Indonesia
NovelToon NovelToon
Dinikahi Calon Ipar

Dinikahi Calon Ipar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:33k
Nilai: 5
Nama Author: REZ Zha

Ini bukan tentang pengkhianatan atau perselingkuhan.

Ditinggal kabur calon suami sehari sebelum pernikahan demi wanita lain adalah hal memalukan bagi Kanaya. Namun, terjebak dalam pernikahan darurat dengan Yudha, calon adik iparnya yang 7 tahun lebih muda dari usianya, jauh di luar bayangannya.

Tanpa cinta, tanpa persiapan, dia harus memulai hidup seatap dengan laki-laki yang lebih pantas menjadi adiknya.

Inilah kisah dua jiwa yang dipaksa bersatu demi sebuah nama baik. Apa yang terjadi dengan kisah mereka setelah menikah? Akankah rumah tangga mereka bisa bertahan? Apakah rasa cinta akhirnya tumbuh di antara mereka berdua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anak Kandung Mama Itu Aku

Minggu sore ini langit kota Jakarta tampak bersahabat. Yudha berencana mengajak Kanaya pergi berkunjung ke rumah orang tuanya.

Sejak menikah, mereka memang belum sempat bertandang ke rumah orang tua Yudha. Sebenarnya ia ingin membuat istrinya itu bisa akrab dengan kedua orang tuanya, terutama dengan sang mama. Apalagi ia merasa Kanaya adalah sosok istri yang baik dan sayang terhadap keluarga. Hanya saja Yudha khawatir Kanaya akan menolaknya, karena bayang-bayang Yogi yang mungkin membuat Kanaya enggan berkunjung ke sana.

"Yank, kita makan di luar aja, yuk!" ajak Yudha ketika mengekor sang istri yang hendak menyiapkan menu untuk makan malam di dapur.

Kanaya menoleh lalu membalikkan tubuhnya menghadap Yudha, mengurungkan niatnya tadi.

"Mau makan di mana?" tanyanya.

"Hmmm..." Yudha tampak ragu mengucapkannya. "Kalau kita,,, numpang makan di rumah orang tuaku, gimana?" Yudha menunggu jawaban Kanaya dengan harap-harap cemas.

Kedua alis Kanaya terangkat, tak mengira akan diajak ke rumah mertuanya. Meskipun secara pribadi tidak ada perang dingin antara dirinya dengan mertuanya, tapi, Kanaya masih berasa canggung jika berada di rumah keluarga Yudha.

"Hmph... Malu-maluin aja numpang makan!" sahutnya mencibir santai.

"Nggak mau, ya?" tanya Yudha memperlihatkan gestur kecewa.

"Siapa yang bilang nggak mau?" Melihat ekspresi Yudha, Kanaya buru-buru mengklarifikasi agar Yudha tidak salah paham dengan candaannya tadi. "Baper banget!" cibirnya kemudian.

"Siapa yang baper?" Yudha merapatkan jarak hingga aroma maskulin di tubuhnya langsung menyeruak indra penciuman Kanaya. Lengan kokohnya pun langsung mendarat di pundak sang istri, menariknya ke dalam dekapannya.

"Nggak baper, tapi mukanya jelek gitu!" Selera humor Yudha tampaknya mulai menular pada Kanaya. Wanita itu kini tertawa renyah, sengaja memancing kekesalan suaminya. Namun, tawa itu langsung berubah menjadi pekikan kaget saat lengan kokoh Yudha yang melingkar di pundaknya kini mulai memiting lehernya.

"Siapa yang kamu bilang jelek tadi, hemm?" Yudha memasang ekpresi pura-pura marah.

"Yudha! Sakit!" Kanaya meronta, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman pria itu. Padahal, Yudha sama sekali tidak menggunakan kekerasan dan sampai membuat istrinya itu kesakitan.

"Mulai berani sama suami, hemm? Bilang nggak ada akhlak, muka jelek..." Yudha menggigit cuping telinga Kanaya sebagai balasan ucapan-ucapan buruk Kanaya padanya.

"Sakit, Yud!" Kanaya menggeliat geli saat bibir Yudha menyentuh telinganya.

"Bikin salah tapi nggak minta maaf?"

"Iya, deh, Maaf...."

"Nggak semudah itu dapat maaf." Seringai tipis di bibir Yudha terbentuk. "Harus dikasih hukuman dulu..." bisiknya kembali.

Kanaya paham ke mana arah ucapkan suaminya. Pasti tak jauh dari urusan ranjang.

"Eh, katanya mau ke rumah orang tua kamu. Aku siap-siap dulu, ya?" Kanaya berusaha menjauhkan tangan Yudha dari lehernya.

"Mau ke mana?" Tapi, Yudha tak mau melepasnya.

"Mau mandi dulu, katanya mau keluar?"

"Ikuuuut... Aku juga mau dikeluarin..." ucap Yudha, mengubah kurungan tangannya menjadi pelukan erat dari belakang. Ia menopang kepalanya di ceruk leher Kanaya, menghirup parfum jasmine yang dipakai Kanaya. "Mandiin, ya?" ujarnya dengan manja

"Astaga, Yudha!" Kanaya mendelik tajam merespon kelakuan konyol Yudha yang bermanja-manja kepadanya.

***

Menjelang Isya, mobil yang dikendarai Yudha sampai di rumah Wirawan. Kanaya menarik nafas dalam-dalam menatap rumah mertuanya itu. Ini kedua kalinya dia menginjakkan kakinya di rumah itu. Sebelumnya dia pernah datang kemari bersama mamanya saat membicarakan rencana pernikahan dengan Yogi beberapa waktu lalu.

Setelah turun dari mobil, Yudha menggenggam tangan Kanaya dan melangkah menuju rumah orang tuanya. Dia sengaja tak mengabari Papa Mamanya soal kedatangannya bersama Kanaya kali ini. Ingin memberi kejutan pada mereka, karena yakin kedua orang tuanya pasti akan senang sangat mengetahui kemunculannya malam ini yang tak terduga.

Yudha menekan bel di dekat pintu. Beberapa menit menunggu, daun pintu rumah pun akhirnya terbuka lebar.

"Assalamualaikum, Papa Mama mana, Bi?" Yudha menerobos masuk dan bertanya pada Entin, ART di rumah orang tuanya.

"Waalaikumsalam. Bapak sama Ibu sedang di ruang makan, Mas," sahut Entin dengan keterkejutan di ekspresi wajahnya.

"Wah, kita telat! Ayo, Yank, buruan!" Tanpa menunggu lama, Yudha menarik lembut tangan Kanaya, menuntun istrinya setengah berlari menuju ruang makan keluarga.

Entin terpaku menatap punggung sepasang pengantin baru itu dengan mata membulat. Dia mengerjapkan mata seolah tak percaya dengan apa yang baru saja disaksikannya.

"Eh, Yank? Sayank? Mas Yudha sama Mbak Kanaya sudah saling jatuh cinta? Kok, Udah sayang-sayangan? Kok, nggak kelihatan kayak orang yang dipaksa nikah, ya?" Entin menggaruk kepalanya yang tak gatal, merasa heran secepat ini hubungan pasangan itu terjalin dengan romantis. Masih membekas dalam benaknya bagaimana alotnya perdebatan Yudha dengan papanya ketika diminta untuk menggantikan posisi Yogi.

"Ngapain dipikirin, sih? Yang penting rumah tangga Mas Yudha bahagia, aku ikut senang." Entin menyusul Yudha dan Kanaya ke ruang makan, tahu betul kehadirannya akan dibutuhkan di sana.

"Assalamualaikum, Pa, Ma! Wah, kita telat, ya? Masih kebagian jatah makan malam nggak nih, Ma?" sapa Yudha riang saat memasuki ruangan.

Wirawan dan Rima yang sedang menyantap makanan seketika menoleh ke arah pintu saat pendengaran mereka menangkap suara familiar menyapa sambil membalas salam.

"Waalaikumsalam...."

"Lho, Kanaya?" Bahkan Rima seketika bangkit dari duduk dan menyambut Kanaya. "Kamu apa kabar, Kanaya?" tanyanya seraya menggenggam tangan Kanaya setelah Kanaya mencium punggung tangannya.

"Alhamdulillah, baik, Ma." sahut Kanaya, "Mama sama Papa sendiri apa kabar?" Kini ia yang bertanya pada mertuanya lalu menyalami Wirawan.

"Kami juga baik, Kanaya." Wirawan yang kini menjawab.

"Mama senang kamu datang kemari, Kanaya." Bagi Rima, tentu saja kunjungan Kanaya ke rumahnya terasa sangat spesial dan membuat ia bahagia. "Kenapa kamu nggak kasih kabar dulu kalau mau kemari? Tahu kamu mau ke sini, Mama bikin masakan spesial buat kamu." Rima memperlakukan Kanaya seperti anaknya sendiri.

"Kalau kasih kabar, namanya bukan kejutan, dong, Ma," sela Yudha.

"Ayo, ikut makan di sini, Kanaya." Rima menuntun Kanaya ke arah kursi di sampingnya. Mengabaikan keberadaan Yudha yang juga ada di sana.

"Tin, ambilkan piring lagi untuk Kanaya!" perintahnya kembali pada Entin.

"Ma, aku juga datang, lho! Kok, aku malah dicuekin?" protes Yudha dengan menggelembungkan pipinya.

"Eh, sejak kapan tingkah kamu kayak anak kecil gitu? Nggak ingat umur? Nggak malu udah punya istri sekarang?" Bukannya mendapatkan perlakuan manis seperti Kanaya, justru omelan yang kini diterimanya dari sang mama.

"Baru sekali aku ajak ke sini aja, Mama udah abaikan aku. Kalau keseringan aku bawa kemari, bisa-bisa Mama amnesia kalau anak kandung Mama itu aku, bukan Kanaya!" protes Yudha memutar bola matanya.

Kanaya menahan tawa karena perhatian Rima kini teralihkan padanya. Dia menyadari, protes yang dilakukan Yudha bukan karena pria itu merasa iri karena diabaikan oleh mamanya sendiri. Itu hanya sandiwara suaminya yang sepertinya ingin menunjukkan jika kedua orang tua Yudha memperlakukannya dengan sangat baik.

❤️❤️❤️

Bersambung ...

1
Ernalita Sitompul
senangnya jadi Kanaya
sryharty
co cwiit kalian ini
Naya Yuda bener2 terbaik
Rika Fitriana
ajak kanaya main k'rmh mmh yudha biar wulan tambah iri melihat perhatian yudha k'kanaya
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋
Oalah Wulan, Wulan... semoga kelak aku ngga punya menantu kayak Wulan 🥺🥺
Juwitae
Wulan nih penyakit hati di piara.. bahagia selalu Naya dan Yudha
sunaryati jarum
Up rutin lagi, Thoor
sunaryati jarum
Wulan perasaan irimu terhadap perhatian mertuamu kepada Kanaya itu berlebihan.Kamu tidak bekerja kamu bisa memberi perhatian pada dirimu sendiri.Kamu itu di tempat mertua segala kebutuhan rumah tangga tercukupi kamu dan suami hanya mengeluarkan untuk kebutuhan pribadi.Sedsngksn Yudha dan Naya sejak awal perkawinan menanggung semua kebutuhan rumah tangga sendiri, masalah Mbak Atin dipindah karena Naya belum mampu mengerjakan pekerjaan rumah tangga,saat ini bau mengalami morning sicknes.Wulan itu sok- Sokan mengancam pulang ke Bali, memanggil orang tuamu mampu mencukur kebutuhan harian seperti mertuamu.Sudah hidup enak masih kurang.Yogi sekarang terbuka ya sifat asli istrimu
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ fjR𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ
disana Wulan selalu diliputi rasa resah gelisah merasa kurang di perhatikan,merasa diabaikan padahal hatinya sendiri yang gak menerima keadaan.sedang Kanaya begitu menikmati masa2 kehamilannya,suami yang perhatian dan pengertian.
Yogi kurang perhatian sama Wulan,sibuk kerja sampai lupa kalau istrinya juga butuh dukungan.
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ fjR𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ
baru ketahuan kan sisi lain Wulan yang suka iri.
Septi
tahan dulu Yud... sabar🤭
Septi
akhirnya. selamat
ρυтяσ kang'typo✨
Atin g sabar buat cerita masalah tentang Wulan, sampe keceplosan pas di ajak ngobrol sama Kanaya🤭🤭🤭
ρυтяσ kang'typo✨
Wulan lagi hamil tapi pikiran'y selalu negatif, awas loh nanti bahaya g buat kesehatan mu 😌😌
nuraeinieni
jgn di bikin jahat dong thor peran wulannya,,,kasian,di bikin sabar biar wulan nyaman tinggal di rumah mertua.
sunaryati jarum
Dobel up Thoor
sunaryati jarum
Wulan kamu harus tahu diri dan bersabar,juga hilangkan sikapmu yang sombong dan sok berkuasa mentang- mentang menantu dari majikan para ART.Ingat yang membayar gaji ART mertuamu buka Yogi atau kamu.Seharusnya kamu malu Yudha yang muda mandiri kamu masih menumpang,tapi tidak masalah,toh mertuamu juga suka,tapi kehamilan kamu jangan kau jadikan alat untuk mendapatkan kasih sayang seperti yang diterima Kanaya.Asal sifat iri, sombong,sok berkuasa kau hilangkan mertua dan ART respect sama kamu.Ingat kau hamil pikiran ,hati,dan perilaku harus bersih nanti berdampak pada fisik dan aura bayimu.Jika hatimu bersih bayimu juga ceria dan bersinar.Namun jika hatimu penuh dengan iri ,dengki dan sombong, jangan harap bayimu beraura bersinar.Efek jadi menantu kaya jangan untuk sombong,tiru perlakuan ibu mertuamu saat minta ART mengerjakan sesuatu.Tuh Atin di rumah Naya sangat karena terbebas dari sifat arogan dan sombongmu
Ernalita Sitompul
wulan,kamu harus extra sabar,semua itu terjadi bukan niat mertuamu membedakan kalian tp semata mata krn proses awal yang jauh dari biasanya saat pernikahan diantara kalian,mertuamu lebih cemas pd rumahtangga Yudha krn insiden dr Yogi..yakinlah jika wulan tenang dan sabar,perlahan ibu mertuamu akan menyesali tindakannya..
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ fjR𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ
lama2 Wulan stres karena terlalu mengharap perhatian lebih.kasihan bayinya kalau ibunya banyak memendam pikiran karena ingin perhatian lebih.nanti jadi iri dengki.jalani sajalah hidupmu,buat dirimu sendiri bahagia tanpa iri melihat orang lain.
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋
Akhirnya sifat asli Wulan lama-lama jadi ketahuan deh 😁
sunaryati jarum: Benar
total 1 replies
Selin Tari
di tahan dulu y papa Yudha 🤭🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!