Rin Tachibana memilih menjadi hikikomori. ia mengurung diri berminggu-munggu di lantai atas rumah neneknya di Ishikawa. Ia muak dengan keluarganya yang terus memaksanya menikah.
Sang nenek yang sudah tidak tahan melihat tingkah cucunya akhirnya memilih berlibur tanpa sepengetahuan Rin & menyewakan rumah itu kepada Takumi Kurosawa, seorang arsitek sampai proyeknya selesai.
Masalahnya...
Takumi tidak tahu bahwa rumah yang ia sewa masih memiliki seorang penghuni. Dan Rin tidak tahu bahwa rumah neneknya sudah memiliki pemilik baru.
pertemuan awal mereka jauh dari romantis bahkan takumi kira rin ada setan penghuni rumah dan gadis itu mengira takumi adalah maling.
Dua orang dengan kehidupan yang bertolak belakang akhirnya terpaksa tinggal di bawah satu atap.
takumi yang membenci kekacauan dan terobsesi pada kebersihan
Dan Rin yang bahkan tidak peduli kamarnya berantakan atau tidak tahu cara menjaga rumah tetap rapi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayah datang tiba-tiba
Sesampainya di kamar, Rin langsung menutup pintu.
Klik.
Ia berjalan menuju tempat tidur, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Namun baru beberapa detik berbaring, bayangan yang tadi dilihatnya kembali berputar bebas di kepala. Wanita itu memeluk Takumi, lalu mereka berciuman.
Rin langsung menarik bantal dan menutupi wajahnya rapat-rapat. “Ya ampun, seperti menonton drama saja...”
Ia berguling ke samping dan menatap langit-langit kamar. Kehidupan pribadi Takumi sebenarnya sama sekali bukan urusannya. Lagipula, apa hubungannya dengan dirinya? Rin membalikkan badan dan menarik selimut tebalnya sampai ke dada.
Namun karena adegan itu terjadi tepat di depan matanya, pikirannya justru terus tertuju pada satu hal yang terasa janggal: ekspresi Takumi.
Pria itu tidak terlihat seperti seseorang yang sedang bertemu dengan kekasihnya setelah sekian lama. Tidak ada senyum lebar, tidak ada wajah berbinar, bahkan setelah wanita itu memeluknya erat, Takumi tetap terlihat tenang dan datar seperti biasanya.
Rin mengernyitkan dahi bingung. Apa memang begitu kalau orang dewasa bertemu pacarnya? Ia tidak tahu, lagipula Rin sendiri belum pernah memiliki pengalaman hubungan semacam itu.
“Ah, sudahlah. Bukan urusanku!” Rin memejamkan matanya rapat-rapat, berusaha mengusir bayangan tersebut.
***
Sementara itu di kamar bawah, Takumi juga belum tidur. Ia meletakkan ponselnya di atas meja samping tempat tidur. Wajahnya tetap tenang tanpa ekspresi bahagia sedikit pun—jauh dari raut seseorang yang baru saja bertemu dengan sosok yang sangat dirindukannya.
Takumi hanya mengembuskan napas panjang, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tak lama kemudian, lampu kamar dimatikan dan malam kembali hening sepenuhnya.
***
Beberapa jam kemudian, Cahaya pagi tiba-tiba mengusik nyenyaknya tidur seorang gadis, Rin terbangun kesiangan seperti biasanya. Ia mengucek mata sambil melangkah keluar kamar, berjalan lunglai menuju lantai bawah.
Saat melewati ruang makan, matanya menangkap selembar kertas di atas meja. Rin mengambilnya, dan tulisan tangan yang sangat rapi itu langsung memberitahunya siapa sang pembuat pesan.
“Aku sudah menyapu seluruh rumah sebelum berangkat kerja.” Rin membaca baris berikutnya. “Tugasmu hari ini mengepel seluruh lantai. Gunakan pewangi lantai.”
Alis Rin langsung terangkat. “Lagi-lagi tugas...”
Ia melanjutkan membaca instruksi tambahan di bawahnya.
“Sediakan tiga ember. Ember pertama berisi air yang sudah dicampur pewangi lantai. Ember kedua untuk membilas kain pel pertama kali. Ember ketiga untuk membilas kain pel terakhir kali sebelum kembali digunakan.”
Rin menatap kertas itu dengan raut tidak percaya, apalagi saat menyapu baris kalimat selanjutnya.
“ Gunakan kain pel dengan tangan agar hasilnya lebih bersih.”
Rin menurunkan kertas itu perlahan. “Ini serius?”
Gadis itu menggerutu sambil membalik kertas tersebut, dan matanya menemukan satu kalimat penutup di bagian paling bawah.
“Bonus: sarapan pagi sudah disiapkan di meja.”
Rin langsung berhenti mengomel. “Hah?”
Pandangannya spontan beralih ke tudung saji di meja makan. Begitu dibuka, tersaji sepiring sarapan yang menggugah selera—nasi hangat, telur, lauk sederhana, dan beberapa potong sayuran yang tersusun rapi. Aroma gurih yang tercium membuat perut Rin yang baru bangun langsung berbunyi nyaring.
Rin memegang perutnya, menatap kertas dan piring sarapan itu bergantian.
“Dasar Kurosawa-san... dia menyuap emosiku dengan makanan,” gumam Rin mengembuskan napas panjang.
Rasa kesalnya perlahan luntur. Ia menarik kursi, duduk, dan menyambar sumpitnya. “Ya sudah, makan dulu saja.”
Rin mulai menyantap makanan itu dengan lahap. Wajahnya perlahan berubah puas. “Hmm... enak!”
Di tengah kunyahannya, Rin kembali melirik kertas di atas meja. “Tiga ember... kain pel pakai tangan...” Ia menghela napas pasrah. “Tapi kalau sarapannya seenak ini, tidak masalah, hahaha.”
Pagi itu, setelah membaca instruksi dari Takumi, Rin mulai menjalankan tugasnya. Ia menggulung lengan piyamanya hingga siku, menaikkan sedikit ujung celana, lalu mencuci piring sarapan. Setelah semuanya bersih, ia mengambil kain pel dan mengikat rambutnya asal-asalan.
Tiga ember tersusun rapi di lantai—satu berisi campuran air pewangi, dan dua lainnya untuk membilas. Rin mencelupkan kain ke ember pertama, memerasnya kuat-kuat, lalu mulai mengepel lantai sambil berlutut.
Baru beberapa menit berlalu, terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah, disusul engsel pintu depan yang terbuka. Rin yang terlalu fokus sama sekali tidak menyadarinya.
“Rin?”
Suara berat seorang pria membuat gerakan tangan Rin terhenti seketika. Ia mendongak, dan matanya langsung membelalak lebar.
“Ayah?!”
Ayahnya berdiri di dekat pintu dengan raut tak kalah terkejut. Pandangan pria itu turun ke kain pel di tangan Rin, lalu berpindah ke tiga ember yang berjajar di lantai.
“Sedang apa kau?”
Rin melihat penampilannya sendiri—lengan piyama tergulung, rambut acak-acakan, dan tangan basah kuyup. “...Ngepel.”
Ayahnya terdiam beberapa saat, menyapu pandangan ke sekeliling rumah yang tampak jauh lebih bersih dan rapi. Senyum tipis terukir di wajahnya.
“Obaachan ada?”
Rin menggeleng cepat. “Lagi pergi.”
“Pergi ke mana?”
“Entahlah, mungkin pulangnya malam,” sahut Rin berbohong, sengaja menyembunyikan fakta bahwa neneknya sedang berada di Hokkaido.
Ayahnya mengangguk pelan. Dalam pikirannya, didikan ketat sang ibu akhirnya berhasil mengubah Rin yang biasanya mengurung diri menjadi mau membersihkan rumah. Pria itu kemudian melangkah ke meja makan dan duduk.
Rin buru-buru mencuci tangan, membuatkan segelas teh hangat, lalu meletakkannya di hadapan sang ayah. “Minumlah dulu ayah”
“Terima kasih.”
Rin duduk di seberangnya. Di atas meja, sudah tergeletak dua buah amplop tebal. Rin langsung paham isinya—satu berisi brosur kampus, dan satunya lagi berisi foto-foto serta biodata pria calon perjodohan.
Rin memasang wajah masam. “Ayah masih bawa itu?”
“Memangnya kenapa?”
“Aku kan sudah bilang, aku tidak mau dua-duanya.”
Ayahnya mengambil salah satu foto. “Kau tidak mau kuliah, tidak mau menikah. Lalu mau sampai kapan hidup seperti ini? Kalau begitu, uang bulananmu akan Ayah hentikan.”
Rin seketika mendongak, melotot. “Apa?!”
“Kau sudah cukup dewasa. Kalau tidak mau memilih jalur keluarga, belajar menghidupi dirimu sendiri.”
Rin mengepalkan tangan di bawah meja. “Kenapa sih Ayah terus memaksaku? Aku masih dua puluh satu tahun!”
“Justru karena kau masih dua puluh satu, kau harus menentukan masa depanmu.”
Rin menghela napas kesal, mengambil salah satu foto. Pria di dalamnya memang tampan dan mapan, tapi ia tetap tak tertarik. “Walaupun mereka tampan, aku tetap tidak mau.”
“Kenapa?”
Rin terdiam, tak mungkin membocorkan alasan sejujurnya. Ia mengembalikan foto itu ke meja. “Aku cuma tidak mau pulang.”
Ayahnya menyipitkan mata, lalu tersenyum tipis. “Siapa bilang Ayah menyuruhmu pulang? Semua pria yang Ayah pilih berdomisili di Ishikawa. Kau tidak perlu pergi jauh-jauh, dan pertemuannya sudah Ayah atur. Kau tinggal datang.”
Rin menyandarkan tubuhnya kaku, terbelalak tak percaya.
“Tidak mau!”
“Lihat dulu orangnya. Kau boleh menolak setelah bertemu,” balas ayahnya tenang.
Rin hendak membantah keras ketika terdengar suara engsel pintu depan terbuka. Klek.
Seorang pria masuk membawa tas kerja. Kurosawa-san
Ayah Rin mengernyit bingung melihat kedatangan pria asing itu. Baru saja Takumi membuka mulut, “Aku pul—”
“AAAHHHH! AKU TIDAK AMBIL!” jerit Rin tiba-tiba meledak.
Takumi tertegun bingung. “Hah?”
Rin langsung berlari kencang, menarik lengan baju Takumi dan mendorong tubuh pria itu kembali ke luar pintu. “Aku masih belum butuh panci! Kau kembali lagi nanti saja!”
“Apa? Tunggu, apa-apaan kau ini?” Takumi berusaha menahan dorongan Rin.
“Keluar, aku bilang!” Rin terus mendorongnya hingga mereka berdua berada di halaman luar, lalu membanting pintu rapat-rapat. BRAK!
Takumi menatap Rin tak percaya. “Kau membawa pria asing ke rumahku?”
“Dia ayahku, bodoh!” mendesis Rin panik.
Takumi mengangkat alis, lalu menyentil dahi Rin pelan. “Tidak sopan memanggilku bodoh. Aku lebih tua darimu.”
Rin mengusap dahinya. “Iya, iya. Maaf, Kurosawa-san. Tapi aku panik!”
Takumi mendengus pelan, lalu teringat tujuannya balik ke rumah. “Ada barangku yang tertinggal. Map berkas di atas nakas samping tempat tidur.”
“Oh! Tunggu di sini, jangan kemana-mana!” Rin buru-buru masuk kembali ke dalam rumah.
Ayahnya langsung menoleh curiga. “Siapa tadi?”
“Itu... sales panci,” jawab Rin tertawa canggung. “Dia memaksa Ayah membeli, ngotot banget! Mana mungkin aku beli, masak saja aku tidak bisa.”
Ayahnya menggelengkan kepala, namun tidak bertanya lebih jauh. Rin lantas berlari ke kamar Takumi, menyambar map tersebut, dan kembali keluar menyerahkannya pada Takumi.
Takumi menerima mapnya. “Kenapa aku tidak boleh masuk?”
Rin menunduk pelan. “Ayah tidak tahu rumah ini disewakan kepadamu. Kalau tahu aku tinggal bersama pria dewasa, aku pasti langsung diseret pulang dan dipaksa ikut acara kencan bodoh itu.”
Takumi menyipitkan mata. “Acara kencan?”
Rin spontan membekap mulutnya sendiri, menyadari ia baru saja kelepasan bicara.
Takumi menatapnya beberapa saat sebelum bergumam pendek, “Oh... begitu. Jadi kau kabur ke rumah nenekmu untuk menghindari perjodohan?”
Rin menghela napas pasrah. “Iya. Tapi aku tidak mau menikah! Sekarang malah disuruh kuliah...”
“Bukankah kuliah lebih baik?”
“Aku baru bebas dari ketatnya pendidikan SMA! Kepalaku harus istirahat total,” protes Rin cemberut.
Takumi menggeleng pelan. “Pantas saja.” Ia memasukkan map ke dalam tasnya. “Aku pergi dulu. Apa ayahmu akan menginap?”
“Entahlah, semoga tidak.”
Takumi sempat berbalik melangkah, namun terhenti. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. “Berikan nomor ponselmu.”
“Untuk apa?”
“Kalau ayahmu sudah pulang, kabari aku.”
Rin menyimpan nomor Takumi, dan seketika ponselnya berdering mendapat panggilan tes dari pria itu. Setelah bertukar kontak, Takumi kembali melangkah pergi. Rin memandangi punggungnya hingga menghilang di belokan jalan.
Kembali ke dalam rumah, Rin memutar otak agar ayahnya segera pergi. “Ayah... apa Ayah mau menginap? Aku kan harus menghubungi pria-pria pilihan Ayah. Kalau Ayah di sini, bagaimana aku bisa pergi menemui mereka?”
Ayahnya menatap Rin cukup lama, lalu akhirnya berdiri. “Baiklah, Ayah tidak menginap. Tadi sebenarnya mau bicara dengan Obaachan, tapi kalau dia pergi, ya sudah.”
Sebelum keluar, pandangan ayahnya sempat tertuju pada pintu kamar Takumi di dekat ruang tengah. Saat langkah ayahnya mendekati pintu itu, Rin langsung menghadangnya panik.
“Ayah! Jangan dibuka! Kamar itu... berantakan sekali!”
Ayahnya mengurungkan niat, merapatkan kembali gagang pintu, dan bersiap pergi. Beberapa menit kemudian, mobil ayahnya akhirnya melaju pergi meninggalkan halaman.
Rin mengusap dadanya lega. “Huufff... selamat!”
Ia buru-buru mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Takumi: ‘Ayah tidak menginap. Dia sudah pulang. Syukurlah, jantungku hampir copot.’
***
Di tempat lain, sebuah rapat penting sedang berlangsung. Takumi duduk di salah satu sisi meja ruang rapat. Ponsel di dekat tangannya bergetar pendek.
Ia melirik layar dan membaca pesan dari Rin. Tanpa disadari, sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis—hanya sesaat, sebelum ia kembali mengunci layar dan mengantongi ponselnya.
Namun, perubahan ekspresi singkat itu tidak luput dari pandangan seorang wanita yang duduk di seberang meja. Wanita itu menatap Takumi.
Ia yang menyadari,mengangkat wajahnya. Mata mereka beradu dalam keheningan selama beberapa detik, sebelum Takumi mengalihkan pandangannya kembali ke dokumen rapat.
Wanita itu—Makoto—masih terus memperhatikannya dengan tatapan dalam. Dan senyum tipis yang baru saja terukir di wajah Takumi meninggalkan sedikit prasangka dalam benaknya.