Indonesia
NovelToon NovelToon
JANJI ULAR PUTIH (IKRAR ABADI)

JANJI ULAR PUTIH (IKRAR ABADI)

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:222
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Lian Yue terbangun tanpa ingatan dan segera menyadari dirinya bukan manusia biasa. Di sisi lain, Shen Rui adalah pemburu siluman yang sejak kecil diajarkan untuk membunuh Ular Putih.

Namun saat mereka bertemu, keduanya justru merasa seolah pernah saling mengenal.

Sedikit demi sedikit, terungkap bahwa selama seribu tahun mereka selalu dipertemukan, jatuh cinta, lalu dipisahkan oleh kematian.

Kini Lian Yue dan Shen Rui harus memilih: tunduk pada kutukan lama, atau melawan takdir demi satu kehidupan bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: AKU PERCAYA PADAMU

Kobaran api suci berwarna kuning emas membubung tinggi di sekeliling pelataran Hutan Bambu Hitam. Suara gemeretak batang-batang bambu tua yang terbakar bercampur dengan desis asap pekat yang menyengat hidung. Suhu di dalam lingkaran pengepungan itu melonjak drastis, mengikis hawa dingin fajar yang menyelimuti kaki Gunung Wuyin.

Di tengah kepungan lidah api perunggu tersebut, Lian Yue dan Qing Luo berdiri berdampingan. Qing Luo mendesis rendah, aura qi hijau pekat meledak dari dalam dadanya untuk menahan hempasan hawa panas api suci. Mata zamrudnya berkilat penuh kebuasan sewaktu menatap sosok yang baru saja melangkah keluar dari balik dinding asap.

Shen Rui berjalan tegap. Pedang Zhaoyang yang terhunus di tangan kanannya memancarkan kilatan baja perunggu yang dingin. Wajah sang pemburu siluman tampak sekeras batu pahatan, tidak menunjukkan emosi sedikit pun sewaktu matanya terkunci pada sosok Lian Yue.

"Pemburu Tianjian!" bentak Qing Luo murka, merentangkan jemarinya yang berkuku tajam bagai belati. "Kau datang tepat waktu untuk memamerkan kejahatan kaummu! Apakah membakar siluman yang tak bersalah adalah ajaran yang diagungkan di perguruanmu?"

Shen Rui tidak mengindahkan ancaman Qing Luo. Langkah kakinya terhenti sepuluh tindak dari barisan tempat Lian Yue berdiri. Ia mengangkat tangan kirinya yang menggenggam kain sutra mantra, lalu melempar benda itu ke arah tanah di depan Lian Yue.

Kain sutra itu terhampar. Di atasnya, tergeletak sisik perak bening yang diambil Shen Rui dari dada mayat pencari kayu di desa.

"Sisik ini ditemukan di tubuh korban pembantaian semalam," kata Shen Rui dengan suara rendah yang berat dan mantap. "Seluruh warga Desa Wuxi menuduhmu sebagai pembunuhnya. Mereka menuntut kepalamu untuk dibakar di atas kayu pancang sebelum matahari terbenam."

Lian Yue menunduk menatap sisik perak yang tergeletak di atas tanah. Tubuhnya gemetar pelan. Mata peraknya yang jernih memancarkan kepedihan yang amat dalam sewaktu menatap benda tersebut, lalu beralih menatap lurus ke dalam netra elang milik Shen Rui.

"Itu... bukan milikku," bisik Lian Yue, suaranya bergetar menahan perih yang mencengkeram dadanya. "Warna dan bentuknya mungkin terlihat serupa dengan sisik di kulitku, tetapi aku tidak pernah menyakiti mereka, Shen Rui. Semalam aku hanya terbangun di kuil tua itu... aku tidak pernah mengalirkan darah manusia."

"Lian Yue, tidak perlu menjelaskan apa pun padanya!" potong Qing Luo dengan nada tajam. "Manusia tidak akan pernah mendengarkan kebenaran dari mulut siluman! Bagi mereka, kita hanyalah mangsa yang harus dimusnahkan demi memenuhi nama agung perguruan mereka!"

Qing Luo mengambil satu langkah maju, mengumpulkan qi racun hijau di telapak tangannya untuk menyerang. Namun sebelum serangan itu terlontar, Shen Rui secara mendadak mengayunkan Pedang Zhaoyang ke udara.

Wusss!

Tebasan angin pedang yang dahsyat membelah tanah, bukan mengarah pada Lian Yue atau Qing Luo, melainkan memotong jalur lingkaran api suci yang mengurung perbatasan belakang mereka. Lidah api emas yang membatasi jalan menuju lembah bagian dalam seketika padam, menyisakan jalur melarikan diri yang terbuka lebar di antara celah asap.

Qing Luo terpana, serangan racun di tangannya tertahan di udara. Ia menatap Shen Rui dengan mata terbelalak penuh ketidakpercayaan.

Lian Yue pun tertegun. "Shen Rui... apa yang kau lakukan?"

Shen Rui perlahan menyarungkan kembali Pedang Zhaoyang ke dalam sarung perunggunya dengan bunyi clank yang tegas. Ia menghembuskan napas berat, membiarkan hawa dingin fajar menyapu wajahnya yang berjelaga.

"Sisik itu memang dirancang sangat mirip dengan milikmu," ujar Shen Rui tenang. "Tetapi esensi qi yang tertinggal di dalamnya berbau racun pembusuk darah—pekat, tengik, dan penuh hawa pembunuhan. Sangat bertolak belakang dengan aura murni yang kau pancarkan saat berada di bawah terpaan bulan purnama semalam."

Shen Rui mendongak, menatap Lian Yue dengan kesungguhan yang amat dalam. Tidak ada niat membunuh, tidak ada kebohongan, dan tidak ada keraguan di dalam matanya.

"Aku memeriksa mayat-mayat itu dengan inderaku sendiri," lanjut Shen Rui. "Aku percaya padamu, Lian Yue. Kau bukan pembunuhnya."

Kata-kata sederhana itu meluncur seperti arus hangat yang menyapu seluruh keputusasaan di dalam dada Lian Yue. Aku percaya padamu. Empat suku kata yang rasanya begitu asing di tengah dunia manusia yang membencinya, namun diucapkan oleh seorang pemburu yang seharusnya menjadi musuh bebuyutannya. Air mata bening menetes perlahan di pipi pucat Lian Yue, berkilat di bawah temaramnya sinar matahari fajar.

"Kau gila..." gumam Qing Luo ketakutan seraya mengawasi gerak-gerik Shen Rui. "Kau seorang murid utama Paviliun Tianjian! Membebaskan siluman yang dituduh membantai manusia sama saja dengan melanggar sumpah mantera tertinggi perguruanmu! Jika gurumu tahu—"

"Guruku dan seluruh warga desa hanya melihat apa yang ingin mereka lihat," potong Shen Rui dingin. "Tetapi tugas seorang pemburu sejati adalah menegakkan kebenaran, bukan menjadi algojo bagi ketakutan buta manusia."

Shen Rui menunjuk ke arah celah jalan yang baru saja ia buka dengan tebasan pedangnya. "Pergilah. Lintasi Lembah Karang dan menuju ke selatan. Warga desa dan para pemburu dari pos perbatasan terdekat akan segera tiba di tempat ini dalam hitungan menit. Jika kalian tertangkap di sini, tidak ada lagi yang bisa menyelamatkan kalian."

"Mengapa kau melakukan ini untukku?" tanya Lian Yue pelan, melangkah satu tindak mendekati Shen Rui. Tangannya yang dingin terangkat sedikit di udara, seolah ingin menyentuh jubah pria itu. "Jika kau membiarkanku pergi, kau akan menjadi buronan perguruanmu sendiri..."

Shen Rui menatap jemari Lian Yue yang gemetar. Rasa hangat yang ganjil kembali bergolak di dalam jiwanya—sebuah perasaan familiar yang membuat dadanya terasa sesak oleh kerinduan yang tak beralasan.

"Pergilah sebelum aku mengubah pikiranku," kata Shen Rui membuang mukanya ke arah perimbun bambu. "Aku akan mencari tahu siapa sebenarnya yang menjebakmu dan membantai warga desa semalam. Sampai saat itu tiba... jangan biarkan dirimu tertangkap oleh siapapun."

Qing Luo tidak membuang waktu lagi. Sebelum Lian Yue sempat mengucapkan sepatah kata pun, siluman ular hijau itu langsung menarik lengan baju Lian Yue dan melompat tinggi menembus celah asap, melesat cepat ke arah Lembah Karang di bagian selatan.

Shen Rui berdiri sendirian di pelataran Hutan Bambu Hitam yang masih membara oleh sisa-sisa api suci. Ia menatap bayangan Lian Yue yang menghilang di balik kerimbunan rimba.

Beberapa saat kemudian, suara gemuruh langkah kaki yang riuh mendekat dari arah luar hutan. Puluhan warga desa Wuxi yang membawa obor dan senjara kayu, didampingi oleh tiga prajurit pemburu tingkat rendah Paviliun Tianjian, menerobos masuk ke dalam pelataran yang terbakar.

"Tuan Pemburu!" seru salah seorang prajurit Tianjian seraya melihat sekeliling pelataran yang telah kosong. "Di mana siluman ular putih itu? Apakah Anda telah memusnahkannya?"

Shen Rui memutar tubuhnya perlahan. Ia mengepalkan tangan kanan yang terbungkus sarung kulit, menatap prajurit dan warga desa dengan wajah tenang yang dingin bagai es.

"Siluman itu menggunakan racun tingkat tinggi dan melarikan diri ke kedalaman jurang selatan," jawab Shen Rui tanpa mengedipkan mata, berbohong demi melindungi sosok siluman yang seharusnya ia bunuh. "Aku akan mengejarnya seorang diri."

Dengan keputusan itu, Shen Rui resmi melangkah di atas garis pengkhianatan terhadap sumpah perguruannya demi sebuah kebenaran—dan demi seorang perempuan yang jiwanya terikat padanya sejak seribu tahun yang lalu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!