"Tolong... tolong saya... ada yang mengejar saya..." bisik Elara dengan suara parau dan napas yang membakar kulit dada pria itu.
Detik berikutnya, dua pria yang mengejar Elara mendobrak keluar dari semak-semak. Mereka menghentikan langkah seketika saat melihat pemandangan di depan mereka. Namun, sebelum salah satu dari mereka sempat membuka mulut untuk meminta maaf atau melarikan diri, Haidar—sang bos mafia yang memimpin wilayah tersebut—beralih pandang. Mata tajamnya yang sedingin es menatap kedua pria pengganggu itu. Tanpa rasa ragu atau sepatah kata pun, Haidar mengarahkan moncong pistolnya ke bawah dan menembak pergelangan kaki pria terdepan.
DOR!
Suara dentuman senjata api memecah keheningan hutan. Pria yang tertembak itu menjerit histeris, terhuyung jatuh ke tanah sambil memegang kakinya yang hancur, sebelum akhirnya merangkak mundur bersama temannya dengan wajah pucat pasi sambil terus membungkuk dan berteriak meminta maaf hysterical kepada Haidar. Mereka tahu betul siapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KELEGAAN DI AMBANG PINTU
Keheningan seketika mencengkeram pelataran rumah sederhana itu. Pernyataan Haidar yang lugas dan berani membuat udara di sekitar mereka serasa membeku.
"Dan Pak Rian," sambung Haidar dengan tatapan mata yang begitu menuntut, "setuju atau tidak, aku akan menikahi Elara secara privat. Elara sedang mengandung anakku, dan sekarang dia tinggal di mansionku."
Ibu Elara menahan napas dengan mata berbelalak, sementara Pak Rian terpaku kaku. Kata demi kata yang diucapkan sang bos mafia memukul kesadaran mereka bertubi-tubi. Kehamilan Elara, fakta bahwa putrinya terlindungi dari siksaan, serta sosok pria berkuasa di hadapannya yang siap pasang badan.
Pak Rian menatap Elara dengan pandangan matanya yang sendu dan penuh rasa bersalah. Ia melihat bagaimana jemari Elara menggenggam erat lengan Haidar—bukan karena takut, melainkan seperti mencari perlindungan dan rasa aman yang tak pernah bisa ia berikan sebagai seorang ayah.
Air mata Pak Rian menetes perlahan menelusuri guratan wajahnya. Pria tua itu mengembuskan napas panjang, meruntuhkan seluruh keangkuhan dan rasa takutnya.
"Apapun itu... jika putriku mau, aku dan istriku setuju," ucap Pak Rian dengan suara parau namun tulus. Ia menatap Haidar lurus-lurus. "Tolong... jaga Elara, Tuan Haidar. Jangan biarkan dia menderita lagi seperti saat bersama kami."
Haidar mengangguk tipis—sebuah gestur penghormatan yang sangat jarang ia berikan kepada siapa pun. "Dia akan menjadi wanita yang paling aman di dunia ini, Tuan Rian. Itu janjiku."
"Kami akan pulang. Datanglah lusa ke mansionku, aku akan mengadakan pernikahan," ucap Haidar dengan nada tegas namun penuh penghormatan, memberikan kepastian atas masa depan putrinya di hadapan Pak Rian dan istrinya.
Haidar menundukkan kepalanya tipis, berpamitan secara gentleman kepada kedua orang tua Elara. Raut tegang di wajah Pak Rian dan istrinya perlahan mengendur, berganti dengan rasa haru dan kelegaan saat melihat keseriusan serta komitmen di mata sang bos mafia.
Elara maju satu langkah, memeluk erat ibu dan ayahnya secara bergantian. Tangis haru kembali pecah di antara mereka, namun kali ini bukan karena rasa takut atau penderitaan, melainkan pelukan perpisahan menuju kehidupan baru yang lebih aman.
"Jaga dirimu baik-baik dan calon bayi dalam kandunganmu ya, Nak," bisik ibunya lembut sambil mengusap air mata di pipi Elara.
"Terima kasih, Ayah, Ibu. Elara pamit dulu... sampai jumpa lusa di mansion," balas Elara dengan senyuman tulus yang sudah lama tidak terukir di wajahnya.
Haidar kemudian merengkuh pinggang Elara dengan lembut, membimbingnya melangkah menuju SUV hitam yang telah siap dengan pintu terbuka. Setelah Elara dan Haidar masuk ke dalam kabin mewah yang nyaman, pintu ditutup rapat.
Iring-iringan lima mobil berjangka tinggi itu mulai bergerak perlahan melintasi gang perumahan, meninggalkan kedua orang tua Elara yang berdiri melambai di depan pagar. Di dalam mobil, Haidar menggenggam jemari Elara dengan erat, siap menyambut hari pernikahan sederhana namun penuh makna yang akan dilangsungkan lusa di kediamannya.
Iring-iringan mobil SUV hitam mewah itu perlahan menghilang dari pandangan, meninggalkan debu tipis yang berterbangan di gang perumahan yang sunyi. Para tetangga yang tadinya mengintip dari balik jendela perlahan kembali masuk, menyisakan Pak Rian dan istrinya yang masih berdiri mematung di depan pagar rumah mereka.
Pak Rian merangkul pundak istrinya yang masih sesenggukan usai melepaskan kepergian putri semata mayang mereka. Pria tua itu mengembuskan napas panjang, mengikis seluruh beban berat yang mencekik dadanya selama beberapa minggu terakhir.
"Aku tidak menyangka putri kita begitu dicintai oleh seorang bos mafia," ucap Rian kepada istrinya, suaranya terdengar parau namun sarat akan rasa haru dan takjub.
Istrinya menoleh, mengusap sisa air mata di pipinya dengan ujung lengan baju. "Ibu juga sama sekali tidak menyangka, Pak. Tadi Ibu sangat takut melihat pria itu dan para pengawalnya... Tapi saat melihat caranya menggandeng Elara, cara matanya menatap Elara ketika bercerita tentang kehamilannya... pria itu benar-benar ingin melindungi anak kita."
Pak Rian mengangguk pelan, menyetujui ucapan sang istri. Sebagai pria, ia bisa membaca tatapan mata Haidar. Di balik aura dingin, tegas, dan dominan yang mengerikan itu, terdapat rasa kepemilikan dan perlindungan yang sangat kuat untuk Elara.
"Mungkin ini cara Tuhan menyelamatkan Elara dari neraka Pak Surya," bisik sang istri lagi seraya menyandarkan kepalanya di dada suaminya. "Elara tidak lagi disiksa, dan calon cucu kita akan tumbuh dengan aman."
"Ya..." balas Pak Rian lembut, menatap jalanan kosong di depan rumah mereka. "Lusa kita akan datang ke mansion Tuan Haidar. Kita akan menyaksikan sendiri putri kita memulai hidup barunya yang jauh lebih layak."