"
Lima tahun Naira menyusun kerajaan bisnis suaminya dari balik bayang, tapi lelaki itu malah memberikan undangan kongres penting kepada cinta lamanya. Lalu Dimas membatalkan janji menjemput ayahnya sendiri demi perempuan itu. Naira tidak berteriak. Ia hanya melepas cincinnya, mengajukan cerai, dan mengambil kembali seluruh aset yang ia bangun.
Keluarga Mahendra panik. Mereka tidak tahu bahwa Naira adalah putri tunggal Atmadja yang kekayaannya bisa membeli seluruh perusahaan mereka. Tepat saat segalanya kacau, Raka Wiratama muncul. Penguasa bisnis paling ditakuti itu bersumpah melindungi Naira dengan satu alasan: lima tahun lalu, perempuan itu menyelamatkan nyawanya. Dan Raka tidak pernah main-main soal utang nyawa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18
Pembukaan data awal dilakukan di ruang konferensi kecil milik Yayasan Anggraini.
Tidak ada karpet merah. Tidak ada lampu panggung. Hanya meja panjang, layar proyektor, beberapa dokter senior, perwakilan komite etik, dua orang dari BPOM sebagai pengamat, tim legal, dan tiga peneliti muda yang tangannya terlihat dingin sejak awal rapat.
Naira duduk di depan laptop.
Di sebelahnya, Prof. Hadi. Di belakang, Bagas berdiri seperti bayangan. Surya tidak hadir di ruangan, tetapi semua orang tahu gedung itu berada di bawah perlindungan keluarga Atmadja.
Raka juga tidak hadir.
Setidaknya tidak di ruangan.
Hanif mengirim pesan lima menit sebelum rapat dimulai.
Pak Raka ada di lobi. Katanya tidak akan naik kecuali Dokter minta.
Naira membalas satu kata.
Bagus.
Balasan Hanif datang cepat.
Beliau tersenyum. Saya tidak tahu itu kabar baik atau buruk.
Naira tidak membalas lagi.
Prof. Hadi membuka rapat. "Kita di sini untuk meninjau ulang data riset Dr. Sari Anggraini terkait terapi vaskular-genetik. Semua yang dibuka hari ini masih bersifat terbatas dan tidak boleh keluar tanpa izin tertulis."
Perwakilan BPOM mengangguk. "Kami juga menegaskan, pembahasan ilmiah ini bukan izin edar atau izin uji klinik baru. Semua tahapan tetap harus melalui prosedur."
"Tentu," jawab Naira.
Ia justru senang kalimat itu diucapkan. Naira tidak ingin penelitian ibunya diseret menjadi obat ajaib tanpa dasar. Ibunya menghabiskan hidup membela etika. Ia tidak akan menghormati Sari dengan melanggar hal yang sama.
Lampu diredupkan.
Naira membuka file pertama.
Grafik muncul di layar.
Beberapa dokter senior langsung mencondongkan tubuh.
"Ini data sebelum skandal?" tanya salah satu.
"Sebagian," jawab Naira. "Data asli Dr. Sari berhenti di titik ini. Setelah itu ada file tambahan yang saya kerjakan berdasarkan sampel tersisa dan model koreksi yang beliau tinggalkan."
Peneliti muda di ujung meja berbisik, "Efikasinya tinggi sekali."
Naira mendengar, tetapi tetap melanjutkan.
"Pada kelompok sel dengan mutasi target, respons awal mencapai sembilan puluh delapan sampai seratus persen dalam model laboratorium. Tapi angka ini bukan klaim klinis. Ini hanya menunjukkan arah mekanisme."
Seorang dokter senior mengangkat tangan. "Seratus persen? Dr. Naira, Anda tahu angka seperti itu selalu mengundang kecurigaan."
"Saya tahu."
"Bagaimana memastikan tidak ada bias seleksi?"
Naira menekan slide berikutnya.
"Dengan membuka semua sampel gagal."
Layar berubah.
Daftar panjang muncul. Tidak hanya hasil berhasil, tetapi juga kegagalan, anomali, variasi respons, dan catatan sampel rusak.
Ruangan diam.
Naira berkata, "Data yang terlalu sempurna biasanya bohong. Karena itu saya tidak menyembunyikan bagian yang buruk. Angka seratus persen hanya muncul pada submodel yang sangat spesifik setelah koreksi ketiga. Kalau dibaca keluar konteks, itu penipuan. Kalau dibaca lengkap, itu peta."
Perwakilan BPOM menulis sesuatu.
Prof. Hadi menatap Naira dengan bangga yang tidak ia sembunyikan.
Di baris belakang, seorang pria berkemeja biru mengangkat tangan. Namanya Dr. Anton, peneliti yang dulu pernah bekerja sama dengan Cakradinata Farma.
"Kalau boleh, saya ingin bertanya soal asal sampel. Beberapa sampel di sini tampaknya berasal dari pasien uji klinik lama. Apakah ada bukti informed consent yang sah?"
Pertanyaan itu membuat ruangan menegang.
Naira menatapnya. "Itu pertanyaan penting."
Dr. Anton tampak sedikit lega.
"Jawabannya, sebagian ada, sebagian justru menjadi masalah."
Ia menekan slide berikutnya.
Dokumen persetujuan pasien muncul. Beberapa lengkap. Beberapa bertanda tangan dengan pola yang mencurigakan. Beberapa hanya memiliki cap sponsor tanpa tanda tangan keluarga.
Perwakilan komite etik langsung berubah wajah.
Naira berkata, "Inilah alasan Dr. Sari menghentikan penelitian sponsor Cakradinata Farma. Bukan karena datanya gagal. Karena etikanya dilanggar."
Dr. Anton menegang. "Hati-hati dengan tuduhan."
"Saya sedang menunjukkan dokumen."
"Dokumen bisa disalahartikan."
"Kalau begitu bantu kami mengartikannya."
Naira menatapnya tanpa berkedip.
Dr. Anton tidak menjawab.
Di lobi gedung, Raka duduk di sofa panjang, membaca laporan keamanan. Ia tidak suka menunggu. Biasanya orang lain yang menunggunya.
Tapi hari itu ia menunggu.
Hanif berdiri di dekatnya. "Pak, ada orang Cakradinata di area parkir."
Raka tidak mengangkat wajah. "Berapa?"
"Dua mobil. Belum bergerak."
"Biarkan. Kalau masuk gedung, lapor polisi. Kalau menyentuh mobil Naira, patahkan..."
Hanif berdeham.
Raka berhenti.
"Laporkan," koreksinya datar.
Hanif menunduk. "Baik, Pak."
Di ruang konferensi, Naira masuk ke bagian paling penting.
"Model koreksi ini tidak bisa dilanjutkan tanpa membuka arsip sampel hilang. Berdasarkan catatan Dr. Sari, ada dua puluh tujuh sampel yang dipindahkan oleh sponsor ke fasilitas luar tanpa persetujuan komite."
Perwakilan BPOM bertanya, "Fasilitas luar di mana?"
Naira menekan slide.
Alamat lama muncul.
Gudang farmasi di kawasan industri Bekasi, terdaftar atas anak perusahaan Cakradinata.
Prof. Hadi menarik napas berat.
Dr. Anton berdiri. "Saya rasa rapat ini sudah keluar jalur ilmiah."
"Duduk, Dokter Anton," kata Prof. Hadi.
"Prof, ini bisa menjadi fitnah serius."
Naira menatapnya. "Kalau Anda tidak terlibat, kenapa gelisah?"
Wajah Dr. Anton merah.
Ponselnya bergetar di meja. Ia melirik layar, lalu cepat membaliknya.
Terlambat.
Naira sudah melihat nama pengirim.
Cakra Office.
Ia menutup laptop perlahan.
"Terima kasih. Saya rasa cukup untuk hari ini."
Perwakilan BPOM langsung berkata, "Kami akan meminta salinan resmi melalui jalur institusi."
"Akan kami siapkan."
Rapat selesai dengan wajah-wajah berat. Orang-orang meninggalkan ruangan berkelompok kecil, tidak ada lagi obrolan santai. Mereka datang untuk melihat data ilmiah. Mereka pulang membawa pintu menuju kasus lama yang bisa mengguncang banyak nama.
Prof. Hadi berdiri di samping Naira.
"Kamu tahu setelah ini mereka akan menyerang."
"Mereka sudah mulai."
"Kamu siap?"
Naira menatap layar kosong.
"Tidak."
Prof. Hadi terdiam.
"Tapi saya tetap jalan."
Di lobi, Raka berdiri saat melihat Naira keluar.
Ia tidak bertanya di depan semua orang. Hanya berjalan di sampingnya, memberi jarak cukup, tetapi memastikan tidak ada orang menabrak.
Naira berkata, "Ada mobil Cakradinata?"
Raka tersenyum tipis. "Aku tidak bilang."
"Hanif yang bilang?"
"Dia akan mendapat pengurangan bonus."
"Jangan."
"Baik."
Naira berhenti dan menatapnya. "Kamu selalu patuh begitu pada semua dokter?"
"Hanya pada yang pernah menjahit perutku sambil memaki."
Naira mengalihkan pandangannya.
Di luar gedung, langit Jakarta gelap. Hujan pertama jatuh di kaca pintu.
Ponsel Naira bergetar.
Pesan dari nomor tak dikenal.
Kalau ingin tahu ibumu masih hidup atau tidak, berhenti membuka arsip.
Naira menatap pesan itu.
Raka melihat wajahnya berubah.
"Apa?"
Naira menunjukkan layar.
Untuk pertama kali sejak mengenalnya, Raka tidak tersenyum sedikit pun.
Naira menggenggam ponsel itu sampai buku jarinya memutih.
"Kirim nomor ini ke Maya, Prof. Hadi, dan Bagas," katanya kepada Hanif. "Jangan ada yang menghapus metadata."
Hanif langsung bekerja.
Raka menatap Naira. "Kamu perlu duduk."
"Aku perlu data."
"Keduanya bisa bersamaan."
Naira hendak membalas, tetapi tubuhnya sendiri mengkhianati. Setelah rapat, ancaman, dan suara ibunya yang tiba-tiba seperti keluar dari kubur, lututnya terasa kosong.
Raka menarik kursi terdekat dengan kakinya, bukan tangannya, lalu mundur setengah langkah.
Naira duduk tanpa protes.
"Jangan terlihat puas," katanya.
"Aku sedang berusaha terlihat tidak panik."
Kalimat itu membuat Naira menatapnya.
Raka tidak bercanda. Wajahnya tenang, tetapi matanya mengawasi pintu, jendela, lobi, semua arah yang mungkin membawa ancaman.
Untuk sekali ini, Naira membiarkan seseorang berjaga.
Beberapa menit kemudian, Bagas tiba dengan payung besar dan wajah tegang.
"Non, Pak Surya minta Non langsung pulang."
"Aku ke lab dulu."
"Beliau bilang pulang dulu, makan dulu, lalu marah-marah boleh dilanjutkan."
Naira menatap Bagas.
Bagas tidak bergeser. "Perintah beliau begitu, Non."
Raka berkata pelan, "Kali ini aku setuju dengan ayahmu."
"Aku tidak meminta voting."
"Aku tahu."
Tapi Naira akhirnya berdiri. Bukan karena kalah, melainkan karena suara ibunya di ponsel membuatnya sadar tubuhnya masih perlu dipakai untuk perang panjang.
Ia berjalan ke mobil. Raka tetap di lobi sampai mobil itu hilang dari gerbang.
Setelah itu, ia menoleh kepada Hanif.
"Aruna Timur. Cari semua jalur masuk."
Hanif mengangguk.
"Legal dulu," tambah Raka, sebelum Hanif sempat bertanya.
kadang harus skip baca dulu krn gk kuat/takut mungkin hehe