Mobil mogok di depan sebuah rumah makan sederhana mempertemukan Dawin, pasukan khusus elite yang tegas namun berhati lembut, dengan Kwila, perawat baik hati dari keluarga Lidar. Pertemuan yang tak terduga itu berubah menjadi cinta yang tumbuh di tengah bahaya, ketika keluarga Kwila justru menjadi incaran organisasi kriminal BlackSystem yang begitu ditakuti. Antara tugas melindungi negara dan menjaga wanita yang dicintainya, Dawin harus menghadapi pengkhianatan, pengejaran, dan pertaruhan nyawa sementara Kwila belajar bahwa cinta sejati kadang datang justru saat dunia terasa paling berbahaya. Namun kisah ini tak berhenti di pelaminan. “Dawin dan Kwila” adalah saga keluarga yang membentang lintas generasi merayakan pernikahan, kelahiran, perjuangan mengejar mimpi, hingga anak-anak mereka tumbuh dewasa dan menemukan cinta serta jalan hidup masing masing. Dari aksi menegangkan hingga kehangatan meja makan keluarga, novel 150 bab ini adalah perjalanan panjang tentang keberanian, penebusan, dan bagaimana kebaikan kecil bisa berbuah kebahagiaan yang tak pernah berhenti bertumbuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejanggalan diruang arsip
Beberapa hari setelah kunjungan Dawin ke Good Resto tersebut, Kwila kembali menjalani rutinitas kerjanya di rumah sakit, meski pikirannya sesekali masih melayang mengenang percakapan hangat yang mereka bagikan di teras restoran keluarganya tersebut. Hari itu, dia mendapat tugas tambahan untuk membantu bagian administrasi merapikan arsip pasien lama yang akan dipindahkan ke ruang penyimpanan baru, sebuah pekerjaan rutin yang biasanya tidak terlalu menyita perhatian khusus.
Namun ketika Kwila mulai memilah berkas-berkas tersebut, dia menemukan sesuatu yang membuatnya terhenti sejenak, sebuah folder berlabel khusus yang tampaknya berisi catatan pasien-pasien yang telah meninggal dunia namun dengan keterangan penyebab kematian yang terasa begitu janggal dan tidak sesuai dengan catatan medis rutin yang biasa dia temui.
"Loh, ini kok datanya aneh ya," gumam Kwila pelan pada dirinya sendiri, memperhatikan beberapa catatan yang menyebutkan bahwa organ tertentu dari pasien tersebut telah "dipindahkan untuk keperluan penelitian" tanpa penjelasan lebih lanjut mengenai institusi penelitian yang dimaksud tersebut.
Mira, yang kebetulan sedang membantu di ruangan yang sama, menghampiri Kwila yang tampak begitu serius memperhatikan dokumen tersebut. "Zi, kenapa? Kelihatan bingung banget."
"Coba deh liat ini, Mir. Ada beberapa berkas pasien yang catatannya aneh banget, kayak ada organ yang dipindahin buat penelitian, tapi nggak ada detail lebih lanjut soal itu," jelas Kwila sambil menunjukkan beberapa dokumen tersebut kepada sahabatnya itu.
Mira memeriksa dokumen tersebut dengan seksama, dahinya mulai berkerut menandakan kebingungan yang sama dengan yang dirasakan Kwila. "Ini emang aneh, Zi. Setau saya, rumah sakit kita nggak ada kerja sama penelitian resmi kayak gini. Coba kita tanya ke bagian administrasi deh."
Mereka berdua kemudian mendatangi bagian administrasi rumah sakit, mencoba mencari kejelasan mengenai dokumen mencurigakan tersebut. Namun petugas administrasi yang mereka temui tampak sedikit gugup ketika ditanyai mengenai hal tersebut, memberikan jawaban yang terkesan mengambang dan tidak sepenuhnya memuaskan rasa ingin tahu kedua perawat tersebut.
"Itu urusan langsung dari Pak Direktur, Mbak. Saya kurang tau detailnya, mungkin lebih baik ditanyakan langsung ke beliau," jawab petugas tersebut dengan nada yang terdengar begitu hati-hati, seolah menghindari topik pembicaraan tersebut lebih jauh.
Mendengar jawaban tersebut, Kwila semakin penasaran, namun memutuskan untuk tidak memaksa lebih jauh mengingat posisinya sebagai perawat biasa yang mungkin tidak memiliki wewenang untuk mempertanyakan kebijakan yang diambil langsung oleh direktur rumah sakit tersebut.
"Mir, menurut kamu ini serius nggak sih? Atau saya yang kebanyakan mikir aja?" tanya Kwila kepada sahabatnya tersebut, ketika mereka berdua kembali ke ruang perawat setelah kunjungan yang kurang memuaskan tersebut.
"Saya juga ngerasa aneh, Zi. Tapi mungkin emang bener kayak yang dibilang petugas tadi, itu urusan direktur langsung. Kita mending fokus kerjaan kita aja dulu," jawab Mira dengan nada yang lebih berhati-hati, tidak ingin terlalu jauh mencampuri urusan yang mungkin bisa membahayakan posisi mereka berdua di rumah sakit tersebut.
Kwila mengangguk, meski dalam hatinya kekhawatiran tersebut tidak sepenuhnya hilang, sebuah kekhawatiran yang akan terus mengganggu pikirannya selama beberapa hari ke depan, terutama mengingat betapa janggalnya penjelasan yang dia terima mengenai dokumen tersebut.
Sore harinya, ketika Kwila sedang beristirahat di kantin rumah sakit, dia tidak sengaja mendengar percakapan antara dua orang petugas keamanan yang duduk di meja tidak jauh darinya, membicarakan sesuatu dengan nada berbisik yang membuat Kwila secara refleks memperhatikan percakapan tersebut lebih seksama.
"Malam ini ada pengiriman lagi dari ruang bawah tanah, harus dijaga ketat," ujar salah satu petugas keamanan tersebut kepada rekannya, sebuah kalimat yang terdengar begitu janggal mengingat rumah sakit tersebut seharusnya tidak memiliki aktivitas pengiriman barang di malam hari, apalagi yang memerlukan penjagaan ketat semacam itu.
"Iya, Pak Direktur udah wanti-wanti banget soal itu. Katanya ini pengiriman penting buat kerja sama bisnis," jawab petugas lainnya, memberikan informasi tambahan yang semakin memperkuat kecurigaan Kwila mengenai adanya sesuatu yang tidak beres di balik operasional rumah sakit tempatnya bekerja tersebut.
Kwila berusaha bersikap biasa saja, tidak ingin menunjukkan bahwa dia sedang menguping percakapan tersebut, meski hatinya dipenuhi berbagai pertanyaan mengenai apa sebenarnya yang sedang terjadi di ruang bawah tanah rumah sakit tersebut, sebuah area yang selama ini memang jarang diakses oleh staf medis biasa seperti dirinya, hanya dikhususkan untuk keperluan tertentu yang tidak pernah dijelaskan secara terbuka kepada seluruh karyawan.
Malam itu, sepulang kerja, Kwila memutuskan untuk menceritakan kejanggalan yang dia temui tersebut kepada Dawin, mengingat pengalaman pemuda tersebut dalam bidang intelijen militer mungkin bisa memberikan perspektif yang lebih jelas mengenai situasi yang dia hadapi tersebut. Dia mengirimkan pesan singkat, menceritakan secara garis besar mengenai dokumen mencurigakan serta percakapan yang tidak sengaja dia dengar tersebut.
"Mas Dawin, saya nemuin sesuatu yang aneh banget di rumah sakit. Ada dokumen pasien yang catatannya nggak wajar, terus tadi saya denger percakapan soal pengiriman rahasia dari ruang bawah tanah. Menurut Mas, ini serius nggak ya?" tulis Kwila dengan nada yang menunjukkan kekhawatiran yang mendalam.
Beberapa menit kemudian, balasan dari Dawin masuk, menunjukkan bahwa pemuda tersebut juga langsung menaruh perhatian serius terhadap informasi yang baru saja dia terima tersebut. "Kwila, ini penting banget. Jangan coba-coba selidiki sendiri ya, bisa bahaya. Biar saya yang coba cari tau lebih lanjut lewat jalur resmi. Kamu tetap hati-hati aja di sana."
Membaca balasan tersebut, Kwila merasakan campuran antara kelegaan karena mendapat dukungan dari Dawin, namun juga kekhawatiran yang semakin bertambah mengenai kemungkinan bahaya yang mengintai di balik dinding rumah sakit tempatnya bekerja tersebut, sebuah kekhawatiran yang tidak sepenuhnya salah, mengingat kejanggalan yang baru saja dia temukan tersebut sebenarnya hanyalah puncak kecil dari gunung es kejahatan besar yang telah lama beroperasi di bawah pengawasan Direktur Harjono, seorang pria yang selama bertahun-tahun telah membangun kerja sama gelap dengan organisasi BlackSystem untuk memperjualbelikan organ tubuh pasien yang tidak memiliki keluarga atau yang telah dinyatakan tidak sadarkan diri secara permanen, sebuah kejahatan keji yang akan segera terkuak dan mengubah seluruh jalannya cerita menjadi jauh lebih berbahaya dari yang pernah dibayangkan oleh siapa pun yang terlibat di dalamnya.
Sebelum tidur malam itu, Kwila menuliskan kembali seluruh kejadian yang dia alami hari itu dalam sebuah buku catatan kecil yang selalu dia simpan di lacinya, sebuah kebiasaan yang telah lama dia jalani untuk mencatat berbagai kejadian penting dalam pekerjaannya sebagai perawat. Dia menuliskan detail mengenai dokumen mencurigakan tersebut, lengkap dengan nomor arsip dan tanggal yang tertera, berjaga-jaga jika informasi tersebut nantinya diperlukan untuk penyelidikan lebih lanjut.
"Semoga ini bukan sesuatu yang buruk," gumamnya pelan sambil menutup buku catatan tersebut, mencoba menenangkan diri sendiri meski firasat buruk terus menghantui pikirannya sepanjang malam tersebut, sebuah firasat yang, sayangnya, akan segera terbukti benar adanya dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi.