Reyhan Mahardika adalah seorang aktor figuran gagal yang nasibnya berubah drastis setelah ia diikat oleh Sistem Pemeran Penjahat Profesional yang menjanjikan karier legendaris. Namun keberuntungan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika setiap adegan pembunuhan yang ia perankan di depan kamera tiba-tiba terjadi di dunia nyata dengan pola yang sama persis. Publik dan polisi, termasuk Detektif Alena Prameswari yang cerdas dan dingin, mulai mencurigainya setelah sebuah video aktingnya yang terlalu realistis tersebar ke internet. Kini Reyhan harus membuktikan dirinya tidak bersalah sambil terus menjalankan misi dari sistem misterius itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Tsss!
Asap putih berbau almond pekat itu menyebar dengan sangat cepat, menelan setiap sudut ruang privat bergaya Jepang tersebut.
"Uhuk! Uhuk! Reyhan, mataku perih!" Alena terbatuk hebat sambil meremas kerah bajunya untuk menutupi hidung.
"Jangan bernapas lewat mulut! Itu gas sianida dosis rendah!" balas Reyhan, suaranya teredam oleh lengan seragam pelayannya yang ia gunakan untuk membekap wajah.
Di sudut ruangan, Kombes Darmawan yang tadi ketakutan kini meronta-ronta panik.
"Pintunya! Buka pintunya!" teriak pria paruh baya itu dengan suara serak.
Darmawan menerjang pintu geser ruangan tersebut dan menarik gagangnya dengan kasar.
Klotak! Klotak!
Pintu itu sama sekali tidak bergerak, seolah ada besi berat yang mengganjalnya dari luar.
"Terkunci! Sialan, pintunya dikunci dari luar!"
Darmawan mulai menggedor-gedor pintu dengan panik, menghirup semakin banyak gas beracun tanpa ia sadari.
Dalam hitungan detik, tubuhnya mulai kejang ringan dan ia jatuh tersungkur ke lantai tatami.
"Komandan!" Alena berusaha merangkak mendekati atasannya itu, namun pandangannya mulai kabur.
Reyhan mengutuk dalam hati. Pembunuh bertopeng ini benar-benar tidak memberi mereka ruang bernapas sedikit pun.
Ia menatap jendela kaca besar yang baru saja dipecahkan oleh tabung gas tadi.
Pecahannya memang ada, namun teralis besi kokoh masih menghalangi mereka untuk melompat keluar.
Dan melompat dari lantai dua belas tanpa persiapan sama saja dengan bunuh diri.
[Ding! Misi Penyelamatan Darurat terpicu.]
[Misi: Selamatkan minimal satu nyawa dari ruangan ini.]
[Opsi A: Fokus selamatkan Alena. Darmawan mati. Hadiah: Peningkatan Karisma. Hukuman: Kehilangan satu saksi kunci.]
[Opsi B: Fokus selamatkan Darmawan. Alena mati. Hadiah: Akses ke jaringan informasi kepolisian. Hukuman: Anda kehilangan satu-satunya sekutu.]
[Opsi C: Selamatkan keduanya. Hadiah: Reputasi Anda mulai pulih, Bonus Skill. Hukuman jika gagal: Anda ikut tewas.]
"Opsi C, sistem sialan!" rutuk Reyhan kesal. Ia tidak akan membiarkan Alena mati, dan ia butuh Darmawan hidup-hidup untuk membersihkan namanya.
Skill Observasi Tingkat Menengah Reyhan langsung diaktifkan hingga batas maksimal.
Matanya dengan cepat memindai setiap jengkal dinding dan atap ruangan yang mulai tertutup asap putih pekat.
"Ventilasi!" gumam Reyhan saat melihat sebuah kotak besi kecil di sudut langit-langit.
Namun, ventilasi itu terlalu kecil untuk dilewati manusia.
"Reyhan... aku tidak bisa napas..." rintih Alena, tubuhnya mulai limbung dan nyaris pingsan.
Waktu mereka tidak banyak. Paling lama dua menit sebelum racun sianida itu benar-benar menghentikan detak jantung mereka.
Reyhan meraih sebuah kursi kayu berat yang ada di dekat meja.
Ia mengangkat kursi itu tinggi-tinggi.
Brak!
Reyhan menghantamkan kursi kayu itu ke dinding partisi ruangan yang terbuat dari kayu lapis bergaya Jepang.
Kayu lapis itu retak namun tidak hancur. Dinding ini lebih tebal dari kelihatannya.
"Tidak cukup kuat," batin Reyhan.
Ia menoleh ke arah Darmawan yang sudah tidak sadarkan diri dengan mulut berbusa tipis.
"Alena, tahan sebentar lagi!"
Reyhan mengambil tabung gas beracun yang masih menyemburkan asap di tengah meja.
Tabung itu terasa sangat panas di tangannya, namun Reyhan mengabaikannya.
Ia berjalan mendekati pintu geser yang terkunci dari luar.
Di celah bawah pintu itu, Reyhan bisa melihat ujung sebuah balok besi yang sengaja diselipkan untuk mengganjal rel pintu.
Reyhan memasukkan ujung tabung gas yang panas dan bertekanan tinggi itu tepat ke arah celah balok besi.
"Sistem, aku harap tabung ini meledak kalau dipanaskan," gumam Reyhan nekat.
Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan pemantik api yang sempat ia curi dari resepsionis tadi.
Ctek.
Api kecil menyala.
Reyhan mendekatkan api itu ke bagian katup tabung gas yang masih mengeluarkan sisa-sisa tekanan.
"Menjauh dari pintu!" teriak Reyhan pada Alena.
Bum!
Sebuah ledakan kecil namun bertekanan tinggi terjadi, menghancurkan katup tabung dan melemparkan balok besi pengganjal itu keluar dari relnya.
Pintu geser itu pun sedikit terbuka akibat dorongan ledakan.
Tanpa membuang waktu, Reyhan menendang pintu itu sekuat tenaga.
Brak!
Pintu geser hancur dan Reyhan langsung menarik tubuh Alena keluar dari ruangan beracun tersebut.
"Uhuk! Hah... hah..."
Alena menghirup udara segar di lorong restoran dengan rakus.
Reyhan tidak berhenti. Ia menahan napasnya, berlari kembali ke dalam ruangan yang dipenuhi asap tebal, dan menyeret tubuh besar Darmawan keluar.
Bruk!
Reyhan menjatuhkan tubuh Darmawan di sebelah Alena, tepat saat para staf restoran dan pengunjung lain mulai berkerumun karena mendengar suara ledakan.
"Tolong! Ada kebocoran gas beracun!" teriak salah seorang pelayan panik.
"Panggil ambulans!" seru yang lain.
Reyhan jatuh terduduk, napasnya tersengal-sengal. Dadanya terasa sesak karena sempat menghirup asap beracun itu.
[Ding! Misi Penyelamatan Darurat Opsi C Berhasil!]
[Evaluasi: Penyelamatan nekat namun efektif.]
[Hadiah didistribusikan: Reputasi naik (+20), Bonus Skill: Ketahanan Fisik (Tingkat Dasar).]
Reyhan merasakan aliran energi hangat mengalir ke seluruh tubuhnya, menetralkan rasa sesak di dadanya dan membuat pernapasannya kembali normal dengan cepat.
"Alena... ponselmu," ucap Reyhan pelan.
Alena yang masih lemas menepuk saku jasnya. "Aman. Rekamannya aman."
Sirene ambulans mulai terdengar mendekat ke arah gedung.
Reyhan tahu ia harus segera pergi sebelum polisi datang dan ada yang mengenali wajah aslinya di balik seragam pelayan ini.
"Bawa Darmawan ke rumah sakit," bisik Reyhan pada Alena. "Pastikan dia hidup. Aku akan mengurus videonya."
Alena mengangguk lemah. "Hati-hati, Rey."
Reyhan berdiri dan berjalan cepat membaur dengan kerumunan pengunjung yang dievakuasi ke bawah.
Malam itu, jagat maya Indonesia kembali digemparkan.
Sebuah akun anonim bernama "Sang Keadilan" mengunggah video pengakuan Kombes Darmawan.
Dalam hitungan jam, video itu dibagikan ratusan ribu kali.
Wajah Darmawan yang ketakutan dan pengakuannya menerima suap 20 miliar rupiah dari Yayasan Pelita Hati untuk menutupi kasus penyelundupan, terpampang nyata tanpa editan.
Masyarakat yang tadinya menghujat Reyhan kini mulai terpecah.
"Tunggu dulu, kalau Kombes Darmawan itu korup, berarti Reyhan Mahardika selama ini difitnah?" komentar seorang netizen.
"Pantas saja polisi sangat ngotot mau menangkap Reyhan! Ternyata atasan mereka sendiri yang kotor!" timpal netizen lain.
"Aktor Kematian itu bukan pembunuh! Dia adalah pahlawan yang mengungkap kebusukan aparat!"
Narasi publik mulai berbalik perlahan. Reputasi Reyhan yang tadinya hancur lebur kini mulai naik kembali, meski masih banyak yang ragu.
Keesokan paginya, di sebuah rumah sakit swasta yang dijaga ketat.
Darmawan terbaring lemah di ranjang pasien, wajahnya ditutupi masker oksigen.
Alena berdiri di sudut ruangan, memperhatikan atasannya itu dengan tatapan dingin.
Beberapa petugas dari Divisi Propam (Profesi dan Pengamanan) Mabes Polri berjaga di depan pintu kamar.
Seorang pria berseragam perwira tinggi Propam masuk ke dalam ruangan.
"Bagaimana kondisinya, Detektif Alena?" tanya perwira itu.
"Masa kritisnya sudah lewat, Pak. Tapi dia masih belum bisa dimintai keterangan," jawab Alena sopan.
Perwira Propam itu mengangguk. "Video pengakuannya sudah merusak citra kepolisian secara nasional."
"Kapolri memerintahkan agar Darmawan langsung ditahan dan diselidiki segera setelah dia sadar."
"Dan mengenai aktor buronan itu, Reyhan Mahardika..." Perwira itu menatap Alena tajam. "Statusnya ditangguhkan sementara dari Daftar Pencarian Orang."
Alena menghela napas lega di dalam hatinya.
Reyhan tidak lagi menjadi buronan resmi, setidaknya untuk saat ini.
Namun, di sebuah tempat lain yang jauh dari keramaian kota.
Seorang pria mengenakan setelan jas putih duduk di sebuah kursi teater yang sudah usang dan berdebu.
Di tangannya terdapat sebuah topeng hitam polos.
Pria itu menonton video pengakuan Darmawan melalui sebuah layar tablet.
"Sangat menarik," gumam pria itu, suaranya terdengar mekanis dari balik alat pengubah suara yang terpasang di lehernya.
"Aktor kita ternyata punya bakat untuk mengubah alur cerita."
Pria itu meletakkan tabletnya dan menatap ke arah panggung teater kosong di depannya.
"Tapi pertunjukan ini baru saja dimulai, Reyhan."
"Mari kita lihat, seberapa jauh kau bisa berlari dari naskah kematian yang sudah kusiapkan untukmu."
Permainan utama akhirnya dimulai. Dan kali ini, sang pembunuh bertopeng tidak akan lagi bermain di belakang layar.