Indonesia
NovelToon NovelToon
Harga Sebuah Senyum Dalam Cengkeraman Sang Don

Harga Sebuah Senyum Dalam Cengkeraman Sang Don

Status: tamat
Genre:Mafia / CEO / Bapak rumah tangga / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Ferrer

Anton Kozlov, sang Don Bratva yang dijuluki "Serigala St. Petersburg", telah lama mengubur hatinya di balik es. Sejak kehilangan satu-satunya perempuan yang pernah ia cintai, ia memerintah kerajaan minyak dan darahnya tanpa belas kasihan—dan tanpa senyum. Yang tersisa hanyalah putra kecilnya, seorang pewaris yang tumbuh dalam kebisuan dan luka yang tak seorang pun tahu.

Di seberang samudra, Emily tak pernah punya kemewahan untuk menyerah. Perempuan Brasil berdarah panas ini bertahan dari masa lalu yang kelam demi satu-satunya alasan ia terus melangkah: putrinya. Ia tak butuh diselamatkan siapa pun—sampai takdir membenturkan hidupnya dengan lelaki paling berbahaya di dunia bawah.

Ketika si dingin dari utara bertemu si hangat dari selatan, tak ada yang tersisa sama. Anton menawarkan sebuah kesepakatan: perlindungan, kehormatan, dan keamanan—segalanya, kecuali cinta yang ia bersumpah takkan pernah ia berikan lagi. Tapi Emily membawa sesuatu yang tak bisa dibeli seluruh kekayaan Bratva: kehangatan yang perlahan meretakkan tembok es, dan penyembuhan bagi sebuah keluarga yang nyaris hancur.

Namun di dunia tempat kesetiaan ditulis dengan darah, musuh-musuh lama mengintai dari bayang-bayang, dan mencintai sang Don berarti menjadi sasaran berikutnya. Untuk melindungi perempuan dan anak-anak yang kini menjadi dunianya, Anton siap membakar neraka itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Ferrer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DARAH SANG PEWARIS

Anton bernyanyi sampai Alison tertidur. Ketika mata istrinya akhirnya terpejam, Anton menyimpan gitar dalam diam. Ia berjalan pelan menuju kamar mandi di lorong, menutup pintu, dan menyalakan pancuran sekencang-kencangnya. Ia bersandar ke dinding berubin, merosot ke lantai, lalu menggigit lengannya sendiri kuat-kuat, membenamkan gigi ke dagingnya sampai berdarah, meredam jeritan penderitaan dan kebencian murni agar Alison tak mendengar keputusasaannya.

Ibunya, Katerina, naik dari taman setiap sore. Ia masuk ke kamar tanpa suara, duduk di kursi berlengan di samping Alison, dan hanya menggenggam tangannya. Kedua perempuan itu tak butuh kata-kata. Ibu Anton melihat pada menantunya pengorbanan yang sama seperti yang dulu ia lakukan bertahun-tahun silam demi menjaga Anton tetap hidup di bawah atap seorang monster.

Pada usia kandungan tiga puluh tujuh minggu, di awal bulan kedelapan, batas itu tercapai.

Waktu itu dini hari ketika Anton terbangun oleh suara tersedak yang hebat. Ia menyalakan lampu, dan kengerian melumpuhkannya sedetik: Alison sedang kejang, dan darah kental berwarna gelap mengalir dari mulut dan hidungnya. Organ-organ tubuhnya kolaps akibat kegagalan multiorgan yang disebabkan leukemia stadium lanjut.

"Dokter! Sekarang! Masuk ke sini, sialan!" Anton berteriak, suaranya menggema ke seluruh kediaman Rusia itu.

Dalam hitungan menit, ruang bedah darurat di kediaman itu diaktifkan. Alison dipindahkan tergesa-gesa ke atas brankar di bawah lampu-lampu putih yang dingin. Para ahli bedah Bratva, yang tahu nyawa mereka bergantung pada keberhasilan operasi itu, berpacu dengan waktu.

Anton menolak keluar. Mengenakan jubah bedah di atas pakaiannya, ia mengambil posisi di kepala brankar, menggenggam tangan Alison begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Bertahanlah bersamaku, Alison! Tatap aku! Jangan tutup matamu, sialan, ini perintah!" ia berteriak, kepanikan mencakar tenggorokannya, ketenangan seorang Don hancur total.

Alison membuka mata dengan susah payah yang di luar batas manusia. Kulit wajahnya kelabu, dingin. Darah yang sudah dibersihkan para perawat kembali mengotori bibirnya. Ia menatap Anton, dan monitor jantung di sampingnya mulai memancarkan bunyi bip cepat yang tak beraturan.

"Anton..." Alison bergumam, seutas suara yang hanya bisa didengar Anton. "Sakit... sakit sekali... ya Tuhan..."

"Aku tahu, sayangku, aku tahu! Genggam tanganku! Bertahanlah bersamaku!" Ia menempelkan keningnya ke kening Alison, air matanya yang panas berbaur dengan keringat dingin di wajah istrinya. "Selesaikan urusan ini sekarang juga! Keluarkan anaknya!" ia mengaum kepada para dokter yang bekerja di balik tirai bedah.

"Sedikit lagi, Don! Satu detik lagi!" seru kepala ahli bedah, berkeringat dingin di bawah tatapan pembunuh Anton.

Sebuah suara melengking, nyaring, dan penuh kehidupan menyayat udara tegang di ruang bedah itu. Tangisan seorang bayi yang baru lahir.

"Laki-laki, Don! Ia kuat, paru-parunya sempurna!" umum sang dokter, mengangkat bayi yang masih berlumur darah.

Anton nyaris tak menoleh. Seluruh fokusnya tertuju pada monitor jantung Alison. Angka-angkanya mulai anjlok dengan mengerikan. 45... 35... 20...

"Alison! Jangan berani-berani! Abran sudah di sini, kamu berhasil! Lihat dia!" Anton menyeru, memegang wajah istrinya dengan kedua tangan, keputusasaan menghancurkan sisa-sisa terakhir kewarasannya. "Bangun, sialan! Jangan tinggalkan aku sendirian di neraka ini! Aku membutuhkanmu! Kumohon... Aly... bertahanlah bersamaku..."

Alison mengumpulkan embusan napas terakhir yang tersisa di paru-parunya yang telah hancur. Mata hijaunya, yang sudah kehilangan fokus, terpaku pada mata biru Anton untuk yang terakhir kalinya. Ada kedamaian yang menakutkan dalam tatapan itu.

"Jadilah... ayah yang ia butuhkan... Anton..." bisiknya, darah menggelembung lemah di bibirnya. "Tersenyumlah... untuknya... berikan padanya... cinta yang tak pernah diberikan... ayahmu padamu... Aku... mencintaimu..."

Tangan Alison melunak di dalam genggaman Anton, tergelincir lepas dari jemarinya.

Sedetik kemudian, monitor jantung memancarkan suara yang panjang, lurus, dan memekakkan telinga. Bunyi bip kematian.

"Alison? Aly! Tidak, tidak, tidak!" Anton mulai mengguncang bahunya. "Bangun! Bangun, sialan! Dokter, lakukan sesuatu! Pakai defibrilator! Hidupkan lagi jantungnya!"

Kepala ahli bedah mendekat dengan dua bantalan defibrilator, memberikan sengatan ke dada Alison. Tubuh Alison tersentak di atas brankar, tetapi garis di monitor tetap datar. Satu sengatan lagi. Tidak ada.

"Don Kozlov... tubuhnya sudah mengalami kegagalan multiorgan bahkan sebelum persalinan. Ia bertahan melampaui batas biologisnya hanya untuk melahirkan. Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan. Ia telah tiada," ucap sang dokter, suaranya bergetar, menundukkan kepala.

"Keluar..." kata Anton, suaranya tiba-tiba pelan, berbahaya.

"Don..."

"KELUAR DARI SINI SEBELUM KUBUNUH KALIAN SATU PER SATU!" ia meraung, mencabut pistol dari pinggangnya dan mengarahkannya membabi buta ke tim medis.

Para dokter dan perawat mundur dengan ngeri, meninggalkan ruang bedah itu dalam hitungan detik.

Dalam keheningan yang menyusul, yang hanya dipecahkan oleh suara lurus dari monitor jantung, Anton menyimpan senjatanya. Ia jatuh berlutut di sisi brankar, membenamkan wajah di leher Alison. Kehangatan tubuh istrinya sedang menghilang, digantikan oleh kekakuan sedingin es Rusia. Ia tidak menangis dengan tertahan. Ia melepaskan raungan pilu bagai binatang, jeritan yang tersayat-sayat, menggema di dinding-dinding batu kediaman itu, menyeberangi lorong demi lorong hingga sampai ke taman musim dingin, tempat Katerina jatuh berlutut di atas tanah, menutupi wajah dengan kedua tangan, tahu bahwa jiwa putranya baru saja dimutilasi.

Anton menangis sampai tak ada lagi air mata tersisa di matanya. Ia tetap memeluk jenazah istrinya selama hampir satu jam, merasakan aroma tubuh Alison digantikan oleh bau antiseptik dan kematian. Di atas brankar operasi itu, Anton yang berusia dua puluh lima tahun—lelaki romantis, pengusaha yang tahu cara tertawa, pemuda yang jatuh cinta—dikubur hidup-hidup.

Pintu ruangan terbuka semilimeter. Kepala perawat, seorang perempuan tua yang telah mengabdi pada keluarga itu selama puluhan tahun, masuk dengan langkah ragu. Di lengannya, berbalut selimut biru tebal, tergendong bayi yang sudah bersih. Bayi itu menangis keras, tangisan yang lapar dan ketakutan.

"Don Kozlov..." panggilnya, suaranya sarat ketakutan. "Abran kecil, dia... dia membutuhkan ayahnya."

Anton bangkit perlahan. Gerakannya kaku, nyaris mekanis. Ketika ia berbalik, sang perawat mundur selangkah, ketakutan. Tak ada lagi secercah kemanusiaan di mata biru itu. Kedua mata itu bagai dua bongkah es, kosong, dingin, tanpa emosi apa pun. Rasa sakit yang mustahil itu telah membakar habis semua kebaikan yang tersisa di dalam dirinya, menyisakan hanya bangkai tanpa belas kasih.

Ia melangkah ke arah perawat itu dan, dengan lengan yang mantap, menggendong putranya.

Pada saat tubuh bayi itu menyentuh dada Anton, tangis Abran terhenti. Bayi itu membuka mata kecilnya, mencari kehangatan. Anton menatap wajah anaknya, mengenali garis-garis halus Alison di sana, lalu menoleh ke tubuh tak bernyawa istrinya di atas brankar.

"Aku akan melindungimu, Abran," ucap Anton. Suaranya tak lagi seperti suara lelaki dua puluh lima tahun; itu suara yang serak, tajam, tanpa secuil pun kehangatan. Suara seorang Don Bratva. "Tak seorang pun di dunia ini akan berani menyentuhmu. Aku akan membakar neraka kalau ada yang membuatmu menangis. Tapi aku tidak akan pernah... tidak akan pernah bisa membuatmu tersenyum... karena ia telah membawa senyumku bersamanya ke dalam peti mati."

Anton membalikkan punggung dari jenazah cinta terbesarnya, menggendong di lengannya putra yang menebus nyawa Alison. Pada malam musim dingin itu, hati sang mafioso terkunci di balik baju zirah es yang tak terhancurkan. Selama tujuh tahun ke depan, ia akan memerintah kerajaan minyak dan darahnya dalam kegelapan yang paling pekat, tanpa tahu bahwa takdir sudah mulai menggerakkan bidak-bidaknya untuk membawa seorang perempuan Brasil berdarah panas ke dalam neraka pribadinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!