Di kampus, Reyhan Arkananta Wijaya adalah dosen muda yang dikenal killer karena sikap tegas dan tanpa pandang bulu yang dimilikinya. Satu kesalahan kecil saja cukup untuk membuat nilai mahasiswa melayang. Di mata Nadhira, mahasiswi semester enam yang ceroboh dan ahli panik, Pak Reyhan adalah ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup akademisnya.
Namun, hidup Nadhira mendadak jungkir balik ketika perjodohan rahasia antar keluarga memaksanya menikah dengan sang dosen killer.
Kini, Nadhira harus menjalani dua kehidupan yang saling bertolak belakang, berpura-pura tidak saling kenal dan saling membenci di area kampus, lalu pulang ke rumah yang sama sebagai sepasang suami istri. Di tengah kejaran tenggat tugas, ancaman nilai E, gosip kampus yang memanas, dan rasa cemburu diam-diam sang dosen galak, mampukah rahasia besar mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Izin Pak Suami
Udara sore di Gedung FSD terasa sangat pekat, jarum jam dinding di lorong laboratorium menunjuk tepat ke angka lima sore saat gelombang mahasiswa yang mengumpulkan tugas besar mulai kembali ke rumah masing-masing.
Nadhira masih berdiri di samping mejanya yang berantakan, membersihkan serpihan akrilik yang tersisa dan memasukkan kertas-kertas cetak yang ternoda tinta hitam ke dalam tas plastik besar.
Jemari tangan Nadhira masih terasa sedikit ngilu akibat tegang dan panik yang melanda sejak pagi. Namun, di dalam dadanya, ada seberkas harapan baru.
Batas waktu tenggat khusus hingga besok sore pukul empat yang diberikan oleh Pak Reyhan adalah kesempatan emas yang tak boleh ia siakan sedikit pun.
Kania, yang setia menemaninya sejak tadi, menepuk bahu Nadhira pelan.
"Nad, lo beneran yakin bisa nyelesaiin rakitan ulang akrilik sama cetak ulang media miniatur ini dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam?" tanya Kania dengan raut wajah sangat cemas.
Nadhira mengangguk mantap, menyapu rambut depannya yang terurai. "Harus yakin, Kan. Master-file tiga dimensi sama rincian ukurannya kan masih lengkap di drive gue. Yang bikin capek itu memotong ulang lembaran akrilik tipis sama nempelnya biar presisi tanpa bekas."
"Kalau gitu, lo ngerjain di kosan gue aja!" tawar Kania cepat, matanya berbinar menawarkan solusi.
"Kosan gue kan cuma lima menit jalan kaki dari pintu samping kampus. Masuk ke lab besok sore tinggal dipapah sebentar, nggak berisiko patah atau rusak di jalan ketimbang lo bawa bolak-balik pakai kendaraan jauh. Peralatan pemotong akrilik, lampu meja terang, sama lem super gue juga lengkap di kamar."
Nadhira terdiam sejenak. Penawaran Kania sangat masuk akal dan efisien secara teknis. Membawa maket akrilik setengah jadi dalam perjalanan jauh naik kendaraan berisiko tinggi membuat sambungan lemnya retak kembali karena guncangan jalan. Di kamar Kania, ia bisa bekerja nonstop hingga subuh tanpa perlu khawatir kelelahan di perjalanan.
Namun, ada satu kendala besar yang langsung terbayang di kepala Nadhira, izin dari suaminya.
Sejak menikah, Nadhira belum pernah sekalipun menginap di luar rumah tanpa Reyhan. Apalagi status mereka sebagai suami-istri masih terikat janji rahasia yang tak boleh tercium oleh siapapun, termasuk Kania.
Bagaimana cara meminta izin pada seorang pria kaku dan serba teratur seperti Reyhan agar diizinkan menginap di kosan teman, tanpa memicu kecurigaan Kania yang berdiri tepat di sampingnya saat ini.
"Gue... gue harus izin dulu sama rumah, Kan," cicit Nadhira pelan.
Kania mengerutkan kening. "Izin sama rumah? Maksud lo sama orang tua lo yang di ujung kota? Atau sama... sodara yang lo tumpangin rumahnya sekarang?"
Nadhira berkedip panik, buru-buru membetulkan ucapannya. "M-maksud gue... sama sodara yang punya rumah tempat gue tinggal sekarang. Dia kan agak kaku dan ketat soal aturan jam malam."
"Oalah, gitu. Ya udah, lo hubungin sekarang aja. Bilang situasi lo emang emergency banget gara-gara sabotase ini. Masa iya sodara lo nggak ngertiin?" desak Kania maklum.
Nadhira merogoh saku celananya, mengeluarkan ponselnya dengan tangan sedikit gemetar. Ia berjalan menggeser beberapa langkah menjauhi Kania menuju sudut jendela koridor yang agak sepi.
Dengan menarik napas panjang, Nadhira membuka aplikasi percakapan dan mengetik pesan ke kontak bernama Pak Reyhan.
Nadhira: Pak Reyhan, maaf mengganggu waktunya. Soal instruksi batas waktu maket besok sore pukul empat... saya mau izin. Boleh nggak, malam ini saya menginap di kosan Kania? Kosan Kania sangat dekat dari kampus, jadi besok sore bawa maketnya aman tidak berisiko rusak di jalan. Peralatan potong akrilik Kania juga lengkap. Saya janji besok selesai tepat waktu.
Nadhira menatap layar ponselnya dengan dada berdebar kencang. Ibu jarinya menimbang-nimbang sebentar sebelum akhirnya menekan tombol kirim.
Satu menit... dua menit... tidak ada balasan. Hanya tanda centang dua berwarna abu-abu yang berubah menjadi biru.
Nadhira menggigit bibir bawahnya gelisah. "Apa Pak Reyhan marah? Atau dia berpikir gue melalaikan kewajiban di rumah?" pikir Nadhira panik.
Tiba-tiba, ponsel di tangannya bergetar kencang. Bukan pesan balasan, melainkan sebuah panggilan suara masuk dari Pak Reyhan.
Nadhira tersentak kecil, mendadak panik melihat nama itu tertera di layar. Ia melirik cepat ke arah Kania yang sedang sibuk merapikan sisa akrilik di meja lab.
Dengan langkah terburu-buru, Nadhira setengah berlari menuju tangga darurat yang sunyi agar suaranya tidak terdengar oleh siapapun.
Ia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya.
"H-halo... Pak Reyhan?" bisik Nadhira pelan dan ragu.
Suara berat, dingin, dan sangat jernih khas Reyhan mendengung dari seberang telepon.
"Nadhira."
Penggalan nama itu diucapkan Reyhan dengan intonasi datar yang selalu sanggup membuat tengkuk Nadhira meremang.
"Menginap di rumah orang lain tanpa perencanaan matang adalah tindakan yang tidak efisien secara manajemen waktu dan keamanan," ujar Reyhan langsung pada intinya, meluncurkan kalimat evaluasi khasnya tanpa basa-basi.
Nadhira memegang erat pegangan tangga besi, berusaha membela diri dengan suara selembut mungkin. "Tapi Pak... ini situasi darurat. Kalau saya pulang ke rumah malam ini, saya kehilangan waktu di jalan. Terus besok bawa maket akrilik yang lemnya baru kering naik kendaraan sejauh itu risiko retak lagi sangat tinggi, Pak."
Hening sejenak di seberang telepon. Nadhira bisa mendengar helaan napas panjang Reyhan yang mengembus pelan di dekat mikrofon.
"Kosan teman kamu itu... apakah terjamin keamanannya?" tanya Reyhan kemudian, intonasi suaranya turun setengah nada, memancarkan nada protektif yang terselubung rapat di balik bahasa kakunya.
"Siapa saja yang tinggal di sana? Apakah ada akses orang luar yang bebas keluar masuk?"
"Aman banget, Pak Reyhan!" jawab Nadhira cepat, bersemangat karena merasa mendapat celah negosiasi.
"Kosan Kania itu khusus mahasiswi, ada penjaga gerbangnya di depan, dan ibu kosnya galak banget kalau ada orang luar asing masuk. Saya cuma berdua di kamar Kania sama tugas maket ini. Nggak akan ada cowok atau siapapun yang ke sana."
"Bagaimana dengan pakaian ganti dan kebutuhan pribadi kamu? Semua barang kamu ada di rumah."
"Nanti Kania bisa minjemin baju sama celana santai dia dulu kok, Pak. Ukuran baju kita mirip. Perlengkapan mandi juga bisa pakai punya Kania," terang Nadhira detail.
Kembali jeda hening menghiasi sambungan telepon itu selama beberapa detik. Nadhira membayangkan Reyhan di ruang dosennya saat ini sedang berdiri di dekat jendela, membetulkan letak kacamatanya dengan jari tengah sambil mengetukkan jemari lainnya di atas meja kayu, kebiasaan pria itu jika sedang menimbang sebuah keputusan penting.
"Jam berapa kamu mulai mengerjakan ulang maket itu di sana?" tanya Reyhan lagi.
"Begitu dari kampus ini kita langsung ke kosan Kania, Pak. Paling jam setengah enam sore udah bisa mulai motong pola akrilik baru."
"Baik."
Mata Nadhira seketika melebar. "B-berarti... boleh, Pak?"
"Saya mengizinkan kamu menginap di sana khusus untuk malam ini," putus Reyhan dengan nada sangat tegas dan resmi. "Namun ada tiga syarat yang harus kamu patuhi tanpa terkecuali."
Nadhira menegakkan posisinya di tangga darurat, mendengarkan bagai seorang prajurit menerima instruksi komandan. "Apa aja syaratnya, Pak Reyhan?"
"Pertama, kamu wajib melaporkan lokasi kosan teman kamu melalui fitur berbagi lokasi di chat begitu kamu sampai di sana."
"Siap, Pak!"
"Kedua, pukul sebelas malam kamu harus sudah menghentikan penggunaan alat potong tajam atau lem keras untuk beristirahat minimal lima jam. Pekerjaan yang dilakukan dalam kondisi lelah ekstrem hanya akan menurunkan hasil maket kamu."
Nadhira tersenyum tipis. "Bilang aja khawatir saya kecapekan atau kena pisau pemotong lagi," batin Nadhira gemas. "Iya, Pak Reyhan, siap."
"Dan ketiga..." Suara Reyhan mendadak merendah, menjadi sedikit lebih dalam. "Ponsel kamu harus selalu dalam keadaan aktif dan berada di dekat kamu. Jika saya menghubungi kamu dan tidak diangkat dalam waktu lima menit, saya sendiri yang akan datang menjemput kamu di kosan tersebut."
Ancaman itu diucapkan dengan intonasi begitu datar namun mengandung ketegasan mutlak yang tak bisa dibantah. Nadhira tahu suaminya tidak pernah main-main dengan ucapannya.
"Pasti aktif terus kok, Pak! Saya taruh di sebelah papan alas maket," janji Nadhira bersungguh-sungguh. "Makasii banyak ya, Pak Reyhan... udah ngizinin saya."
"Hm," sahut Reyhan pendek. "Kerjakan dengan teliti. Saya tidak akan memberikan toleransi pengampunan nilai hanya karena kamu menginap di kosan teman kamu. Besok pukul empat sore, saya menunggu hasil maket kamu."
"Baik, Pak Dosen! Saya tidak akan mengecewakan Pak Reyhan!"
Klik.
Sambungan telepon terputus secara sepihak dari seberang. Nadhira menurunkan ponsel dari telinganya, menyandarkan punggungnya ke dinding tembok tangga darurat dengan napas lega yang membuncah.
Senyum di bibirnya mengembang lebar. Pria kaku yang menjadi suaminya itu memang selalu punya cara sendiri yang unik dan penuh gengsi dalam menunjukkan perhatian serta dukungannya.
Nadhira segera melangkah keluar dari tangga darurat, kembali ke laboratorium tempat Kania sudah menunggunya di depan meja.
"Gimana, Nad?" tanya Kania penuh selidik begitu melihat Nadhira kembali dengan raut wajah yang tak lagi tegang. "Saudara lo ngizinin?"
Nadhira mengangguk mantap sambil tersenyum lebar. "Diizinin, Kan! Tapi dengan syarat gue gak boleh begadang sampai terlalu subuh dan harus ngabarin lokasi kosan lo."
Kania menepuk dadanya lega. "Alhamdulillah! Ya ampun, saudara lo protektif juga ya. Tapi bagus deh! Ya udah, yuk sekarang kita beresin serpihan akrilik yang ini, terus langsung meluncur ke kosan gue sebelum toko bahan maket di depan gang tutup!"
"Yuk!"
Kedua sahabat itu dengan cepat membereskan sisa-sisa puing maket yang rusak. Bagi Nadhira, malam panjang pengerjaan ulang maket baru saja dimulai.
Di bawah bayang-bayang sabotase yang hampir menghancurkan impian nilainya, Nadhira bertekad membalas kepercayaan dan kesempatan yang telah diberikan oleh Reyhan dengan sebuah karya perakitan maket terbaik yang pernah ia buat.
...Bersambung... ...