Aurelia Evandra datang membawa sebuah kontrak.
Bukan untuk ditandatangani olehnya, melainkan oleh Nathaniel Alister—pewaris keluarga Alister yang terkenal dingin dan tak pernah tunduk pada siapa pun.
Semua orang menganggap Nathaniel akan menolak tanpa berpikir dua kali.
Namun, Aurelia datang dengan syarat yang tak bisa diabaikan. Sebuah tanda tangan menjadi awal dari permainan berbahaya yang mempertemukan dua pewaris, dua keluarga besar, dan rahasia yang selama bertahun-tahun terkubur.
Awalnya hanya kontrak.
Hingga perlahan berubah menjadi ikatan yang tak seorang pun mampu putuskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon masadepan_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Isi kontrak
Aurelia membalikkan badannya, menatap Nathaniel yang baru saja berucap.
"Apa anda bisa mengulangi kalimat barusan?" Tanya Aurelia memastikan. Dia sedikit terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar.
Nathaniel tidak langsung menjawab, mereka saling menatap satu sama lain.
"Saya tidak suka mengulangi kalimat." Jawab Nathaniel datar.
Aurelia hanya mengangguk kecil, sama sekali tidak mempermasalahkan jawaban Nathaniel, ia jadi mengetahui satu hal..... Nathaniel tidak suka mengulang kalimat.
"Saya hanya terkejut." Aurelia maju selangkah dan menarik kursi kembali, ia meletakkan tas dan mendudukkan dirinya. Hatinya sedikit lega, ia masih memiliki beberapa harapan kecil yang sempat sirna.
"Jadi.... Anda setuju, tapi dengan beberapa perjanjian?" Aurelia menggeser tasnya.
"Saya tidak mau melakukan sesuatu dengan sia-sia." Nathaniel menyandarkan punggungnya di kursi.
Aurelia terdiam. Ia tersenyum tipis dengan beberapa kalimat yang memenuhi hatinya. Nathaniel tetaplah dia, apa yang dibicarakan orang-orang memang benar. Arogan, dingin dan tidak mau melakukan tindakan dengan percuma.
Tapi kembali mengingat fakta bahwa pria ini terseret kedalam kehidupannya adalah hal yang tidak pernah ia duga. Aurelia memang salah, dan harus menerima apapun syarat yang di ajukan Nathaniel agar tidak ada pihak yang dirugikan.
"Kita akan buat sebuah kontrak atas persetujuan kedua belah pihak." Aurelia membuka tas dan mengambil ponsel. Ia tidak membawa iPad ataupun laptop, untuk sementara waktu ia akan menulis di ponselnya.
Nathaniel memperhatikan pergerakan Aurelia. Pria itu mengambil secangkir kopi, ia usap pelan bibir gelas yang basah, lalu meneguknya perlahan.
"Apa anda bisa menyebut persyaratan yang anda inginkan?" Aurelia telah siap mengetikkan sesuatu di ponselnya.
Nathaniel berdehem pelan, dia menatap wajah Aurelia yang rautnya sudah berubah, seakan raut kecewanya telah sirna beberapa menit yang lalu.
"Kita tidak akan melibatkan perasaan dalam hubungan ini." Ucapnya datar dengan suara berat. Ia mulai mengatasi beberapa persyaratan yang ia inginkan.
Aurelia mengangguk setuju. Itu juga hal pertama yang ingin dia sampaikan, pernikahan ini memang tidak di dasari cinta.
Jarinya mulai bergerak mengetik apa yang baru saja diucapkan Nathaniel. Setelah selesai, ia kembali menatap pria itu.
"Tidak ada yang boleh mengetahui kontrak ini."
"Termasuk Sarah?" Aurelia bertanya memastikan, sebenarnya ia tidak ingin membohongi Sarah.
Nathaniel mengangguk kecil.
"Termasuk dia."
"Bagaimana jika keadaannya mendesak?" Potong Aurelia cepat. Dia mewanti-wanti jika ada hal yang mengharuskannya untuk jujur.
"Jika memang memungkinkan untuk melanjutkan kebohongan, lanjutkan. Tapi jika tidak ada harapan... Kita tidak bisa terus berjalan dengan sepatu yang dipenuhi krikil."
Aurelia terdiam sejenak. Sesaat kemudian mulai bergerak mengetikkan kalimat di layar ponselnya.
"Tidak boleh ada yang disembunyikan setelah pernikahan nanti."
Jemari Aurelia berhenti bergerak, ia langsung menoleh.
"Hal itu privasi, tuan Nathaniel. Kita hanya menikah kontrak." Ucapnya pelan, ia tidak setuju dengan syarat yang satu ini. Baginya.. Satu kecanggungan jika harus terus bercerita dengan Nathania nanti.
"Memang benar. Tapi saat di pelaminan nanti bukanlah sebuah kebohongan..." Nathaniel menghentikan kalimatnya, ia menatap lekat wajah Aurelia.
".... Pernikahan itu sakral Aurelia. Di luar syarat yang akan kita buat. Kita akan tetap menjalankan kewajiban kita sebagai suami istri." Lanjut Nathaniel dengan tenang. Dia memajukan tubuhnya dengan kedua tangan yang saling bertautan.
Aurelia terdiam. Pikirannya langsung berkelana pada hal lain.
"Tapi saya menolak kalau harus melakukan hal yang tidak membuat saya merasa nyaman dengan orang yang tidak saya cintai." ucapnya lantang, ia akan menyampaikan isi hatinya tanpa merasa takut sedikitpun.
Tangan Nathaniel terkepal dengan perlahan, ia tertawa kecil.
"Saya tidak menyebut hal itu, Aurelia. Saya hanya mengatakan kewajiban kita sebagai suami istri." ia mencondongkan tubuhnya.
Aurelia memutuskan kontak mata mereka, bola matanya bergerak menatap ke luar cafe.
"Tidak saling berbohong adalah salah satunya." Ucap Nathaniel tanpa mengalihkan pandangan.
"Saling menjaga satu sama lain meskipun tanpa perasaan, tapi setidaknya kau masih memiliki rasa kemanusiaan bukan?"
Aurelia langsung menoleh. Dia melebarkan pupilnya, perkataan Nathaniel barusan seakan sedang mengejeknya. Ia menghembuskan napas panjang sebelum akhirnya kembali mengetik di ponsel.
"Iya... Saya mengerti." Aurelia tidak ingin berdebat panjang. Ia sudah paham maksud perkataan Nathaniel.
"Kita tidak akan melibatkan urusan ini dalam pekerjaan."
"Saya setuju." Jawab Aurelia tanpa menoleh, jemarinya masih bergerak disana.
"Bersikap layaknya suami-istri dihadapan semua orang."
Aurelia ingin menolak. Tapi ia sadar bahwa ini penting, orang lain tidak mengetahui kontrak ini. Mereka hanya tahu pernikahan ini berlangsung atas keputusan matang, bukan karena terburu-buru atau sebuah paksaan.
Nathaniel terus memperhatikan Aurelia yang tengah fokus dengan ponselnya. Sesekali tangan wanita itu bergerak merapihkan rambutnya yang bergerak tertiup angin. Bibirnya diam-diam terangkat tipis.
"Tidur dalam ruangan yang sama."
Aurelia spontan menoleh.
"Tapi beda kasur, Aurelia." Lanjut Nathaniel seakan tahu arti tatapan wanita itu yang seolah siap menerkam.
Aurelia bernapas lega, ia kembali fokus pada ponselnya. Ia tahu maksud Nathaniel. Kalau sampai orang lain tahu mereka tidur berbeda ruangan, maka akan menimbulkan mencurigakan. Aurelia menyetujui syarat Nathaniel barusan. Toh mereka sama-sama tidak memiliki perasaan, di kamar nanti mereka hanya akan beristirahat lalu tertidur, tidak lebih.
Jemarinya berhenti bergerak, kedua alis Aurelia mengerut. Ia baru sadar satu hal... Nathaniel menyebut namanya langsung, tidak ada kata nona seperti biasanya. Pria itu benar-benar menempatkan obrolan ini diluar pekerjaan. Tapi sebaliknya, Aurelia tidak bisa jika harus menyebut hanya nama Nathaniel, ia rasa... Kurang sopan. Kecuali, setelah menikah nanti, itupun hanya berlaku di hadapan orang lain.
Aurelia masih menunggu persyaratan selanjutnya. Lalu menoleh saat pria itu bersuara.
"Sudah." Ucap Nathaniel.
"Itu persyaratannya. Lalu keuntungan apa yang anda dapat dalam pernikahan ini?" Aurelia meletakkan ponselnya perlahan. Ia belum mengetahui keuntungan yang diperoleh pria itu.
Nathaniel tidak langsung menjawab. Matanya beralih menatap keluar cafe. Tangannya mulai bergerak tak bertaut lagi.
"Desakan Kakaku tidak ada lagi karena aku menyetujui keinginannya." Nathaniel kembali beralih menatap Aurelia. Ia mulai menyebutkan beberapa keuntungan.
"Kau bisa menemaniku saat menghadiri acara bisnis sebagai pasangan."
"Lalu?" Aurelia masih penasaran. Ia tidak ingin hanya dia saja yang diuntungkan, Nathaniel juga harus merasakan agar ia tidak merasa bersalah.
"Tidak hanya Sarah yang mendesak agar aku menikah. Tapi orang tuaku juga." Nathaniel tersenyum miring, ia mengingat fakta bahwa semua keluarganya menginginkan Nathaniel cepat menikah karena khawatir anak laki-laki mereka tidak akan menikah.
"Jadi, saat aku memberikan kabar tentang pernikahan kita.... Mungkin mereka bisa bernapas lega."
Aurelia mengangguk mengerti. Ia senang karena Nathaniel juga di untungkan dalam hal ini.
"Dan juga bisnis."
Nathaniel memasang raut serius.
"Per erat kekuatan di beberapa perusahaan kita."
Aurelia tersenyum tipis.
"Tentu." Ucapnya. Kata itu juga yang diinginkan Giovani. Tentang perusahaannya yang membutuhkan dukungan dari luar. Baik Papanya maupun Nathaniel, mungkin mereka sama-sama berambisi dalam kekuasaan.
"Ada lagi?" Tanya Aurelia.
"Ada satu hal... Tapi kau tidak perlu tahu." Jawab Nathaniel tenang.
Kedua alis Aurelia terangkat tipis, "Kenapa begitu?" Ia cukup penasaran.
"Kau akan tahu nanti."
Aurelia hanya diam, wanita itu tidak bisa bertanya lebih jauh. Ia kemudian menghela napas sebentar.
"Satu lagi." Aurelia lebih memilih menambahkan satu persyaratan sebelum mereka mentandatangani suratnya.
Mereka saling menatap satu sama lain. Jemari Aurelia saling bertautan, ada rasa gugup yang terasa sedari tadi setiap menatap Nathaniel.
"Pernikahan ini tidak berlangsung selamanya."
Nathaniel hanya diam, tak bereaksi apapun.
"Sampai kedua keluarga sudah mulai tenang. Kita bisa mencari alasan untuk mengakhiri ini."
"Jadi sejak awal kau memang berniat begitu?"
Deg!
Aurelia tidak bisa menjawab pertanyaan Nathaniel. Pandangannya tak sengaja turun dan melihat kepalan di kedua tangan Nathaniel.
Untuk pertama kalinya sejak mereka membicarakan kontrak itu, wajah Nathaniel tidak lagi terlihat tenang.