Sentuh Aku, Leluhurmu Tamat!
Lahir dengan meridian rapuh dan dijadikan samsak hidup oleh murid dalam sekte, Gu Ran membangkitkan sistem anomali yang menghubungkan nyawanya dengan figur terkuat dari siapa pun yang menindasnya. Semakin keras musuh mencoba melukainya, semakin sekarat leluhur tertinggi mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Di depan mata kelabu Gu Ran, udara di pelataran batu putih beriak halus. Butiran debu kapur yang melayang di bawah sengatan matahari pagi tampak tertahan kaku di tempatnya.
Bilah hijau Pedang Hujan Hijau di tangan Song Ming menggantung miring di udara, terpancang beberapa jengkal dari pangkal leher Gu Ran. Ayunan pedang itu membeku di tengah gerakan, seolah aliran waktu dipaksa merayap lambat oleh denting dingin di dalam kepalanya.
Rasa perih dari luka tebasan di bahu kirinya masih berdenyut panas. Cairan merah hangat merembes menuruni rusuk kurus Gu Ran, menetes membasahi tali rami pengikat tiang kayu hitam.
Sebuah bidang cahaya abu-abu transparan membentang di pandangannya. Huruf-huruf tanpa suara terukir di sana:
[Pemindaian Radius Lima Puluh Li Selesai.]
[Pilih Satu Entitas Pengikat Takdir:]
Song Ming (Tingkat 7 Pemurnian Qi) — Agresor Langsung.
Song Tianhe (Puncak Inti Emas) — Jarak 8 Li (Aula Puncak).
Song Pojun (Puncak Transformasi Jiwa) — Jarak 32 Li (Gua Larangan).
Sistem itu secara otomatis menandai nama Song Ming dengan kedipan abu-abu tipis. Mekanisme baku agresi selalu mengarahkan pembalasan pada pelaku serangan fisik langsung.
Gu Ran menatap wajah Song Ming yang membeku di depannya. Bibir pemuda bangsawan itu masih membentuk seringai angkuh, sementara urat lehernya menegang kaku penuh rasa puas.
Gu Ran hampir mendecakkan lidah dalam hati. Rasa perih di bahunya terlalu nyata untuk membiarkan kepalanya berpikir dangkal.
Memilih Song Ming adalah jalan pintas menuju liang kubur.
Tuan muda manja itu baru menginjak tingkat tujuh Pemurnian Qi. Dagingnya lembek, mentalnya rapuh, dan kapasitas jiwanya dangkal. Bila bocah itu diikat dan menerima luka pantulan dari tubuh Gu Ran, ia bisa mati tersedak darahnya sendiri dalam hitungan detik.
Begitu Song Ming tewas, Gu Ran tetaplah budak penempa berpakaian compang-camping yang terikat di tiang kayu tanpa daya. Patriark Song Tianhe akan langsung meremukkan batok kepala Gu Ran dengan sekali hantam sebelum jasad anaknya sempat dingin.
Mengikat kelinci tidak akan menghentikan kawanan serigala.
Tatapan Gu Ran bergeser ke bawah, melewati nama Song Tianhe dan berhenti pada baris ketiga.
Song Pojun.
Nama itu jarang diucapkan secara terbuka di Sekte Pedang Langit. Para tetua hanya berani menyebutnya dalam bisikan tertutup sebagai Leluhur Tertinggi, sosok purba yang mendirikan sekte ini tujuh ratus tahun silam dan kini mengurung diri di Tebing Hitam untuk memburu terobosan batas usia.
Kultivator paling tua dan paling berkuasa di seluruh pegunungan. Pilar pelindung tunggal yang membuat sekte-sekte tetangga gentar melintasi perbatasan.
Jika orang tua itu tergores sedikit saja, langit sekte akan runtuh seketika.
“Kunci pilihan ketiga,” bisik Gu Ran di dalam benaknya. Suaranya datar dan dingin, sewajar orang memilih kayu bakar di sudut gudang.
Layar abu-abu di depan retinanya bergetar sekali.
[Target Terpilih: Song Pojun (Puncak Transformasi Jiwa).]
[Rantai Kausalitas Asimetris 1:10 Terpasang Sempurna.]
[Luka Fisik Aktif Terdeteksi: Sayatan Bahu Kiri Sedalam Dua Inci.]
[Mengalirkan Kerusakan Berlipat Sepuluh ke Entitas Terikat…]
Tiga puluh dua li di belakang Puncak Pedang Utama, tebing basalt hitam menjulang angkuh menembus kabut dingin. Di balik gerbang batu setebal sepuluh depa yang disegel delapan belas lapis formasi pertahanan, sebuah gua sunyi membeku dalam kegelapan pekat.
Di atas lempengan batu es seribu tahun, seorang lelaki tua duduk bersila tanpa bergerak sedikit pun selama seratus tahun terakhir. Janggut putihnya menjuntai panjang menyentuh pangkuan jubah abu-abunya yang lapuk dimakan usia.
Hawa dingin di sekelilingnya begitu pekat hingga tetesan air dari langit-langit gua membeku sebelum menyentuh tanah. Song Pojun sedang memusatkan seluruh sisa esensi jiwanya untuk menembus dinding penghalang terakhir menuju Alam Reinkarnasi.
Tiba-tiba, formasi pelindung delapan belas lapis di pintu gua tetap utuh tanpa getaran.
Namun di atas batu es, daging dan serabut meridian di bahu kiri Song Pojun mendadak meledak koyak dari dalam tubuhnya sendiri.
Luka sayatan dua inci milik Gu Ran berubah menjadi koyakan sedalam sepuluh inci di tubuh sang Leluhur. Daging dan urat belikatnya terbelah parah, memperlihatkan serpihan tulang putih yang remuk terpelintir.
“Uhukk—!”
Kelopak mata Song Pojun tersentak membuka lebar. Pupil matanya melebar liar saat cairan merah kehitaman menyembur deras dari mulutnya, mengotori janggut putih dan membasahi lempengan es di bawah kakinya.
Dinding dantian di perut bawahnya bergetar hebat. Rasa sakit yang membakar menjalar cepat, meremukkan sepuluh jalur meridian utamanya dalam satu tarikan napas.
Leluhur berusia tujuh ratus tahun itu terhempas ke depan. Tangannya yang keriput mencengkeram bahu kirinya yang terus menyemburkan darah segar ke lantai batu es.
“A-apa ini…?!” Suara tuanya pecah bergetar, tercekat oleh gumpalan darah di kerongkongan. “Kutukan dari mana… yang menghantam jiwaku?!”
Belum sempat akal sehatnya mencerna asal-usul robekan daging itu, dengung tajam lain kembali menusuk kesadaran batinnya. Rasa dingin yang mengerikan menjalar ke pangkal lehernya, membawa firasat maut yang jauh lebih fatal.
Di Pelataran Batu Putih, waktu kembali bergulir dengan kecepatan penuh.
Debu kapur kembali berhamburan ditiup angin lereng gunung. Suara sorak-sorai dan bisik-bisik ratusan murid dalam seketika membaniri telinga Gu Ran.
Di depannya, Song Ming sama sekali tidak menyadari jeritan kakek buyutnya di dalam gua larangan.
Pemuda berjubah hijau zamrud itu mengayunkan Pedang Hujan Hijau dengan kekuatan penuh. Bilah hijau berkilau membelah udara pagi dengan dengungan tajam, meluncur lurus mengincar urat nadi di leher Gu Ran yang terikat kaku.
Jarak mata pedang ke kulit leher Gu Ran tinggal kurang dari satu jengkal.
Di bawah helaian rambut putihnya yang kotor berlumur arang, kelopak mata Gu Ran terkulai santai. Sudut bibirnya yang kering terangkat tipis, membiarkan besi tajam itu mendekat tanpa sedikit pun berniat memejamkan mata.