Indonesia
NovelToon NovelToon
Hi My Lord

Hi My Lord

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Ibu susu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku punya segalanya, kecuali izin untuk mencintaimu." — Arthur
______

"Hi, Mr. Lord! Aku bukan siapa-siapamu, tapi mulutku masih hafal cara memanggilmu." — Snow
_______

Benedictus Arthur Blackwood, pewaris tunggal kerajaan yang dingin dan tegas, terpaksa menikahi sahabatnya—Dixie Savea Lopez—akibat ancaman bunuh diri yang manipulatif.
Meski terikat pernikahan tanpa cinta dan tanpa sentuhan, takdir kembali mempermainkannya saat sang putra butuh asupan ibu susu.

Lima tahun berlalu sejak malam terlarang di Hampshire, wanita tanpa nama yang pergi meninggalkan Arthur tanpa patah kata kini hadir di hadapannya sebagai "Snow"—ibu susu yang dipillih oleh istrinya sendiri.

Di tengah intrik politik istana, kecurigaan Savea, dan rahasia masa lalu yang membakar, Arthur harus berjuang menahan diri dari Rasa kepemilikan mendalam pada Snow.

Sebuah kisah romansa terlarang tentang takdir, dominasi, dan rasa cinta yang terperangkap di balik dinding emas kehormatan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#31

Fajar menyingsing di Ujung Timur Istana Blackwood, membias sinar keemasan yang menerobos masuk melalui jendela-jendela tinggi berbingkai kaca patri. Kendati pagi menyajikan lanskap keindahan yang tenang, kehangatan surya tidak sanggup mengikis hawa dingin yang mengendap di dalam aula makan kerajaan.

Di atas meja panjang terbuat dari kayu jati berukir berlapis kain linen putih murni, santapan pagi telah tersaji secara mewah. Namun, tidak ada dentang sendok yang meriah atau riak perbincangan hangat layaknya sebuah keluarga bangsawan. Suasana begitu sunyi, menyisakan ketegangan tak kasat mata yang menggantung di udara.

Raja Alistair duduk di ujung meja, memegang cangkir porselen berisi teh hitam pekat yang tak juga diseruputnya. Di sisinya, Ratu Baxeena duduk dengan postur kaku. Kelopak mata Sang Ratu tampak sembap dan menghitam—pertanda bahwasanya wanita nomor satu di Istana Blackwood itu tidak mengecap tidur sedikit pun sepanjang malam.

Tak lama berselang, langkah kaki terdengar memecah keheningan. Arthur berjalan masuk ke dalam aula makan, disusul oleh Snow yang melangkah anggun di sampingnya sembari memangku Bayi Ocean yang telah terlelap tenang dalam balutan selimut rajut putih.

Pandangan Ratu Baxeena seketika tertuju pada Snow. Matanya yang tajam dan berpengalaman menangkap detil-detil tersembunyi dengan amat jeli.

Di balik kerah gaun tinggi yang dikenakan Snow, terbias rona kemerahan yang tak mampu tertutupi sepenuhnya—bercak-bercak ruam kepemilikan yang tertanam di sepanjang garis leher mulus wanita itu. Sang Ratu tahu betul apa yang telah terjadi di kamar lantai dua sepanjang malam bertarung.

Arthur menarik kursi untuk Snow dengan kehati-hatian yang teramat sangat, sebelum akhirnya ia duduk di sisinya sendiri.

"Bagaimana keadaan Ocean pagi ini?" suara Raja Alistair akhirnya mengalun, membuka percakapan dengan intonasi yang diusahakan setenang mungkin, walau kegelisahan jelas tersirat di balik matanya.

"Dia tidur dengan sangat nyenyak, Yang Mulia," jawab Snow datar namun sopan.

Raja Alistair meletakkan cangkirnya perlahan ke atas lepek. Pria sepuh berwibawa itu menghela napas panjang, menatap Snow dan Arthur secara bergantian.

"Mengenai kejelasan hubungan kalian..." lanjut Raja Alistair dengan intonasi berat yang sarat akan pertimbangan politis dan kekeluargaan. "Perceraian Arthur dan Savea telah diproses oleh tim hukum kerajaan sejak subuh tadi. Dalam hitungan jam, Savea bukan lagi bagian dari keluarga Blackwood. Namun, kami tidak bisa membiarkan Ocean tumbuh tanpa legitimasi hukum yang utuh. Kerajaan membutuhkan kepastian... Bagaimana kedepannya hubunganmu dengan Arthur, Snow?"

Arthur menundukkan kepalanya, membisu. Ia menolak memberikan tekanan atau desakan apa pun pada Snow, membiarkan wanita di sampingnya memegang kendali penuh atas takdir mereka.

Namun, sebelum Snow sempat membuka mulut untuk merangkai jawaban, pergerakan mendadak dari Ratu Baxeena membekukan semua orang di ruangan itu.

Ratu Baxeena—seorang wanita agung yang dikenal dingin, berwibawa, dan tak pernah tunduk di hadapan siapa pun—perlahan bangkit dari kursinya. Dengan langkah gemetar, Sang Ratu mengikis jarak menuju tempat Snow duduk.

Brak...

Tanpa mempedulikan mahkota yang bertengger di kepalanya atau martabat bangsawan yang dijaganya selama puluhan tahun, Ratu Baxeena berlutut di atas lantai marmer, tepat di samping kursi Snow.

"Baxeena!" jerit Raja Alistair terperanjat dari tempat duduknya, melangkah maju hendak menahan istrinya.

"Jangan hentikan aku, Alistair!" tangis Ratu Baxeena pecah seketika. Air mata yang selama ini ditahannya meluncur deras membasahi paras agungnya yang kian keriput oleh usia.

Sang Ratu mengabaikan rasa terkejut dari para pelayan yang berbaris di dinding. Ia menengadahkan kepalanya, menatap Snow dengan jemari bergetar yang meraih perlahan kain gaun wanita muda itu.

"Nona Snow... aku mohon padamu..." bisik Ratu Baxeena, suaranya parau dan terputus-putus oleh raung kepedihan seorang ibu yang hancur. "Aku tidak tahu dendam kelam apa yang menyelimutimu... Aku tidak tahu dosa besar apa yang telah dilakukan putraku hingga membuatmu begitu membencinya..."

Ratu Baxeena mencengkeram kain gaun Snow, matanya memancarkan permohonan yang begitu meremukkan jiwa.

"Tapi aku mohon... lihatlah putraku, Snow," ratap Sang Ratu dengan dialog yang menyayat hati. "Selama tiga tahun terakhir ini, Arthur hidup bagaikan bangkai bernapas di bawah belenggu manipulasi Savea. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana matanya kehilangan cahaya, bagaimana jiwanya tersiksa dalam neraka penyesalan yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun! Dia mati rasa, Snow! Dia hidup tanpa jiwa!"

Ratu Baxeena terisak hebat, badannya terguncang di atas marmer dingin. "Jika dengan berlutut dan mengikis seluruh harga diriku sebagai seorang Ratu di bawah kakimu sanggup melunakkan hatimu... maka akan kulakukan seumur hidupku! Aku mohon... jadilah sumber kebahagiaannya kembali. Jangan tinggalkan dia... Biarkan putraku mengecap sedikit kehangatan sebelum jiwanya benar-benar hancur!"

Melihat penguasa tertinggi wanita Istana Blackwood berlutut dan menangis bersimbah air mata di bawah kakinya, Snow tersentak hebat. Dengan Ocean yang masih tertidur di pangkuannya, Snow merasa teramat kesulitan untuk menunduk atau meraih bahu sang Ratu.

Lehernya yang memerah penuh bercak bekas gigitan dan kecupan panas Arthur dari semalam terasa hangat merona sewaktu tatapan mata seluruh ruangan tertuju padanya. Dengan napas yang tertahan di tenggorokan, Snow berusaha keras menggeser duduknya, memiringkan tubuhnya untuk menahan gerak Ratu Baxeena.

"Jangan seperti ini, Yang Mulia... Saya mohon, berdirilah," ucap Snow, suaranya bergetar menahan luapan emosi yang membendung di dadanya.

"Tidak sebelum kau berjanji tidak akan membawa Ocean dan pergi meninggalkan Arthur!" tangis Ratu Baxeena kian mendayu.

Snow memejamkan matanya rapat-rapat. Demi Tuhan... semalaman suntuk di dalam kamar itu, di saat Arthur tertidur lelap setelah pergumulan gila mereka dengan kepala bersandar di pahanya, Snow telah memikirkan semuanya. Ia telah menimbang tiap luka, tiap jejak darah ibunya, dan masa depan putra mungil di dalam pelukannya.

Dendam itu ada, luka itu abadi. Namun, di atas segalanya, Snow menyadari satu hal yang teramat esensial: ia harus mengutamakan kebahagiaan dirinya sendiri dan putranya. Dan pusat dari jagat raya kehidupannya... kini tak bisa dimungkiri hanya tertuju pada satu nama.

Pusat itu ada pada Benedictus Arthur Blackwood.

Snow perlahan membuka matanya kembali. Tatapannya kini terlihat amat jernih, sarat akan ketetapan hati yang tak tergoyahkan. Ia menatap Ratu Baxeena dengan senyuman tipis yang amat lembut namun berwibawa.

"Berdirilah, Yang Mulia Ratu..." bisik Snow dengan intonasi yang mengalun tenang. "Cinta saya... jauh lebih besar daripada rasa benci itu."

Deg.

Arthur yang duduk membisu di sampingnya mendadak menghentikan napasnya. Pria tegap itu mengangkat kepalanya cepat, menatap Snow dengan sepasang mata membara tak percaya.

"Cinta saya lebih besar dari pada dendam itu, Yang Mulia," ulang Snow sekali lagi, menatap lurus ke arah Raja Alistair dan Ratu Baxeena. "Saya tidak akan pergi membawa Ocean. Saya akan tetap di sini."

Snow berpaling lambat, membenturkan pandangannya tepat pada sepasang manik kelam milik Arthur yang dipenuhi derai air mata haru. Sebuah intonasi dingin namun sarat akan kepemilikan abadi meluncur dari bibirnya.

"Saya akan berada di sisinya..." lanjut Snow dengan intonasi melankolis yang mengikat takdir mereka. "...bukan untuk membebaskannya. Tapi agar saya bisa menghukum pria ini dengan cinta dan sisa hidup saya... selamanya."

1
Astrid Kucrit
ocean minta adik tuhh 😂😂
Astrid Kucrit
menikah jugaaaa 👏👏
Rosdianah 🌷: yeayyy🥳
total 1 replies
Yusry Ajay
akhirnya snow menikah jg🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
keren raja
Astrid Kucrit
yukk nikah yukk
Astrid Kucrit
yeeaayyyyyyy akhirnyaaaaaa 👏👏
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
di tunggu besok
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
ya kk lanjut besok ditunggu up nya kk Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Ranita Rani
q kurang paham waktu mundur dlm crta ini,,,,
Ranita Rani
ocean umur brp sih
Rosdianah 🌷: Ocean umur dua bulan sebelumnya ya kak
total 1 replies
Astrid Kucrit
siap2 kaget tur arthur
Rosdianah 🌷: Gedubrak dia🤣
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan berpikir buruk dulu arthur
Astrid Kucrit
silahkan bermimpi savea
Leo
Bener2 cerita yg keren, selalu bikin penasaran
Rosdianah 🌷: ikutin terus cerita nya kak🤭
total 2 replies
Yusry Ajay
savea ga waras..🤔
Rosdianah 🌷: author silent 🤭🤣
total 1 replies
Leo
Bener2 gila nihh savea
Rosdianah 🌷: mau digetok 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan termakan bualan istrimu
Rosdianah 🌷: nah kasih tau 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
tunggu tanggal mainnya wanita gila
Rosdianah 🌷: wkwkw🤭
total 1 replies
Hotmayanti Yanti
semoga ocean tidak jadi tumbal,kasian Thor 😭
Rosdianah 🌷: tenang kak🫶
total 1 replies
Leo
Ceritanya keren gak sabar nunggu lanjutnya
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!