diselimuti gerimis.
Sesampainya di gubuk, ia mendapati beberapa tetangga sudah berkumpul, membantu menyiapkan kenduri sederhana untuk mendoakan arwah Nek Lasmi. Aroma sisa hujan dan bacaan doa memenuhi ruangan kecil itu, namun Haruna hanya duduk diam di sudut ruangan, tatapannya kosong menerawang jauh. Tak menghiraukan siapa pun yang mencoba mengajaknya bicara.
"Har, udah makan belum?" tanya salah seorang tetangga, menyodorkan sepiring nasi.
Haruna hanya menggeleng pelan, tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Sepanjang malam itu, ia hanya diam, seolah seluruh kata-kata dalam dirinya telah ikut terkubur bersama jasad neneknya.
Ketika acara kenduri hampir selesai, sebuah mobil tiba-tiba berhenti di depan gubuk, menarik perhatian beberapa tetangga yang masih tersisa. Seorang pria paruh baya turun dari mobil itu, wajahnya tampak berat dan penuh sesal, melangkah pelan menghampiri Haruna yang masih duduk membisu.
"Haruna," panggil pria itu lembut, "Bapak turut berduka cita atas kepergian Nek Lasmi."
Haruna mendongak, mengenali pria itu sebagai pemilik lahan tempat gubuk mereka berdiri selama puluhan tahun. "Terima kasih, Pak," jawabnya lirih.
Pria itu menghela napas panjang sebelum melanjutkan, suaranya terdengar begitu berat. "Haruna, Bapak sebenarnya nggak enak banget harus ngomong ini, apalagi di saat kayak gini. Tapi Bapak terpaksa harus kasih tau, lahan ini udah Bapak jual ke orang lain. Pemilik barunya bakal segera bangun rumah di sini."
Kata-kata itu menghantam kesadaran Haruna yang masih diliputi duka. Namun ia hanya mengangguk pelan, mencoba mencerna kenyataan baru yang kembali menghampiri hidupnya yang sudah begitu berat.
"Bapak minta maaf banget, Haruna. Bukannya Bapak tega usir kamu di saat kayak gini. Tapi anak sulung Bapak butuh biaya operasi mendesak, dan Bapak nggak punya pilihan lain selain jual tanah ini," jelas pria itu, wajahnya menyiratkan penyesalan yang mendalam.
Haruna menatap pria itu, mencoba memahami situasi yang tengah dihadapinya. "Haruna ngerti, kok, Pak. Bapak nggak perlu minta maaf. Malah Haruna yang harusnya berterima kasih, karena udah dikasih izin numpang di lahan ini selama puluhan tahun, sejak Nenek pertama kali bangun gubuk ini."
Mendengar kedewasaan dalam jawaban itu, pria itu tampak semakin terharu. Ia merogoh saku bajunya, mengeluarkan sebuah amplop berisi uang, menyodorkannya kepada Haruna. "Ini, buat bantu-bantu kamu cari tempat tinggal baru."
Haruna menggeleng cepat, menolak uluran tangan itu. "Nggak usah, Pak. Bapak sendiri lagi butuh uang buat biaya operasi anak Bapak. Haruna nggak bisa terima ini."
Namun pria itu tetap bersikeras, memaksakan amplop itu ke tangan Haruna. "Ini nggak seberapa, kok, Nak. Anggap aja ini tanda terima kasih Bapak, karena selama ini Nek Lasmi udah jadi tetangga yang baik banget, ikut jaga lahan ini dengan penuh tanggung jawab. Tolong terima, ya."
Dengan berat hati, Haruna akhirnya menerima amplop itu, mengucapkan terima kasih yang tulus sebelum pria itu akhirnya berpamitan pergi. Meninggalkan Haruna yang kembali sendirian di tengah gubuk yang perlahan mulai sepi ditinggalkan para tetangga yang juga mulai beranjak pulang.
Setelah semua orang pergi, Haruna berdiri di tengah ruangan yang kini terasa begitu sunyi, menatap setiap sudut gubuk itu dengan pandangan yang begitu dalam. Dinding bambu yang sudah lapuk, atap yang bolong di beberapa bagian, dipan kayu tempat ia dan neneknya biasa tidur berdampingan. Semua itu menyimpan begitu banyak kenangan, begitu banyak cerita, sejak pertama kali ia dibawa pulang oleh Nek Lasmi belasan tahun silam.
Sebentar lagi, istana kecil yang penuh cinta ini, saksi bisu setiap tawa dan air mata yang pernah mereka lalui bersama, akan menjadi milik orang lain. Haruna mengusap dinding bambu itu perlahan, seolah mengucapkan selamat tinggal pada setiap sudut yang menyimpan jejak kehidupan mereka.
Malam itu juga, dengan hati yang masih dipenuhi duka namun tekad yang semakin membara.Haruna mulai berkemas, mengumpulkan barang-barang sederhana miliknya dan Nek Lasmi ke dalam beberapa kardus bekas. Esok hari, sepulang sekolah, ia harus mulai mencari tempat tinggal sementara yang baru.
Ya, Haruna telah memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya, untuk menepati janji terakhir yang telah ia ucapkan di hadapan neneknya sebelum wanita tua itu menutup mata untuk selamanya.
Ia harus mewujudkan cita-citanya, harus menjadi orang sukses seperti yang selalu diimpikannya sejak kecil. Bukan lagi sekadar untuk dirinya sendiri, melainkan sebagai amanah terakhir dari bidadari surga yang telah mengorbankan seluruh hidupnya demi membesarkan seorang anak yang dulu dibuang begitu saja oleh dunia.
aq GX bakal bosen buat ngucapin kata tu ,,
disaat org yg sempurna byk yg malas2aan ,, Krn merasa punya hidup yg serba berkecukupan ,,
malah menyia2kan hidup muda ny ,,
sedangkan km yg punya kekurangan tdk prnh menyrut kan semangat mu ,,
nenek mu pasti bangga melihat mu dari atas sana haruna ,,
tau2 keliatan ny sembuh seperti biasa ,, yx pertanda kalo tu kondisi sementara sebelum mereka pergii ,, 🥹😭😭😭 ,,
semangat trus haruna ,, km boleh berduka ,, tp cita2 jgn sampe di lupain,,
semangat haruna ,,
ni hanya kesuksesan yg tertunda ,,
msh ad jalan lain menuju sukses yg bisa km raih ,,
km harus tunjukin ma org2 yg jahatin km ,,
kalo keterbatasan km tdk menghilang kan semangat km belajar ,,