Raka Wijaya, mantan komandan unit rahasia Garuda Hitam, dinyatakan tewas dalam misi yang sebenarnya adalah pengkhianatan dari dalam. Untuk melindungi orang-orang yang ia cintai, ia memilih hidup dalam bayang-bayang: menyamar sebagai sopir pribadi yang lemah dan tak berdaya di keluarga mertuanya sendiri — keluarga konglomerat Wijayakusuma yang meremehkannya habis-habisan. Tapi kota metropolitan penuh intrik, dan masa lalunya tidak akan tinggal diam selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 — Pertanyaan yang Tak Terjawab
Ruang kerja Handoko Wijayakusuma di lantai tertinggi gedung Wijayakusuma Tower biasanya hanya dimasuki orang-orang penting: direktur, pengacara, atau anak-anaknya sendiri. Malam itu, untuk pertama kalinya, seorang sopir berdiri di sana, dipanggil bukan untuk membawa kopi.
"Kamu belajar bela diri di mana?" tanya Handoko, nadanya masih menyimpan sisa syok dari siang tadi, dibungkus dengan kesombongan yang berusaha ia pertahankan.
"Dulu sempat ikut latihan militer wajib, Pak. Untung saja refleksnya masih ada," jawab Raka, datar, sudah menyiapkan jawaban itu bertahun-tahun sebelum pertanyaan ini benar-benar datang.
Handoko menatapnya lama, tak sepenuhnya percaya, tapi juga tak punya alasan kuat untuk tidak percaya. "Untung. Ya. Untung sekali." Ia berbalik ke jendela, memandang lampu-lampu kota yang berkedip di kejauhan. "Kamu tahu apa isi tas yang mereka coba rebut?"
"Bukan urusan saya, Pak."
"Dokumen merger dengan Grup Andratama. Kalau bocor sebelum ditandatangani minggu depan, saham kami bisa jatuh separuh dalam sehari." Handoko menghela napas berat, untuk sesaat terlihat seperti seorang ayah yang lelah, bukan raja bisnis yang selalu tegak. "Aku akan menambah pengamanan pribadi mulai besok. Kamu tetap menyetir seperti biasa."
Artinya: kembali menjadi bayangan. Raka mengangguk, membungkuk sedikit, dan keluar dari ruangan itu tanpa membiarkan wajahnya menunjukkan apa pun.
Di lorong menuju lift, Cinta sudah menunggu, bersandar di dinding dengan lengan terlipat, wajahnya campuran antara marah dan takut.
"Kamu bisa saja mati tadi," bisiknya begitu pintu lift tertutup, hanya mereka berdua di dalamnya.
"Aku tidak akan mati semudah itu." Raka menatapnya, sedikit melunak. "Tapi kamu benar soal satu hal — ini bukan kebetulan. Motor itu tahu jam berangkat kami, tahu rute kami, dan tahu persis tas mana yang harus diambil."
"Maksudmu ada orang dalam?"
"Maksudku," Raka menurunkan suaranya, "seseorang di perusahaan ayahmu membocorkan informasi. Atau—" ia berhenti sejenak, memikirkan kemungkinan yang lebih ia takuti, "—seseorang tahu siapa aku sebenarnya, dan ini bukan soal dokumen sama sekali."
Cinta menggenggam tangannya erat. "Setelah tiga tahun, kupikir mereka semua sudah berhenti mencari."
"Aku juga berpikir begitu," jawab Raka pelan. "Sampai tadi siang."
Malam itu, setelah rumah sunyi dan lampu-lampu kamar utama keluarga Wijayakusuma satu per satu padam, Raka duduk di kamar sempit di belakang garasi — kamar seorang sopir, jauh dari kemewahan rumah utama. Ia membuka laptop tua yang selama ini tersembunyi di balik panel lemari, satu-satunya benda yang masih menghubungkannya dengan dunia lamanya.
Satu pesan terenkripsi menunggu, dikirim tiga jam sebelumnya, dari alamat yang seharusnya sudah mati sejak hari ia "gugur" dalam laporan resmi.
"Naga Hitam. Masih hidup, ternyata. Aku juga. Kita perlu bicara — sebelum Andratama menemukanmu lebih dulu. — Bara."
Jari Raka berhenti di atas keyboard. Bara adalah satu dari dua orang di timnya yang tidak pernah ditemukan mayatnya setelah misi terakhir mereka hancur berkeping-keping oleh pengkhianatan dari dalam. Selama tiga tahun, Raka membiarkan dirinya percaya bahwa Bara sudah tiada — lebih mudah berduka daripada berharap.
Dan nama "Andratama" bukan hanya nama grup bisnis yang sedang menyusun merger dengan keluarga mertuanya.
Itu juga nama unit yang, di masa lalu, pernah menjadi kode sandi untuk operasi yang membunuh seluruh timnya.
Raka menatap layar lama, lalu mengetik satu balasan singkat.
"Di mana. Kapan."