Indonesia
NovelToon NovelToon
SEPERTIGA (MANUSIA, DEWA DAN SILUMAN)

SEPERTIGA (MANUSIA, DEWA DAN SILUMAN)

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:419
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Lu Chen adalah seorang pemuda berusia dua puluhan yang hidup terasing di pinggiran Desa Qingfu. Di balik penampilannya yang sederhana sebagai peracik obat herbal yang pendiam, ia menyimpan sebuah rahasia besar dan mengerikan: garis keturunan gila yang menggabungkan tiga unsur sekaligus, yaitu darah manusia yang fana, cahaya dewa yang suci, dan kutukan siluman kegelapan.

Secara fisik, Lu Chen memiliki daya tarik yang kuat dengan garis wajah tegas, namun tubuhnya menyimpan ketidakseimbangan yang berbahaya. Matanya memiliki dua warna yang berbeda; mata sebelah kanan memancarkan cahaya keemasan yang hangat dan tenang, melambangkan sisa-sisa kekuatan dewanya, sementara mata sebelah kiri sering kali berubah menjadi ungu legam yang dingin saat emosinya tak terkendali. Di leher hingga sebagian wajahnya juga tersembunyi rajah alami berupa sulur-sulur hitam yang menandakan segel kutukan siluman purba.

Dari segi sifat dan kepribadian, Lu Chen adalah sosok yang sabar, lembut, dan sangat peduli

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 — JURANG NERAKA & PELARIAN

Alam Fana membentang sunyi, tepat tiga bulan berselang sejak pelarian dramatis lewat Jalan Pengasingan.

Desa Batas, permukiman paling ujung yang luput dari peta kekuasaan Langit, menjadi tempat persembunyian mereka. Di halaman belakang sebuah gubuk reyot, Lu Chen menebang kayu bakar dengan gerakan ritmis. Rambutnya yang kini telah berubah menjadi setengah putih tertutup topi jerami anyaman kasar, sengaja dipakai untuk menyembunyikan pola Segel Tiga Alam di lehernya. Di dekat perapian, Xue Ling sibuk memasak ramuan obat, sementara bahunya masih menyisakan bekas luka sayatan pertempuran lampau.

Panel status melayang redup, merekam perjalanan waktu mereka:

LU CHEN: UMUR 16 - TAHAP PENYATU DARAH IBLIS: 65% TERKENDALI SHEN YUE: STATUS TIDAK DIKETAHUI - TERKEPUNG MUSUH: PATROLI LANGIT MINGGUAN

"Ibu pasti sedang menahan mereka," ucap Lu Chen lirih, mendongak menatap langit kelabu. "Aku harus menjadi lebih kuat."

Xue Ling mendengus pelan, melemparkan mangkuk sup hangat ke pangkuan pemuda itu. "Makan. Jangan hanya melamun terus."

Tiba-tiba, suara dentang lonceng darurat menggema memecah ketenangan desa. TONG! TONG! TONG!

"Patroli Langit datang!" teriakan panik warga bersahut-sahutan.

Lima orang Penegak Langit meluncur turun dari angkasa, mendarat di tengah desa sambil membentangkan gulungan bergambar buronan:

BURONAN TINGKAT I: 1. SHEN YUE - PENGKHIANAT HUKUM 2. LU CHEN - NODA SEMESTA 3. XUE LING - MURID PENGKHIANAT

"Geledah setiap rumah!" perintah sang komandan pasukan dengan suara dingin menggelegar.

Lu Chen menggenggam erat gagang sabitnya. Desiran darah iblis enambelas persen di dalam tubuhnya mendadak bergejolak, siap meledak keluar.

"Tahan," bisik Xue Ling tajam, mencengkeram lengan Lu Chen. "Jaga segelmu."

Lu Chen menarik napas dalam-dalam. Segel Tiga Alam di lehernya berpendar samar, meredam auranya hingga tampak tak berbeda dari seorang petani biasa. Mereka berhasil lolos dari penggeledahan, namun seorang warga paruh baya diseret paksa karena dituduh melindungi buronan.

Malam harinya, suasana di gubuk itu terasa pekat oleh ketegangan.

"Kita tidak bisa terus bersembunyi di sini," kata Xue Ling serius. "Patroli Langit semakin gencar."

Lu Chen membentangkan sebuah peta usang di atas meja kayu. "Hanya ada satu tempat di dunia ini yang tidak berani disentuh oleh para dewa."

Jarinya menunjuk satu titik terdalam: JURANG NERAKA - LAPISAN KEDUA.

Xue Ling membelalakkan mata. "Kau sudah gila? Itu tempat pembuangan bagi semua ras yang dibuang dan dikutuk semesta."

"Justru itu pas," jawab Lu Chen tegas. "Ibu bilang aku harus belajar dari mereka yang tertindas."

TURUN KE JURANG LAPISAN KEDUA

Sebuah lubang raksasa menganga di tengah hutan mati, memancarkan bau belerang dan kebusukan yang menyengat. Mereka melompat turun menembus kegelapan hingga kedalaman seribu meter, di mana udara berubah menjadi panas membakar.

Sesampainya di dasar, pemandangan kota bawah tanah menyambut mereka.

Bukan kota manusia pada umumnya. Di sini berkumpul para makhluk buangan: manusia bertanduk, iblis kerdil, dewa jatuh dengan sayap terpatah, hingga monster lumpur hidup.

SELAMAT DATANG DI PASAR PEMBUANGAN HUKUM: YANG KUAT HIDUP, YANG LEMAH MATI

Baru lima menit mereka melangkah, tiga preman berwajah buruk rupa mencegat jalan. "Anak baru? Mana upeti kalian?"

Lu Chen bergeming. Segel di lehernya bereaksi mendadak.

Saat salah satu preman menyentuh bahunya, DUAR! Tangan preman itu terpental hangus tersengat tiga kekuatan sekaligus.

"M-monster?!" jerit sang preman ketakutan sebelum kabur terbirit-birit.

Xue Ling terkekeh pelan. "Cukup efektif juga segel itu."

Mereka menyusuri jalanan hingga tiba di sebuah penginapan tua, menemui seorang lelaki lanjut usia yang membungkuk dengan kedua mata tertutup kain putih.

NAMA: TUA GUA RAS: SETENGAH DEWA SETENGAH IBLIS STATUS: PENJAGA PENGETAHUAN TERBUANG

"Kalian membawa bau Langit," suara serak Tua Gua memecah sunyi. "Juga bau Iblis. Serta bau Manusia."

Lu Chen terkesiap. "Kakek bisa melihat kami?"

"Aku buta secara fisik. Tapi jiwaku mampu melihat tiga warna menyala di tubuhmu," jawab Tua Gua tersenyum misterius. "Kau adalah kunci takdir."

Ia melempar sebuah buku bersampul kulit usang ke pangkuan Lu Chen: JURNAL TIGA DARAH.

"Buku ini berisi metode mengendalikan batas tujuh puluh persen. Tapi harganya... kau harus melewati Ujian Jurang."

"Ujian seperti apa?" tanya Lu Chen waspada.

"Bertahan hidup selama tujuh hari di Arena Pembuangan. Tanpa merenggut satupun nyawa."

Xue Ling hendak memprotes keras, namun Tua Gua menunjuk ke langit atap gua. "Pasukan Langit sudah mendeteksi keberadaan kalian. Pilih, hadapi ujian itu atau mati sekarang."

Di atas sana, suara gemuruh mendekat: "GELEDAH LAPISAN KEDUA! TANGKAP SANG NODA!"

HARI PERTAMA HINGGA KETUJUH DI ARENA

Arena pertarungan berukuran raksasa dipadati ribuan penonton dari ras terbuang.

Pada hari pertama, lawan Lu Chen adalah Raksasa Lumpur - Tahap Iblis Rendah. Aturannya mutlak: kalahkan musuh tanpa membunuh.

Lu Chen bergerak cepat. Ia memadukan Tinju Manusia untuk mengunci pergerakan, Es Dewa untuk membekukan kaki musuh, dan Kabut Iblis untuk mengecoh pandangan. Dalam sepuluh menit, sang raksasa ambruk pingsan. Penonton terdiam terpukau, lalu bersorak gemuruh, "Anomali!"

Hari kedua hingga keenam, lawan yang dihadapi semakin mengerikan: naga tanpa sayap, dewa yang jatuh dari singgasana, hingga iblis berkepala dua. Namun Lu Chen konsisten menahan diri, tidak satupun lawannya tewas.

Tiap malam, ia tekun mempelajari Jurnal Tiga Darah, meracik jurus baru: Tinju Tiga Alam (30% Kekuatan).

Tiba di hari ketujuh, babak final penentuan. Lawannya adalah Penjaga Arena - Tahap Iblis Menengah.

Pertarungan sengit berlangsung selama satu jam penuh. Lu Chen babak belur, tubuhnya penuh luka robek. Namun, saat momentum kemenangan di tangannya dan tinjunya terayun tepat di depan leher lawan, ia menghentikan seruannya. "Aku menang."

Sang penjaga arena terduduk lemas, air matanya menetes. "Seratus tahun... baru kali ini ada petarung yang mengampuni nyawaku."

BOOM!

Dinding arena hancur lebur. Dua puluh Penegak Langit melompat turun mengepung. "Ketemu kalian!" teriak sang komandan.

Tua Gua muncul dari balik bayangan. "Anak ini telah lulus ujian arena. Dia berhak bebas."

Komandan itu tertawa meremehkan. "Kami akan mengambilnya dari mayatnya!"

Lu Chen bangkit perlahan. Darah segar menetes dari pelipisnya, namun tatapannya memancarkan ketenangan mutlak.

DARAH IBLIS: 65% -> 68% JURUS BARU: TINJU TIGA ALAM

"Xue Ling, mundur ke belakang," perintah Lu Chen datar.

"Kau gila?!" seru Xue Ling cemas.

Lu Chen tersenyum tipis—senyuman tulus pertama kalinya setelah sekian lama. "Aku bukan noda. Aku Lu Chen."

DUAR!

Hantaman telapak tangannya ke tanah memicu gelombang kejut yang langsung memukul mundur dua puluh Penegak Langit sekaligus.

"Mari berjalan," ucap Lu Chen kepada rekannya. "Kita turun ke Lapisan Ketiga. Cari artefak pertama: Tulang Dewa."

Xue Ling menatap punggung pemuda itu dengan takjub. "Anak ini... benar-benar telah berubah."

Mereka melesat menembus kegelapan jurang yang lebih dalam. Dari atas sana, gema suara Dewa Eksekusi mengancam: "Dia semakin kuat! Bunuh sebelum kekuatannya mencapai seratus persen!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!