Kiara cuma punya satu impian di sekolah barunya: lulus dengan tenang tanpa drama.
Sayangnya, takdir malah melemparnya tepat ke lingkaran kehidupan Khafi Mahendra—cowok paling jahil, menyebalkan, dan susah ditebak di SMA Cahaya Permata.
Dua kepala batu. Dua pendirian kuat. Satu hubungan tanpa komitmen yang dipenuhi provokasi. Ketika benci menjadi satu-satunya bahasa yang mereka pahami, seberapa jauh mereka bisa saling menghindar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon theonlywaaannn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 : Hangat Yang Asing
"Kebetulan banget ya, Kiara sekelompok sama Khafi?" Ucap Mama Khafi saat Kiara datang menyaliminya.
Kiara tertawa canggung. "Iya nih, Tante." Jawabnya sambil mengikuti langkah Mama Khafi yang membawanya ke ruang tengah. Fathir dan Okta yang sudah selesai, ikut mengikuti di belakangnya.
Kiara memberikan bisikan kepada Nisya yang meliriknya seakan bertanya mengapa dirinya bisa datang bersama Khafi. "Mobil gue mogok." bisiknya sambil duduk seraya melepaskan jaket yang masih melingkar di pinggang dan meletakkan tas disampingnya.
Nisya menggangguk mengerti, lalu melanjutkan membantu Okta yang sedang menata kamera.
Khafi datang ke arah mereka, setelah pergi ke kamar dulu di lantai dua untuk mengisi daya ponselnya.
"Oh iya, tinggal bagian editing nih. Siapa yang bersedia aja deh ngerjainnya?" tanya Fathir.
Kiara mengangkat tangannya sambil terus meneguk es lemon tea yang memang sudah disiapkan di atas meja. "Gue aja, bisa kok dikit-dikit ngedit," Ucapnya sambil meletakkan gelas yang sudah terisi setengah itu kembali ke meja.
"Khafi juga jago lho ngedit. Bulan lalu dia ngedit video untuk promosi varian barunya donat Tante," Mama Khafi menyahut sambil meletakkan beberapa camilan ke meja.
Khafi yang sedang membaca daftar pertanyaan yang disiapkan oleh Misya dan Fathir mendelik. "Kalau lagi ada maksudnya aja tuh ngebanggain hasil kerjaan anaknya. Kemarin-kemarin bilangnya biasa aja," Gerutunya pelan sambil terus melihat isi kertas tersebut.
Mama Khafi menggeplak bahu anaknya dengan gemas. "Ya iyalah! Mama tuh udah tau ya akal bulus kamu, yang cuma mau ongkang-angking kaki tinggal terima beres kalau lagi ada tugas kerkom."
Khafi yang baru akan membalas, jadi terdiam saat sang Mama malah melemparkan pelototan tajam ke arahnya. Yang lain jadi ikut terkekeh pelan menyaksikan drama ibu dan anak yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Sebelum kamera dinyalakan, anggota kelompok dua Sosiologi ini sibuk berdiskusi untuk jalannya perekaman yang sebentar lagi dimulai.
Kiara yang awalnya sedang menyimak sambil membenahi kunciran rambut menoleh saat Mama Khafi ikut mendengarkan jalannya diskusi sambil duduk dekat di sebelahnya.
Mama Khafi menoleh dan mengusap lengan Kiara pelan. "Kiara sehat, Nak?" ucapnya lembut seperti saat terakhir kali mereka bertemu di minimarket malam itu.
"Sehat, Tante. Tante gimana kabarnya?" Kiara balas tersenyum seraya ikut mengusap tangan Mama Khafi yang kini menggenggam tangannya.
"Tante juga sehat kok, cuman ya seperti biasa, agak naik darah dikit kalau anak itu bikin ulah." katanya seraya menggelengkan pelan kepalanya.
"Tante kan emang tipikal Mama yang kepo ya, Tante tanya lah ke Khafi 'Kamu punya teman cewek kok nggak pernah ngenalin ke Mama? Bawa main ke sini dong, supaya Mama ada teman. Jangan cuman bawa Ferdi, Kevin, sama Pandu mulu yang pelan-pelan bikin Mama Bangkrut.' Eh, dia malah bilang katanya ketemu kamu pertama kali juga waktu kamu di parkiran sekolah dibawah pohon gede yang angker." Mama Khafi cerita seraya menggelengkan kepalanya capek dengan celetukan tidak masuk akal anaknya.
Kiara hanya mampu ikut tertawa pelan yang dipaksakan karena dalam hati ikut kesal juga dengan jawaban Khafi.
"Ibu-Ibu bisa fokus sebentar? Jangan sampai kita ngulang beberapa kali ya karena kalian sibuk ngerumpi."
Celetukan Khafi membuat Kiara dan Mamanya kompak meringis pelan dan meminta maaf karena ternyata semua sedang memperhatikan mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Pada makan malam dulu aja atuh, sekalian di sini." Mama Khafi berusaha menahan kepulangan mereka karena rintik hujan masih sesekali berjatuhan walaupun tidak sederas tadi.
Kerja kelompok yang harusnya tidak memakan waktu lebih dari dua jam malah mengaret karena hujan deras tiba-tiba mengguyur selepas Adzan Maghrib berkumandang.
Nisya tersenyum sungkan mewakili yang lainnya, "Nggak usah, Tante, takut ngerepotin. Tadi juga kita kan udah banyak ngemil camilan sama nyobain donat buatan Tante juga,"
Mama Khafi mendelik. "Nggak ngerepotin kok, malah Tante senang banget kalau makan ramai-ramai." ucapnya yang membuat semua orang meringis sungkan, kecuali Khafi yang hanya menonton sambil mengunyah kacang goreng.
"Makasih sebelumnya, Tan, tapi udah ditunggu di rumah..." kali ini Fathir yang angkat bicara yang diangguki oleh semuanya. Kecuali Kiara yang ikutan mengangguk walaupun faktanya di rumah tidak ada yang menunggu kepulangannya.
Mama Khafi menghembuskan napasnya pelan sambil menggaruk satu alisnya yang tidak gatal. "Yaudah deh kalau kalian mau pulang aja,"
Kemudian, pandangannya beralih ke arah Kiara yang sedang melamun melirik gerimis kecil di halaman rumah yang pintunya sengaja terbuka. "Tapi, Kiara... Kata Khafi mobil jemputan kamu lagi di bengkel?"
Kiara tersentak, agak kaget saat Mama Khafi tiba-tiba melontarkan pertanyaan kepadanya. Ia melirik sekilas ke arah Khafi yang kali ini juga sedang menatapnya. "Iya, Tante. Tapi nanti aku pulangnya mau pesan Gojek aja."
Mama Khafi menggeleng tegas. "Kiara kan kesininya sama Khafi, jadi nanti pulangnya dianterin lagi ya. Sekarang kamu makan malam di sini dulu. Sekalian nunggu reda kan bisa sambil nyicil ngedit bareng..." jelasnya seraya menatap Kiara memohon.
Kiara mengusap lengannya canggung sambil melirik ke arah Khafi yang tadinya juga mendelik ke arah Mamanya, jadi mengangkat bahunya santai lalu mendongakkan dagunya ke arah Kiara.
Kiara mendengus pelan lalu melirik teman-temannya yang hanya memberi tatapan pasrah.
"Mau ya, Ara? Tante beneran lagi nggak ada temennya nih. Khafi mah, cuman bisa bikin kesel doang. Ferdi, Kevin sama Pandu juga lagi dikurung di rumahnya masing-masing, jadi sepi di sini." Tawar Mama Khafi yang membuat Khafi mengelus dadanya sabar sembari mengunyah dengan rasa lelah menghadapi sikap drama sang Mama.
Kiara akhirnya hanya menggangguk sambil tetap tersenyum sungkan. "Boleh deh, Tante..."
Mama Khafi langsung tersenyum sumringah lalu bangkit dari duduknya. "Ya udah! Kalian juga tunggu sebentar ya, Tante mau bungkusin makanan dulu buat dibawa pulang," ujarnya sambil berlalu ke dapur dan sempat menampilkan wajah garang kala Misya bergumam sungkan untuk mewakili yang lain.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kiara menatap jengah layar laptop yang kini menampilkan transisi berbagai warna cerah dan musik yang berdentum kencang, sedangkan Khafi yang di sebelahnya asyik mengangguk-anggukan kepala mengikuti irama.
Setelah menekan tombol pause, Kiara menatap Khafi dengan geram. "Yang bener aja deh, Khaf! Nggak pakai jedag-jedug juga editing-nya!"
Khafi melirik malas ke arah Grizelle. "Biar keren, Kuntil! Bu Linda pasti melotot kagum pas nonton nanti."
"Bukannya kagum, yang ada kepala Bu Linda pusing kena epilepsi gara-gara kerlap-kerlip beginian."
Kiara merebut moshpad dan mengembalikan template ke bentuk awal yang lebih bersih dan rapi. "Konsepnya kan wawancara usaha, masa lagunya jedag-jedug begini. Pas bagian tanya jawab lagi," lanjutnya mengomel.
Khafi menghela napas panjang. "Bosen pasti cuma dengerin orang ngobrol panjang doang, yang ada Bu Linda tidur liat editan lo yang kepalang lembut begitu."
Kiara mendelik tidak terima. "Kan supaya lebih paham dan kedengeran kita lagi bahas apa, dari pada jedug-jedug barusan berasa tetangga lo lagi ada hajatan."
Kali ini Khafi membiarkan jemari lentik Kiara lincah menggeser pemotong klip di layar. Meski mulutnya sibuk memprotes, Khafi tetap betah duduk bersandar di samping Kiara, sesekali memberitahu urutan audio yang pas.
"Nanti bagian closing-nya lo yang atur deh, terserah mau jedag-jedug atau dangdut sekalian," Karena merasa tidak enak melihat Khafi yang nurut padanya, Kiara akhirnya memberikan kebebasan Khafi untuk berkreasi.
Khafi hanya mencibir karena ucapan Kiara terkesan meledeknya, ia hanya bergumam malas menatap layar laptopnya dan sesekali menjahili Kiara dengan mencoretkan pulpen ke punggung tangannya yang pasti langsung dibalas dengan coretan penuh ke telapak tangannya sendiri.
"Khafi! Ara! Ayo makan dulu, ntar dilanjut lagi!" panggil Mama Khafi dari arah meja makan.
Kiara segera menyimpan draft-nya, lalu berjalan bersama Khafi menuju ruang makan. Di sana, meja sudah dipenuhi lauk rumahan yang meriah—mulai dari ayam goreng serundeng, sambal terasi, tahu tempe, hingga sayur asam yang aromanya sangat menggugah selera dikala hujan seperti ini.
Mama Khafi menepuk pelan tangan anaknya yang dengan lancang ingin mengambil tahu. Seraya mengerutkan dahinya, ia melihat kedua tangan anak remaja di depannya kotor sekali banyak coretan pulpen. "Perasaan kalian mainin laptop kok malah jadi coret-coret begini,"
Khafi dan Kiara sama-sama meringis melihat kondisi tangan mereka, namun setelah itu saling melempar tatapan tajam.
Setelah bergantian cuci tangan di wastafel dengan tertib, Kiara duduk di kursi sebelah Khafi yang sudah disiapkan oleh Mama Khafi.
"Ayo makan, Ara. Dianggap rumah sendiri aja ya," sambut Mama Khafi hangat sambil menyendokkan nasi hangat ke piring Kiara tanpa ragu.
"Makasih, Tante. Aku aja yang ambil sendiri nggak apa-apa," gumamnya sungkan takut merepotkan, namun Khafi pasti tidak membiarkannya makan dengan tenang.
"Bukan porsi dia itu, Mam. Biasa ngambil dua bakul, nggak cukup cuman segitu." ucapnya meledek sembari mengunyah.
Kiara mendelik tidak terima, kakinya menendang ke samping dengan sebal. "Nggak ada ya gue makan segitu banyaknya."
Mama Khafi menengahi sambil terus menyiapkan untuk Kiara. "Hush, Biarin aja emang si Khafi ini nggak bisa bikin orang tenang ya." omelnya lalu memberikan segelas air di depan Khafi dan Kiara.
Papa Khafi yang sehabis pulang dari kantor tadi baru saja selesai mandi pun langsung bergabung di meja. "Makan yang banyak ya, Kiara.Tante Siska ini kalau masak suka heboh, berasa ngasih makan sekampung padahal isinya cuma tiga orang."
Kiara sudah berkenalan singkat saat Papa Khafi menyapanya dengan hangat saat pulang tadi. "Hehe, iya, Om. Dimakan ya, Om, Tante..."
gumamnya dengan canggung. Khafi yang di sebelahnya sampai terkekeh sendiri melihat musuhnya itu kikuk saat akan menyuap.
Suasana makan malam itu terasa begitu riuh. Om Hendra sibuk menanyakan progress pertandingan basket yang akan mendatang, Tante Siska terus-terusan mengomeli cara makan Khafi yang berantakan karena terlalu bersemangat menjawab, sementara Khafi tak henti-hentinya membalas gurauan orang tuanya dengan nada tengil.
Kiara terdiam di tempatnya, memegang sendok dengan tatapan sedikit sendu. Dada gadis itu terasa agak sesak.
Suasana ramai ini begitu asing baginya.
Di rumahnya sendiri, meja makan hanyalah pajangan dingin. Tidak ada gelak tawa, tidak ada omelan gemas, dan tidak ada piring yang diisikan nasi oleh seorang ibu. Yang ada hanya kesunyian, atau perdebatan kaku soal nilai dan tuntutan formalitas.
"Kiara? Ara? Kok melamun, Nak? Lauknya nggak suka ya?" teguran lembut Mama Khafi menyadarkan Kiara.
Kiara buru-buru mengerjapkan matanya yang mulai terasa hangat dan mengulas senyum. "Eh, nggak kok, Tante. Enak banget malah, masakan Tante mirip kayak yang suka aku bayangin."
Mama Khafi tersenyum hangat, menepuk pelan tangan Kiara di atas meja. Khafi yang berada di sampingnya sempat melirik perlahan, menangkap guratan sepi di mata Kiara yang biasanya selalu galak itu.
"Kalau Kiara, punya berapa saudara di rumah?" Kali ini Papa Khafi bertanya sambil menyuapkan sesendok makanan terakhirnya.
Kiara meneguk air putih terlebih dahulu, lalu mengusap sudut bibirnya yang basah. "Kiara anak tunggal, Om,"
Mama Khafi berseru heboh. "Oh, sama juga kaya Khafi ya. Tapi walaupun dia tunggal, semenjak dari SD kenal sama Ferdi, Kevin, dan Pandu jadi nggak berasa punya anak tunggal lagi sekarang,"
Kiara terkekeh pelan melihat cara bicara Mama Khafi, lalu berdehem pelan. "Ramai ya, Tante? Asyik banget nggak kerasa sepi. Soalnya kalau di rumah Kiara emang sepi, Mama sama Papa kerjanya terlalu sibuk di luar,"
Khafi kali ini menoleh dengan sengaja, mengamati perubahan wajah Kiara yang tiba-tiba sendu dan tegang secara bersamaan.
Kiara sendiri terpaku sejenak, lalu membasahi bibir bawahnya merasa gugup seketika dan menyesal karena terlalu terbawa perasaan.
Tante Siska berpandangan sejenak dengan suaminya, lalu mengusap punggung tangan Kiara yang mengepal di pinggir piring yang telah kosong. "Kalau kayak gitu, Tante nggak segan-segan lagi nih ngajakin Kiara buat main ke sini terus. Tante tuh pengen banget tau punya temen cewek, tapi karena dikelilingi sama cowok semua jadi bawaannya malah naik darah sendiri,"
Papa Khafi mengangguk setuju. "Sering main aja ke sini ya, Kiara. Dekat juga kok dari komplek rumah kamu. Nanti kan bisa sama Khafi pulangnya, atau kalau ada Ferdi, Kevin, sama Pandu juga bisa kok mereka."
Dada Kiara terasa penuh dengan tawaran hangat seperti itu, bibirnya otomatis mengulas senyum paling manis yang ia punya.
Di sampingnya, Khafi tidak bersuara, tetapi dengan tenang menggeser piring berisi jeruk yang sudah ia kupas lebih dekat ke arah Kiara.