Umur lima belas, **Laras** cuma cewek tomboy anak bengkel di gang sempit Bekasi—rambut cepak, kunci inggris selalu di tangan, ditakuti satu sekolah. Sampai suatu sore, sebuah Mercedes berhenti di depan warung, menurunkan bocah laki-laki sepuluh tahun yang menangis tanpa berani mengetuk pintu. Ibunya pergi begitu saja. Namanya **Rayhan**.
"Mbak… kamu mirip kakak laki-lakiku," kata bocah itu sambil menyeka air mata.
Laras kira dia cuma adik kecil cengeng dan manja, yang tiap hari nempel memanggilnya "**Bang Laras**". Dia tidak pernah sadar—di balik wajah manis si juara kelas, diam-diam tumbuh seekor "serigala" yang seumur hidup hanya mengincar satu orang: dirinya.
Bertahun-tahun kemudian, bocah cengeng itu sudah menjadi pemuda jangkung yang lolos ke ITB—dan ternyata **anak di luar nikah seorang konglomerat properti**. Dari anak buangan yang dulu dihina, ia bangkit menjadi **pewaris tunggal kerajaan bisnis triliunan**. Tapi satu hal tak pernah berubah: obsesinya pada Laras.
"Aku bukan adikmu lagi," bisiknya, mengurung Laras di antara lengannya. "Sekarang, giliran kamu yang memanggilku… **abang**."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24: Jangan Panggil Aku Adik
Foto dari Kelvin memenuhi layar ponsel Rayhan.
Galih tersenyum di dalamnya. Laras berdiri begitu dekat sampai jepit mutiara di tangan Galih tampak seperti hendak dipasang ke rambutnya.
Rayhan memperbesar foto itu sekali, dua kali, lalu berhenti pada kotak hadiah yang dipegang Laras.
Ia ingat telepon yang sibuk. Ia ingat suara Laras membela Galih. Ia juga ingat janjinya sendiri untuk tidak menggunakan cemburu sebagai alasan mengatur.
Semua pelajaran itu tidak cukup untuk membuat darah di kepalanya turun.
Rayhan mengirim satu pesan kepada Kelvin.
Mereka di mana?
Jawaban datang cepat.
Tadi jalan ke kedai boba dekat perempatan. Jangan bikin ribut.
Rayhan memasukkan buku fisika ke tas, meminta izin keluar asrama dengan alasan urusan keluarga, lalu naik bus pertama menuju Bekasi. Sepanjang perjalanan, ia tidak menelepon Laras. Kalau mendengar suaranya sekarang, ia takut mengatakan sesuatu yang tak bisa ditarik kembali.
Hujan mulai turun saat ia tiba di perempatan.
Kedai boba itu hampir penuh. Laras duduk di meja dekat kaca bersama Galih, sedangkan Kelvin berada di kursi ujung sambil memutar sedotan. Ketika melihat Rayhan muncul dalam seragam kusut dan rambut basah, Kelvin langsung menutup mata.
"Gue sudah bilang jangan bikin ribut," gumamnya.
Rayhan menarik kursi kosong. "Kenapa gue nggak diajak?"
Laras menatap jam dinding. "Lo kabur dari asrama?"
"Izin."
"Urusan keluarga?"
Rayhan tidak menjawab. Galih menggeser segelas minuman yang belum disentuh.
"Mau? Gue salah pesan, kemanisan."
"Nggak."
"Santai aja. Kita cuma minum."
"Gue kelihatan nggak santai?"
"Kelihatan kayak mau mengadili orang."
Laras meletakkan sedotan. "Sudah. Rayhan, tunjukkan surat izin lo."
"Nanti. Jepit itu dari dia?"
Pandangan Laras mengikuti arah matanya menuju tas kerja di kursi sebelah. Kotak krem menyembul dari saku depan.
"Iya. Kenapa?"
"Katanya nggak suka jepit."
"Gue nggak bilang suka. Dia maksa kasih."
Galih bersandar. "Gue kasih hadiah ke teman. Masalahnya apa?"
"Lo tahu masalahnya."
"Gue justru nggak tahu kenapa anak SMA lari dari asrama buat mengatur hadiah orang."
Kelvin menyela sebelum suara Rayhan naik. "Gue yang kirim fotonya. Sudutnya memang kelihatan lebih dekat daripada kejadian asli. Jadi kalau mau marah, marah ke gue."
Rayhan menoleh tajam. "Kenapa baru bilang sekarang?"
"Karena gue pikir lo punya rem. Ternyata remnya blong."
Laras meraih ponsel Rayhan dan melihat foto yang masih terbuka. Ia langsung memahami apa yang terjadi.
"Lo pulang karena ini?"
"Kalau gue nggak pulang, dia bakal pasang jepit itu ke rambut lo?"
"Nggak. Dan kalaupun iya, itu tetap bukan alasan lo meninggalkan asrama tanpa ngomong ke gue."
"Aku ngomong sekarang."
"Setelah lo sudah sampai. Itu bukan memberi tahu, itu mengumumkan keputusan."
Suara Laras tidak tinggi, tetapi setiap katanya terasa seperti baut yang dikencangkan. Rayhan mengepalkan tangan di bawah meja.
"Sekarang kirim pesan ke pembina asrama," lanjut Laras. "Kasih tahu lo sudah sampai rumah dan besok diantar balik."
Rayhan mengeluarkan ponsel tanpa membantah. Ia mengetik di bawah tatapan Laras, lalu memperlihatkan pesan sebelum mengirimnya.
"Bukan ke gue buktinya," kata Laras. "Tanggung jawab lo ke sekolah."
"Sudah terkirim."
Balasan pembina datang beberapa menit kemudian: izin dicatat, tetapi Rayhan wajib melapor begitu kembali. Kelvin membaca sekilas dan mengangguk.
"Kalau lo dapat hukuman, jangan bawa-bawa foto gue," katanya.
"Harusnya gue blokir lo sekalian."
"Harusnya gue nggak bantu buka rekening kalau tiap lihat Galih otak lo mati."
Laras mengangkat kepala. "Rekening apa?"
Kelvin menutup mulut. Rayhan menatapnya tajam.
"Nanti aku jelasin," kata Rayhan.
"Bagus. Daftar penjelasan lo makin panjang."
Galih berdiri. "Gue antar Laras pulang. Lo balik sama Kelvin."
"Gue ikut Laras."
"Lo bawa kendaraan?"
"Bisa pesan ojol."
Petir terdengar di luar. Hujan yang semula tipis berubah menjadi tirai tebal. Jalan depan kedai mulai digenangi air, dan beberapa pengemudi ojol membatalkan pesanan.
Laras memandang Rayhan yang basah kuyup, lalu memandang seragamnya.
"Kita semua ikut mobil Galih," putusnya. "Kelvin, depan. Gue sama Rayhan di belakang. Nggak ada yang debat."
Namun Kelvin menerima telepon dari Om Hendra tepat ketika mereka sampai di parkiran. Ia harus mengambil dokumen di kantor cabang sebelum tutup dan memilih naik taksi daring yang kebetulan tersedia.
"Gue titip bocah ini," katanya pada Laras. "Pastikan besok dia kembali ke asrama, kalau perlu gue yang antar."
"Gue bukan bocah," potong Rayhan.
"Kalimat itu biasanya diucapkan bocah."
Galih menyetir. Laras duduk di depan agar mudah menunjukkan jalan yang tidak banjir, meninggalkan Rayhan sendiri di bangku belakang. Tidak ada yang bicara selama beberapa menit. Hanya suara wiper dan hujan yang menghantam atap mobil.
Kotak krem berada di atas tas Laras. Ketika mobil melewati lubang, kotak itu jatuh. Jepit mutiara meluncur keluar dan masuk ke celah antara kursi depan dengan konsol.
"Ada yang jatuh," kata Rayhan.
Laras menoleh sekilas. "Kotaknya ambil dulu. Jepitnya nanti cari pas berhenti."
Rayhan mengambil kotak kosong. Ketika mobil berhenti di lampu merah, ia melihat jepit itu berkilau di bawah kursi Galih.
Ia bisa memungutnya dan menyerahkan kepada Laras.
Ia justru menutup telapak tangannya di atas benda itu, lalu memasukkannya ke saku celana.
Gerakannya kecil. Tidak ada yang melihat.
"Besok lo balik asrama," kata Laras tanpa menoleh.
"Iya."
"Dan lo jelaskan ke guru pembina kalau alasan keluarga yang lo pakai sebenarnya apa."
"Iya."
"Jangan cuma iya karena lagi ada Galih."
Rayhan menatap tengkuk Laras. "Aku dengar."
Galih mengembuskan napas. "Lo terlalu sering memaafkan dia, Ras."
"Gue sedang menegur dia."
"Tapi ujungnya selalu lo yang beresin."
"Terus lo mau gue turunin anak orang di tengah hujan?"
"Gue nggak bilang begitu."
Rayhan tertawa tanpa humor. "Enak ya ngomong dari kursi depan."
"Rayhan," peringat Laras.
"Dia selalu merasa paling tahu apa yang baik buat kamu."
"Dan lo sedang melakukan hal yang sama," balas Laras. "Kalian berdua sibuk bicara seolah gue barang yang harus dipindahkan ke kursi siapa. Gue bisa memilih sendiri."
Galih meminta maaf lebih dulu. Rayhan baru menyusul beberapa detik kemudian, suaranya nyaris tenggelam oleh hujan.
Galih menggenggam kemudi. "Setidaknya gue nggak bikin masalah supaya dia terus lihat gue."
Kalimat itu tepat mengenai bagian yang paling ingin Rayhan sembunyikan. Ia diam sampai mobil memasuki Gang Mawar.
Hujan sudah mengecil. Pak Darto belum menutup bengkel, lampunya tampak dari ujung gang. Galih menghentikan mobil di bawah pohon mangga, lalu turun untuk memeriksa ban yang terasa kurang angin.
Laras keluar dari pintu depan. Rayhan ikut turun dari belakang.
"Makasih sudah nganter," kata Laras pada Galih.
"Besok gue cari jepitnya di mobil."
Rayhan merasakan benda keras itu di sakunya.
"Nggak usah dipikirin sekarang," kata Laras. "Hati-hati pulang."
Galih menatap Rayhan sejenak, lalu berjalan mengitari mobil menuju pintu pengemudi. Ia belum masuk ketika Rayhan memanggil Laras.
"Ras."
Laras berhenti di bawah tepian atap bengkel. Air hujan menetes dari rambut Rayhan ke kerah seragamnya.
"Apa lagi?"
"Aku memang salah pulang tanpa ngomong."
"Bagus kalau sadar."
"Tapi aku nggak bisa pura-pura biasa kalau ada orang lain mendekati kamu."
Laras memandang mobil Galih, lalu kembali kepadanya. "Itu perasaan lo. Tanggung jawabnya juga punya lo. Bukan berarti gue harus menjauh dari semua orang."
"Aku tahu."
"Kalau tahu, jangan ulangi."
Rayhan mengangguk. Namun bukannya mundur, ia berdiri tepat di hadapan Laras, masih menyisakan jarak satu langkah.
"Waktu aku bilang suka kamu, kamu pikir aku cuma takut kehilangan tempat pulang."
"Kita sudah bahas ini."
"Belum selesai buat aku."
"Rayhan."
"Aku suka kamu saat kamu marah, saat tanganmu bau oli, saat kamu pura-pura nggak peduli tapi datang jemput aku. Aku juga benci kalau kamu bela Galih. Aku tahu bagian itu jelek. Aku sedang belajar supaya nggak menjadikannya alasan menyakiti kamu."
Suaranya pecah pada kata terakhir.
Laras baru menyadari matanya merah. Bukan kemarahan yang membuatnya seperti itu. Air mata mengumpul, lalu jatuh sebelum sempat ia hapus.
"Jangan begini," bisik Laras.
"Kenapa? Karena aku masih sekolah? Karena kamu lihat aku sebagai anak kecil?"
"Karena menangis bukan cara buat bikin gue bilang iya."
Rayhan mengusap wajah kasar-kasar. "Aku nggak minta kamu bilang iya malam ini. Aku cuma minta jangan tutup pintunya sebelum aku punya kesempatan tumbuh."
Laras kehilangan jawaban. Di hadapannya bukan lagi anak sepuluh tahun yang takut ditinggal, tetapi juga belum sepenuhnya orang dewasa yang bisa ia terima tanpa memikirkan akibat. Dua wajah itu bertumpuk dan membuat dadanya sesak.
"Gue sudah janji nunggu satu atau dua tahun," katanya. "Itu yang bisa gue kasih sekarang."
"Dan setelah itu?"
"Gue nggak tahu."
"Jangan bilang nggak mungkin."
Laras menatapnya lama. "Gue nggak bilang begitu."
Sesuatu di wajah Rayhan runtuh. Bukan tangis baru, lebih seperti pertahanan yang akhirnya dilonggarkan.
Ia maju setengah langkah, pelan, memberi Laras waktu untuk menolak. Ketika Laras tidak mundur, Rayhan menundukkan kepala dan menyentuhkan dahinya sebentar ke dahi Laras.
Tidak ada ciuman. Tidak ada tangan yang menarik atau menahan. Hanya dua dahi yang dingin karena hujan dan satu napas gemetar yang berhenti di antara mereka.
"Jangan panggil aku adik lagi," katanya lirih. "Aku nggak akan bisa balik jadi itu."
Laras menutup mata sesaat.
Di belakang mereka, pintu mobil Galih belum tertutup. Dari kursi pengemudi, Galih melihat dua siluet berdiri sangat dekat di bawah lampu bengkel.
Tangannya masih memegang gagang pintu, tetapi malam itu ia merasa seperti orang yang sudah terlambat masuk ke rumahnya sendiri.