Raya tidak pernah menyangka dua bulan meninggalkan rumah akan mengubah seluruh hidupnya.
Pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan bersama atasannya, Kansa Alvaro Alistair, membuat Raya harus meninggalkan suami dan adiknya di rumah. Ia sama sekali tidak curiga, hingga kepulangannya disambut pemandangan yang menghancurkan hati.
Rumahnya dipenuhi tamu. Pernikahan sedang berlangsung.
Rara, adik yang selama ini ia percaya, telah mengandung anak Zevan, suaminya.
Lebih menyakitkan, Zevan tidak merasa bersalah. Ia justru menyalahkan Raya karena belum siap memiliki anak, sementara keluarga mereka membenarkan pengkhianatan itu.
Kini, setiap hari Raya harus melihat suaminya bermesraan bersamaan adiknya sendiri di depan matanya.
Akankah Raya terus bertahan demi pernikahan yang telah mengkhianatinya, atau pergi dan membuat Zevan menyesal karena telah kehilangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Tahu Malu
Waktu berlalu begitu cepat tanpa Raya sadari. Matahari yang sejak siang berada tinggi di atas kepala perlahan bergeser ke ufuk barat.
Perjalanan pulang terasa lebih panjang daripada biasanya.
Beberapa kendaraan berlalu-lalang di sepanjang jalan. Raya tetap mengemudi dengan tenang hingga akhirnya mobilnya memasuki kawasan tempat tinggalnya.
Tak lama kemudian, ia menghentikan mobil di pelataran rumah.
Raya mematikan mesin, lalu duduk diam selama beberapa detik sebelum akhirnya ia
turun dan menutup pintu dengan perlahan. Setelah mengunci kendaraan, ia melangkah menuju rumah sambil membawa tas yang disampirkan di bahunya.
Namun, baru beberapa langkah dari pintu, langkah Raya mendadak terhenti. Tangannya yang semula hendak meraih gagang pintu menggantung di udara.
Pandangan Raya terpaku pada pintu rumah di hadapannya. Tanpa diminta, ingatannya kembali pada kejadian yang membuatnya terasa jijik.
Raya memejamkan mata sejenak, kemudian mengembuskan napas perlahan.
Setelah merasa sedikit lebih tenang, Raya akhirnya meraih gagang pintu.
Klik.
Pintu terbuka.
Raya segera melangkah masuk ke dalam rumah. Ia menutup pintu di belakangnya, kemudian berdiri sejenak di ruang depan sambil mengedarkan pandangan.
Rumah itu tampak tenang.
Ia menggenggam erat tali tas di bahunya, lalu melangkah masuk lebih jauh.
Namun, baru saja melangkah beberapa meter, suara langkah kaki yang semakin mendekat membuatnya menghentikan langkah.
Ia menoleh.
Beberapa meter di hadapannya, Rara terlihat berjalan ke arahnya.
Raya langsung mengalihkan pandangan. Ia tidak ingin berbicara dengan siapa pun dan memilih untuk menghindar.
Namun saat ia hendak kembali melangkah ketika suara Rara terdengar dari belakang.
“Mbak...”
Langkah Raya kembali terhenti. Namun, ia tidak menoleh.
“Mbak lupa bayar kuliah Rara, ya?” tanya Rara.
Raya terdiam. Tatapannya lurus ke depan, seolah pertanyaan itu tidak ditujukan kepadanya.
“Mbak tahu? Tadi Rara hampir saja nggak bisa ikut mata kuliah karena tunggakan,” lanjut Rara.
Raya mengembuskan napas pelan. “Lalu?”
Hanya satu kata yang keluar dari bibirnya.
“Mbak boleh marah, tetapi Mbak jangan lupa sama janji Mbak, buat tanggung jawab atas biaya kuliah Rara.”
Mendengar ucapan itu, Raya justru tertawa kecil. Bukan karena merasa lucu, melainkan karena tidak percaya Rara masih berani mengingatkannya tentang janji setelah semua yang terjadi.
Perlahan, Raya berbalik menatap Rara dengan sinis.
“Nggak tahu diri,” ucapnya dingin. “Sudah jadi gundik, masih sempat mengingatkan aku buat bayar kuliahmu.”
Wajah Rara tampak berubah.
“Mbak—”
“Benar, kan?” Raya langsung menyela.
Rara tidak menjawab. Justru kembali melangkah mendekat. Jarak di antara mereka semakin menyempit hingga akhirnya Rara berhenti hanya satu langkah di hadapannya.
Pandangan mereka bertemu.
Rara kemudian meraih tangan Raya.
“Mbak, maaf.” Suaranya terdengar lirih. “Mau berapa ribu kali Rara bilang maaf supaya Mbak mau maafin Rara?”
Raya menunduk, menatap tangan Rara yang menggenggam tangannya.
Beberapa detik ia membiarkannya begitu saja sebelum perlahan menarik tangannya.
“Aku capek.”
Suara Raya terdengar pelan, tetapi tegas.
“Mbak—”
“Jangan berbicara apapun.”
Raya mengangkat tangannya, menghentikan ucapan Rara.
“Kalau soal kuliah, minta sama Mas Zevan. Lagian buat apa Mas Zevan nikahin kamu? Buat jadi mesin pencetak anak?”
“Tapi Mbak, Mas Zevan saja minjam ke Ibu mertua kita. Uang Mas Zevan sudah habis karena dipakai untuk pernikahan kami.”
Raya yang semula hendak melangkah kembali mendadak berhenti. Ia menoleh sedikit, kemudian mengerutkan kening.
“Habis?” ulangnya. “Tujuh juta itu?”
Rara mengangguk.
“Iya, Mbak.”
Raya menatap Rara beberapa saat.
Tujuh juta. Jumlah yang bagi orang lain mungkin tidak seberapa, tetapi bagi Raya, angka itu cukup untuk memenuhi banyak kebutuhan. Terlebih lagi, Zevan baru saja menghabiskannya untuk pernikahan dengan Rara.
“Terserah.”
Rara tampak hendak mengatakan sesuatu, tetapi Raya tidak memberinya kesempatan.
Ia segera melanjutkan langkahnya menuju kamar, meninggalkan Rara yang masih berdiri di belakangnya.
‘Baru segini saja, hidupnya seperti neraka.’
.
Rara yang masih berdiri di dekat pintu rumah. Beberapa saat, Rara hanya terdiam sambil menatap ke arah tempat kakaknya pergi.
Perlahan, pandangannya turun.
“Mbak Raya sekarang tega sama aku,” gumamnya lirih.
“Ra, kenapa kamu berdiri di sini?”
Rara segera menoleh ke arah suara Zevan.
Tanpa banyak berpikir, Rara langsung menghampiri suaminya dan memeluknya erat. Kedua tangannya melingkar di pinggang Zevan.
“Mas...” panggilnya lirih.
Zevan terdiam sejenak sebelum bertanya, “Kenapa?”
Rara mengangkat wajahnya.
“Mbak Raya masih marah sama aku,” ucapnya dengan suara bergetar. “Apa kita berpisah saja, Mas? Aku akan membesarkan anak ini sendiri, asal Mas Zevan sama Mbak Raya berbaikan lagi.”
“Ngomong apa kamu, Rara?” Zevan langsung menatapnya. “Kamu sedang hamil. Jangan egois pada anak kita. Jadi jangan memikirkan apapun, fokus pada kehamilanmu.”
Perlahan, Rara mengangkat wajah hingga pandangannya bertemu dengan mata Zevan.
Rara mendekatkan wajahnya. Jarak di antara mereka semakin menipis hingga bibir mereka bertemu dalam sebuah kecupan singkat.
Namun, beberapa saat kemudian, Rara tersadar dan segera menjauh.
Ia mendorong pelan dada Zevan.
“Kenapa?” tanya Zevan.
Rara menoleh sekilas ke arah tangga.
“Mbak Raya sudah pulang, Mas,” ujarnya pelan. “Nggak enak kalau kita begitu di sini.”
Zevan mengikuti arah pandangannya.
Belum sempat Rara berkata apa-apa lagi, tiba-tiba tubuhnya terangkat dari lantai.
“Mas!”
Rara terkejut ketika Zevan menggendongnya.
Refleks, kedua tangannya langsung melingkar di bahu pria itu agar tubuhnya tetap seimbang.
“Turunkan aku, Mas,” protesnya pelan.
Namun, Rara tidak benar-benar melepaskan pelukannya.
Ia hanya bisa menatap wajah Zevan dari jarak dekat ketika pria itu membawanya masuk ke dalam kamar mereka.
Rara menelan ludah.
Sementara itu, tanpa sepengetahuan Rara dan Zevan, Raya ternyata belum sepenuhnya masuk ke kamarnya.
Setelah menaiki tangga, langkahnya sempat terhenti ketika tanpa sengaja pandangannya jatuh ke arah ruang di bawah.
Jemari Raya spontan mengepal pada lengan tangga.
Namun, beberapa saat kemudian, suara samar dari balik salah satu pintu kembali terdengar.
Ia menggigit bibir bawahnya.
Ia segera berbalik dan melanjutkan langkah yang sempat terhenti.
. . .
Begitu sampai di depan pintu, Raya langsung membukanya. Setelah masuk, ia menutup pintu sedikit lebih kasar daripada biasanya.
Brak!
Punggungnya langsung bersandar pada daun pintu.
“Ternyata aku wanita lemah. Aku nggak bisa menjadi wanita tangguh, apalagi teguh pendirian.”
Beberapa saat kemudian, Raya mengangkat wajahnya.
Pandangan matanya tanpa sengaja tertuju pada sebuah foto pernikahan yang terpajang cukup besar di dinding kamar.
Foto dirinya dan Zevan.
Di dalam foto itu, mereka terlihat begitu bahagia. Senyum keduanya seolah menggambarkan kehidupan rumah tangga yang akan berjalan indah setelah pernikahan.
Namun, kini foto itu justru terasa seperti kenangan dari kehidupan yang sudah tidak lagi ia miliki.
Raya perlahan melangkah dengan langkah yang berat, ia berjalan mendekati foto tersebut. Matanya tidak lepas dari wajahnya sendiri dan Zevan di dalam bingkai.
Tangannya terangkat, menyentuh permukaan kaca foto itu.
“Apa aku bisa seperti Saudah?” tanyanya lirih.
“Istri yang sabar, tegar, dan mampu menerima keadaan ketika suaminya menikah lagi dengan Aisyah?”
Tepat ketika Raya masih berdiri di hadapan foto pernikahannya, suara azan Magrib terdengar berkumandang dari kejauhan.
Allahu Akbar...
Suara itu membuat Raya tersadar. kemudian menarik napas dalam-dalam.
Raya kembali menatap foto pernikahannya untuk beberapa detik sebelum akhirnya memalingkan wajah.
‘Aku hanya bisa mengadukan semua ini kepada Sang Mahakuasa dalam sembah dan sujudku. Semoga melalui doa, aku menemukan jawaban yang terbaik.’
Dengan langkah perlahan, Raya memasuki kamar mandi.