Indonesia
NovelToon NovelToon
Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:747
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Sejak kecil, Sekar hanya "anak nomor dua" di rumahnya sendiri.

Semua yang terbaik selalu untuk sang kakak, Laras—si sulung yang sempurna, cerdas, dan dibanggakan. Sekar? Cukup pakai baju bekas kakaknya, tidur di kamar bekas gudang, dan tersenyum saat dilupakan.

Maka ketika Laras membawa pulang tunangannya saat Lebaran—**Damar Wirajaya**, pewaris konglomerat yang dingin, tampan, dan kaya raya—Sekar pikir pria itu tak ada urusannya dengannya.

Ia salah besar.

Karena tatapan datar Damar selalu berhenti terlalu lama… di wajahnya. Karena hadiah, perhatian, dan "kebetulan-kebetulan" itu semua mengarah padanya. Dan pada satu malam yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun, Sekar menyadari kebenaran yang mengerikan:

**Bukan kakaknya yang diinginkan pria itu. Tapi dirinya.**

Damar tak akan melepaskannya. Dengan utang miliaran rupiah, perjanjian pranikah yang mengikat, dan kuasa yang bisa menghancurkan seluruh keluarganya, ia menyeret Sekar ke dalam pernikahan yang tak pernah Sekar inginkan—sementara satu-satunya cinta yang tulus, sahabat kecilnya **Rangga**, hanya bisa menatap dari kejauhi.

Tapi Sekar bukan lagi gadis yang menunduk dan menerima.

Di balik senyum patuhnya, ia menghitung. Ia menunggu. Dan ketika rahasia kelahirannya sendiri terbongkar—bahwa darah yang mengalir di tubuhnya jauh lebih rumit dari yang siapa pun tahu—Sekar berhenti menjadi mangsa.

Kali ini, dialah yang memegang pisau.

*Berapa harga sebuah kebebasan? Sekar siap membayarnya—sampai tetes terakhir.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2: Baju Bekas dan Kamar Gudang

Harapanku terkabul terlalu cepat. Keesokan paginya, Damar sudah kembali ke hotel dan rumah kami kembali pada susunan semula: Mbak Laras menjadi pusat, aku menjadi tenaga tambahan.

"Baju itu jangan dimasukkan mesin cuci," seru Ibu dari halaman belakang. "Bahannya halus. Punya Mbakmu dulu mahal."

Aku menatap baju Lebaran berwarna sage yang masih tergantung di pintu kamar. Bagian pinggangnya pernah dikecilkan, lalu dibesarkan lagi ketika tubuhku berubah setelah kuliah. Jahitan di sisi kiri mulai terurai.

"Sekarang punya siapa, Bu?" tanyaku.

Ibu muncul sambil membawa keranjang cucian. "Ya punyamu. Tapi tetap harus dirawat. Kalau bukan karena Mbak Laras bosan, kamu belum tentu punya baju sebagus itu."

Aku mengangguk. Di rumah kami, barang bekas bisa berubah menjadi utang budi tanpa tanggal lunas.

Kamarku tak cukup luas untuk membentangkan tangan. Dahulu ruangan itu gudang, tempat menyimpan koper rusak, kipas mati, dan kardus buku sekolah. Ayah memasang sekat tipis, mengecat dindingnya sendiri, lalu menyebutnya kamar ketika aku berumur tiga belas tahun. Lemari sempit menempel pada kasur. Kalau pintu lemari dibuka, aku harus naik ke atas kasur agar bisa lewat.

Sementara kamar Mbak Laras punya jendela besar yang menghadap jalan. Ia memang sudah menyewa tempat sendiri dekat kantornya, tetapi kamarnya di rumah tetap utuh. Spreinya diganti. Meja riasnya dibersihkan. Tidak ada yang berani memakai ruang kosong itu.

Aku sedang menarik benang lepas di bajuku ketika Ibu meletakkan keranjang di lantai.

"Nanti siang bantu bersihkan kamar Mbakmu. Dia mau pulang ambil beberapa dokumen."

"Kamar itu sudah bersih."

"Masih berdebu. Kamu di rumah saja, masa disuruh sedikit keberatan?"

Kalimat terakhir selalu menjadi palu. Aku belum bekerja, berarti waktuku milik rumah. Aku belum menikah, berarti tenagaku milik keluarga. Aku belum berhasil, berarti tidak punya hak lelah.

"Aku ada kirim lamaran kerja pagi ini."

"Kirim saja. Lima menit juga selesai." Ibu mengamati wajahku. "Jangan terlalu tinggi memilih posisi. Mbakmu dulu mulai dari bawah, tapi karena dia pintar, cepat naik. Kamu harus realistis."

"Iya, Bu."

"Dan rawat wajahmu. Perempuan itu bukan cuma cari kerja. Jodoh juga harus dipikirkan. Lihat Mbak Laras, karier ada, calon suami juga jelas."

Aku hampir bertanya apakah calon suami yang menatap adik tunangannya terlalu lama juga masuk kategori jelas. Namun bayangan mata hitam di pintu kaca membuat perutku mengeras.

Aku menelan pertanyaan itu.

Sesudah Ibu pergi, suara ketukan pelan terdengar dari pintu.

Ayah menyelip masuk, menutup pintu dengan punggung, lalu mengeluarkan kantong kertas berminyak dari balik kemejanya.

"Pisang goreng," bisiknya.

Aku tertawa kecil. "Ayah menyelundupkan makanan ke kamar sendiri seperti bandar barang terlarang."

"Kalau Ibumu tahu Ayah beli gorengan lagi, kolesterol Ayah yang dimarahi. Padahal yang makan kamu."

Ia duduk di ujung kasur. Pegasnya mengeluh. Dari saku celana, ia mengambil amplop putih dan menyodorkannya kepadaku.

"Ini buat ongkos wawancara."

Aku tidak langsung menerima. "Uang dari mana?"

"Ada sedikit sisa narik bantu Pak Bambang minggu lalu."

"Ayah jangan bohong."

"Bohong kecil kalau niatnya baik dapat diskon dosa." Ia mengedip, lalu buru-buru menambahkan, "Jangan bilang Ibu Ayah ngomong begitu."

Aku membuka amplop. Beberapa lembar uang tersusun rapi, jumlahnya tidak banyak, tetapi aku tahu Ayah pasti menyisihkannya dari kebutuhan sendiri.

"Aku masih punya uang."

"Simpan. Bandung memang dekat ke mana-mana kalau punya ongkos." Senyumnya meredup saat melihat kamarku. "Kalau dapat kerja, kamu bisa cari kos yang lebih dekat. Biar nggak capek."

Ia tidak berkata agar aku bisa pergi dari rumah ini. Kami berdua mendengarnya juga.

Aku menerima amplop itu. "Makasih, Yah."

Ayah menepuk kepalaku, gerakan yang jarang ia lakukan sejak aku dewasa. "Kamu nggak kalah dari siapa-siapa, Sekar. Cuma jalannya belum terbuka."

Suara Ibu memanggil dari belakang rumah. Ayah melonjak berdiri.

"Pisangnya habiskan. Bungkusnya buang di luar."

Ia kabur sebelum tertangkap. Aku memegang amplop di satu tangan dan pisang goreng hangat di tangan lain. Lucu sekali. Di rumah yang katanya membesarkanku dengan penuh kasih, bukti kasih sayang harus disembunyikan seperti barang curian.

Menjelang siang, Mbak Laras datang sebentar. Ia tampak rapi dalam blus krem dan celana panjang, bahkan saat hanya hendak mengambil map. Aku sedang membersihkan meja riasnya.

"Kamu pakai bajuku kemarin, ya?" tanyanya.

"Iya. Sudah jadi warisan resmi."

Ia tersenyum tipis. "Masih bagus, kan?"

"Masih. Jahitannya saja yang sedang berjuang mempertahankan hubungan."

Mbak Laras tertawa. Untuk sesaat kami kembali seperti dua saudara biasa. Ia memberiku satu botol parfum yang tinggal seperempat.

"Ambil saja. Aku sudah pakai yang lain."

Aku menerimanya, lalu membenci diriku sendiri karena merasa senang.

"Mas Damar menginap di hotel?" tanyaku seolah tak peduli.

"Iya. Besok atau lusa dia datang lagi. Ayah dan Ibu mau membicarakan lamaran." Wajahnya melunak ketika menyebut nama itu. "Dia memang sibuk, tapi sengaja memperpanjang tinggal di Bandung."

Jemariku mengencang pada botol parfum.

"Kamu suka dia?"

Mbak Laras menatapku lewat cermin. "Tentu. Kenapa?"

"Nggak kenapa-kenapa."

Ia mengambil map dan pergi setelah berpesan agar aku tidak terlalu memikirkan omongan Ibu. Nasihat yang mudah diberikan oleh orang yang tak pernah harus menelan omongan itu setiap hari.

Sore hari, saat hendak mengambil jemuran, aku mendengar suara Ibu dan Budhe Sari dari ruang tengah. Aku berhenti di balik pintu dapur.

"Kalau lamarannya jadi, Laras pasti ikut Damar ke Surabaya," kata Budhe Sari.

"Bagus. Masa depan Laras terjamin."

"Sekar bagaimana?"

Ibu mendecakkan lidah. "Yang itu biar tinggal di sini dulu. Nanti kalau Laras butuh bantuan urus rumah atau apa, ada adiknya. Setidaknya dia bisa membantu Mbaknya."

"Syukur-syukur Mas Damar mau kasih dia pekerjaan."

"Nah, itu. Punya kakak berhasil harus dimanfaatkan."

Jemuran di tanganku masih menetes. Air dingin merambat dari siku ke lantai.

Jadi itulah rencana untukku. Bukan bekerja sesuai kemampuanku. Bukan hidup sendiri. Bukan menemukan sesuatu yang kuinginkan.

Aku disimpan.

Seperti koper rusak di gudang sebelum ruangan ini dijadikan kamarku, aku akan tetap berada di sudut sampai Mbak Laras membutuhkan sesuatu.

Malamnya, aku menempelkan daftar lowongan di dinding, tepat di samping retakan cat. Amplop dari Ayah kusimpan di bawah laptop. Botol parfum bekas Mbak Laras kutaruh di lemari.

Kemudian aku membuka situs pencarian kerja dan mengirim lamaran sampai lewat tengah malam.

Satu surel penolakan masuk sebelum layar sempat kupadamkan. Kubaca dua kali, lalu kupindahkan ke folder khusus bersama sebelas penolakan lain. Setidaknya mereka menolakku setelah melihat namaku, bukan karena lebih dulu memilih Mbak Laras.

Kalau keluarga ini sudah menentukan kegunaanku, aku hanya punya satu pilihan.

Pergi sebelum mereka sempat memakainya.

1
ceuceu
ga jelas lah,maaf thor aku skip
ceuceu
membungungkan antara cerita dan dialog
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!