Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibayar 2M Menjadi Istri Duda Anak 1

Dibayar 2M Menjadi Istri Duda Anak 1

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Baru lulus SMA di usia 19 tahun, masa depan Aira hancur berantakan. Ayahnya berselingkuh hingga memiliki anak lain, dan mirisnya, Aira serta ibunya terpaksa tinggal seatap dengan keluarga baru sang ayah demi bertahan hidup. Tekanan batin yang luar biasa membuat sang ibu terserang stroke parah.

​Tanpa biaya pengobatan, Aira mengambil keputusan nekat: menerima penawaran 2 Miliar rupiah untuk menikah dengan Arka Danuartha, seorang duda kaya raya berumur 39 tahun yang dingin dan memiliki putra kecil bernama Elano.

​Kehidupan pernikahan beda 20 tahun ini penuh kejutan. Kepedihan masa lalu Aira dan sifat kaku Arka memicu berbagai momen canggung yang kocak sekaligus menggemaskan, terutama saat Aira belajar menjadi ibu sambung bagi Elano. Namun di balik sikap dinginnya, Arka perlahan menjadi pelindung yang menyembuhkan luka hati Aira. Dari pernikahan kontrak yang berawal dari kepedihan, mampukah cinta sejati tumbuh di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29.Jejak khianat

Pagi berganti siang di ibu kota. Kehidupan di penthouse Arka perlahan menemukan ritmenya kembali pasca-prahara konferensi pers yang menggegerkan media beberapa hari lalu. Meskipun berita utama di TV dan koran online sudah berhasil dibersihkan total oleh tim kehumasan dan hukum Danuartha Group, efek riaknya masih terasa di balik layar.

Arka tidak langsung kembali beraktivitas penuh di kantor. Pria berusia 39 tahun itu memilih bekerja dari rumah selama beberapa hari ke depan, memantau pergerakan pasar saham Danuartha Group yang sempat berguncang tipis sekaligus memastikan keamanan Aira dan Elano terjamin sepenuhnya.

Di ruang tengah penthouse yang luas dan berlantai marmer Italia, suasana terasa begitu hangat. Cahaya matahari pagi menerobos masuk lewat dinding kaca setinggi plafon, menyinari Aira yang sedang duduk lesehan di atas karpet bulu tebal.

Gadis sembilan belas tahun itu mengenakan pakaian santai berupa rajut longgar warna krim dan celana kain hitam, rambut panjangnya diikat asal-asalan namun justru memancarkan keindahan alaminya secara maksimal.

Di depannya, Elano sedang asyik bermain dengan deretan mobil-mobilan mainan mahal pemberian Arka. Namun, seperti biasa, bocah berusia lima tahun itu sama sekali tidak bisa duduk tenang.

"Mama Aira! Lihat nih! Mobil Elano bisa terbang!" seru Elano melengking seraya melempar sebuah mobil-mobilan plastik berwarna merah ke udara.

Pluk!

Mobil-mobilan itu mendarat tepat di atas paha Aira.

"Elano... kan Papa sudah bilang, mainan itu dijalankan di lantai, bukan dilempar-lempar sayang," tegur Aira lembut seraya mengambil mainan itu dan mengusap kepala putra sambungnya.

"Nggak mau! Ini kan mobil super! Mobil super harus bisa terbang biarrr... wuuusssh... nabrak jahat!" Elano malah makin bersemangat, mengambil mobil-mobilan kedua dan siap melemparkannya lagi.

"Eh, jangan dilempar ke Mama, Elano!" teguran keras tapi hangat terdengar dari arah belakang.

Arka melangkah keluar dari ruang kerjanya. Pria itu sudah mengganti jas formalnya dengan kemeja kasual berwarna biru gelap yang lengan kemejanya digulung rapi hingga siku. Wajah tampannya tampak begitu berwibawa, namun pendar mata hitamnya saat menatap Aira penuh dengan kehangatan yang tak terselubungi.

Elano seketika memburu bibirnya, menyembunyikan mobil-mobilan di balik punggungnya saat melihat ayahnya mendekat. "Papa nakal! Orang Elano lagi latihan jadi kapten!"

Arka tertawa rendah, memutar badannya dan berlutut di samping Aira. Tanpa canggung di depan Bi Inah yang sedang meletakkan cangkir teh hangat di meja, Arka mendaratkan ciuman singkat namun dalam di pelipis Aira.

"Pagi, Sayang," bisik Arka serak. Pria itu menyandarkan satu tangannya di belakang punggung Aira, menyalurkan rasa memiliki yang amat pekat.

Wajah Aira merona tipis. Meski mereka sudah sah menjadi suami istri dan sering melalui malam-malam yang penuh gelora, perhatian Arka yang begitu terang-terangan selalu berhasil membuat jantung gadis itu berdegup kencang.

"Pagi, Mas Arka... Pekerjaan Mas di ruang kerja sudah selesai?" tanya Aira seraya meraih cangkir teh dan menyerahkannya pada suaminya.

"Sedikit lagi. Raymond cuma minta persetujuan untuk beberapa berkas akuisisi," jawab Arka seraya menerima cangkir teh itu. Mata hitamnya tidak lepas menatap wajah Aira.

"Hari ini kamu ada rencana ke rumah sakit lagi untuk kontrol Omah Wahyuni?"

"Iya, Mas. Katanya jam dua siang nanti dokter spesialis sarafnya mau melakukan evaluasi terapi kaki Omah. Aira mau mendampingi," tutur Aira penuh semangat.

Arka mengangguk mengerti. "Mas akan minta Pak Supri mengantarmu dengan dua mobil pengawal di belakang. Mas tidak bisa mendampingi siang ini karena harus ada rapat virtual dengan investor dari Singapura, tapi sore nanti Mas menyusul ke rumah sakit."

"Enggak apa-apa, Mas. Mas Arka sudah terlalu banyak meluangkan waktu buat Aira dan Omah," balas Aira tulus, meremas lembut jemari Arka.

Elano yang melihat adegan romantis kedua orang tuanya seketika berdiri di antara Arka dan Aira, berusaha mendesak tubuh mungilnya di tengah-tengah mereka.

"Nggak boleh dekat-dekat! Mama Aira punya Elano!"

Arka terkekeh gemas, meraih tubuh Elano dan membawanya ke dalam pangkuannya secara paksa walau bocah itu meronta-ronta jahil. "Enak saja. Ini istri Papa. Kamu cari istri sendiri sana."

"Nanti Elano mau nikah sama Mama Aira aja!" cerocos Elano polos, membuat Aira tak sanggup menahan tawa renyahnya sementara Arka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala menghadapi kepolosan putra tunggalnya.

Sementara di penthouse Arka dipenuhi gelak tawa dan kehangatan rumah tangga, suasana yang bertolak belakang terjadi di sebuah suite hotel bintang lima yang terletak di kawasan bisnis Jakarta Pusat.

Dania berdiri di dekat jendela besar yang menutup ruang tamu suite tersebut. Wajah cantiknya yang biasa dipoles sempurna kini tampak memancarkan kedengkian yang amat membara.

Gaun merah ketat yang dikenakannya tak mampu menyembunyikan gestur tubuhnya yang gelisah dan penuh emosi.

Di sofa berantakan di belakangnya, duduk seorang pria berusia awal tiga puluhan. Pria itu mengenakan setelan kemeja sutra mahal dengan beberapa kancing atas terbuka, memegang segelas wiski di tangan kanannya. Dialah Kevin Wijaya—putra mahkota dari Wijaya Corporation, salah satu kompetitor terberat Danuartha Group di industri properti dan perbankan.

"Jadi, si Arka Danuartha itu benar-benar mengusirmu dan mencabut semua aksesmu ke keluarga Danuartha hanya demi gadis kampung berumur 19 tahun itu?" tanya Kevin seraya terkekeh sinis, meneguk wiskinya lambat-lambat.

Dania membalikkan badan dengan cengkeraman tangan yang mengeras hingga kuku-kukunya memutih.

"Jangan mengejekku, Kevin! Kamu tidak tahu betapa liciknya gadis itu! Dia menggunakan kepolosannya untuk mencuci otak Arka sampai Arka tega melawan ibu kandungnya sendiri dan mencopot hak veto Nyonya Rosalia!"

Kevin menyunggingkan senyum miring, memiringkan kepalanya menatap Dania. "Aku tidak sedang mengejekmu, Dania. Aku hanya kagum... Arka yang terkenal sangat rasional, dingin, dan tidak tersentuh oleh wanita mana pun selama bertahun-tahun pasca kematian istri pertamanya, bisa bertekuk lutut begitu dalam pada gadis muda."

Kevin bangkit dari sofa, melangkah perlahan mendekati Dania. Pria itu memiliki perawakan tinggi dengan paras tampan yang terkesan licik dan penuh tipu daya.

"Tapi ketololan Arka karena mabuk cinta ini justru menjadi keuntungan besar bagi kita," bisik Kevin seraya mengusap bahu terbuka Dania. "Arka terlalu fokus melindungi 'istri kecilnya' itu sampai dia tidak sadar bahwa benteng bisnisnya mulai lengah."

Dania menyunggingkan senyum beracun. Perempuan itu merogoh tas tangannya yang diletakkan di atas meja, lalu mengeluarkan sebuah flashdisk berwarna perak dan meletakkannya di dada bidang Kevin.

"Di dalam ini ada seluruh data rancangan proyek pengembangan kawasan integrated smart city bernilai triliunan rupiah yang sedang disiapkan Danuartha Group untuk kwartal depan," tutur Dania dengan nada suara yang berbisik penuh intrik. "Aku mendapatkan berkas ini dari brankas rahasia Nyonya Rosalia sebelum aku pergi dari rumah utama."

Mata Kevin membelalak tertarik. Ia mengambil flashdisk tersebut, menatap benda kecil itu bagaikan menemukan harta karun. Proyek smart city tersebut adalah proyek megah yang selama ini diperebutkan oleh Wijaya Corporation dan Danuartha Group. Jika Wijaya Corporation berhasil memotong jalur dan mengajukan penawaran izin lebih dulu ke pemerintah dengan data internal milik Danuartha Group, maka kerugian finansial yang dialami Arka akan sangat masif.

"Kamu benar-benar luar biasa, Dania," puji Kevin dengan binar mata puas.

"Arka telah membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya dengan membuangmu."

"Aku tidak butuh pujianmu, Kevin," potong Dania dingin, matanya memancarkan amarah yang pekat.

"Aku cuma ingin satu hal: hancurkan Arka di dunia bisnisnya. Buat dia kehilangan proyek itu, buat saham Danuartha Group anjlok. Saat Arka terdesak dan stres, aku mau kamu bantu aku menghancurkan gadis sialan bernama Aira itu!"

Kevin tertawa renyah, merengkuh pinggang Dania dan mencium pipi perempuan itu singkat.

"Tenang saja. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Wijaya Corporation akan mendapatkan proyeknya, kamu mendapatkan balasan dendammu, dan Arka... kita lihat seberapa bertahan dia ketika kerajaan bisnisnya mulai runtuh dari dalam."

Tanpa mereka sadari berdua, dari atas gedung di seberang hotel tersebut, sebuah kamera berlensa telephoto beresolusi tinggi milik tim intelijen pribadi Raymond telah merekam setiap adegan pertemuan Dania dan Kevin di balik kaca suite yang tidak sepenuhnya tertutup tirai.

Sore harinya di Rumah Sakit Internasional Jakarta Selatan.

Aira duduk setia di samping ranjang VIP tempat Ibu Wahyuni terbaring. Kamar suite tempat ibunya dirawat terasa begitu nyaman, dipenuhi harum aroma terapi bunga melati yang segar. Alat-alat medis modern yang dulunya tampak mengerikan kini perlahan satu per satu mulai dikurangi seiring dengan membaiknya kondisi fisik sang ibu.

Ibu Wahyuni, seorang wanita paruh baya dengan wajah teduh meski masih tampak pucat, menatap putrinya dengan mata berbinar haru. Tangan kanannya yang semula lumpuh total kini sudah bisa digerakkan pelan untuk mengusap punggung tangan Aira.

"A-Aira..." panggil Ibu Wahyuni dengan suara yang masih agak terbata-bata akibat sisa cedera saraf strokenya.

"Iya, Ibu... Aira di sini," balas Aira lembut seraya menggenggam erat tangan ibunya dan menciumnya penuh kasih.

"Nak... Arka... mana?" tanya Ibu Wahyuni pelan, matanya mencari-cari sosok menantunya.

"Mas Arka lagi ada rapat virtual sebentar di rumah, Bu. Nanti sore Mas Arka menyusul ke sini kok," jawab Aira dengan senyuman hangat. "Ibu jangan khawatir, Mas Arka sangat perhatian sama Ibu. Semua dokter terbaik di sini disewa khusus oleh Mas Arka buat kesembuhan Ibu."

Air mata haru menggenang di sudut mata Ibu Wahyuni. Wanita tua itu memegang jemari Aira lebih erat. Meski kondisinya sempat koma dan tak sadarkan diri, ia masih ingat betul kepedihan saat suaminya, Hendra, dan selingkuhannya Lina, tega menelantarkannya dan berniat 'menjual' Aira demi melunasi utang serta mendapatkan uang instan.

Tuhan sangat baik telah mengirimkan pria sekelas Arka Danuartha untuk menolong dan memuliakan putrinya.

"Arka... pria... baik..." gumam Ibu Wahyuni terputus-putus.

"Aira... harus... jadi... istri... yang... nurut... jaga... Arka... ya, Nak..."

"Iya, Ibu. Aira janji," bisik Aira tulus, mengusap sudut mata ibunya yang basah.

"Aira sayang banget sama Mas Arka. Aira bakal jaga Mas Arka dan Elano seumur hidup Aira."

Saat momen mengharukan itu berlangsung, pintu kamar VIP terdorong terbuka pelan.

Arka melangkah masuk. Pria itu kini sudah mengenakan jas hitam mewahnya kembali, memancarkan aura ketampanan dan dominasi yang begitu melekat. Namun begitu matanya menangkap sosok Aira dan Ibu Wahyuni, raut wajah tegas itu seketika melunak berganti senyuman hangat.

"Selamat sore, Ibu Wahyuni," sapa Arka dengan suara seraknya yang khas. Pria berusia 39 tahun itu melangkah mendekat, membungkuk sedikit untuk menyalami dan mencium tangan ibu mertuanya dengan penuh rasa hormat.

Ibu Wahyuni mengangguk pelan dengan senyum merekah di bibirnya yang pucat, membalas genggaman tangan Arka dengan sisa tenaganya.

Aira bangkit berdiri, menyandarkan tubuhnya di samping Arka. Arka secara alami melingkarkan satu tangannya di pinggang Aira, menarik istrinya rapat ke sisinya seraya menatap dokter spesialis yang ikut masuk ke ruangan.

"Bagaimana hasil evaluasi sore ini, Dokter?" tanya Arka tegas.

Dokter spesialis saraf senior itu tersenyum ramah seraya memeriksa papan rekam medis.

"Sangat signifikan, Pak Arka. Respon motorik pada tangan kanan dan kedua kaki Nyonya Wahyuni mengalami kemajuan pesat. Jika terapi fisik kita tingkatkan dua kali seminggu, kemungkinan dalam dua bulan ke depan Nyonya Wahyuni sudah bisa mulai latihan berdiri dan duduk tanpa bantuan alat."

Mendengar kabar gembira tersebut, Aira refleks menoleh pada Arka dengan mata berbinar-binar penuh rasa syukur. Tanpa sadar di depan dokter dan ibunya, Aira memeluk pinggang Arka erat-erat.

Arka tersenyum tipis, mengusap punggung Aira dengan rasa kebucinan yang makin mendalam.

"Terima kasih, Dokter. Lakukan apa pun yang terbaik untuk pemulihan Ibu Wahyuni. Masalah biaya tidak perlu dipikirkan."

"Baik, Pak Arka. Kami akan berikan pelayanan terbaik," janji sang dokter sebelum berpamitan keluar ruangan.

Malam harinya, setelah memastikan Ibu Wahyuni beristirahat dan menyerahkan pengawasan kamar pada dua perawat khusus serta pengawal pribadi di luar pintu, Arka membawa Aira kembali ke penthouse.

Di perjalanan pulang di dalam mobil SUV mewah yang melaju tenang membelah jalanan malam Jakarta, Aira tertidur pulas di kursi penumpang depan.

Kelelahan emosional dan fisik setelah mendampingi ibunya seharian membuat gadis muda itu terlelap dengan sangat damai. Kepalanya terkulai menyandar di bahu kokoh Arka.

Arka merengkuh bahu Aira dengan satu lengan, sementara tangan satunya mengusap lembut jemari Aira yang berada di pangkuannya. Mata hitam pria itu menatap wajah tidur istrinya dengan pendar posesif yang teramat pekat. Aira adalah titik lemahnya sekaligus sumber kekuatannya sekarang.

Ponsel Arka yang diset dalam mode getar di saku jasnya bergetar pelan.

Arka merogoh ponselnya, melihat nama Raymond di layar. Pria itu menyambungkan telepon dengan earpiece nirkabel di telinganya agar tidak membangunkan Aira.

"Bicara," bisik Arka dingin.

"Pak Arka," suara Raymond terdengar sangat tenang namun sarat akan informasi penting.

"Tim intelijen kita baru saja mengonfirmasi bahwa Dania telah menyerahkan flashdisk berisi draf awal proyek Smart City kepada Kevin Wijaya di Hotel Grand Hyatt dua jam yang lalu."

Arka menyunggingkan senyum miring yang amat dingin di balik kegelapan mobil.

"Dania benar-benar melakukannya, ya?"

"Ya, Pak. Tampaknya Kevin Wijaya berencana mengajukan penawaran izin mendahului kita ke Kementerian Pekerjaan Umum pada hari Senin depan menggunakan data tersebut."

"Bagus," desis Arka dengan nada suara serak yang begitu menakutkan.

"Biarkan Kevin dan Wijaya Corporation memakai data itu. Mereka tidak tahu bahwa draf yang ada di brankas Ibu itu adalah data umpan beracun yang sengaja saya ubah angkanya bulan lalu untuk mendeteksi siapa pengkhianat di jajaran internal."

Di seberang telepon, Raymond terdengar menahan senyum puas. "Jadi angka kalkulasi struktur dana di flashdisk itu..."

"Angka salah yang akan membuat Wijaya Corporation mengalami kerugian fatal saat diajukan ke kementerian," potong Arka dengan ketajaman analisis bisnisnya yang tak tertandingi.

"Biarkan Dania dan Kevin merasa menang untuk sementara waktu. Begitu hari Senin tiba, kita ratakan mereka berdua secara legal dan finansial."

"Bagaimana dengan keamanan Aira?" tambah Arka, mengalihkan fokus utamanya.

"Pengawasan 24 jam di sekitar Nyonya Aira, Elano, dan Ibu Wahyuni sudah diperketat dua kali lipat, Pak. Tidak ada yang bisa mendekati mereka tanpa izin Anda."

"Bagus. Tetap waspada," ujar Arka sebelum memutus sambungan telepon.

Arka menyimpan ponselnya kembali, lalu menunduk menatap Aira yang masih tertidur lelap di dadanya. Pria berusia 39 tahun itu mengecup kening istrinya dengan kelembutan yang kontras dengan kekejaman taktik bisnis yang baru saja ia perintahkan.

"Tidurlah yang nyenyak, Sayang," bisik Arka serak di rambut wangi Aira. "Mas akan membereskan semua ular yang mencoba merusak kedamaian kita."

Perang di dunia bisnis dan intrik pengkhianatan baru saja dimulai, namun Arka Danuartha berdiri tegak bagaikan benteng yang tak terobsesi untuk dihancurkan, siap melindungkan keluarga kecilnya dari marabahaya apa pun.

_Bersambung

1
Penulis kentang🍠
apaan dahhhh busett
gurucantik
😍😍😍😍😍
sago
🤣🤣🤣🤣🤣
sago
nak😍😍
sago
uhuyyy
sago
sini aku bantu make kartunya🤣
sago
😍😍😍😍
sago
💪💪💪💪💪🙏
sago
🤣🤣🤣
sago
lucu banget elano
sago
😂tulahh
sago
iyaa ihhh
Saintz Gold
gasabarrrr
Saintz Gold
cemburuuuu
Saintz Gold
🤭🤭🤭
Saintz Gold
😍😍😍😍
Pendi Gudung
lanjuttt
Pendi Gudung
asik naga ajaaa
Rif Qi
up Thor jangan lama lama
Rif Qi
lnjutttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!