Aisyah pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Raka akan bertahan selamanya. Selama lima belas tahun, mereka membangun keluarga sederhana dari nol, melewati susah dan senang hingga dikaruniai dua anak yang menjadi sumber kebahagiaan mereka.
Sampai suatu hari, suaminya mengaku telah jatuh cinta pada Nabila, sahabat Aisyah sendiri, dan meminta izin untuk menikahinya. Dengan hati yang hancur, pada akhirnya Aisyah mengizinkannya.
Namun, Aisyah tidak ingin menjadi.lemah. Demi anak-anaknya, dia mulai menyusun strategi. Hasil keringatnya bertahun-tahun, ia tak rela dinikmati oleh wanita lain yang sama sekali tak ikut berjuang.
Setelah Aisyah pergi, barulah Raka menyadari tak ada yang lebih baik dari Aisyah. Raka menyesal dan ingin kembali.
Namun, mampukan Aisyah melupakan luka ketika lelaki yang paling ia cintai pernah memilih wanita lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
05
Hari pertama buka warung, Aisyah bangun sejak subuh untuk memasak nasi, menyiapkan lauk, membuat sambal, dan menyusun semuanya di etalase kecil. Raka nantinya bertugas melayani pembeli sekaligus membeli bahan yang kurang. Semangat mereka membara, namun kenyataan tak semudah bayangan.
Jam delapan pagi… warung mereka masih sepi. Jam sepuluh… masih juga sepi. Menjelang siang, hanya dua orang yang datang. Setelah itu sampai sore hari tak ada satu pun pelanggan.
Aisyah berdiri di dalam warung, namun matanya menatap jalan yang lengang di depannya. Raka duduk di kursi dengan wajah murung. Mau diapakan bahan yang sudah terlanjur dimasak?
"Kayaknya kita gagal," gumam Aisyah lesu.
Raka tersentak mendengar suara istrinya. Segera ia tersadar, tidak seharusnya membuat istrinya terbebani. Mencukupi kehidupan mereka adalah tanggung jawabnya. Pria itu pun berdiri dari duduknya lalu menghampiri istrinya dan memeluknya dari belakang.
"Ini kan baru hari pertama, Dek," ucapnya lembut. "Orang-orang belum tahu warung kita ada.”
"Tapi lihat makanannya," Aisyah menunjuk lauk yang masih utuh dengan wajah sedih. "Kalau begini terus, kita bisa rugi."
"Dek… " Raka menyentuh lengannya pelan. "Besok aku akan keliling," ucapnya mantap.
"Keliling?" tanya Aisyah dengan kening berkerut.
"Iya,” jawab Raka tegas. “Mungkin kita harus promosi.”
Aisyah terkekeh kecil. Mendengar semangat suaminya rasa sedihnya sirna. "Kamu mau jualan keliling?"
"Daripada duduk di sini menunggu pelanggan," balasnya semangat.
Keesokan harinya, Raka benar-benar melakukannya. Ia menyuruh Aisyah membuat nasi bungkus yang lauk dan nasinya dibuat terpisah supaya tidak lekas basi, kemudian dengan membawa sepeda motornya ia berkeliling memperkenalkan warung mereka kepada ibu-ibu sekitar, bahkan menawarkan makanan kepada pekerja yang lewat.
Awalnya sedikit ragu, namun setiap kali teringat modal yang sudah mereka keluarkan. Ia tak ingin menyerah begitu saja. Aisyah merasa beruntung memiliki suami yang pantang menyerah seperti Raka. Akhirnya ia pun ikut melakukan hal yang sama. Mereka bekerja tanpa gengsi. Hingga akhirnya saat mereka telat berkeliling, pelanggan pergi mencari ke warung. Mereka bekerja bersama. Pagi memasak, siang mengantar, sore membeli bahan, malam menghitung hasil.
Hari demi hari berlalu. Perlahan pelanggan mulai berdatangan. Tukang ojek yang lewat menjadi pelanggan tetap. Pekerja bengkel di ujung gang mulai mampir. Ibu-ibu yang malas memasak pun datang membeli lauk. Warung kecil itu mulai hidup. Dan mereka tak lagi berkeliling.
"Berapa pendapatan hari ini?" tanya Raka sambil menyeruput kopi hitam yang baru dibuatkan oleh istrinya.
Aisyah yang sedang menghitung uang menyebutkan jumlah yang membuat Raka langsung tersenyum lebar. "Alhamdulillah… Lebih banyak dari kemarin!"
Aisyah ikut tersenyum bahagia. "Berarti kita kaya."
“Aamiin… suatu hari nanti.” Raka tertawa renyah menjawab ucapan Aisyah.
"Aamiin.” Aisyah mengusapkan dua telapak tangan pada wajahnya.
"Besok kalau pelanggan sepi lagi bagaimana?" goda Raka.
Aisyah mengangkat bahu santai. "Ya kita usaha lebih keras lagi."
Raka tertawa semakin keras, seraya menarik istrinya ke dalam pelukan.
Begitulah kehidupan mereka berjalan. Tak selalu mudah, kadang ramai, kadang sepi, kadang untung, kadang harus menggunakan tabungan untuk belanja bahan. Namun tak pernah sekalipun Aisyah menyalahkan Raka, begitu pula sebaliknya. Mereka belajar bahwa rumah tangga bukan soal siapa yang paling banyak memberi, melainkan siapa yang tetap bertahan saat keadaan tak sesuai harapan.
Suatu malam setelah warung tutup, Raka sedang menghitung uang di meja saat Aisyah datang membawa dua gelas teh hangat dan meletakkannya di meja, lalu berdiri di belakang suaminya.
"Capek ya, Mas," tanyanya pelan dengan dua tangan yang sudah bergerak memijat pundak suaminya.
Raka menoleh lalu meraih sebelah tangan Aisyah yang berada di pundaknya, menariknya perlahan agar wanita itu duduk di sampingnya. "Duduk sini. Aku tahu kamu juga capek,” ucapnya.
Aisyah tersenyum tipis lalu menyandarkan kepalanya pada lengan sang suami. “Capek ini tidak terasa asal kita selalu bersama," tuturnya lembut.
Raka tertawa kecil. Sebelah tangannya melingkar di belakang tubuh istrinya, merengkuh lebih erat lalu melabuhkan kecupan di ubun-ubun istrinya.
Aisyah menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya. Mereka diam sejenak, menikmati hening malam, hanya terdengar suara kendaraan yang sesekali melintas di jalan depan. Raka menggenggam tangan istrinya dan menciumnya penuh kasih sayang.
"Terima kasih," ucapnya tiba-tiba.
Aisyah mengangkat kepala, menatapnya bingung. "Untuk apa?"
"Karena kamu sudah mau menjalani semua ini denganku," jawab Raka tulus.
Aisyah tersenyum lembut. "Mas juga mau menjalani semua ini denganku kan?"
Raka menatapnya dalam, genggamannya semakin erat. "Aku akan terus menjalaninya. Kita akan menjalaninya bersama. Selamanya tak kan terpisah.”
*
*
*
Waktu terus berjalan. Warung kecil itu semakin dikenal orang. Kini mereka harus menambah meja karena tempat sering penuh. Raka bahkan mulai mempekerjakan seorang tetangga kontrakan untuk membantu saat ramai. Pendapatan pun meningkat. Mereka tak langsung kaya raya, namun kebutuhan tercukupi dan mereka bisa menabung. Dan yang paling penting, mereka menikmati hasil keringat bersama.
Hingga suatu pagi, Aisyah mulai merasakan sesuatu yang berbeda pada tubuhnya. Sering lelah, nafsu makan berubah, bahkan aroma makanan kesukaannya tiba-tiba membuat mual. Awalnya ia kira hanya kelelahan, namun ketika menyadari haidnya terlambat, sebuah dugaan muncul. Ia membeli alat tes kehamilan tanpa memberi tahu Raka.
Pagi itu, Aisyah berdiri sendirian di kamar mandi, tangannya gemetar saat melihat hasilnya… dua garis merah. Positif. Ia menatapnya berkali-kali untuk memastikan tak salah lihat. Air mata langsung jatuh, tangannya menutup mulut menahan isak tangis bahagia. Ia hamil. Ada kehidupan kecil yang tumbuh di dalam dirinya. Ia tersenyum di sela tangis, tak percaya kebahagiaan itu datang begitu cepat.
Saat Raka pulang membawa belanjaan, Aisyah masih duduk di tepi tempat tidur, memegang alat tes itu erat-erat.
"Aisyah?" panggil Raka saat masuk, lalu mengerutkan kening melihat istrinya. "Kamu kenapa?"
Aisyah tak menjawab, hanya tersenyum sambil menghapus air mata yang masih mengalir.
"Kamu sakit?" tanya Raka cemas. Pria itu segera meletakkan barang-barangnya lalu mendekat.
Aisyah menggeleng pelan, lalu berdiri dan menyerahkan benda kecil di tangannya. “Aku punya sesuatu untukmu,” ucapnya dengan air mata yang masih mengalir.
Raka menerimanya bingung. "Apa ini?"
Aisyah menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Lihat saja," ujarnya sambil tersenyum meskipun wajahnya basah.
Raka menatap benda itu, lalu melihat dua garis merah yang tertera jelas di sana. Seketika itu juga kedua matanya terbelalak. Pria itu bahkan sampai menahan nafas seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Aisyah..." bisiknya dengan suara yang hampir tak terdengar. "Kita akan punya anak?”
Aisyah menganggukkan kepalanya berkali-kali. Ingin menjawab tetapi seakan suara enggan keluar dari tenggorokannya.
Raka membeku beberapa detik, lalu matanya memerah. "Ini benar, kan? Aku akan jadi ayah?" Serta merta pria itu menarik tubuh istrinya lalu memeluknya erat sambil melabuhkan ciuman berkali-kali di atas ubun-ubun wanita itu. “Terima kasih,” ucapnya. “Ini adalah hadiah terindah untuk kita.”
Aisyah tertawa sambil menangis dalam pelukan suaminya. "Iya,” ucapnya sambil terisak bahagia.
Raka melepaskan pelukannya lalu berlutut di hadapan Aisyah. Tangannya menyentuh perut istrinya yang masih rata.
"Anakku..." panggilnya dengan suara bergetar. "Terima kasih sudah datang.” Raka mencium perut istrinya dengan lembut. "Ayah janji akan bekerja keras untukmu."
Aisyah mengusap rambut suaminya pelan. "Kita bekerja keras bersama, Mas."
Raka bangkit dan memeluknya lagi, tak ingin melepaskan. Hari itu mereka menutup warung lebih awal. Raka membeli makanan sederhana untuk merayakannya. Mereka duduk berdua di ruang tengah rumah kecil itu, tak ada pesta, tak ada hadiah mahal, hanya dua hati yang penuh harapan menyambut masa depan.
demi kedua ank mu ,,
kalo msh ngandelin raka ,, tkut nenek kebayan d sebrang sana jd tantrum🤭🤭😒😒😒😒
Nabila belum tahu aja semua surat-surat berharga harta Raka selama perkawinan dengan Aisyah sudah di amankan Aisyah...