Saniya Syamira, tak memiliki pilihan lain selain menerima perjodohan amanah dari almarhum kakeknya.
Terlebih sang ibu mengkhawatirkan dirinya jadi perawan tua dikarenakan memiliki kekurangan. Saniya penyandang disabilitas fisik, kaki kanannya diamputasi sedari dia berumur 8 tahun.
Mampukah Saniya menjalani biduk rumah tangga bersama pria berstatus duda yang pernah gagal menikah sampai dua kali dengan wanita sama yakni, cinta pertamanya?
Lantas, bagaimana dengan sepasang anak tirinya, bisakah mereka menerima wanita lain selain ibu kandung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apakah Yarash tahu? : 33
Rasa percaya diri Ardan memang tidak diragukan lagi, begitu melihat salah seorang pekerja, langsung dia menyampaikan keinginannya.
Pria berkaos bertuliskan nama toko, kebingungan sebab tidak paham permintaan yang mungkin salah alamat tujuan semisal ingin membeli hewan anak Gajah.
“Maaf, Bang, disini apa ada jual Kecoa jenis badak raksasa?” Yarash mengutarakan maksudnya.
“Aku tu gak mau Colo-colo, tapi bayi Gajah yang kayak di tivi itu loh, Pi,” ia tertarik sesudah menonton acara animal planet.
Saniya hendak memberi pengertian dengan nada lembut, sebenarnya dia ingin menggendong agar lebih mudah meyakinkan.
Suaminya seolah dapat membaca raut mukanya, dan Yarash menggendong samping putranya.
“Abang,” katanya tegas tanpa menghilangkan ekspresi lembut. “Gajah itu dilindungi, tidak boleh dipelihara sendiri. Bolehnya di kebun binatang, alam bebas. Terus juga dia menyusu ke ibunya, gak bisa dipisah.”
Bibir Ardan melengkung ke bawah, dahinya mengerut, dia menyampaikan rasa kesal lewat ekspresi wajah. “Telus beli apa?”
“Kita lihat-lihat dulu yuk? Kan kata Papi tadi, disini ada hutan mini, pasti banyak hewan peliharaan yang boleh dibeli dan gak dilindungi, tetapi harus dirawat baik-baik. Mau?” ucapnya seraya membujuk.
“Papi tulun, aku mau sama Mami. Papi ndak asik,” ujarnya meniru mang Suip yang suka mengatakan kalimat tersebut.
Saniya tertegun, belum terbiasa dengan panggilan baru yang mungkin bersifat sementara, karena Ardan itu cerdik.
“Ayo, Mi!” jari telunjuk ibunya digenggam, lalu dia jalan duluan dengan sebelah tangan berkacak pinggang.
Karyawan toko mengarahkan ke tirai pintu dari rantai berat menjuntai hingga lantai.
Waww ...! Ardan menutupi mulutnya, ia terkagum-kagum memandangi hutan mini yang ditumbuhi banyak dipangkas pucuknya agar tidak tinggi.
Burung-burung kecil berterbangan bebas, dan didalam kandang kotak berdinding kaca, dihuni berbagai jenis hewan peliharaan.
Ardan melepaskan genggaman tangannya dengan jari ibu tiri, dia jalan duluan, gayanya bak orang dewasa yang mengamati berbagai jenis hewan dalam kandang, ada yang dilepas pada lantai yang disulap menyerupai jalanan hutan berlumut, bebatuan kecil, dan tanah keras.
Suci setia menemani sambil mengarahkan kamera ponselnya.
Bunyi notifikasi pesan masuk di ponsel Saniya, mengganggu fokus pria yang tengah membaca perawatan hewan Landak mini.
“Kenapa tidak diperiksa, siapa tahu pesan penting?” tanyanya. Kertas penjelasan tentang perawatan hewan pun lipat lagi.
“Atau kamu sudah tahu siapa yang mengirim pesan, tentang kira-kira dia menyampaikan apa, karena nada suaranya dibedakan dengan lainnya?” sambungnya tidak memutuskan pandangan dengan manik langka yang sedikit bergetar.
Saniya merasa tidak nyaman, biasanya dia lihai mengelola emosi, menampilkan sisi tenang, dan sangat jarang ada orang bisa mengintimidasi, memprovokasinya.
“Hem … kita kesini kan mau menemani Ardan milih hewan yang dia mau, rasanya gak pantes kalau aku main ponsel,” alibinya dengan suara kurang meyakinkan pendengaran pria bermata tajam.
“Ardan saja tidak peduli sama kita. Lihat itu!” Dagunya terangkat terarah ke balita cepat beradaptasi dengan lingkungan baru.
Ardan merangkak mengejar kelinci yang masuk ke dalam lubang kayu buatan — pakaiannya kotor, rambut bak ekor Kalajengking saat hendak menyengat mangsa, sudah roboh, sepatu dilepaskan, dan kaos kaki putih jadi berwarna coklat kehitaman.
Saniya tertawa kecil, sejenak merasakan lagi ketenangan sempat hilang tadi, tapi hanya sesaat.
Ponselnya kembali berdering, kali ini bukan rentetan pesan, tetapi panggilan dari seseorang.
Dia tidak mungkin terus menghindar, diambilnya ponsel, lalu menerima panggilan yang ternyata dari sang adik.
“Mbak, aku cuma mau ngingetin, malam Minggu wajib hadir, jangan sampai mangkir! Oma Rena datang soalnya. Kata mama, mau menetap di Indonesia, tinggal di rumah keluarga Hadi,” beritahu Fauzia, dia kegirangan.
Berbanding terbalik dengan Saniya yang lesu, badannya lemas. Ibu dari mamanya, termasuk salah satu orang yang paling banyak menyalahkannya atas kecelakaan maut belasan tahun lalu.
“Mbak?!” Zia memanggil lantang.
“Aku denger, Zia. Iya nanti kami usahakan datang. Sudah ya, mbak masih banyak urusan.” Dia langsung mematikan panggilan, dan menyimpan ponsel ke dalam tas. Banyaknya pesan dari pria yang tadi mentraktirnya makan, diabaikan.
“Tadi adikmu menghubungi saya, dia mengatakan kita diundang makan malam Minggu nanti,” ucapnya pelan, namun dalam.
Netra Saniya sedikit membesar, napasnya tertahan sebentar, dia mengangkat wajah dan langsung bertemu pandang. ‘Apa Zia mengatakan yang sebenarnya? Dari mana dia dapat nomor mas Yarash?’
Yarash memutuskan pandangan, senyumnya tak sampai pada mata. Dirangkulnya pundak wanita yang masih terkejut.
“Kalau hari Sabtu nanti saya sibuk, tolong tunggu. Kamu jangan pulang sendirian ke rumah masa kecilmu. Paham, Saniya?” Lengan Saniya diusap sebentar.
“Iya,” pikirannya bercabang, sulit fokus disaat diserang rasa panik.
“Ardan! Gak boleh masuk kolam, ada Buaya nya loh itu!” Suci menyimpan ponsel di saku celana, dia panik sendiri tiba-tiba Ardan mau menceburkan diri ke kolam tidak dalam yang dijadikan tempat berendam kawanan Bebek Mandarin memiliki bulu berwarna indah.
Yarash melepaskan rangkulan di pundak istrinya, dia harus menghentikan Ardan sebelum putranya berenang dalam kubangan air mandi hewan.
“Kita kesini kan mau beli hewan, bukannya menemani kamu main bersama saudaramu, boy.” Ardan dipanggul pada bahu lebar.
“Papi, aku mau mandi. Gelah, gatel,” ia beralasan agar diperbolehkan main air.
“Mandi dirumah, bukan di kolam banyak eek hewannya,” akal bulus putranya sudah terbaca.
“Ayo ajak Mami, kita cari hewan yang boleh dipelihara. Kalau gak mau, ya pulang,” ujarnya sedikit mengancam.
Balita tidak memakai sepatu, celana sudah terlepas tersisa dalaman dan popok saja, mendengus tidak suka.
Yarash meminta bantuan salah satu karyawan toko kepunyaan sahabatnya. Bertanya tentang hewan yang aman dipelihara anak-anak.
Namun pilihan yang jatuh pada Hamster, Kelinci, ditentang oleh Ardan, dia tidak mau hewan itu.
“Aku tu mau itu!” Ardan melompat-lompat, jarinya menunjuk hewan berwarna kuning cerah yang sedang bertengger di batang dalam rumah kaca.
Saniya Syamira mendekati kandang yang terdapat tulisan keterangan nama hewan, umur, dan harga.
“Empat juta tujuh ratus ribu rupiah,” gumamnya lirih, lalu memperhatikan hewan yang diinginkan Ardan.
“Ini jenis baby Iguana albino, panjangnya masih 35 centimeter, dan sudah aman dijadikan peliharaan, karena perawatannya telah melewati masa sulit,” karyawan pria tadi menjelaskan.
“Papi gendong!” Ardan tidak sabaran, dan dia keukeuh mau Iguana memiliki warna sangat cantik, kuning, matanya coklat cerah dengan pupil hitam.
Yarash pun mengangkat balita sudah tidak lagi berpakaian lengkap, mendekatkan Ardan ke kandang hewan reptil.
“Hai … Gun gun. Ini Opa Aldan.” Ia menirukan Iguana yang menjulurkan lidah.
“Papi, ayo kita bawa pulang sekalang. Halus boleh. Nanti aku mau nangis kelas-kelas!” jurus andalan pun hendak diperlihatkan.
“Tanya Mami dulu, boleh tidak. Soalnya Papi lupa bawa dompet, jadinya gak punya uang.” Yarash menarik pundak Saniya agar mereka berdiri berdekatan.
“Gimana, Mi? Putra kita dibolehin beli Iguana itu tidak?”
.
.
Bersambung.
mulai posesif kah? 🫣
dasar bocil... ada aja kelakuannya😂😂😂
memang ayah dan suami idaman banget ya mas yarash