Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibuang Sang Pangeran, Bertahta Di Hati Kaisar

Dibuang Sang Pangeran, Bertahta Di Hati Kaisar

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Balas Dendam / Time Travel / Tamat
Popularitas:510.5k
Nilai: 5
Nama Author: hofi03

Aura Luminar bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Bangkit dari kematian akibat pengkhianatan tunangan nya dan selingkuhannya, dia datang dengan jiwa yang baru, membawa dendam untuk menghancurkan orang-orang yang sudah membunuhnya.

Kaisar Zane Caliber, dingin, dominan, dan tidak tersentuh. Pria kejam yang tidak pernah memberi ampun pada musuhnya, gila kerja, dan tidak pernah tertarik dengan wanita mana pun, membuat takhta Permaisuri kosong tanpa pendamping.

Sebuah permainan berbahaya dimulai saat Aura sengaja memancing perhatian sang Kaisar, untuk belas dendam dengan mantan tunangan nya, sang Pangeran yang telah mencampakkan nya.

Akankah Zane tetap berdiri kokoh sebagai penguasa yang tak tersentuh, atau justru terjerat dalam pesona dan perangkap yang diciptakan Aura?

_____________

"Lahirkan keturunan untuk ku, akan kuberikan kekuasaan di bawah kaki mu."~ Kaisar Zane Caliber

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENGHADAP KAISAR

Pengawal itu melangkah masuk dengan cepat, lalu menunduk hormat di depan Luis dan Elisabeth.

"Salam Yang Mulia Pangeran."

"Ada apa? Kenapa mengganggu waktuku malam-malam begini?" tanya Luis nada ketus.

"Maaf mengganggu, Pangeran. Saya baru saja menerima kabar bahwa Tuan Nico, asisten pribadi Yang Mulia Kaisar, baru saja mengirimkan pesan," lapor pengawal itu panik.

"Pesan dari Nico? Ada apa?" tanya Luis, mengerutkan keningnya.

"Yang Mulia Kaisar memerintahkan Pangeran untuk menghadap beliau besok pagi-pagi sekali di ruang kerja nya," jawab pengawal itu jujur.

Mendengar hal itu, Elisabeth mendadak menegang.

"Pangeran... apakah Kaisar sudah tahu tentang kejadian malam ini?" bisik Elisabeth, menatap Luis dengan wajah agak pucat.

Luis sempat terkejut, tapi dia cepat-cepat menguasai dirinya dan terkekeh pelan untuk menenangkan Elisabeth.

"Tenanglah, Elisabeth, kaisar mana mungkin peduli dengan urusan kecil seperti ini," ucap Luis menenangkan.

"Paling-paling Beliau hanya ingin membahas persiapan pesta ulang tahunnya tiga hari lagi," lanjut Luis, percaya diri.

"Tapi Pangeran, kenapa harus pagi-pagi sekali?" tanya Elisabeth masih cemas.

"Kaisar memang selalu gila kerja dan memanggil orang sesuka hatinya, kamu tidak perlu panik," ucap Luis berdiri dari sofanya, membetulkan jubah mewahnya dengan angkuh.

"Aku akan datang tepat waktu besok pagi," ucap Pangeran Luis, Luis, menatap pengawalnya dengan dingin.

"Baik, Pangeran! Saya permisi dulu," jawab pengawal itu lalu membungkuk dan keluar dari kamar.

Setelah pengawal itu pergi, Luis menggenggam kedua tangan Elisabeth yang terasa agak dingin.

"Kamu pulanglah sekarang lewat pintu belakang sebelum ada pelayan yang melihat," perintah Luis lembut.

"Jangan memperlihatkan wajah cemas seperti itu, semua rencana kita sudah berjalan sempurna. Aura sudah mati di dasar danau, dan tidak akan ada yang bisa menggagalkan posisi kita," lanjut Luis, yakin.

"Baiklah, Pangeran. Aku percaya padamu," ucap Elisabeth mengangguk pelan, mencoba memercayai ucapan pria di depannya.

Setelah menyuruh Elisabeth pergi secara diam-diam, Luis kembali menuang anggur ke gelasnya, dia menyesapnya perlahan sembari menatap kegelapan di balik jendela kediamannya.

"Aura Luminar sudah mati, dan besok aku tinggal berpura-pura sedih di hadapan Kaisar," batin Luis tersenyum penuh kemenangan.

Sama sekali tidak terlintas di otak tumpulnya, bahwa Aura yang dia kira sudah membusuk di dasar danau justru sedang menyusun perangkap mematikan untuk menghancurkan hidupnya.

     ✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨

Keesokan paginya, matahari baru saja muncul tipis-tipis di balik awan, tapi suasana di istana kerajaan Caliber sudah terasa sangat tegang.

Luis berjalan di sepanjang lorong istana menuju ruang kerja ayahnya dengan langkah santai, bajunya rapi, dada nya di busung kan angkuh, dan wajahnya dipasang seolah-olah dia adalah Pangeran paling berbakti di kekaisaran.

Di depan pintu ruang kerja Kaisar, Nico sudah berdiri tegap menyambut kedatangannya.

"Selamat pagi, Pangeran Luis," sapa Nico sopan, tapi matanya menatap datar tanpa senyum sedikit pun.

"Pagi, Nico," jawab Luis angkuh.

"Ayahku sudah menunggu di dalam?" tanya Luis, percaya diri.

"Sudah, Pangeran, beliau sudah menunggu Anda sejak satu jam yang lalu. Silakan masuk," jawab Nico sembari membukakan pintu ruang kerja Kaisar Zane.

Ceklekk

Luis melangkah masuk ke dalam ruang kerja yang bernuansa dingin itu.

Di ujung ruangan, Kaisar Zane sedang duduk tenang di kursi kebesarannya sembari menyesap kopi hitam, tanpa melirik sedikit pun ke arah pintu.

"Hormat saya pada Yang Mulia Kaisar Zane Caliber," ucap Luis membungkuk dalam-dalam dengan nada penuh penghormatan yang dibuat-buat.

Tak

Kaisar Zane meletakkan cangkirnya perlahan. Suara denting porselen di atas meja terdengar begitu nyaring di ruangan yang sunyi itu.

"Duduk," perintah Kaisar Zane dingin, suaranya yang berat langsung menekan udara di dalam ruangan.

Luis mengangguk cepat lalu duduk di kursi di depan meja kerja ayahnya.

"Ada hal penting apa sampai Anda memanggil saya sepagi ini, Yang Mulia?" tanya Luis, pura-pura tidak tahu apa-apa.

Kaisar Zane menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke dalam mata Luis dengan tatapan yang sangat tajam, membuat Luis refleks menegakkan posisi duduknya karena agak merinding.

"Kemarin malam kamu dari mana?" tanya Kaisar Zane singkat, tanpa basa-basi.

Jantung Luis sempat berdesir pelan, tapi dia berusaha tetap bersikap tenang dan menyunggingkan senyum tipisnya.

"Saya hanya berkeliling di luar istana untuk mengecek beberapa hal, Yang Mulia," jawab Luis lancar, seolah sudah menghafal kebohongan itu di luar kepala.

"Sama siapa?" cecar Kaisar Zane lagi, suaranya masih sangat datar.

"Sendirian, Yang Mulia. Saya hanya ingin mencari udara segar," jawab Luis tanpa berkedip sedikit pun.

Kaisar Zane menyunggingkan senyum miring yang amat dingin, dia memajukan tubuhnya, menopang dagu dengan kedua tangannya yang tertaut di atas meja.

"Sendirian? Lalu bagaimana dengan rumor yang beredar pagi ini kalau kamu pergi bersama putri Duke Luminar kemarin sore?" tanya Kaisar Zane, menaikkan satu alisnya.

Luis berpura-pura terkejut, matanya membelalak kaget seolah baru pertama kali mendengar kabar itu.

"A-apa?! Rumor apa itu, Yang Mulia?!" seru Luis, suaranya dibuat-buat agak panik.

"Saya memang sempat bertemu sebentar dengan Lady Aura kemarin sore, tapi setelah itu kami langsung berpisah!" jawab Luis, penuh kebohongan.

"Oh... begitu?" gumam Kaisar Zane pelan, mengangguk-angguk kecil sembari terus memperhatikan raut wajah putranya.

"Benar, Yang Mulia! Saya berani bersumpah!" tegak Luis makin gencar berbohong.

"Saya juga kaget saat mendengar kabar dari pengawal tadi pagi kalau Lady Aura belum pulang ke kediamannya. Saya rasa, mungkin Lady Aura sedang emosi dan melakukan hal nekat," ucap Luis, semakin menjadi-jadi.

"Hal nekat apa maksudmu?" tanya Kaisar Zane dingin.

Luis menghela napas panjang, memasang raut wajah prihatin dan sedih.

"Jujur, Yang Mulia, belakangan ini Lady Aura sering tertekan karena merasa tidak pantas menjadi calon istri saya. Saya takut, dia nekat mengakhiri hidupnya sendiri," jawab Luis, terlihat khawatir.

Nico yang berdiri di dekat pintu sampai harus menahan napas mendengar kebohongan Luis yang begitu lancar dan tanpa rasa bersalah sama sekali.

Kaisar Zane terkekeh sinis, suara tawanya membuat bulu kuduk Luis berdiri mendadak.

"Jadi maksudmu, gadis dari keluarga Luminar itu bunuh diri karena stres menanggung beban status sebagai calon istri dari Pangeran sepertimu?" tanya Kaisar Zane mengulang kalimat Luis dengan nada penuh penghinaan.

"S-saya hanya menduga, Yang Mulia, karena tidak ada alasan lain bagi Lady Aura untuk menghilang," jawab Luis cepat, sedikit gugup karena menyadari tatapan ayahnya yang makin mendingin.

Kaisar Zane berdiri dari kursinya, tingginya yang menjulang membuat bayangannya menutupi tubuh Luis yang duduk di depannya.

"Bagus sekali analisismu, Luis," ucap Kaisar Zane sembari melangkah mengitari meja kerjanya dan berhenti tepat di samping kursi Luis.

1
Dwi Wahyu
harusnya dibunuh saja dari batu
Erna Masliana
terus kenapa gak bertindak tol**
Erna Masliana
ya karena kalian para pejabat dan para orang tua tolol yang gampang dibodohi... Raja terdahulu juga termasuk tolol
Erna Masliana
lah kamu sendiri pelayan rendahan yang ngimpi naik tahta
Erna Masliana
rencana yang gampang kebaca sebenarnya
Erna Masliana
meningkatkan keamanan saja tidak cukup kalo dalangnya dibiarkan hidup
Erna Masliana
ya iyalah... kamu lelet ngatasi musuh ya musuh bertindak duluan lah
Erna Masliana
langsung ajalah.. gak usah ngasih celah musuh
Erna Masliana
lah karena bukan anaknya
Erna Masliana
nah ini salah satu kelemahan Zein tidak menumpas tuntas ibu Luis dan Luis sendiri.. sekuat apa sih mereka hingga Zein tidak berkutik kalah dg wanita rendahan yg jebak dg ngaku ngaku doang
Erna Masliana
iya itu padahal jalan terbaik... apalagi Kaisar gak ada selir gak ada teman masa kecil atau maen ke rumah bordil
Erna Masliana
tapi tidak berbuat apapun sampe Luis dewasa...bikin skenario di racun atau dibunuh bandit pun tidak.. bukankah itu terlihat lemah.. mengatasi hal seperti ini saja mengandalkan Aura jiwa masa depan yang bertindak dulu
Erna Masliana
belum
Erna Masliana
harusnya di racun ye
Tika
baru gabung Thor 🤭
Omah Tien
kirain benaran g adu aku sampai sedih ya gmn anak nya kan ms kecil
Omah Tien
salah nya musuh g di matinin
Omah Tien
sy sk anak kembar ada jg ya
Omah Tien
kalau crt kerajaan ky nya g pernah ada anak kembar ya tau ada g
Omah Tien
kadang bc lihat aura sok sobong nya selagit tua nanti jg jd suami kamu jg dsr sbg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!