"Jauhi suami saya!"
Teriakan melengking di sebuah kafe elit Manhattan itu meremukkan dunia Pearl Glow Hurt dalam sekejap.
Pria bertutur kata lembut yang dicintainya ternyata seorang penipu beristri. Demi menyelamatkan harga diri dari skandal yang memalu, Glow nekat membual bahwa kekasih aslinya bernama "Lean"—dan bersumpah akan mengelilingi New York untuk menemukan serta menikahi pria bernama Lean demi memvalidasi kebohongannya.
Pencarian impulsif itu membawa Glow ke sebuah bengkel kusam di Queens, memutuskannya berhadapan dengan Lean—seorang mekanik bersikap dingin yang mengintimidasi dan mengaku sebagai kanibal. Glow menganggap sosoknya hanyalah rakyat jelata bersikap sok misterius.
Namun, Glow tidak menyadari bahwa pria itu adalah Orion Leander Ashford, putra penguasa takhta kegelapan New York yang menjalankan bisnis senjata rahasia.
Ketika takdir bertabrakan di antara intrik dan bahaya, permainan nama Lean mendadak berubah menjadi pusaran cinta dan bahaya yang mengancam nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#20
...oOOo...
Di sebuah sudut gelap dermaga belakang yang terisolasi dari area resort utama, hembusan angin malam Samudra Hindia menyapu dedaunan kelapa dengan suara desis yang tajam. Suasana begitu sunyi, jauh dari pendar lampu-lampu romantis yang menghiasi vila-vila terapung.
Seseorang berdiri membelakangi garis pantai, memegang sebuah ponsel tebal berenkripsi khusus yang tidak dapat dilacak oleh satelit sipil mana pun. Layar ponsel itu hanya menampilkan frekuensi gelombang suara yang berdenyut pelan.
"L di sini," bisik suara itu, begitu rendah dan nyaris tak terdengar, memotong keheningan malam. "Laporkan situasi terkini."
Sebuah desis statis terdengar sejenak sebelum suara berat di seberang saluran terenkripsi menjawab dengan nada dingin dan penuh perhitungan.
"Target utama telah mengonfirmasi pergerakannya. Komando pusat memanggilmu, L. Sinyal keberadaan 'Angel' baru saja aktif di koordinat utama."
Mata sosok itu menyipit, menatap pekatnya air laut di bawahnya. "Angel ada di sini? Di markas yang selama ini kita cari?"
"Benar. Tim intelijen berhasil meretas bagian luar dari enkripsi jaringan bawah tanah mereka dua hari lalu," sahut suara dari seberang telepon.
"Sindikat ini bukan sekadar kelompok penyelundup biasa. Ini adalah jaringan pemasok senjata ilegal terbesar yang bertanggung jawab atas delapan puluh persen sirkulasi bahan peledak dan senapan serbu kelas militer di pasar gelap. Senjata-senjata buatan mereka telah merenggut ribuan nyawa di luar sana."
Sosok berinisial L itu mengencangkan cengkeramannya pada ponsel khusus tersebut. Rasa tanggung jawab dan urgensi dingin merayapi alur darahnya. Agen junior yang baru saja ditunjuk memimpin divisi penyusupan taktis beberapa minggu lalu itu tahu betul seberapa besar bahaya yang sedang dihadapi.
Misi ini adalah salah satu operasi paling rahasia yang dirancang untuk membongkar fondasi kekuasaan sang penguasa dunia hitam.
"Namun, mengingat posisimu saat ini..." suara di seberang menghela napas pendek. "Kau melaporkan bahwa kau tidak berada dalam posisi siaga untuk melakukan penyerangan langsung malam ini?"
"Negatif," sahut L datar. "Aku tertahan di lokasi sekunder. Pengawasan di sekitarku terlalu ketat untuk melakukan pergerakan taktis tanpa memicu kecurigaan."
Hening sejenak di saluran telepon tersebut sebelum si penelepon terkekeh pelan—sebuah tawa singkat yang sarat akan makna tersembunyi.
"Baiklah. Tahan posisimu sampai instruksi selanjutnya diturunkan. Dan... selamat atas pernikahanmu, L."
Klik.
Sambungan terputus secara otomatis. Telepon berenkripsi itu langsung mematikan seluruh sistemnya dan berubah menjadi mode mati total.
Sosok itu menyimpan ponsel rahasia itu ke balik lipatan pakaian dalam dengan gerakan terlatih, menarik napas panjang, lalu memutar tubuhnya kembali menuju area terang resort—kembali mengenakan topeng kehidupan normalnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, pendar lilin aromaterapi dan lampu-lampu gantung kristal menghiasi meja makan pribadi di teras terbuka water villa. Angin malam yang hangat berembus lembut membawa aroma hidangan laut mewah kelas dunia yang tersaji rapi di atas taplak meja putih.
Glow melangkah keluar menuju teras dengan gaun malam satin berwarna merah marun yang membingkai lekuk tubuhnya dengan sempurna. Rambut cokelatnya disanggul longgar, menyisakan beberapa helai yang jatuh lembut di dekat leher mulusnya. Wajah cantiknya tampak berseri, namun matanya memancarkan kekesalan yang siap meledak kapan saja.
Di seberang meja, Orion Leander Ashford sudah duduk santai. Pria itu mengenakan kemeja hitam yang dibiarkan terbuka dua kancing teratasnya, menampilkan garis leher tegap dan dada bidangnya yang kokoh.
Jemari panjang Lean sedang memutar-mutar tangkai gelas wine berkilau, matanya menyipit menatap kedatangan Glow dengan senyuman provokatif yang amat familier.
"Lama sekali," pangkas Lean dengan nada suara rendahnya yang berat begitu Glow menduduki kursi di hadapannya. "Kau berdandan satu jam penuh hanya untuk makan malam dengan 'tukang bengkel miskin' seperti ku?"
Glow mengibaskan tangannya di udara, melemparkan pandangan tajam serasa ingin merobek wajah tampan di depannya.
"Jangan percaya diri, Lean!" desis Glow pedas. "Aku berdandan untuk menghargai makanan mahal ini dan mataku sendiri saat berkaca. Lagipula, kau pikir aku sudi berdandan demi pria yang mulutnya seperti amplas kasar?"
Lean tertawa kering tanpa suara. Ia menyesap wine merahnya pelan, biasan cairan pekat itu memantul di bibirnya yang tebal.
"Amplas kasar ini yang tadi pagi kau puji-puji di depan mantan tunanganmu, Pearl," goda Lean santai, condong sedikit ke depan hingga pendar lilin menyoroti garis rahangnya yang tajam. "Atau kau mau mengulangi lagi kalimat gila soal betapa hebatnya aku di ranjang? Aku bisa menyuruh pelayan menyajikannya sebagai hidangan penutup malam ini."
Pipi Glow seketika membara panas. Ia mengambil garpu perak di samping piringnya dan mengarahkannya tepat ke dada Lean.
"Kalau kau berani membahas hal itu satu kali lagi," ancam Glow dengan bisikan histeris yang sarat gengsi, "garpu ini akan mendarat mulus di tenggorokanmu!"
"Galak sekali," kekeh Lean tanpa ada rasa takut sedikit pun. Ia justru memajukan dadanya lebih dekat ke arah garpu tersebut. "Tusuk saja kalau berani. Tapi jika suamimu ini mati, siapa lagi yang akan memberimu asupan kemarahan setiap hari? Lagipula..."
Lean menurunkan pandangannya, menatap leher mulus Glow yang terbuka bebas akibat sanggul rambutnya. Iris mata birunya mendadak berkilat dengan binar yang teramat gelap dan liar.
"...daging lehermu kelihatan jauh lebih lezat daripada steak daging di piringku ini."
DEG.
Glow tersentak pelan. "Kau... kau mulai lagi dengan lelucon kanibal mesummu itu, ya?!"
"Siapa yang bilang ini lelucon?" potong Lean rendah. Pria itu menyandarkan punggungnya di kursi, melipat kedua tangannya di atas meja dengan senyuman yang kini berubah menjadi begitu berbahaya. "Sejak semalam aku menahan diri untuk tidak menggigit lehermu itu. Kau sendiri yang memancing instingku dengan terus-menerus memamerkan bahumu di depanku."
"Lean!" pekik Glow dengan suara tertahan, melirik ke arah dua pelayan yang berdiri diskret di dekat pintu masuk teras. "Bisa tidak kau menjaga kelakuanmu?! Ada orang lain di sini!"
"Mereka tidak akan berani mendengarkan sepatah kata pun dari apa yang aku katakan pada istriku," sahut Lean dingin namun santai. Ia memotong sepotong kecil daging panggangnya dengan gerakan yang begitu anggun namun penuh presisi—presisi yang sama seperti saat ia memegang senjata api.
Lean memasukkan daging itu ke dalam mulutnya, mengunyahnya pelan, lalu kembali menatap Glow lurus-lurus.
"Malam ini tidak ada melarikan diri, Pearl. Jangan pikir aku lupa bagaimana kau mencoba membalikkan keadaan tadi pagi. Kau memanfaatkan namaku untuk menampar wajah Leonardo, dan sekarang saatnya kau membayar harganya."
Glow menyipitkan matanya, menyilangkan tangan di dada dengan angkuh meski jantungnya berdetak tak karuan di dalam sana.
"Membayar harga? Kau pikir aku ini utang bank?! Aku tidak berutang apa pun padamu, Orion Leander!"
"Kau berutang kejujuran," bisik Lean, suaranya kini terdengar begitu mesum dan mengintimidasi hingga membuat bulu kuduk Glow berdiri tegak. "Kau bilang pada mereka kalau kau menyukai otot-ototku dan tangan-tangan kekarku, kan? Mari kita buktikan seberapa jauh kau bisa tahan saat tangan-tangan ini menyentuhmu nanti malam di dalam kamar."
Glow membelalakkan matanya sempurna, memegang gelas air putihnya dan menatap Lean seolah pria itu adalah iblis yang menyamar dalam wujud manusia berwajah tampan.
"Kau benar-benar pria paling gila, paling tidak berotak, dan paling mesum yang pernah kutemui!" umpat Glow dengan napas tersengal menahan malu. "Aku akan mengunci pintu kamar mandi dan tidur di dalam bathtub malam ini!"
Lean mengulas senyum tipis, mengangkat gelas wine-nya ke udara ke arah Glow sebagai bentuk toast sepihak.
"Pintu bathtub tidak memiliki kunci otomatis yang sanggup menahanku, Pearl," sahut Lean santai sebelum meneguk minumannya sampai habis. "Selamat makan malam, Istriku. Habiskan makananmu... kau akan butuh banyak tenaga malam ini."
Glow menyambar garpunya kembali dan menusuk daging di piringnya dengan kasar seolah-olah daging itu adalah wajah Lean, sementara sang penguasa takhta kegelapan menatapnya dengan kekehan seksi yang bergema lembut membelah malam Maladewa.
pdhl penasaran ama kelanjutannya😍😍😍