Indonesia
NovelToon NovelToon
Pewaris Dosa Sang Mafia

Pewaris Dosa Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Berbaikan / Wanita perkasa / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:153
Nilai: 5
Nama Author: Yamila22

Tiga tahun lalu, Alessandra Valente membakar seluruh dunianya demi seorang pria—seorang raja mafia bermata madu yang menjanjikannya kebebasan, lalu mencampakkannya di jalanan dengan sebuah rahasia di dalam rahim.

Kini ia hanyalah seorang ibu tunggal di sudut kumuh Queens, bertahan hidup di antara tumpukan tagihan dan tawa kecil putranya. Sampai suatu sore kelabu, aroma cendana dan bahaya itu kembali menghantui: Damian Smirnov, sang Pakhan Bratva yang dulu menghancurkannya, berdiri di ambang pintu—dan menatap lurus ke mata madu anak yang begitu mirip dengannya.

"Apa pun yang berasal dari darahku, adalah milikku."

Tapi Alessandra bukan lagi gadis rapuh yang ia tinggalkan. Untuk melindungi putranya, ia rela belajar menarik pelatuk, menantang para bos paling ditakuti di lima keluarga, dan berdiri di garis depan perang yang bisa menelan mereka semua. Di antara pengkhianatan keluarga, dendam yang membara, dan gairah yang tak pernah benar-benar padam, seorang perempuan yang dulu dihina sebagai "si gendut dari Queens" perlahan menjelma menjadi sesuatu yang membuat seluruh dunia bawah tanah bertekuk lutut: Sang Singa Betina.

Jika mereka mengira bisa merebut anaknya, mereka akan belajar satu hal—tak ada yang lebih berbahaya daripada seorang ibu yang tak lagi punya apa pun untuk kehilangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yamila22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Rasa Pengkhianatan

Tiga tahun sebelumnya...

Aroma kopi di pagi hari selalu jadi pembangun tidurku yang paling kusuka, sebuah belaian pahit yang membantuku menghadapi hari. Tetapi pagi itu, wangi yang naik dari dapur loft terasa bagai tamparan belerang. Aku terbangun dengan perut bergolak, sensasi mual yang membuatku merasa ranjang Damian berubah menjadi kapal di tengah badai.

Aku berlari ke kamar mandi, tersandung kakiku sendiri, tiba nyaris tepat waktu sebelum tubuhku memutuskan memuntahkan sisa terakhir jamuan mewah semalam. Aku terkulai berlutut di atas marmer dingin, gemetar, keringat merinci di dahiku, dengan rasa pahit di mulut yang tak bisa dihapus oleh berapa banyak pun air.

"Alessandra?" Suara Damian, dalam dan sarat kecurigaan seketika, terdengar dari ambang pintu.

Aku menyeka mulut dengan punggung tangan, berusaha memulihkan napas. Aku merasa lemah, seakan tulang-tulangku telah berubah menjadi kaca.

"Ini... ini cuma stres, Damian. Aku tak tidur nyenyak dengan semua yang terjadi soal ayahku."

Damian mendekat dan berjongkok di depanku. Tak ada rasa iba di wajahnya, hanya intensitas yang membuatku ingin meringkuk. Ia memegang nadi di pergelanganku, menekan sedikit lebih kuat dari yang perlu. Mata hitamnya menyusuri wajahku yang pucat, menganalisis setiap detail seolah aku sebuah tempat kejadian perkara.

"Kamu pucat seperti kertas, Sayang. Dan ini hari ketiga aku mendengarmu berlari ke kamar mandi," gumamnya, dan sesaat, kulihat bayangan sesuatu yang asing melintas di tatapannya. Rasa takut? Bukan, Damian Smirnov tak mengenal rasa takut. Itu sesuatu yang lain... sesuatu yang penuh nafsu memiliki. "Tetap di sini. Jangan bergerak."

Ia berdiri dan keluar dari kamar mandi, tetapi bukan untuk mencari obat. Kudengar ia bicara di telepon di ruang tengah, suaranya sebuah gumaman rendah yang berbahaya. Aku tetap di sana, bersandar pada bak mandi, merasakan sebuah gagasan mulai terbentuk di benakku, gagasan yang lebih menakutkanku daripada ancaman apa pun dari ayahku. Tak mungkin. Jangan sekarang.

Setengah jam kemudian, Damian kembali. Tetapi ia tak sendiri. Igor dan seorang anak buahnya yang lain ada bersamanya, wajah mereka menegang seakan siap untuk perang. Damian memegang sebuah map kulit hitam di tangannya.

"Lupakan mualmu sejenak, Alessandra," katanya sambil melempar map itu ke atas marmer wastafel. "Kita punya masalah yang lebih besar daripada sekadar perut yang bergejolak."

Dengan jari-jari gemetar, kubuka map itu. Isinya foto-foto. Foto Damian memasuki gedung, foto diriku keluar ke balkon, dan yang paling mengerikan: tangkapan layar pesan-pesan teks.

"Apa ini?" bisikku.

"Ini rencana penyelamatan dari ayahmu," ludah Damian, dan bunyi kata "ayah" di mulutnya terdengar bagai letusan pistol. "Si tua itu tak mau menyerah. Dia menyewa sekelompok tentara bayaran, mantan operatif intelijen negara. Mereka datang bukan untuk membawamu pulang dengan pelukan hangat, Alessandra."

"Apa maksudmu?"

Damian mendekat begitu rapat hingga kurasakan panas tubuhnya menyelimutiku, tetapi kali ini terasa bagai jeruji kandang.

"Pesannya jelas: 'Kalau dia tak bisa jadi pewaris Valente, biar dia tak jadi milik siapa pun.' Ayahmu telah memberi perintah 'ekstraksi tuntas'. Kalau para tentara bayaran itu tak bisa mengeluarkanmu dari sini dalam empat puluh delapan jam, mereka diizinkan melenyapkan 'aset' itu. Artinya, kamu."

Rasa mual kembali dengan lebih kuat. Kurasakan dunia lenyap di bawah kakiku. Ayahku sendiri... pria yang membesarkanku, yang membelikanku boneka porselen, kini membayar seorang profesional untuk menembak kepalaku hanya karena aku tak lagi berguna bagi bisnisnya.

"Dia takkan... dia takkan sejauh itu..." Aku tergagap, meski jauh di lubuk hati aku tahu itu benar.

"Dia sudah, Sayang. Dia kira dia bisa memakai orang-orang itu untuk masuk ke wilayahku." Damian tertawa hambar, tawa yang membuatku sadar bahwa sang iblis sedang dalam suasana hati yang sangat buruk. "Tapi dia membuat satu kesalahan. Salah satu tentara bayaran itu berutang nyawa saudaranya padaku. Dia menjual rencana itu padaku sebelum mereka mulai mengisi senjata."

Damian berpaling ke arah Igor.

"Mereka sudah siap?"

"Ya, Bos. Kami sudah melacak posisi mereka di hotel di kawasan utara. Mereka sedang menunggu isyarat dari ayah Nona."

Damian mengangguk dan kembali menatapku. Tangannya naik ke bahuku, menekan dengan kekuatan yang ingin menjangkarku.

"Aku yang akan mengurus ini. Langsung, dengan tanganku sendiri. Tak satu pun anjing itu akan sampai menyentuh sehelai rambutmu. Tapi aku ingin kamu paham satu hal, Alessandra: setelah hari ini, ayahmu berhenti ada. Sekeras apa pun kamu menangis, seberapa pun kamu memohon ampun, tak ada gunanya. Akan kuhapus namanya dari muka bumi."

"Damian, kumohon... dia ayahku..."

"Dulu dia pria yang memberimu kehidupan. Sekarang dia pria yang ingin merampasnya darimu," ia memotong, menempelkan dahinya ke dahiku. Aroma cendana dan mesiu darinya membanjiriku. "Dan aku tak berbagi milikku dengan kematian."

Ia menciumku dengan amarah yang putus asa, lidah yang mengklaim setiap sudut mulutku, sementara tangannya turun menyusuri punggungku, menekanku ke tubuhnya seakan ingin meleburku ke dalam kulitnya sendiri. Meski di tengah kengerian, meski rasa mual masih mengganjal di kerongkonganku, tubuhku menyambut sentuhannya. Aku bergelayut pada kemejanya, mencari rasa aman pada pria yang sebentar lagi akan melakukan pembantaian demi diriku.

Ia mengangkatku dan membawaku ke ranjang, tetapi tak ada waktu untuk kelembutan yang lambat. Ia perlu menandaiku sekali lagi sebelum keluar untuk membunuh. Ia menanggalkan pakaiannya dan pakaianku dengan desakan yang liar. Ia memilikiku dengan kekuatan yang membuatku kehabisan napas, hentakannya berirama dan berat, seakan setiap dorongan adalah janji perlindungan. Tangannya mencengkeramku begitu erat hingga aku tahu akan tertinggal bekas, dan untuk pertama kalinya, aku tak peduli. Aku lebih memilih bekas tangannya daripada dingin sebuah peluru.

Aku meneriakkan namanya saat klimaks mengguncangku, sebuah kejang kenikmatan yang berbaur dengan teror murni akan apa yang akan datang. Damian tetap di atasku sesaat, jantungnya berpalu menekan dadaku.

"Tetap di ranjang. Igor berjaga di pintu. Kalau kamu dengar tembakan, jangan keluar," perintahnya sambil kembali berpakaian, memasang senjatanya dan memeriksa magasin dengan kedinginan mekanis.

Kulihat ia keluar melewati pintu loft, sebuah bayangan maut yang siap melahap siapa pun yang berani menantangnya. Aku tinggal sendirian, terbungkus seprai yang beraroma kami berdua, merasakan gelombang mual yang baru. Tetapi kali ini, bukan hanya rasa jijik atas pengkhianatan ayahku.

Kubawa tanganku ke perutku, yang masih rata dan lembut.

"Kumohon, semoga dia tak lahir sama seperti dia," bisikku dalam gelapnya kamar. "Kumohon, semoga dia tak berdarah dia."

Tetapi takdir sudah tertulis. Sang pewaris dosa sedang dalam perjalanan, dan perang antara Valente dan Smirnov baru mulai memerah oleh darah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!